Rafa & Ara

Rafa & Ara
Episode 65


__ADS_3

...Happy Reading....


Sebuah ruang kamar tidur yang luas. Sekelilingnya tertutup tirai tebal, dari bahan kain yang lembut dan halus. Ara melangkah semakin mendekat ke tempat tidur yang tidak ada penghuninya dan berantakan. Ara semakin bingung, di bawah kosong, di atas juga kosong.


Apa aku salah alamat ya? batinnya.


Tapi sepertinya tidak. Alamat ini memang benar sesuai yang di tulis pak Sam dalam kertas. Dia sudah melihatnya berulang kali sewaktu di bawah tadi.


Ara jadi tidak tenang. Seharusnya dia tidak masuk ke ruang ini. Dia juga bingung kenapa bisa masuk ke rumah ini dengan mudah. Ara ingin pergi dari tempat ini secepatnya. Dia segera berbalik. Saat berbalik, sebuah tangan kekar membekap tubuhnya dari belakang.


Ara terkejut, panik. Dia hendak berteriak, tapi mulutnya langsung di bekap. Ara berusaha melepaskan diri. Dia berontak melakukan perlawanan." Lepas....!" ucapnya dengan rasa takut. Tapi suara itu hanya memenuhi rongga mulut karena mulutnya di bekap. Ara terus melawan, berusaha melepaskan diri. Rantang di tangannya terlepas jatuh ke lantai, berbunyi cukup keras, isinya tumpah keluar. Keduanya terkejut. Ara terus berusaha sekuat tenaga melepaskan diri dari bekapan sosok yang di duganya seorang laki laki. Ara bisa menebak dia seorang laki-laki dengan gesekan tubuh orang ini pada punggungnya.


Kaki Ara terpeleset pada kuah dan makanan yang berserakan di lantai. Hilang keseimbangan, keduanya jatuh di atas tempat tidur. Ara jatuh terlebih dahulu dengan posisi tubuh menelungkup. Di susul tubuh laki laki menimpa ke atas punggung Ara.


Laki laki itu segera membalikkan tubuh Ara menghadap ke atas. Ara berusaha bangun tapi laki laki itu segera naik ke atas tubuhnya, mengurung dirinya, menopang kedua kakinya di samping kiri kanan pinggang Ara, lalu memegang ke dua tangan Ara di letakkan di samping kiri kanan kepala Ara.


Ara semakin ketakutan. Mau apa pria ini? Beberapa pikiran buruk muncul di kepalanya.


"Lepas __Lepas!" pintanya sembari menarik, berusaha melepaskan ke dua tangan dari pegangan pria.


Laki laki itu terkejut mendengar suaranya. Dia menatap menyelidik wajah di bawahnya. Di perhatian lebih lama lagi, dia terkejut setelah mengenali wajah ini.


"Ara?" batinnya dengan dahi mengerut. Dia menatap dalam-dalam wajah yang tampak ketakutan.


"Kenapa dia bisa sampai di sini?" batinnya kembali. Dia mengamati setiap bagian wajah cantik adik iparnya ini dan berhenti pada bibir yang terbuka sedikit mengeluarkan nafas yang tak beraturan. Hembusan nafas begitu terasa menerpa di wajahnya. Beberapa detik menatap bibir Ara, laki laki yang tak lain adalah Rafa menelan Saliva kasar.


"Maaf karena masuk rumah Anda tanpa permisi. Aku bukan orang jahat. Aku hanya ingin mengantar makanan ke alamat. Tolong lepaskan aku." pinta Ara kembali. Ara menggerakkan kedua tangannya yang di tekan kuat oleh Rafa.


Rafa melonggarkan pegangannya."Kenapa kau bisa berada di sini?" Tanyanya lemah di antara nafas yang memburu cepat. Peluh membasahi wajahnya dan jatuh ke wajah Ara.


Ara kaget, terdiam sesaat mendengar suara itu. Seperti di kenal tidak asing di telinga. Ara membuka mata lebar lebar melihat wajah di di atasnya. Di amati dengan seksama. Semakin jelas terlihat dia terkejut."Kakak ipar?" melongo melihat wajah Rafa.


Keduanya saling menatap beberapa saat dalam jarak stenga jengkal. Ara perhatikan wajah Rafa pucat di penuhi bulir bulir keringat. Bukan hanya wajah Rafa yang basah oleh keringat, tapi juga rambutnya, bahkan sekujur tubuh di rasakan basah. Keringat itu jatuh ke wajahnya. Tidak ada sorotan mata tajam, dingin seperti biasa. Yang terlihat hanya tatapan sayu dan lemah. Ara merasakan keringat Rafa yang dingin, juga mendengar helaan nafas yang berat dan lemah. Dia ingat saat di meja makan tadi, Rafa pamit ke kantor."Kakak kok ada di sini? Bukannya tadi ke kantor?" tanya memberanikan bertanya.


Rafa tak menjawab, dia terus menatap wajah Ara dengan sayu.


Ara teringat tujuannya ke sini untuk mengantar pesanan dari Sam. Jadi alamat ini alamat apartemen Rafa.


"Apa ini apartemen kakak?" tanyanya.


Rafa mengangguk lemah.


Ara merasa risih dengan posisi tubuh mereka yang sangat dekat. Apalagi Rafa tidak memakai pakaian. Hanya celana bokser pendek ketat.

__ADS_1


"Kak__" Ara menggerakkan tubuhnya memberi isyarat agar Rafa menyingkir dari atas tubuhnya. Rafa melepas tangan Ara, nafas semakin memburu cepat tak beraturan.


Ara melihat hal itu.


"Kakak kenapa? Wajah kakak pucat, sekujur tubuh kakak berkeringat banyak." kata Ara menyapu wajahnya yang terkena jatuhan keringat dari wajah Rafa. Dan tanpa sadar mengelap keringat yang memenuhi wajah Rafa.


Rafa hanya menatapnya dengan sayu. Kedua tangan yang menopang tubuhnya gemetaran, melemah. Dan akhirnya tubuhnya jatuh di atas tubuh Ara.


Ara kaget tidak sempat berpaling. Alhasil wajah Rafa jatuh menyentuh wajahnya dan membuat bibir mereka saling menyentuh. Ara terkejut dengan mata bulat. Begitu juga dengan Rafa. Mata keduanya terbuka lebar saling menatap. Ara tersadar dari keterkejutannya. Dia secepatnya berpaling ke sebelah. Wajah Rafa langsung mendarat jatuh mengena di lehernya.


Ara menyentuh bibirnya. Tidak tenang dengan apa yang baru saja terjadi. Sengaja atau tidak dia baru saja berciuman dengan kakak iparnya. Ara menyadarkan pikirannya. Itu sesuatu yang tidak di sengaja, tiba tiba terjadi dan tidak sempat di hindari. Rafa jatuh dan tidak sengaja menyentuhnya karena kondisi tubuh Rafa yang lemah gemetar. Ara dapat merasakan. Ara kembali teringat dengan keadaan Rafa yang jatuh lemah seperti itu."Kakak kenapa?" tanyanya. Tak ada suara.


Dia memegang ke dua bahu Rafa dan di dorong.Terasa berat beban di atasnya.


"Kak __." panggil Ara berharap pria ini menyingkir dari atas tubuhnya. Dia kembali mendorong tubuh Rafa, tapi berat. Tak ada jawaban. Hanya deru nafas yang memburu cepat terdengar di telinganya.


"Apa kakak ipar pingsan?" gumamnya. Ara jadi khawatir. Ara kembali berusaha mendorong lebih kuat tubuh kekar Rafa hingga jatuh ke sampingnya. Ara segera bangun, melihat mata Rafa yang tertutup.


"Kak Rafa kenapa?" tanyanya kembali seraya memegang wajah Rafa. Ara cemas. Rasa takutnya pada Rafa hilang begitu melihat keadaan Rafa.


"Kak Rafa, buka matanya. Bangun kak....!"


"Ara__" suara lemah keluar dari mulut Rafa.


"Ya kak___!"


"Jangan menghubungi siapa pun, ini perintah ku." kata Rafa kembali dengan lemah.


"Ba-baik.Tapi ada apa dengan kakak? Wajah kakak pucat. Sekujur tubuh juga dingin." tanya Ara terbata. Bingung kenapa Rafa meminta begitu. Padahal keadaan dirinya sedang tidak baik. Di kiranya Rafa meminta dirinya untuk menghubungi dokter Rizal.


Rafa meringis kesakitan seraya menyentuh perut.


"Apa yang sakit?" tanya Ara semakin khawatir.


Dia segera menyalakan lampu meja, karena keadaan gelap. Dia berbalik dan melihat tubuh Rafa. Matanya terbelalak melihat darah di perut dan paha Rafa. Kaki Ara mundur karena terkejut."Darah?" melihat darah di perut dan paha Rafa.


Rafa membuka mata yang terpejam. Ara tersadar dan segera mendekat. Memeriksa perut dan paha Rafa bergantian. Darah yang tembus dari perban yang menutupi lukanya. Ara merasa risih dengan tubuh telanjang Rafa yang hanya mengenakan bokser pendek ketat. Bagian pribadi Rafa yang terlihat jelas dari balik bokser. Ara melihat jelas keseluruhan tubuh atletis dan kekar kakak iparnya ini, yang terbungkus oleh kulit putih, mulus bersih tanpa noda.


Ara menatap wajah Rafa yang kembali terpejam."Kak__" Ara menepuk pelan wajah Rafa. Dia merasakan suhu tubuh Rafa panas.


"Badan kakak panas. Kenapa kakak bisa terluka begini? Semalam kakak baik baik saja bukan?" Dia ingat keadaan Rafa sangat baik saat memarahinya di kamar si kembar.


Ara panik, melihat perban di perut yang sudah basah dengan darah. Dia bingung harus melakukan apa. Sesaat dia diam, memfokuskan pikirannya. Dia harus melakukan sesuatu untuk menghentikan pendarahan."Ya Allah apa yang harus ku lakukan? Bantu aku!" ucapnya gelisah tidak tenang.

__ADS_1


Rafa membuka mata dan melihat padanya.


"Jangan panik Ara, tenang, tenang, tarik nafas, keluarkan. Rileks___" ucapnya pada dirinya sendiri sambil di praktekkan untuk menenangkan diri sendiri.


Rafa tersenyum tipis memperhatikan apa yang di lakukan gadis ini.


Setelah merasa tenang, Ara segera melepaskan tas di punggungnya. Lalu turun lagi dari ranjang mencari sesuatu. Ingin sekali dia membuka tirai kamar dan juga menyalakan lampu ruangan, tapi di urungkan. Mungkin ada sebabnya kakak iparnya ini menutup rapat apartemennya agar terlihat gelap.


Mata Ara celingukan memperhatikan sekelilingnya. Dia mendapatkan apa yang di carinya, kotak obat. Segera di ambil di letakkan di atas ranjang. Lalu mengambil air bersih di letakkan di bibir ranjang. Ara naik ke atas ranjang memperbaiki posisi tubuh Rafa. Sedikit sulit karena beratnya tubuh Rafa. Tapi akhirnya bisa juga dengan bantuan Rafa yang menggerakkan tubuhnya.


"Aku akan mengganti perban kakak." kata Ara menatap wajah Rafa.


Rafa diam hanya menatapnya.


Ara mengelap peluh yang membasahi wajah leher, dada dan lengan Rafa dengan tisu. Lalu memejamkan mata sejenak sambil berdoa.


"Aku mulai ya?" katanya melihat wajah Rafa. Sejujurnya dia takut untuk melakukan ini tapi harus dilakukan.


Rafa mengedipkan mata sebagai isyarat jawaban IYA.


Ara mulai membuka perlahan perban yang di perut. Sudah tak ada lagi warna putihnya karena sudah basah dengan darah.


Rafa tampak meringis sambil memegang seprei kuat.


"Tahan__." kata Ara melihat sekilas wajah Rafa yang kesakitan.


Ara membersihkan luka luka itu dengan air bersih, menggunakan kasa yang di celupkan ke air bersih agar lukanya tidak semakin terkena infeksi. Luka ini cukup besar, terbuka menganga. Seharusnya luka sebesar ini harus di tangani dokter dan di jahit, tapi kenapa kakak ipar tidak ke rumah sakit?


Ara ingat dokter Rizal tadi datang ke rumah.


Kenapa dokter Rizal tidak membawanya ke rumah sakit? Orang rumah hanya tahu dia sakit perut. Tapi yang sebenarnya terluka besar. Apa kakak ipar menyembunyikan ini dari orang rumah? Sudah pasti, jawab Ara sendiri. Dengan keberadaan Rafa di apartemen ini, berarti dia menyembunyikan pada keadaan dirinya pada orang rumah.


Sejak tadi Ara tidak melihat Wisnu. "Kemana dia? Kenapa meninggalkan kakak ipar dengan keadaan seperti ini seorang diri?" batin Ara.


Ara meringis menatap luka luka itu seolah merasakan sakit. Tangannya sampai gemetar.


"Tidak usah di lanjutkan kalau kau takut." kata Rafa lemah hampir tak terdengar, melihat tangan Ara yang gemetaran.


Ara melihat ke wajah Rafa."Aku tidak tega melihat kakak menahan kesakitan dengan luka ini. Aku baik. Kakak tenang saja." kata Ara sambil mengulas senyum sekilas.


Bersambung.


Jangan lupa dukung ya...

__ADS_1


__ADS_2