
Hello! Im an artic!
“Iya, mahal sekali!” ujar Ceng Li sambil memandang Mu Xue, “Wanita sepertimu sangat sedikit. Siapapun yang menikahimu pasti sangat beruntung.”
Mu Xue menundukkan kepalanya.
Hello! Im an artic!
Ceng Li berkata kepada pelayan, “Aku ingin memesan 2 steak, well done.”
“Oke, dua steak dan dua jus mangga.”
Mu Xue bangkit berdiri, “Aku ke toilet dulu.”
“Aku ingin pergi merokok,” Qin Yinuo bangkit berdiri kemudian beranjak pergi.
Hello! Im an artic!
Beranjak keluar dai toilet, Mu Xue sangat terkejut. Dia melihat Qin Yinuo menutup pintu toilet.
“Kenapa? Takut?” tanya Qin Yinuo.
“Pak, nona Gao sedang menunggu di luar. Apakah anda tidak takut dia marah?” Mu Xue sangat takut. Dia tidak tahu apa yang akan Qin Yinuo lakukan kepadanya. Dengan cepat Qin Yinuo menarik Mu Xue ke dalam pelukannya kemudian ******* bibirnya.
Qin Yinuo menciumnya dengan sangat kasar. Mu Xue merasakan kesakitan, ciuman tersebut adalah seperti hukuman untuknya. Pelukan Qin Yinuo sangat erat, Mu Xue merasa tulangnya akan patah. Tubuh Mu Xue bergetar sangat hebat. Setelah melihat tubuh Mu Xue bergetar hebat, Qin Yinuo melepaskan pelukannya. “Siapa yang mengijinkanmu untuk berkencan dengan Ceng Li?”
__ADS_1
“Siapa yang berkencan?” tanya Mu Xue.
“Kamu tidak boleh berkencan dengan pria lain!” ucapnya.
“Atas dasar apa?”
“600juta!” jawab Qin Yinuo.
“Bagaimana? Setuju? Jika tidak kembalikan uangku sekarang!” tanya Qin Yinuo.
“Iya, aku berjanji!”jawab Mu Xue dengan ketakutan.
“Bagus!” Qin Yinuo mengelus wajah Mu Xue.
“Apakah aku boleh keluar sekarang?”
“Apakah kamu sengaja melakukan ini agar Ceng Li melihatnya?” tanya Mu Xue dengan marah.
“Kalau iya, memangnya kenapa?” tanya Qin Yinuo.
Air mata mengalir deras dari mata Mu Xue.
“Brak brak”, suara pintu diketok, “Hey! Kenapa dikunci? Bagaimana orang lain bisa masuk?”
“Ada orang!” jawab Mu Xue dengan panik. Dengan sigap Qin Yinuo mendekap Mu Xue dengan erat sambil memandangnya, “Jangan perdulikan!”
__ADS_1
Hati Mu Xue terasa ingin jatuh! Dia berusaha mengontrol suasana hatinya.
“Keluarlah!” ujar Qin Yinuo memberikan ijin.
Ketika kembali ke meja Ceng Li berkata, “Makanlah! Steak ini hampir dingin!”
“Baik,” jawab Mu Xue.
Tidak berapa lama kemudian Qin Yinuo muncul. Dia berlagak seperti tidak terjadi apa-apa. “Nuo, kenapa lama sekali? Aku sudah lapar menunggumu!” ujar Gao Siqi.
Ceng Li bersikap seolah tidak ada apa-apa, “Xiao Xue, apakah enak?”
“Iya, enak.”Mu Xue menundukkan kepalanya seperti seorang anak kecil. Setelah makan, mereka pun pulang. Gao Siqi masuk ke dalam mobil Qin Yinuo kemudian pergi.
“Xiao Xue, ayo pulang!” ujar Ceng Li yang merasakan kejanggalan. Dia hanya berpura-pura tidak tahu.
Di dalam mobil Ceng Li tiba-tiba bertanya, “Xiao Xue, apakah Chengcheng adalah anakmu dan Nuo?”
Mu Xue mengangkat wajahnya, “Bagaimana mungkin? Ceng Li, apakah kamu bercanda?”
Bab selanjutnya Bab 51 Topeng Rubah
Chengcheng adalah anak yang dia temukan di tepi sungai. Dia tidak ingin menceritakan hal ini kepada orang lain.
“Aku hanya bercanda!” Ceng Li tertawa.
__ADS_1
Tidak berapa lama kemudian ponsel Mu Xue berdering. Dia melihat itu adalah panggilan dari Qin Yinuo.