
Hello! Im an artic!
Wajah Wen Xiaoxing segera memerah ketika mengungkit masalah ini, “Siapa, siapa yang mau mempererat hubungannya dengan orang seperti dirinya, Song Yin, kamu jangan sembarangan bicara dan bukan permainan yang menarik jika ada skandal di kantor!”
“Benarkah? Kalian tumbuh bersama sejak kecil lalu bertemu kembali dan bekerja di tempat yang sama, jodoh seperti ini tidak dimiliki semua orang, haha…..” Song Yin jarang bercanda seperti ini.
Hello! Im an artic!
“Ah….. gadis busuk, kamu bahkan berani mempermainkanku!” Wen Xiaoxing langsung memukulnya.
Ponsel Song Yin berbunyi pada saat ini. “Jangan bercanda lagi, aku ada panggilan masuk!”
Dia menunduk dan melihat jika itu adalah telepon dariYu Jinglan , bukankah baru saja berpisah, mengapa meneleponnya lagi dan dia merasa aneh.
Ternyata Yu Jinglan meneleponnya untuk mengatakan jika dia ada urusan sehingga perlu melakukan perjalanan bisnis dan belum tentu akan pulang malam ini sehingga dia menyuruhnya langsung pulang setelah pulang kerja.
Hello! Im an artic!
Pada malam itu, Song Yin tidak kembali ke vila tapi dia langsung pulang ke rumahnya yang ada di Distrik Liyuan.
Dia mengambil cuti pada hari Rabu karena itu adalah hari peringatan kematian bibi.
Pagi-pagi Song Yin sudah pulang ke kediaman Song untuk pergi ke kuburan bersama ayah dan ibunya hanya saja begitu dia masuk dia melihat ayah sedang duduk dengan wajah marah dan ibu sedang membujuknya.
“Ayah, ada apa?” Song Yin merasa bingung.
“Tidak apa-apa, Yinyin kamu cepat datang untuk membujuk ayahmu dan kita pergi agak siang hari ini!” Ibu Song Yin menghampirinya sambil menarik tangan Song Yin dan berbisik, “Tong tong tidak tahu ke mana dan tidak pulang semalaman dan dia sering seperti ini akhir-akhir ini sehingga ayahmu marah!”
Song Yin mengangguk.
“Yinyin, apakah kakakmu menghubungimu?” Wajah Song Qingquan tetap terlihat tegas sewaktu melihat Song Yin pulang tapi kemarahannya sudah disembunyikan sedikit.
“Tidak!” Sebenarnya Song Sitong jarang menghubunginya terutama setelah dia tahu jika dirinya adalah anak ayah terutama pada hari ini empat tahun yang lalu bibi meninggal karena menyelamatkan dirinya sehingga selain kebencian maka Song Sitong juga meremehkannya.
“Dia semakin keterlaluan!” Song Qingquan berkata dan tidak bicara lagi seperti menyadari sesuatu. “Hari ini kamu dan ibumu pergi ke kuburan bibimu saja karena aku masih ada urusan di kantor dan aku akan pergi sendiri nanti!”
Akhirnya, hanya dia dan ibunya yang pergi ke kuburan bibi dan Song Sitong yang merupakan anak kandungnya tidak tahu pergi ke mana.
Song Yin meneleponnya dan terdengar suara yang seperti masih belum bangun. “Song Yin, ada apa mencariku?”
“Kakak, hari ini adalah hari peringatan kematian bibi!” Song Yin berbicara dengan pelan.
“Heng! Kamu jangan lupa jika ibuku mati karena demi menyelamatkanmu!” Dia langsung berkata dengan nada penuh permusuhan sehingga membuat Song Yin mengatupkan mulutnya.
“Aku dan ibu akan ke kuburan, kamu ikut juga!” Song Yin berkata setelah menunggu dia selesai bicara.
“Buat apa melakukan hal seperti ini? Apakah kamu berpikir aku tidak tahu dengan apa yang dipikirkan oleh ibumu, dia berbuat seperti itu karena merasa bersalah kepada ibuku jika ibuku tidak mati maka kalian seumur hidup ini jangan berharap bisa masuk ke kediaman Song. Heng! Jangan kalian pikir jika aku tidak tahu maksud kalian, aku tidak mau pergi karena aku tidak ingin pergi bersama kalian, aku akan pergi sendiri!” Nada suara terdengar tidak sabar.
Kemudian, Song Yin sepertinya mendengar suara napas pria yang berat lalu terdengar suara Song Sitong. “Uh….. jangan bikin onar…..”
__ADS_1
Song Yin masih ingin mengatakan sesuatu tapi teleponnya sudah ditutup. Ternyata kakak bersama dengan seorang pria, siapa pria itu? Apakah pria yang ada dalam video itu? Dia tidak pulang sepanjang malam, bahkan dia tidak pulang untuk memperingati hari kematian bibi?
“Yinyin, apakah Tong tong tidak pulang?” Ekspresi ibu terlihat sangat khawatir sambil menghela napas.
“Ibu, kita pergi berdua saja, kakak sibuk sehingga tidak bisa pulang.” Song Yin tidak menjelaskannya dan dia mengandeng tangan ibunya untuk pergi ke kuburan.
“Yinyin, apakah ibu salah?” Ibu berbalik melihat Song Yin sewaktu memasuki area pemakaman, “Ibu tidak seharusnya mencintai ayahmu dan merebut kebahagiaan bibimu. Kamu menikah dengan Yu Jinglan sekarang, apakah kita berdua tidak bisa lepas dari takdir seperti ini?”
“Ibu, kamu jangan terlalu banyak pikir, kebahagiaan tidak bisa direbut oleh orang meskipun pada awalnya kamu salah tapi kamu hidup menderita selama ini dan sudah saatnya mendapat kebahagiaan, aku yakin bibi yang ada di atas sana akan memaafkan kalian!” Song Yin hanya bisa menghibur ibunya seperti ini karena dia tidak tahu harus mengatakan apa dan dia hanya tidak ingin ibunya merasa sedih.
“Dia tidak akan memaafkan aku, aku telah bersalah kepadanya!” Mata ibu Song Yin menjadi redup.
“Ibu, orang yang harus bertanggung jawab adalah ayah bukan dirimu!”
Jika pria setia maka tidak akan terjadi kesalahan seperti ini dan tentu saja ibu juga punya tanggung jawab karena dia tidak seharusnya jatuh cinta kepada suami kakaknya tapi ini sudah lama terjadi maka sudah terlambat jika menyesalinya sekarang, yang mati sudah mati tapi orang yang hidup masih harus melanjutkan hidup.
Di depan kuburan bibi ada seikat bunga krisan putih cantik yang seolah-olah baru diletakkan tapi tidak tahu siapa orangnya!
Apakah itu ayah?
Atau kakak?
Song Yin tidak tahu dan dia hanya melihat foto yang ada di depan batu nisan yang membuat hatinya sedih dan rasa bersalah, jika bibi tidak menyelamatkan dirinya maka orang yang berbaring di sini hari ini adalah dirinya!
Di kota lainnya, kota R.
Malam malas yang hangat dan lampu tidak berhenti berkedip, orang berjalan pelan dan bayangan mobil yang lalu lalang menyimpan misteri malam.
Di dalam kamar yang ada di lantai dua puluh tujuh.
Tubuh Yu Jinglan yang tinggi bersandar malas sambil memakai jubah mandi yang longgar, warna kulitnya agak coklat dan wajahnya yang tajam seperti patung Yunani dengan mata dingin yang tampak liar dan penuh pesona di malam yang sepi.
Yu Jinglan duduk dalam kegelapan sambil memegang sebuah rokok yang hampir habis, wajah tampannya terlihat datar sambil menatap wanita yang baru masuk setelah mengetuk pintu.
“Lan, aku sangat merindukanmu karena sudah lama tidak bertemu!” Wanita itu memakai gaun panjang modis yang memperlihatkan punggungnya yang sedang berjalan masuk dan keseksiaannya akan membuat para pria mimisan tapi Yu Jinglan bukan pria biasa.
Pada saat melihat wanita yang seksi, otaknya muncul bayangan wanita yang terlihat kacau terutama di malam itu, dia menggigit giginya sambil menahan kebuasannya.
Dia adalah istrinya!
Wanita perawan yang telah diperiksa tapi anehnya dia tidak bersih! Yang paling konyol adalah wajah kecil itu sering muncul di dalam otaknya yang datang tiba-tiba.
Dia menertawakan dirinya sambil tersenyum dan mengisap rokok terakhirnya sambil melihat asap rokok tipis dan dia melemparkan rokok ke asbak, pada saat ini wanita seksi itu merangkul lehernya sambil mengecup pipinya dengan lembut, “Lan…..”
Jiang Yan, pembaca acara hiburan terkenal di kota R merupakan orang favorit baru yang dikejar oleh orang kalangan atas kemudian dia terjerat ketika bertemu dengan pria ini.
“Sudah lama tidak melihatmu datang ke kota R, katanya kamu sudah menikah, apakah itu benar?” Tangannya yang ramping bermain dengan terampil di dada Yu Jinglan yang kekar lalu dia duduk dengan anggun di atas tubuhnya, bibirnya yang merah mencium tenggorokan Yu Jinglan dan tidak lupa tangannya melepaskan jubah mandi Yu Jinglan tapi segera dihentikan oleh sebuah telapak tangan yang besar.
“Jiang Yan, aku lelah.” Kata yang datar terdengar dan Yu Jinglan mendorong wanita yang duduk di atasnya lalu dia bangun dan berjalan ke arah kamar mandi dan meninggalkan wanita yang kecewa sendirian dan matanya menatap sosok pria yang didambakannya.
__ADS_1
Di dalam kegelapan, mobil Bugatti meluncur di jalan tol sambil melakukan panggilan telepon.
Dia menelepon Song Yin, “Telepon kamu Anda panggil sedang dimatikan!”
Terdengar suara ini dari ujung telepon.
Yu Jinglan ingin membanting ponselnya kemudian dia menelepon telepon di vilanya tapi masih tidak ada yang menjawabnya dan Yu Jinglan tanpa daya menelepon ke kediaman Song. Setelah ibu Song Yin mengangkatnya, dia bertanya dengan ramah, “Jing Lan ya, apakah kamu sedang mencari Yinyin?”
“Ya! Apakah Yinyin ada di rumah?” Tiba-tiba Yu Jinglan menjadi gelisah sewaktu dia bertanya.
“Dia pergi setelah selesai makan dan dia mengatakan akan pulang setelah bertemu Tong tong! Kamu ada di mana?”
“Ah, aku sedang ada di jalan, baiklah, aku tidak akan mengganggumu istirahat!” Yu Jinglan menutup teleponnya.
Mengapa dia mematikan ponselnya jika mau bertemu Song Sitong?
Bar di tengah malam.
Song Yin menemukan bar yang dikatakan oleh Song Sitong dan dia janjian bertemu dengannya di sini.
Song Yin pertama kali datang ke bar, suasananya suram dengan godaan yang tinggi.
Song Yin tidak mengerti mengapa tempat gelap seperti ini menarik banyak orang untuk datang?
Bar adalah tempat di mana orang mencari wanita cantik.
Dia masuk dan mencari sosok Song Sitong dalam lampu yang gelap.
Mungkin karena telah banyak melihat wanita seksi maka begitu melihat Song Yin yang polos sehingga menarik perhatian para pria hidung belang.
Song Yin segera menarik perhatian semua orang, bahkan penyambut tamu juga melihatnya.
Pada saat ini, tidak akan ada orang yang menyangka jika wanita polos yang tampak gelisah ini adalah putri kedua Walikota Song, hanya saja kemunculan wanita polos yang tiba-tiba ini menarik perhatian orang.
Song Sitong sedang minum dan segelas besar bir langsung dia minum yang membakar tenggorokannya sehingga dia mengerutkan keningnya, semuanya sudah hilang! Yu Jinglan telah menikah dengan Yinyin, ibu telah tiada dan ayah sedang bersama bibi dan dia adalah orang paling kesepian dia dunia ini.
Dia menertawakan dirinya sendiri dan detik selanjutnya dia minum tanpa ragu lagi.
“Kakak…..” Song Yin langsung menghentikannya sewaktu melihatnya. “Jangan minum lagi, mari kita pulang!”
“Ah! Kamu sudah datang ya! Temani aku minum!” Song Sitong mengambil bir yang ada di sampingnya. “Apakah kamu berani meminumnya? Wanita polos?!”
“Kakak, aku tidak minum!” Song Yin menggelengkan kepalanya.
“Kenapa? Song Sitong cegukan dan mulai mabuk.
Dia menyukai rasa bir ini karena membuat orang melayang setelah meminumnya.
“Kakak, kita cepat pulang!” Song Yin melihat banyak pria yang berniat tidak baik sedang melihat ke arah mereka, “Mari kita pulang, kamu sudah mabuk!”
__ADS_1
“Apakah aku sudah mabuk?” Song Sitong bertanya sambil mengoyangkan gelasnya sambil melihat cairan keemasan di dalam gelas yang bergoyang lalu dia tertawa mencibir, “Pergi kamu! Aku tidak ingin bicara denganmu, pergi!”
“Dua gadis cantik mari temani kakak minum!” Ada pria yang datang menghampiri sambil menatap badan Song Sitong dan Song Yin dengan cabul terutama karenaSong Sitong memakai gaun punggung terbuka.