
Hello! Im an artic!
Entah seperti apa perasaannya saat ini. Tiba-tiba pria ini datang untuk melamarnya, Mu Xue bisa merasakan cintanya. Tapi, bagaimana dengan masalah Yilan? Ia tidak ingin menikahinya sebelum permasalahan ini diselesaikan, ia tidak ingin masalah tidak jelas seperti ini selalu muncul disisinya.
Qin Yinuo tertegun.
Hello! Im an artic!
“Cepatlah! Sudah beberapa hari aku tak bertemu dengan Tian Yu!” Ia berkata, “Aku ingin bertemu dengan anakku!”
Akhirnya Mu Xue menoleh, menatapi mata Qin Yinuo. Ia tertegun untuk sesaat, hatinya tidak tenang. Tatapan pria ini saat ini mengerikan.
“Qin…” Baru hendak berbicara, kursi mobilnya langsung tumbang ke bawah. Ia berteriak, hendak bangun untuk terburu-buru.
Tapi Qin Yinuo malah menindihnya,sepasang tangannya diletakkan di kedua sisi tubuhnya, menahannya untuk bangun. Pria itu berteriak dengan suara serak, “Xiao Xue, ayo kita menikah. Aku ini serius, dan ayahku sudah setuju. Kau tahu sulit untuk membuatnya tidak menentang!”
Hello! Im an artic!
“Kalau ayahmu menentang, kau takkan menikah denganku, kan?” Ia mengernyitkan alisnya.
Ia tertegun, menjelaskan cepat-cepat, “Bukan ini maksudku! Tak peduli ayahku setuju atau tidak, aku akan hidup bersamamu!”
“Kau…kau biarkan aku bangun!” Mu Xue mencoba untuk mendorong tubuhnya. Wajahnya memerah.
“Menikahlah denganku! Kau setujui aku, maka aku langsung bangun!” Ia menatap matanya.
“Tidak mau!” Ia mengeleng dengan keras kepala.
“Kenapa?”
Mu Xue kehilangan nafas, melihat ekspresi Qin Yinuo yang membeku, sepertinya ia terluka. Hati Mu Xue langsung kalut, ia hendak mengatakan sesuatu, namun tenggorokannya tercekat, ia tak bisa berbicara. Maka ia segera mendorongnya, tapi gagal.
“Kau masih marah kah?” Ia bertanya dengan suara rendah. Nadanya sakit dan rendah, “Karena masalah foto kemarin kan?”
Mengingat foto kemarin, hati Mu Xue jadi sakit. Ia tertawa pahit, berkata pelan, “Qin Yinuo, bukannya kita belum pernah berfoto bersama sekali pun?”
Ia langsung mematung. Karena kata-kata Mu Xue amat menyedihkan, tapi itu adalah kenyataan. Benar, begitu ia mengatakannya, Qin Yinuo baru sadar. Mereka sudah punya anak, tapi memori mereka hanya sedikit. Dan bahkan selembar foto bersama pun mereka tidak punya!
Ia ingin berkata kalau dirinya tidak sengaja. Tapi kata-kata itu tersendat di mulutnya, ia sadar kalau menjelaskan apapun takkan ada artinya.
“Kau ingin foto, maka kita pergi foto, oke? Kita pergi lagi ke Hokkaido!” Ia berkata dengan tergesa-gesa, “Kita foto yang banyak, oke!”
Ia ingin menambalnya, ingin memberinya memori yang indah. Ingin membuatnya melupakan kesengsaraan.
Ia menggeleng, lalu mengerutkan bibirnya. Menatapi pria ini dari dekat malah membuat luka di hatinya jadi semakin dalam, “Ingin membuangku sekali lagi kan? Sebelumnya aku tak punya uang sepeserpun. Kali ini, memang aku masih akan mengikutimu pergi dengan bodohnya?”
“Xiao Xue!” Ia berteriak pelan, “Maaf…”
Ia menyadari dirinya memang kelewatan, seolah selalu melupakannya. Begitu wanita ini mengatakannya, ia tak bisa berkata apa-apa. Ia tidak tahu harus bagaimana menjelaskannya.
Mu Xue tidak tega untuk melukainya lagi, maka berkata, “Aku bisa merasakan cintamu padaku. Tapi sekaligus aku juga bisa merasakan cintamu pada Mo Yilan. Kalau kau ingin tahu alasan kenapa aku tidak ingin menikah denganmu, ini adalah alasannya! Mungkin kau sendiri pun tak tahu, tapi kau jauh lebih mencintainya dibanding diriku.”
“Bukang begitu!” Ia menjelaskan terburu-buru.
Mu Xue malah menekan bibirnya dengan tangannya, “Aku tidak bermaksud untuk menyalahkanmu! Dengarkan aku sampai habis.”
Tatapan Qin Yinuo penuh dengan penderitaan, ia mengangguk.
“Kau menyimpan memorimu dengan Mo Yilan dengan penuh hati-hati, kukira masa lalu hanya masa lalu. Tapi kau tak rela membuang masa lalumu. Sekarang Nona Mo tak kenal denganmu, kau tak tahu ketika mendengar kata-katanya, dirimu seberapa kecewa? Ekspresimu saat itu telah melukaiku! Atau mungkin kau kira aku sedih karena foto-foto itu, tidak sepenuhnya benar. Qin Yinuo, masih karena ekspresimu! Nuo yang ia katakan bermata biru, kau tak ingat ekspresimu ketika itu sekecewa apa?”
__ADS_1
Qin Yinuo benar-benar tak menyadari, ia benar-benar kecewa kah?
Qin Yinuo menanyakan dirinya dalam hati, alisnya bertautan. Mata hitamnya dalam dan gelap dan sedih. Ia tidak ingat lagi, karena ekspresinya yang tak disengaja diperlihatkannya itu yang membuat Xiao Xue sesedih ini kah?
“Hari ini kau melamarku di depan umum, aku sangat tersentuh. Tapi aku tak bisa menikah denganmu!” Mu Xue mengatakannya dengan pelan, hatinya terasa dingin.
Ada sesuatu dalam hatinya yang jelas sekali, otaknya juga langsung menyadari akan kejelasan itu. Ya, ia tak bisa menikah dengannya!
Karena barang yang diinginkannya terlalu berharga, ia ingin sebuah perasaan hanya untuk berdua. Kalau tak bisa berdua untuk seumur hidup, ia lebih memilih untuk tidak menikah. Ia tak mau cinta.
Meski ia tahu dirinya yang seperti ini agak berlebihan, agak aneh, agak palsu, tapi ia juga tahu untuk menjaga kehormatan diri. Ia memiliki hak untuk melindungi kehormatan dirinya.
Wajah Qin Yinuo berkerut, “Xiao Xue, aku tak tahu bagaimana menjelaskan padamu tentang masalah foto itu, juga tak tahu bagaimana menjelaskan padamu perasaanku.”
“Kalau begitu tak perlu jelaskan!” Ia berkata dengan cepat, hatinya sakit sekali, “Aku juga tak ingin mendengar penjelasanmu. Qin Yinuo, aku tak ingin sedih, tak ingin merendahkan dan membuat sedih hatiku! Karenanya, aku tak bisa menikah denganmu!”
“Kalau tak ingin menikahiku, bisa tidak tetap bertemu denganku?” Ia bertanya pelan, tidak memaksa lagi. Jarinya yang panjang mengelus pipinya yang lembut, memindahkan helaian rambutnya yang menempel di wajah.
Hati Mu Xue berkerut. Pertanyaan ini, ia belum pernah memikirkannya.
Kalau tidak bertemu…
Ia tidak tahu akan jadi seperti apa hatinya.
Qin Yinuo menciumi dahinya dengan sedih. Suasana ini sungguh menyedihkan, “Maaf, selain maaf, aku tak tahu harus berkata apa denganmu…”
“Kalau begitu jangan mengatakan apapun lagi!” Ia memejamkan matanya, menahan rasa sakit.
“Maaf, sayang! Kenapa aku selalu membuatmu sedih?” Ia bergumam, meninggalkannya.
Mu Xue merasa tubuhnya jadi ringan, kursinya juga segera terangkat. Qin Yinuo menunduk dalam diam.
Mobil dinyalakan, lalu melesat pergi.
Suasana terasa pengap, Mu Xue menunduk. Sepasang tangannya bertautan, album di dalam tasnya itu, ia tidak tahu harus diapakan.
Pikirannya kacau, sebenarnya mereka masih bertemu atau tidak? Kalau tidak menikah dengannya, kalau tidak bertemu lagi, apakah hubungan diantara mereka akan jadi lelucon?
“Kuantar kau pulang!” Ia berkata, “Tian Yu sudah dijemput pulang oleh ayahku!”
Ia mengangguk, “Baik!”
Mobil berhenti di sebuah Jalan Yongxiang. Qin Yinuo turun dari mobil, hendak membukakan pintu untuk Mu Xue, tapi wanita itu sudah turun duluan. Setelah turun dari mobil, tanpa mengatakan apapun, ia langsung berjalan ke arah apartemen.
“Xiao Xue!” Ia berteriak pelan.
Ia menghentikan langkahnya, menoleh, lalu menampakkan senyum, “Kita jangan bertemu lagi!”
“Tidak bertemu seumur hidup atau sementara?” Ia bertanya.
Hatinya berkerut, “Tak usah bertemu untuk sementara.”
“Baik!” Ia tidak menahannya, “Kau jaga diri!”
Mu Xue berbelik, melihat puntung rokok tadi pagi sudah disapu bersih, sementara ia teringat akan sesuatu dan membalikkan badan untuk bertanya apakah ia tidak tidur semalam. Tapi mobilnya sudah melesat pergi.
Hatinya jadi kosong, tidak tahu yang dilakukannya ini benar atau tidak…
Mobil melesat keluar dari gang dengan cepat, lalu Qin Yinuo berhenti di tepi jalan. Begitu menoleh, ia menyadari bunga itu masih ada di kursi belakang. Memikirkan wanita itu yang berkata untuk tidak bertemu dengannya untuk sementara waktu, hatinya jadi makin sakit.
__ADS_1
Lagi-lagi sebuah malam yang sulit untuk tidur.
Mu Xue memakai baju dan berjalan di dalam gang.
Ia mengakui dirinya hendak melihat mobil Qin Yinuo ada atau tidak. Atau mungkin sebenarnya ia berharap pria itu ada.
Tapi setelah keluar, ia tidak menemukan mobil tersebut. Maka hatinya penuh dengan kekecewaan.
Angin bertiup, udara juga agak dingin. Ia langsung memeluk tubuhnya sendiri, ternyata kalau tidak bisa melihatnya hatinya jadi sakit! Pria itu pasti sudah kembali!
Mu Xue menghela nafas, berbalik ke apartemennya.
Ia menyalakan TV, entah saluran TV apa yang tengah memainkan sinetron tak dikenal. Ia melihatnya sebentar, tapi ingin meneruskan lagi, maka ia mematikannya dan naik ke atas tempat tidur.
Esoknya ketika kerja, Pei Lingfeng tanpa sengaja menanyai hal-hal masa kecilnya, secara tidak langsung menanyakan hubungan Mei Xiyun dengan Mu Nanbei. Tiba-tiba Mu Xue merasa hubungan presiden Pei dengan Mei Xiyun tidak semudah itu, mungkin mereka pernah adalah sepasang kekasih.
Akhirnya Pei Lingfeng bertanya, “Xiaoxue, kalau suatu hari nanti kau menyadari orang yang kau anggap sebagai ayah selama bertahun-tahun bukan ayah kandungmu, kau akan bagaimana?”
Mu Xue menggeleng sambil tertawa, “Tidak mungkin, aku tak bisa berandai-andai tentang ini. Ayahku akan sedih! Di dunia ini, tidak ada ayah yang akan menyayangiku seperti ayahku!”
Ekspresi Pei Lingfeng langsung membeku, “Itu karena, kau memiliki ayah yang baik!”
Sepulang kerja, Mu Xue melirik sekilas ke depan pintu perusahaan, namun tidak melihat bugatti biru itu. Hatinya juga agak kecewa.
Kenapa rasanya dirinya seperti seekor ikan yang sedang digoreng. Entah sejak kapan dirinya sengsara. Kalau bertemu juga sengsara, tidak bertemu juga sengsara. Kapan hatinya bisa tenang?
Ia berjalan keluar dari perusahaan dengan pelan. Ia merasa aneh, kenapa bayi ini tidak bereaksi? Beberapa hari ini bayinya tenang sekali, berbeda dengan Tian Yu. Jangan-jangan ini bayi perempuan?
Pemandangan jalanan musim dingin amat tenang. Hanya dengan berjalan seperti ini, ia baru sadar kalau dirinya sudah lama sekali tidak keluar jalan-jalan. Ketenangan seperti ini rasanya bagus juga.
Ia berjalan sambil neunduk, tiba-tiba melihat sepasang sepatu kulit hitam. Ia menengadah, melihat sepasang mata biru.
“Han Lie?” Ia agak kaget. Dalam pikirannya muncul kembali kata-kata Mo Yilan. Sepasang mata biru, rambut hitam, kemudian ia tersenyum.
Han Lie memasukkan tangannya ke dalam kantong jas, bertanya pelan, “Ketawa apa?”
“Tidak ada, kenapa kau ada disini?” Mu Xue bertanya.
“Keluar jalan-jalan!” Han Lie juga tersenyum, “Pas sekali bertemu denganmu!”
“Pas sekali!” Ia bergumam pelan, merasa ini tidak seperti sebuah kebetulan.
Sementara di sisi jalan lain, sebuah mobil mewah mengikuti dengan pelan dari belakang. Jauh dari mereka, tapi selalu mengikuti.
“Tuan muda, perlu diikuti kah?” Sopir bertanya.
“Tak perlu!” Bibir tipis itu berkata dengan suara rendah.
Yang duduk di kursi belakang itu adalah Qin Yinuo. Ia mengerutkan alisnya. Melihat sesosok pria yang berada di sampingnya, alisnya semakin berkerut. Ia mengambil handphone, lalu menelepon ke sebuah nomor, “Yi, bantu aku periksa data seseorang!”
“Katakan!” Terdengar suara dari seberang telepon.
“Tidak tahu namanya, tapi sepertinya marganya Han. Ia orang campuran, sering muncul di pintu perusahaan Lingfeng. Kadang ia akan mengikuti wanitaku, Mu Xue. Matanya biru!”
“Kapan kau mau hasilnya?”
“Semakin cepat semakin bagus!”
“Baik, dalam dua puluh empat jam aku akan memberikanmu hasilnya!”
__ADS_1