
...Happy Reading....
Ara pamit pada mereka yang berada di meja makan. Dia kecewa karena Wisnu tidak dapat membantunya untuk mengambil kaca mata pada Rafa. Ara segera mengajak si kembar berangkat ke sekolah dengan di antar Ucil.
"Sayang, udah lama kita nggak healing. Aku pengen senang senang dan berduaan sama kamu. Kita ke pulau yuk." ucap Levina manja sambil mengalunkan ke dua tangannya di bahu Rafa.
Wisnu segera menarik tangannya kasar.
"Jaga kelakuan anda Nona Levina." menatap tajam.
Levina mendengus kasar menatap sinis pada Wisnu, lalu segera duduk kembali.
"Luangkan waktumu untuk Levina, mumpung dia berada di tanah air. Kalian sudah jarang pergi bersama. Kalau begini terus bisa bermasalah dalam hubungan kalian." ujar Maya menoleh pada Rafa.
"Ajaklah Levina ke pulau pribadi mu! Kalian bisa menghabiskan waktu berdua di sana." sambung Maya.
"Iya yang, kau belum pernah mengajakku ke pulau pribadi mu." kata Levina. Dia mendengar Rafa membeli sebuah pulau lengkap dengan kapal pesiar. Tapi Rafa tidak memberi tahu kan hal itu padanya. Levina bertanya tanya Rafa membeli pulau dan kapal pesiar untuk siapa? Padahal sebelumnya dia sangat senang dan berharap kedua aset itu di beli Rafa untuknya.
"Ayolah yang, kita ke sana ya?" kata Levina merayu menggoda dengan senyuman manis. Tangan kirinya menjalar nakal menyentuh paha Rafa di bawa meja.
Rafa meliriknya dengan tatapan menyorot tajam. Levina segera menarik tangannya melihat tatapan menakutkan itu. Dia mengumpat dalam hati dengan perubahan sikap Rafa yang berubah 180 derajat. Entah apa yang membuat kekasihnya ini berubah.
"Aku sibuk ma, banyak kerjaan." kata Rafa seraya bangkit berdiri.
"Hanya sehari saja Rafa." pinta Maya menatapnya.
"Aku nggak ada waktu, aku pergi dulu." Rafa kembali menolak.
"Bagaimana dengan pembicaraan kita kemaren? Apa sudah ada penyelesaiannya?" tanya Nesa yang sedari tadi diam buka suara.
"Wisnu sedang mengurusnya, nanti dia akan mengabari kakak."
"Baiklah, kakak berharap secepatnya."
Rafa segera melangkah cepat ke depan. Saat ini suasana hatinya sangat buruk.
Levina menatap kepergiannya dengan kesal.
"Hentikan mobil ucil." kata Rafa saat memasuki mobil.
"Baik tuan." Wisnu segera mengambil ponselnya. Lalu segera menjalankan kendaraan mewah itu dengan cepat untuk mengejar mobil Ucil.
"Ada apa mang ucil? Kenapa kita berhenti di sini? Apa mobilnya mogok?" tanya Ara pada ucil yang menepikan mobil di pinggir jalan.
"Tidak Nona. Sekretaris Wisnu barusan menelepon. Katanya tuan Rafa yang akan mengantar si kembar ke sekolah. Nona dan si kembar akan pindah ke mobil tuan Rafa." Ucil menjelaskan.
Dahi Ara mengerut.
"Kenapa?"
"Saya tidak tahu Nona. Sekretaris Wisnu hanya berkata seperti itu."
Selesai ucapan ucil, mobil Wisnu berhenti di depan mobil mereka.
Wisnu segera turun dan membuka pintu mobil.
"Maaf Nona muda. Anda dan si kembar akan pindah ke mobil tuan Rafa. Silahkan___!" katanya sopan.
Wisnu segera menggendong tubuh si kembar dan memindahkan ke mobil Rafa. Si kembar tentu saja senang melihat Daddy mereka.
"Daddy yang mengantar kami?" Cia langsung naik ke pangkuannya.
Rafa tersenyum sambil mengecup tangan bocah manis itu.
Mau tidak mau Ara menurut perkataan Wisnu. Karena dia tahu perintah Rafa tidak bisa di bantah. Ara segera turun dan naik ke mobil Rafa. Entah kenapa hatinya tidak tenang dengan berpindah mobil. Apalagi saat ini dia melihat wajah Rafa yang tampak dingin dan tegang.
Ara mengatur letak duduknya karena Cio duduk di pangkuannya.
Wisnu segera menjalankan kendaraan.
Semua diam terhanyut dengan lamunan masing-masing.
Cia asik mengelus wajah Rafa, lalu di kecup kecup seperti kebiasaannya. Dan Rafa hanya diam membiarkan. Sesekali dia menggigit jari mungil itu membuat Cia tertawa.
__ADS_1
Cio sibuk mengasah kemampuannya dalam berhitung lewat jari jemari Ara. Ara senang karena bocah semakin pintar. Tapi tetap saja hatinya gelisah saat ini.
Tidak berapa lama mobil berhenti di halaman sekolah. Si kembar segera turun. Ara mengantar mereka sampai ke wali kelas. Lalu kembali naik ke mobil dan memasang sabuk pengaman.
Mobil kembali berjalan.
Keadaan tenang. Tak ada percakapan. Keduanya diam dalam kebisuan.
Ara mengalihkan pandangannya ke luar kaca menghilangkan kecanggungan dan rasa takut nya. Karena dia tahu Rafa kesal padanya.
Wisnu fokus pada kemudinya.
Rafa sibuk meremas sendiri jari jemari tangan kirinya. Sementara tangan kanannya memijit kening dengan mata terpejam.
Tidak berapa lama, mobil berhenti di area parkiran kampus.
Wisnu segera turun sambil mengamati sekelilingnya.
Ara menoleh pada Rafa. Melihat mata pria itu terpejam.
"Kakak ipar, aku mau turun. Tolong kembalikan kacamata ku." pintanya pelan.
Rafa membuka matanya perlahan, lalu menoleh padanya.
Ara segera mengalihkan pandangannya ke depan, menghindari tatapannya.
Beberapa selang kemudian karena tak ada suara dan pergerakan dari Rafa, Ara segera membuka pintu mobil. Dia tidak ingin meminta kaca matanya lagi.
"Diam di tempatmu." ujar Rafa tiba tiba.
Ara kaget, gerakannya terhenti.
"Tutup kembali pintunya." perintah Rafa kembali.
Ara menelan ludahnya.
"A- aku mau turun kak." katanya gugup dengan perasaan tidak karuan.
Rafa membuang nafas kasar.
Ara kembali kaget.
Nafasnya mulai turun naik tak beraturan.
Dia menunduk mulai meremas kedua tangannya di atas paha. Takut....
Rafa tiba tiba menarik tubuhnya menghadap ke arahnya, dan mendekatkan mereka. Membuat Ara terkejut.
"Kenapa kau selalu membantah setiap apa yang ku katakan? Hah? Aku menyuruhmu untuk tetap duduk tapi kau tidak mendengar perintahku?" ucap Rafa menatapnya tajam.
Ara semakin menunduk, tangan mulai gemetar.
"Aku sedang bicara denganmu Ara, angkat kepalamu, tatap wajahku, jangan menunduk." katanya kembali semakin kesal. Kekesalan yang di bawahnya dari rumah karena Ara tidak menuruti perintahnya saat di meja makan.
Nafas Ara memburu cepat, perlahan mengangkat wajahnya dan menatap wajah kakak iparnya.
Tatapan mata mereka bertemu karena Rafa sedang menatapnya tajam.
"A- aku tidak bermaksud membantah perintah kakak. Aku nggak enak sama kak Levina. Dia ingin duduk di dekat kakak.Dan kebetulan aku juga sudah selesai makan." katanya sangat pelan karena menekan ketakutannya.
"Kak Levina kekasih kakak, baru kembali dari luar negeri. Seharusnya kakak perduli dan melayani dia dengan baik." sambungnya kembali dengan bibir gemetar. Dia bingung kenapa Rafa tidak suka Levina duduk di dekatnya? Bukankah Levina kekasihnya? Seharusnya dia senang.
Rafa mendengus kasar.
Dia kembali menarik tubuh Ara yang sudah dekat semakin dekat. Lalu memegang rahang Ara di dekatkan ke wajahnya. Hembusan nafas Ara yang tak beraturan menerpa wajahnya.
Dia kembali menatap tajam dan sinis.
"Aku tidak perduli dengan rasa kasihan mu padanya, atau alasan alasan lainnya. Aku hanya tidak suka setiap ucapan dan perintahku di bantah, kau mengerti?" ucapnya dengan suara meninggi.
Ara segera mengangguk dan mengeluh sedih karena merasakan sakit di dagunya.
Rafa melonggarkan pegangannya, lalu mengelus lembut wajah mulus itu dengan kedua ibu jarinya.
__ADS_1
"Aku peringatkan kembali jangan pernah lagi membantah atau menentang setiap perintahku Ara____kalau tidak___." Rafa menyentuh dan menatap bibir ranum di depan matanya sambil meneguk liurnya. Ibu jarinya meraba lembut benda mungil berwarna pink alami itu. Teringat kembali kejadian semalam saat dia menikmati benda kenyal ini.
"Kak___" ucap Ara hampir tak terdengar.
Ara tidak tenang melihat bibir kakak iparnya yang sangat dekat dengan bibirnya. Malah telah saling bersentuhan.
Ara teringat kejadian semalam saat Rafa menciumnya. Dia takut Rafa akan menciumnya lagi seperti semalam.
Ara cepat memegang kedua tangan Rafa yang bergerak liar di bibirnya.
Jantungnya semakin berdegup kencang.
"Kakak mau apa? Jangan mencium ku lagi!" ucapnya menatap takut.
Rafa menekan bibir nya pada bibir Ara. Matanya menatap mata Ara.
"Kalau kau masih membantah setiap ucapan dan perintah ku, aku akan menghukum mu. MengHuKum- Mu. Kau mengerti?" ucap Rafa menekan kata katanya.
Ara cepat mengangguk
"I-iya___aku janji." berusaha menarik wajahnya.
Perlahan Rafa menarik mundur wajahnya dan melepaskan pegangannya. Tak ingin membuat gadis ini semakin takut.
Ara segera menarik mundur tubuhnya sambil menormalkan jalan pernapasan dan, juga debaran jantungnya.
Rafa mengambil kaca mata Ara di saku jasnya, lalu memakaikannya.
Terus memperbaiki rambut keriting Ara.
Ara sontak menahan kedua tangan Rafa saat memperbaiki rambutnya. Karena rambut itu sengaja di urai untuk menutup sesuatu di lehernya. Dan dia tidak ingin Rafa melihat kedua tanda Kiss Mark yang di buat Rafa semalam. Dia sendiri baru tahu tanda itu tadi pagi saat mandi. Dan itu membuatnya sedih dan takut. Tak menyangka kakak iparnya membuat tanda itu.
"Biar aku saja yang perbaiki." kata Ara segera.
"Aku saja." kata Rafa.
Ara terdiam. Tak berani membantah. Takut menimbulkan kemarahan lagi.
Rafa segera mengatur rambut Ara. Tanpa sengaja matanya menangkap dua tanda ungu di leher wanita ini. Rafa bukan pria polos yang tidak tahu tanda apa itu. Dia ingat tanda itu adalah hasil karya bibirnya semalam. Rafa tersenyum tipis. Tanda itu terlihat indah di matanya. Tapi tetap saja harus ditutupi. Dia mengurai rambut Ara ke depan menutupi tanda itu.
"Biarkan rambut mu terurai terus di depan. Jangan di ikat." katanya menatap wajah Ara.
Ara mengangguk.
"Ingat, aku hanya tau kegiatanmu hari ini hanya ke kampus dan menggalang dana. Bukan pergi ke tempat lain seperti kemarin." kata Rafa. Mengingatkan kejadian dia melihat Ara di restoran.
Ara segera kembali mengangguk.
"Jangan telat makan siang. Jaga dirimu di luar sana dan jangan terlalu capek dengan kegiatan kampusmu! Setelah kegiatan kampus selesai, segera lah pulang ke rumah." kata Rafa kembali.
Ara kembali mengangguk."Iya kak ___!"
Rafa mendekat dan mengecup keningnya lembut. Ara terkejut mata bulat. Dia bingung dengan kecupan itu. Rafa bukan hanya mengecup, tapi Rafa juga berani menciumnya seperti semalam. Ciuman yang tak wajar di lakukan oleh seorang kakak ipar pada adik iparnya.
Rafa mengetuk pintu.
Pintu terbuka, di buka Wisnu dari luar.
"Turunlah.....!"
Ara segera turun dan berlari ke halaman kampus. Dia serasa lepas dari cengkraman harimau. Dia berlari dengan cepat tak menoleh kebelakang.
Rafa menatap sampai tubuh gadis itu hilang dari pandangannya. Setelah itu dia memberi isyarat pada Wisnu untuk pergi.
Sepasang mata yang berada dalam sebuah mobil merah menatap kepergian mereka.
"Ravendro Artawijaya." ucap sang pemilik mobil sambil tersenyum miring. Yang tak lain adalah Dion. Sejak tadi berada di parkiran menunggu kedatangan Ara. Tak di sangkanya Ara di antar oleh pengusaha ternama itu yang juga merupakan partner bisnis ayahnya.
Dia dapat mengetahui yang berada di dalam mobil dan mengantar Ara adalah Rafa Ravendro Artawijaya dengan melihat sosok Wisnu yang berdiri di luar mobil.
Dia sangat tahu siapa Wisnu, sekretaris pribadi dari Rafa Ravendro Artawijaya yang selalu berada di dekatnya 1x24 jam.
Semua pengusaha bisnis kalangan atas tanah air bahkan luar negeri sangat mengenali sepak terjang dunia bisnis seorang Ravendro dan sekretarisnya itu. Dan terakhir dia bertemu dengan ke dua pria itu pada pertemuan penting para pengusaha kelas dunia yang di adakan di London beberapa waktu lalu.
__ADS_1
Bersambung.