
Hello! Im an artic!
“Jadi bagaimana maumu? Kamu terlalu ikut campur, harusnya kamu antarkan saja sup untuk Mu Xue, aku tidak perlu perhatianmu, dia masih terbaring di rumah sakit…”
“Dia ada Gongben yang mengurusnya, tidak perlu aku!” suaranya memelan. “Tanggung jawabku adalah mengurusmu!”
Hello! Im an artic!
Dia menatap matanya, menangkap senyumnya yang lembut, pria itu berkata dia tidak akan pergi. Wanita itu memejamkan matanya, ditutupi bulu matanya yang panjang, bergetar seperti sayap kupu-kupu di tengah hembusan angin, dia berhenti sejenak,mengangkat ujung bibirnya dan berkata: “Tapi aku tidak ingin diurusimu.”
Suara wanita itu merendah, terdengar kesepian, hati Yu Jinglan berdetak. “Yin Yin……” Song Yinjuga tidak tahu apa yang sedang dirasakannya, tanpa sadar dia mememeluk tangannya sendiri dengan erat.
Sorot mata pria mengarah padanya, dia tertegun sesaat, sorot matanya menatap wanita itu lekat-lekat. Sorot mata yang begitu membara dan fokus, sebuah tatapan memiliki yang dalam.Mengapa dia menatapku dengan tatapan seperti itu? Dia hanya menghela nafas dalam-dalam, jawabnya: “Baiklah, anak baik! Ganti baju dan kita makan!”
Song Yin masih bimbang, tiba-tiba tangan pria itu memeluknya erat, hendak membantu. “Tidak…” Song Yin bergegas menghindar, menjerit dan lari keluar dari kamar mandi.
Hello! Im an artic!
Yu Jinglan menghentikan dengan sebelah tangannya, menahan bahu wanita itu, menariknya ke dalam pelukan. “Kamu tidak mau ganti sendiri, bukankah ingin aku bantu?”
“Aku ganti sendiri!” Song Yin berkompromi, perlawanannya tidak berhenti, tangan dan kakinya tidak berhenti memukuli lengan dan dada Yu Jinglan , wajahnya memerah, sebentar saja dia bergerak tubuhnya yang baru pulih dari demam itu sudah kehabisan tenaga. ” Yin Yin, aku hanya membantumu ganti baju, jika kamu terus berontak, aku tidak berani menjamin apa-apa lagi.” Tangan Yu Jinglan yang kuat menahan tubuh wanita itu, suaranya memberontak tidak jelas.
Seketika tubuh Song Yin diam tak bergerak.
Wanita itu mengkakukan tubuhnya, pria itu masih memeluknya, melepaskan pakaian atasnya, saat dia melihat pakaian dalam merah muda dan dada putih wanita itu, dadanya berdegup semakin kencang.
Tubuh yang panas itu seketika mulai menegang. Pria itu menarik nafas dengan yakin, dia mengira kekuatannya cukup untuk menahan tubuh wanita itu, tetapi tidak disangka wanita itu bereaksi.
Wajah Song Yin memerah seperti udang rebus, dengan kesulitan dia berkata dengan suara rendah: “Bejat.”
“Hanya denganmu!” Yu Jinglan menatapi kulitnya yang putih, menelan ludah, tengorokannya sangat kering, kekeringan yang seolah sanggup memantik nyala api, api liar yang membuat siapa saja ingin naik ke awan dengan senang hati.
Sialan! Pria itu sangat menginginkannya! Sangat ingin! “Kamu tidak khawatir aku masuk angin?” kata Song Yin tidak tahan dengan nada pelan. “Sifatmu ini. Dasar bejat! Rendah, tidak bisa dipercaya!
“Kamu siluman yang menyiksa orang!” Yu Jinglan tersadar, dia tertawa pelan, tanpa ragu, antara selangkangannya telah berdiri sejak tadi, namun dia tahu Song Yin tidak sanggup. Dia hanya dapat menahan panas yang membara di antara kedua kakinya, bersamaan dengan itu, sepasang matanya yang hitam tampak semakin mendalam karena menahan nafsunya, dia hampir kehilangan kewarasannya! “Ganti sendiri, aku segera kembali!” Pria itu menerobos ke kamar mandi, kemudian terdengar suara air mengalir, seiring dengan suara terengah-engah dan makian pria itu, tanpa dapat ditahannya Song Yin bibir menekuk naik, dia, pasti sedang mandi air dingin!Dia segera mengenakan pakaiannya, wajah Song Yin panas merona, dia mengintip ke arah kamar mandi, sudut bibirnya semakin terangkat, ternyata pria itu memiliki sisi seperti ini, sungguh tidak disangka! Ada sedikit keraguan dalam wanita itu, kehangatan seperti ini apakah bisa ia peroleh?
“Nyonya, Anda sudah datang? Supnya akan segera siap!” Kak Zhang mengangkat sup yang baru jadi dari dalam dapur.
“Em. Terima kasih Kak Zhang, maaf merepotkan, malam-malam begini menganggu istirahatmu!” kata Song Yin dengan rendah hati. “Nyonya mengapa begitu sungkan? Tuan begitu sungkan, Anda juga. Saya jadi tidak enak.”
“Hehe, mari makan bersama.” Song Yin tersenyum.
“Saya sudah makan, sudah tua tidak baik makan malam-malam, nanti gemuk!” Song Yin dan Kak Zhang duduk berbincang, mereka sesekali tertawa.
Di lantai atas, tubuh Yu Jinglan yang tinggi telanjang bulat dan masih basah saat ia berjalan keluar, air dingin benar-benar memadamkan hasratnya, dia berganti pakaian dan turun.
__ADS_1
Di meja makan wanita itu sedang makan dalam diam, saat dilihatnya pria itu turun, Kak Zhang segera kembali ke dapur memberi ruang untuk mereka berdua. Yu Jinglan berdiri di atas tangga, melihat wanita itu dari jauh, wanita yang diam itu tampak seperti boneka, tubuhnya langsing dan berlekuk serta halus, sangat indah dan menawan. Bahkan hanya dengan melihatnya, seperti saat dia menatapnya sekarang, tanpa sepatah katapun, pria itu merasa seluruh jiwanya telah menemukan tempat untuk berlabuh, tempat berlabuh yang sangat damai.Song Yin tidak menengadah, wajahnya tampak merona-rona kemerahan, dia memakan supnya dalam diam. “Enak?” tanya Yu Jinglan dengan suara parau yang anehnya sangat enak didengar, dengan daya tarik yang menyihir dan mematikan.
Tanpa berbicara, Song Yin menunduk dalam-dalam, ingin segera menghabiskan supnya dan tidur, dia sangat mengantuk.
Sudut bibir Yu Jinglan membentuk senyuman yang menawan “Tidak enak?”
“Tidak enak?” tanya Kak Zhang yang tiba-tiba muncul dari dapur dengan tegang. “Enak, Kak Zhang sup buatanmu sangat enak!” jawabnya mendadak
“Syukurlah.”
“Kak Zhang sudah, istirahatlah.” Kata Yu Jinglan pelan.
Kak Zhang tahu sebaiknya dia pergi, dia tahu tuannya ingin sendiri dengan nyonya. “Tuan, nyonya, tinggalkan saja alat makannya setelah selesai, nanti saya bereskan.”
Kak Zhang buru-buru meninggalkan mereka, setelahnya Yu Jinglan duduk menghadap Song Yin dan mengangkat semangkuk sup. “Pembohong kecil, kau mengacuhkanku?”
Song Yin tidak mengerti mengapa disebut pembohong, kapan dia pernah membohongi pria itu?
“Gara-gara kamu aku mandi air dingin, pesonamu sungguh kuat. Biar kuberitahu, hari ini karena kau sakit aku bersusah payah menahan diri, menahan hati yang begitu mengingini mu. Jika tidak maka…”
“Aku sudah selesai makan!” Song Yin tidak ingin mendengar lebih lanjut kata-kata pria itu, dia bangkit dengan wajah dingin. “Baiklah, aku tidak menganggumu lagi, makanlah sedikit lagi.” Yu Jinglan bangkit dan menahan lengan wanita itu. “Yin Yin, kamu terlalu menganggap serius.”
Wanita itu kembali duduk, dua manusia itu kembali diam. Setelah wanita itu selesai makan, pria itu kembali mengambilkan sup “Makan lebih banyak.” Karena demam dan tidak berseara makan, wanita itu hanya makan sedikit. “Aku sudah kenyang dan lelah, aku ingin tidur.” Wanita itu bangkit berdiri hendak pergi.
Wanita itu menunggu jawaban. Pria itu bangkit berdiri, dan berbisik dengan pelan di telinga Song Yin yang masih belum sadar sepenuhnya dengan suara yang menarik bagaikan magnet, “Yin Yin, ayo kita berpacaran.”
Hening. Sesaat, pikiran berkecamuk dalam kepala Song Yin, apa katanya? Pria itu mengulang lagi: “Ayo kita berpacaran.”
Perkataan yang diulang itu didengarnya dengan sangat jelas, pria itu ingin memacarinya! Hati wanita itu berdegup sangat kecang, berdetak cepat tanpa henti.
“Mengapa?” tanya Song Yin akhirnya.
“Apanya yang mengapa?”
“Kau…. mengapa tiba-tiba begini?”
“Pembohong kecil! Sana naik dan tidur!” Pria itu memeluknya.
“Ah…” kata Song Yin pelan tanpa dapat menahannya.
“Kenapa, tidak ingin berpacaran denganku?” Yu Jinglan mendekati pipinya dengan semangat, dan menggendongnya naik ke atas, sambil tertawa jahat dengan suara rendah. Hati Song Yin bergetar, wanita itu beringsut mundur, “Turunkan aku!” “Nantinya aku akan menggendongmu ke atas tiap hari, bolehkan?” Sudut bibir Yu Jinglan terangkat perlahan, dengan pesona liarnya.
“Kamu… apa maksudmu sebenarnya?” Song Yin terdiam sesaat masih dalam keadaan bingung. Dirinya yang begitu tumpul ataukah memang dia tidak memahami pria itu?
Yu Jinglan mempererat genggamannya, mengelus pantat kecil wanita itu dan mengusap ke atas dengan kuat. “Ya ingin berpacaran, orang lain berpacaran lalu menikah, kita menikah dulu baru pacaran, apa tidak boleh?”
__ADS_1
“Itu hal yang hanya dilakukan pasangan. Kamu…” mata Song Yin terpejam, dirinya berpikir. “Aku apa?”
“Kamu tidak mencintaiku!” jawab wanita itu pelan.
“Tapi kamu bisa mencintaiku!” katanya tanpa ragu, dia sadar dengan perubahan sikap wanita itu. Jelas sekali wanita itu mencintaninya, tapi berpura-pura tampak begitu tak berdaya.
“Aku tidak mencintaimu” tukasnya cepat, “Atas dasar apa aku mencintaimu?” lanjutnya
Yu Jinglan tertawa dengan suara rendah, melihat kilatan tersembunyi di mata wanita yang mencintainya itu. Emosi bercampur aduk dalam hatinya, tidak dapat dijelaskan dengan kata-kata.
Wanita itu hanya ingin melindungi dirinya, mencegah dirinya terluka. Wanita itu tidak memiliki rasa aman.
Kedepannya, jalan yang harus mereka hadapi masih sangat panjang. Pria itu berharap wanita itu dapat mempercayainya, karenanya pria itu harus berusaha keras agar wanita itu percaya padanya. Digendongnya Song Yin hingga ke atas tempat tidur, dibaringkannya dan diselimutinya.
“Tidak mencintaiku ya sudah.” Kata pria itu dengan sengaja.
“Cinta tidak dibuktikan dengan kata-kata, tetapi dengan perbuatan.”
“Nakal!” umpat wanita itu, tidak disangka kata itu meluncur dari wanita itu.
“Apa aku salah bicara?” Yu Jinglan mengangkat alisnya. “Bukankah cinta memang berdasarkan perbuatan?”
“Aku malas berurusan denganmu.” Wajah wanita itu memerah sembari mengatupkan bibirnya, lalu memejamkan mata dan memeluk selimut. Seketika muncul sedikit perasaan kecewa, hendak bertanya pertanyaan yang tidak diselesaikannya tadi.
Selimut terangkat dan sebuah tubuh yang hangat memeluk erat tubuh wanita itu. Pria itu mematikan lampu saat wanita itu hendak berontak, lalu dibisikinya “Tidurlah pembohong kecil. Mimpi indah!”
Pria itu tidak berbuat apa-apa, hanya memeluknya.
Perlahan, Song Yin tertidur pulas.
Paginya sinar matahari menembus lembut ke dalam kamar dan menyinari langit-langit kamar dengan indah. Udara pagi hari membangunkan Song Yin, perlahan dia membuka sepasang matanya, bulu matanya bergetar terbuka perlahan. Entah apa yang dipikirkannya hatinya berdegup, tangan kiri Yu Jinglan yang kuat masih memeluk erat pinggangnya, tubuh atasnya yang terbuka tampak begitu kokoh.
Song Yin menarik tubuhnya pelan, pria itu telah memeluknya sepanjang malam.
Pikiran Song Yin melayang menatap pria di sampingnya itu. Matanya masih terpejam, wajahnya yang indah tampak dingin dan sepasang alisnya tampak berkerut.
Semalam dia berkata: ayo kita berpacaran!
Apa maksud sebenarnya? Hatinya yang tenang seperti dilempari batu, semakin lama semakin tidak tenang.
Song Yin menatapi Yu Jinglan yang tengah tertidur pulas, hanya saat dia tertidurlah wanita itu berani menatapnya demikian. Jari-jarinya dengan lembut membelai wajah tampan itu.
Wanita itu mencintai pria itu. Mencintainya lima tahun ini.
Sayangnya pria itu tidak pernah tahu, saat pria itu mengajaknya untuk berpacaran hatinya sangat panik, tetapi setelah banyak rasa sakit yang dilaluinya, wanita itu tidak tahu apakah masih ada keberaniannya yang tersisa untuk terus mencintai. Dia tidak punya keberanian untuk mencintai sampai mati, dia takut itu hanyalah sebuah harapan yang hampa yang membinasakannya.
__ADS_1