
Hello! Im an artic!
“Heh! Bocah busuk, kamu sedang mengajariku bagaimana menjadi seorang pria?” Dengan tidak segan Yu Jinglan menatap wajah Mo Mo yang serius.
“Benar!” Mo Mo mengangguk.
Hello! Im an artic!
Han Lie juga tersenyum.
Song Yin semakin malu.
“Emangnya apa yang kukatakan tidak benar? Tante, coba kamu bilang benar tidak?” Mo Mo mengulurkan tangannya menarik tangan Song Yin, “Tante, coba kamu bilang apakah yang kukatakan benar atau tidak?”
“Hm, hm, benar!” Song Yin hanya bisa mengangguk.
Hello! Im an artic!
“Kamu se-tim dengan siapa?” Yu Jinglan mengerutkan alisnya, menatap Song Yin. Suara rendahnya terdengar sedikit kesal, kemudian menatap Han Lie.
Han Lie hanya tersenyum.
Yu Jinglan mengalihkan pandangannya, memandang kearah dapur, tiba-tiba tertawa. “Mo Mo, daddymu adalah pria gagah, sehingga mummymu melarikan diri!”
“Begitu ya?” Mengungkit mummy, wajah mungil Mo Mo menjadi muram, ditambah dengan intonasinya yang polos, sungguh membuat orang tidak rela. “Kalau begitu, selanjutnya daddy jangan menjadi pria gagah lagi.”
“Hm.” Menghela nafas, Han Lie mengangguk.
“Kalau begitu apakah mummyku akan segera kembali?” Mo Mo tertawa.
“Hm, tau kenapa mummymu tidak mau pulang?” Tatapan Yu Jinglan berpaling, rencana jahatnya muncul.
“Kenapa?” Perhatian Mo Mo terpancing.
Yu Jinglan tidak menjawab, tubuhnya tegap, berteriak keras. “Bibi Qian, tolong bawakan sisa usus domba, organ domba, dan ginjal domba yang kupanggang di dapur tadi!”
“Oh! Baik, tuan Yu!” Bibi Qian bergegas pergi ambil.
Han Lie mengerutkan alisnya.
“Usus domba apa?” Tanya Mo Mo sambil mengerutkan alisnya.
“Ini yah, kamu harus bertanya daddymu, namun paman bisa memberitahumu, jika kamu bisa mencari cara menyuruh daddymu memakan ini, tidak lama kemudian mummymu akan kembali!” Kata Yu Jinglan kepada Mo Mo sambil tertawa.
“Lan!” Han Lie benar-benar tidak menyangka dia begitu mengerjainya, ia tau Yu Jinglan sengaja membuat dia keluar dari wanita itu, “Sampai mati aku tidak akan memakan makanan seperti itu!”
“Kenapa daddy?” Apa kamu tidak berharap mummy kembali?” Mo Mo tidak mengerti.
Terdengar suara tawaan Yu Jinglan , melihat Han Lie dengan wajah muram, perasaannya sangat senang dan memotong sepotong daging untuk Song Yin. “Istriku, makan daging!”
Song Yin juga tidak tau itu apa, namun juga tidak berani banyak bertanya, karena melihat raut wajah Han Lie sedikit aneh.
__ADS_1
“Karena daddy tidak terbiasa memakan itu!”
“Tapi setelah makan mummy akan pulang!” Kata Mo Mo, kemudian bertanya kepada Yu Jinglan : “Paman, apakah ini adalah obat dewa? Kenapa setelah daddy memakannya, mummy akan pulang?”
“Hm! Ini ya!” Yu Jinglan tersenyum pelan, berkata : “Ini adalah obat dewa, tau kenapa daddymu tidak terburu-buru mencari mummymu kembali?”
“Lan!” Han Lie menghentikannya, “Lain kali aku akan memotongnya sendiri, tidak lagi merepotkanmu, iya? Jangan mengajari anakku hal tidak baik!”
“Cepat atau lambat, anak laki-laki juga harus tau! Sayang, paman beritahu kamu, semua ini dapat mengobati kelenjar adrenalin daddymu untuk mengeluarkan hormon, membuatnya semakin antusias pada mummymu, memakan ini, akan membuat daddymu sangat merindukan mummymu, menurutmu jika ayahmu sangat merindukannya, bukankah dia akan mencari kembali mummymu ke seluruh dunia?”
“Begitu ajaib?” Mo Mo tertegun.
Seketika Song Yin mengerti, makanan ini, bukankah itu?! Bukankah itu organ domba? Sepertinya digunakan untuk meningkatkan gairah, Kakak Yu sangat pandai mengerjai orang!
Han Lie menggelengkan kepala, sedikit tidak berdaya, Song Yin menuangkan segelas anggur untunya.
“Terima kasih!”
“Daddy, kamu makan ini yaa?” Mo Mo turun dari kursi, berjalan ke samping Han Lie, menggoyangkan lengannya. “Mo Mo rindu Mummy, Mo Mo ingin hidup bersama dengan daddy mummy!”
“Iya!” Han Lie mengangguk, kemudian melirik Yu Jinglan , dengan suara rendah ia berkata : “Bagus, Lan, nanti, kamu juga makan sedikit, jika ini adalah barang bagus, tentu harus makan bersama, juga sekalian bisa membuat hubungan dengan Song Yin menjadi lebih baik!”
“Heh!” Yu Jinglan dilibatkan, tiba-tiba tertawa, “Ayok, makan sama-sama!”
Namun tiba-tiba ponselnya bordering, Yu Jinglan mengerutkan alis mengeluarkan ponselnya, melihat panggilan dari nomor jepang, alisnya berkerut, mengangkat panggilan itu : “Ibu! Aku sedang berliburan di luar, hm, iya! Sama Song Yin!”
Hati Song Yin berkedut, ternyata panggilan dari ibu mertuanya.
“Aku tau, kamu istirahatlah dengan tenang, hal lain aku bisa mengerjakannya!” Yu Jinglan membangkitkan tubuhnya. “Hal itu, aku tidak setuju, bagaimanapun juga aku tidak akan menyetujuinya, dia tidak bersalah!”
Kedua tangan Song Yin menggenggam gelas alkohol, sedikit gugup, seketika, ada jejak kesedihan dalam hatinya, kata-kata itu bergema dalam hatinya, cepat lambat kalian pasti akan cerai. Rasa pahit menyebar dihatinya, Song Yin perlahan menundukkan kepalanya.
Anggur dianggapnya sebagai jus, diminum seteguk demi teguk, hingga lupa makan.
Han Lie menatapnya, melihat Song Yin meminum alkohol tidak henti.
Yu Jinglan menelepon, berjalan hingga sangat jauh, sebuah panggilan, menghabiskan 20 menit. Pada akhirnya, Yu Jinglan emosi, langsung berkata : “Ibu, aku akan menggunakan caraku sendiri, tidak akan cerai dengan Song Yin! Segini saja!”
Tidak tau apakah yang dibicarakan.
“Sudah, segini dulu, aku di penggunungan, sinyal tidak begitu baik, bye!” Setelah berbicara, Yu Jinglan langsung mematikan ponselnya, wajahnya memuram.
Ketika Yu Jinglan kembali, Song Yin sudah menghabiskan 2 gelas besar anggur, sedikit pusing, Song Yin sudah mabuk? Song Yin berharap dia mabuk, dengan begitu ia tidak akan khawatir!
Tatapannya berguncang, penggunungan sangat gelap, tidak jelas terlihat. Song Yin menggelengkan kepalanya, semakin pusing.
Han Lie tersadar baru mengangkat sebuah panggilan, ketika pulang, suasana hatinya menjadi tidak baik, memuramkan wajahnya, seperti Yu Jinglan berhutang padanya.
“Song Yin mungkin sudah mabuk!” Han Lie berbicara pada Yu Jinglan .
Yu Jinglan melihat Song Yin diatas meja, mengerutkan alisnya. “Aku mengantarnya ke kamar dulu!”
__ADS_1
“Aku tidak pergi!” Song Yin menggelengkan kepala, mengangkat kepalanya, menggeleng sedikit. “Aku tidak mabuk, aku mau melihat bintang, aku tidak mau pulang!”
Yu Jinglan tidak berbicara, mengecap bibirnya, langsung memajukan langkahnya, “Kembali ke kamar lihat bintang!”
“Aku tidak mau, jika pulang tidak bisa melihat bintang!” Song Yin cegukan.
Yu Jinglan memuramkan wajahnya, tadi masih begitu baik, berapa banyak yang dia minum. Tidak berbicara, langsung menggendongnya ke kamar.
“Eukkk…” Song Yin ingin muntah.
Sangat menderita. Tidak bisa!
Song Yin dengan cepat melarikan diri dari pelukan Yu Jinglan , berlari ke samping dan muntah.
Yu Jinglan menatap Song Yin memuntah dengan wajah tenang, mabuk? Sengaja, atau bukan sengaja?
memuntah beberapa kali, masih ada kesedihan dalam hatinya, Song Yin berdiri, terasa goyah.
Tangan Yu Jinglan menopangnya.
“Jangan pegang aku!” Song Yin menghempaskan tangannya. “Aku bisa jalan sendiri!”
Yu Jinglan tidak meladeninya, mengerutkan alisnya, menyeretnya ke kamar lantai 2.
“Aku mau pergi lihat bintang!” Alis tipis Song Yin sedikit mengerut, bibir merahnya mengerucut karena tidak senang, wajahnya penuh keluhan, masih terlihat mabuk, walaupun tidak begitu sadar, namun juga tidak sepenuhnya mabuk. Mungkin Song Yin hanya menggunakan kesempatan ini untuk bersikap sesuka hati, menyembunyikan kekhawatirkan dan kepahitan didalam hatinya, dan merangkul tangan Yu Jinglan dengan genit : “Aku mau melihat bintang!”
Menghela nafas, Yu Jinglan menggendongnya, membawanya ke ambang jendela, “Lihat, disini bisa melihat bintang!”
Pelukan yang hangat, Yu Jinglan memeluknya dengan erat, Song Yin diam-diam bersandar didadanya, terdengar detak jantung yang stabil, detak demi detak, ada sakit yang sulit dijelaskan.
Langit diluar jendela, malam yang tenang, hanya ada beberapa lampu jalan yang sedikit redup, selain itu, seluruh langit penggunungan gelap, langit malam seperti tirai yang dihiasi batu permata, bintang-bintangnya sangat indah!
Bersandar dalam pelukannya, perlahan Song Yin menjernihkan pikirannya, berusaha membuka matanya melihat langit diluar jendela, mengerutkan alisnya, menaikkan wajah mungilnya, mencari bintang yang paling terang, tiba-tiba, dia mengeluarkan suara rendah : “Banyak sekali bintang, bintang mana yang paling terang Kakak Yu? Bintang yang sangat terang, Kakak Yu itu adalah bintang yang paling terang.”
Tiba-tiba hati Yu Jinglan bergetar, perasaannya kacau.
Tangannya menegang, Song Yin merasa pinggangnya dipegang dengan erat, tanpa menunggu reaksi Song Yin, Yu Jinglan langsung menguncinya kedalam pelukannya, mencium bibirnya.
Ciuman itu sangat cepat, sangat liar, tanpa berpikir Yu Jinglan langsung mencium bibir Song Yin, lidah yang berapi-api itu dengan keras membuka bibir lembutnya, lidah agresifnya masuk kedalam mulutnya, lidahnya berinterkasi dengan lidah Song Yin dengan mesra.
Song Yin membelakangi lehernya, memejamkan matanya menghadap tatapan Yu Jinglan yang menderita dan kacau.
Masih ada kesadaran yang membuat Song Yin merasa sangat menderita, kenapa Yu Jinglan ada tatapan seperti ini, begitu lemah. Pada momen itu, hati Song Yin melemah, Kakak Yu, kamu juga sangat menderita?
Bibir menempel bibirnya, lidahnya bersatu dengan begitu mesra, Yu Jinglan merangkul Song Yin dengan erat, mengeratkan rangkulannya, tampaknya ini dapat menguncinya, tidak lagi membiarkannya pergi dalam seumur hidup, siapapun tidak dapat memisahkan mereka.
Kepahitan tersebar ke seluruh tubuhnya, Song Yin memejamkan matanya, air mata mengalir keluar dari sudut matanya.
Setelah merasakan air matanya, Yu Jinglan tertegun, menciumnya lebih dalam lagi, bibir lembutnya liar, ciuman yang lembutnya perlahan menyeka air matanya, Song Yin menangis, dia tidak benar mabuk!
“Kakak Yu, ibumu mau kamu cerai denganku?” Song Yin berbicara perlahan, intonasinya rendah.
__ADS_1
“Yin Yin…” Yu Jinglan dengan pelan memanggilnya, kemudian terdiam lagi, tidak dapat dilihat emosinya dari wajahnya, menempelkan keningnya, keduanya berpelukan.
Perasaan Song yin sangat perih, ternyata benar adalah masalah ini. Kemarin ibu mertuanya kembali, bergegas memberitakan identitasnya, dan mau Kakak Yu cerai dengannya, ingin memberitahu semua orang, walaupun dia adalah anak walikota Song, juga tak dapat luput dari takdir ditinggalkan.