
Hello! Im an artic!
“Qin Yinuo, masih belum sadarkah, bahwa penyakit Mo Yilan ini tidak mungkin disembuhkan dalam kurun waktu yang singkat? Dan kamu juga tidak boleh terlalu egois! Aku pun tidak ingin berlama-lama menunggumu, aku ingin segera melupakanmu! Aku ingin memulai hidupku yang baru!” Mu Xue berkata: ” Dalam waktu satu atau dua tahun, apakah menurutmu keadaannya bisa membaik? Berapa lama lagi aku harus menunggu? Ayahmu juga pasti tidak akan membiarkan aku untuk membawa pergi Tian Yu bersamaku, aku pun tidak bisa memilikimu seutuhnya, dan yang ada hanya penderitaan yang kurasakan! Dan buatku, hal yang paling murah hati yang bisa kulakukan adalah melepaskanmu dan membiarkanmu untuk menjaganya. Jika aku harus terus menunggu, aku takut mentalku juga akan ikut bermasalah, menjadi gila seperti dia. Tolong jangan biarkan aku terpuruk, bisakah kamu memahaminya? ”
Qin Yinuo menghela nafas. “Tapi…… Aku tidak bisa hidup tanpamu!”
Hello! Im an artic!
Ekspresinya sangat menyakitkan. Setelah berhenti lumayan lama, dia berkata lagi: “Xiao Xue, kenapa ketika dihadapkan dengan keadaan seperti saat ini, kamu malah menunjukkan sikapmu yang tegar? Mengapa kamu tidak memilih untuk menjadi egois saja? Tahukah kamu jika saat ini kamu mengatakan, kamu tidak ingin aku mempedulikannya lagi, maka aku pasti akan meninggalkannya! ”
“Tapi bukankah kamu telah memutuskannya?”
“Keputusan apa yang sudah kubuat?” Tanya Qin Yinuo.
Mu Xue tertawa sambil meneteskan air mata yang jernih, dan air mata itu membasahi pipinya, lalu Qin Yinuo memegangi wajahnya dan terus menciumnya.
Hello! Im an artic!
“Qin Yinuo, kamu sangat bodoh, kamu memilih untuk kehilangan diriku, sebaliknya kamu memilih orang yang sakit itu! Kamu lebih memilih orang sakit itu daripada aku, Qin Yinuo! Tapi aku sangat bangga dan merasa senang karena ternyata, pria yang kucintai bukanlah seseorang yang berdarah dingin!”
Hatinya semakin terasa sakit bagaikan tersayat oleh pisau. Air matanya mengalir, dan Qin Yinuo menarik nafas dalam-dalam, sambil menahan air matanya mengalir.
Mata besar Mu Xue bertatapan dengan sorot mata Qin Yinuo yang mendalam, “Ketika kamu menciumku dengan putus asa, dan kamu mengatakan padaku kamu akan menikahiku, aku mendadak sadar akan hal ini, bahwa kamu tidak akan pernah bisa meninggalkan Mo Yilan, dan merawat Mo Yilan akan selamanya menjadi tanggung jawabmu untuknya. Kamu adalah satu-satunya orang yang dapat dia kenali, menurutku dia pasti telah mencintaimu sampai ke akarnya, maka itu dia hanya bisa mengingatmu, tidak ada hal lain yang dimilikinya!
Qin Yinuo, kamu adalah tempat bersandar untuknya, dan kamu sumber kekuatan dan harapan baginya untuk pulih dari sakitnya! ”
“Xiao Xue, bagaimana bisa kamu begitu memahamiku, kamu dapat membaca isi pikiranku?” Dia berbisik pelan lalu memeluknya erat, jika bisa dia menginginkan Mu Xue diremas dan dimasukkan ke dalam tubuhnya, menjadi tulang dan darah untuknya.
“Simpatimu terhadapnya, perasaan bersalahmu kepadanya, jauh di atas perasaanmu terhadap kami semua, termasuk perasaan kepada ayahmu, Tian Yu, dan bahkan terhadap aku, karena Mo Yilan adalah orang sakit! Sedang kami semua sehat-sehat! Qin Yinuo…… Aku memahami semua kesulitanmu! “Mu Xue mendorongnya dan menarik nafas dalam-dalam.
“Jangan khawatirkan aku, aku masih ada Tian Yu dan Cheng Cheng, aku masih berusia dua puluh tiga tahun, dan aku masih dapat menikmati masa muda yang cukup menyenangkan. Sekalipun jika beberapa tahun kemudian, aku tidak tahan kesepian lalu menemukan seorang pria untuk menikah denganku, aku akan tetap dapat memiliki hidup yang bahagia. Karena aku memiliki kesehatan yang bagus! Dan dia sudah tidak memiliki apa-apa, dia bahkan tidak dapat memiliki anak! Jadi aku merasa keadaanku lebih baik darinya! Tetapi aku sangat cemburu padanya, karena dia yang mendapatkan perhatianmu! Qin Yinuo, jika suatu hari dia bisa sehat lagi, aku yakin bahwa aku tidak mungkin akan melepaskanmu, sekalipun bukan demi putraku, aku tetap tidak akan melepaskan tanganmu, tetapi…… ”
Cincin itu tersimpan di tangan Qin Yinuo, dan Mu Xue memegangi tangannya dengan sangat erat. “Ini terakhir kalinya aku memelukmu, juga terakhir kalinya aku memilikimu! Setelah ini, aku akan belajar untuk menjadi egois, aku akan jatuh cinta lagi, aku akan menemukan pria dan menikah dengannya! Jadi jangan khawatir lagi tentangku!”
“Xiao Xue! Dengarkan aku! Tinggallah di Villa nomer 15! Kamu bawa Cheng Cheng bersamamu dan tinggallah di sana!” Dia memohon, Qin Yinuo sedang memikirkan cara untuk mengurangi rasa bersalah padanya.
“Baiklah! Vila itu sekarang menjadi milikku!” Mu Xue berkata setuju, semata-mata agar hati Qin Yinuo merasa lebih tenang! “Aku menginginkan vila itu, dan juga buku tabungan itu!”
“Xiao Xue!” Qin Yinuo meneriaki namanya dengan suara yang keras! Karena wanita ini, dia berpikir bahwa selama hidupnya dia tidak akan pernah jatuh cinta pada orang lain, karena dia tidak akan pernah bisa menemukan wanita yang berjiwa lebih besar daripada wanita ini.
“Baiklah! Aku pergi! Qin Yinuo, aku harus pergi sekarang!” Mu Xue tersenyum, lalu berjinjit dan mencium bibirnya, kemudian dalam hati dia berkata pada diri sendiri, bahwa itu adalah ciuman terakhir untuknya!
“Jagalah dia dengan tenang, kamu pasti bisa melakukannya!” Mu Xue tertawa, air mata memenuhi kedua matanya lalu mengalir dengan deras.
Kemudian Mu Xue berbalik, “Qin Yinuo, selamat tinggal! Jangan mencariku lagi!”
“Tidak! Xiao Xue! Jangan berbuat kejam padaku!” Qin Yinuo berusaha keras meraih tangannya, lalu menariknya ke dalam pelukannya. “Xiao Xue, jangan begitu kejam padaku!”
Qin Yinuo memeluknya erat-erat, lalu dia memegang pipinya dengan kedua tangan, dia menciumi mata, hidung, mulut, dan pipinya……
__ADS_1
Air mata keduanya bercampur menjadi satu.
Kemudian, sekali lagi Qin Yinuo menekan kepala Mu Xue ke dadanya: “Tidak!”
Qin Yinuo tampak bersikeras. “Bagaimana bisa aku rela melepaskanmu?”
“Pasti bisa kamu melakukannya! Di dunia ini, siapa pun yang pergi meninggalkan orang lain, pasti juga bisa bertahan! Semuanya akan baik-baik saja! Sama seperti ketika aku kehilangan Tian Yu dan Mu Xiao, serasa langit akan runtuh, tetapi hal itu tidak akan terjadi dan langit masih utuh! Jadi, Qin Yinuo, kamu pasti bisa, lepaskan tanganmu! ”
Qin Yinuo terkaget-kaget, juga tidak tahu harus bagaimana karena dia merasakan kepahitan yang mendalam setelah mendengarkan ucapan Mu Xue. “Xiao Xue, kamu pasti tahu jika kamu melakukan ini padaku, aku akan semakin tidak rela untuk kehilanganmu! Tidak ada dari kita yang akan merasakan bahagia!”
“Apa sebenarnya definisi dari kebahagiaan? Apakah hal itu jika kamu melihat pasanganmu tertawa atau hidup dengan lebih baik? Sebenarnya, yang dimaksud dengan kebahagiaan adalah: sepasang orang dapat menghabiskan sisa masa hidup mereka berduaan. Seperti kata pepatah, dua orang yang bergandengan tangan dan melewati hari-harinya bersama-sama sampai tua. Jadi aku juga berhak untuk mencari kebahagiaanku. Sementara kebahagiaan Mo Yilan adalah kamu, misalkan kamu memegang tanganku, dan aku memegang tanganmu, apakah kita benar-benar bisa bahagia? Apakah hati nurani kita tidak akan terkutuk selamanya? Qin Yinuo, jika kamu tidak merasa bersalah kepadanya, lalu mengapa ketika itu kamu meninggalkanku sendirian dan pergi ke Perancis untuk mencarinya? Tahukah kamu, ketika kamu meninggalkanku sendirian, aku sama sekali tidak membawa uang? ”
“Xiao Xue–” Tangan Qin Yinuo memegangi tangan Mu Xue, tetapi Mu Xue hanya tersenyum.
“Aku tidak tahu soal itu, aku telah mengabaikannya!” Tentu saja, ketika itu dia pergi dengan tergesa-gesa, dia hanya mengatur agar sopir membawanya ke bandara, tetapi lupa bahwa Mu Xue tidak punya uang. “Maaf!”
Qin Yinuo tidak tahu harus berkata apa kecuali meminta maaf.
“Aku tidak butuh permintaan maaf darimu. Aku bisa memahaminya bahwa saat itu kamu terlalu panik. Ini juga menunjukkan bahwa rasa bersalahmu kepadanya terlalu dalam. Jadi, Qin Yinuo, lepaskan aku!”
Mu Xue menatap tangan besar dan ramping itu memegangi tangan kecilnya dengan erat, lalu dia mengulurkan tangannya untuk melepaskan jari-jari Qin Yinuo satu per satu. “Lepaskan!”
“Xiao Xue!” Begitu tangan Mu Xue terlepas dari tangannya, bahkan udara di sekitarnya langsung terasa berat bagi Qin Yinuo, membuatnya bernafas saja terasa sakit, sampai-sampai hampir sesak nafas.
Mu Xue membukakan pintu, lalu Zeng Li memandangnya dengan sangat cemas, karena dari luar kamar sesekali dia dapat mendengar isi pembicaraan mereka, “Xiao Xue–”
Mu Xue menyeka air mata dengan tangannya lalu tersenyum kepada mereka, wajahnya seperti bunga matahari yang mekar penuh, terlihat begitu indah dan bersinar.
“Xiao Xue!” Qin Yinuo berbisik di belakangnya.
“Qin Yinuo, menikahlah dengannya, kurasa yang sangat dia pedulikan selama ini adalah kamu tidak pernah menikahinya! Mungkin dengan menikah adalah solusi yang lebih baik daripada obat apa pun! Selamat tinggal!”
Mu Xue berjalan ke pintu, lalu berbalik, dan menunjukkan senyum yang indah dan cerah kepada Qin Yinuo dan Zeng Li. “Selamat tinggal, Qin Yinuo, selamat tinggal Kak Zeng!”
Dari mata Zeng Li yang tengah tertegun, terlihat bayangan Mu Xue menutup pintu.
Qin Yinuo dengan kecewa duduk bersandar di sofa sambil mengepalkan tangannya di samping tubuhnya, apakah dia telah sungguh-sungguh kehilangan Mu Xue?
Zeng Li melirik sebentar Qin Yinuo, lalu pergi keluar untuk mengejar Mu Xue.
Namun, Mu Xue telah hilang tanpa jejak.
Di sepanjang jalan itu Mu Xue berlari sekencang-kencangnya, dia tidak tahu telah berapa lama dirinya berlari, dia juga tidak tahu tempat yang sedang ditujunya, sepertinya itu adalah sebuah taman, tubuhnya basah semua berkeringat, seakan-akan dia telah berlari untuk waktu yang lama!
Mu Xue ingin tersenyum, tetapi senyumannya saat ini terasa pahit sekali, dia ingin menangis, tetapi bahkan untuk bersuarapun sudah terlalu lelah. Dia duduk di kursi malas taman, menatap kosong ke arah jalanan.
Dia telah kehilangannya! Mungkin sebelumnya dia pun tidak pernah benar-benar memilikinya! Tapi, dia juga tidak menyesal! Pria yang dicintainya adalah pria yang bertanggung jawab dan memiliki hati nurani, itu sudah cukup!
Mu Xue tersenyum, sambil tersenyum dia meneteskan air mata! “Qin Yinuo! Kamu harus menjaga Mo Yilan dengan sangat baik, agar dia dapat pulih dengan cepat, jika tidak maka pengorbananku untuk merestui kalian, akan tidak bermakna! Jadi, kamu harus bisa yah!”
__ADS_1
Mu Xue mengeluarkan ponselnya!
Dia memandangi nomor Qin Yinuo yang ada di dalam daftar kontaknya!
Saat ini, tangan Mu Xue mengusap-usap nomor telepon Qin Yinuo dengan penuh kasih, nomor teleponnya ada dua di kontak itu, dia menyentuhnya berulang-ulang, dan akhirnya dengan tega dia menekan tombol untuk menghapus nomor kontak itu dari ponselnya.
Melihat nomor itu menghilang seketika, hatinya terasa sangat sakit. Setitik demi setitik tetesan air matanya jatuh. Tetesan air mata yang sebesar koin itu, semakin banyak tetesannya, langsung menjadi genangan air di sekitar kakinya. Mu Xue bergumam pada dirinya sendiri. “Selamat tinggal, Qin Yinuo!”
Padahal, apakah dengan menghapus nomor kontaknya, memori juga bisa ikut terhapus? ——
Seminggu kemudian.
“Hei! Ada apa denganmu? Kenapa kamu akhir-akhir ini hampir tidak pernah keluar rumah?” Mi Ling merasa aneh setiap kali dia datang untuk menjenguknya, “Xiao Xue, sudah berapa lama kamu di rumah saja?”
“Mungkin ada……seminggu.” Mu Xue hanya tersenyum, ekspresi senyumannya sangat sangat datar. “Aku berencana untuk mencari pekerjaan! Aku ingin memulai pekerjaan yang baru!”
“Di mana? Qin Yinuo sudah setuju? Ngomong-ngomong, bagaimana dengan dia? Kenapa dia tidak pernah kelihatan?” tanya Mi Ling bingung.
“Mi Ling, aku sudah putus dengannya!” Mu Xue berkata dengan tenang.
Kalimat ini, terasa seperti bom, membuat Mi Ling tertegun sesaat. “Apa??”
“Aku sudah putus dengan Qin Yinuo!” Mu Xue berkata dengan tenang, dia mengulangi kata-katanya.
“Kenapa? Hari ini bukan April Mop, kan? Jangan menakut-nakuti aku!” Mi Ling tercengang, dan kemudian marah: “Kenapa putus? Aku akan mencarinya! Sialan, bukankah dia bilang dia akan memperlakukanmu sebagai pasangan hidupnya? Baru beberapa minggu saja, kalian sudah putus! ”
“Jangan mencarinya, dia pasti lebih sedih dariku!” Mu Xue menggelengkan kepalanya, “Mi Ling, tolong jangan bertanya lagi, oke?”
“Jika kamu tidak memberitahuku yang sebenarnya, maka aku akan ke sana untuk bertanya!”
Mu Xue mengangguk. “Baiklah, aku akan memberitahumu!”
Mu Xue secara perlahan-lahan menceritakan semuanya kepada Mi Ling, dan hatinya tiba-tiba terasa lega setelah bercerita. Karena setiap kata yang diucapkannya membuat hatinya sakit seakan disayat oleh pisau yang tajam, tapi rasa sakitnya berangsur-angsur hilang. Saat ini dia sudah agak tenang, lalu dia mendongak dan memberikan senyuman yang indah.
“Aku ingin kembali ke kamarku! Bisakah kamu tidak pergi mencarinya? Aku mohon padamu!”
“Xiao Xue, bagaimana kamu bisa begitu bodoh? Bagaimana kamu bisa melepaskan cintamu? Setelah menyatakan cinta padamu, lalu dia melepaskanmu begitu saja, kalian benar-benar bodoh! Ada rumah sakit jiwa, dan juga keluarga Mo, mengapa Qin Yinuo harus ikut menjaganya? Aku benar-benar tidak paham, apakah perbuatan kalian ini bodoh atau benar-benar mulia! Sialan! “Mi Ling menyumpahi orang itu dengan penuh emosi, lalu dia menendang-nendang sofa. “Apa yang telah kamu alami selama lima tahun ini? Apakah dia pernah merasa bersalah padamu?”
“Mi Ling, sungguh, aku tidak apa-apa. Sudah lewat seminggu . Sekarang aku sudah menjadi lebih tenang dan hatiku terasa damai dan tenteram. Saat ini aku benar-benar merasa tenang, jangan membuat keyakinanku goyah lagi, jangan biarkan Qin Yinuo menjadi cemas tentangku, oke?” Selesai bicara, Mu Xue segera berbalik dan masuk ke kamarnya.
Mu Xue membenamkan seluruh wajahnya ke dalam selimut dan tidak mengatakan apa-apa, hanya diam saja.
Mi Ling dibuat bingung dan kaget sekali karenanya.
Saat ini, bel pintu berbunyi, siapakah yang datang?
Mi Ling dengan emosi pergi membukakan pintu, dan ketika dia membuka pintu dia melihat Zeng Li, “Untuk apa kamu datang ke sini?”
Zeng Li melihat gaya Mi Ling, seolah-olah siap untuk memukul orang.
__ADS_1
“Mi Ling, apakah aku membuatmu tersinggung?”
“Orang-orang yang mengenal Qin Yinuo dan mereka yang dekat dengan Qin Yinuo, semuanya membuatku tersinggung!” Mi Ling berkata dengan kesal dan menolak untuk membiarkannya masuk. “Untuk apa kamu datang ke sini?”