
Hello! Im an artic!
“Kakak Chi, aku baik-baik saja. Jangan khawatir!” Su Yan lalu berbalik dan tersenyum dengan sedih. Dia tidak ingin Rong Hanchi melihat kesedihannya, tetapi matanya dipenuhi oleh air mata. Dia tidak menyangka bahwa hatinya menjadi semakin lebih sakit.
Rong Hanchi bangkit berdiri lalu berjalan keluar dan berkata dengan gelisah di depan pintu: “Yanyan, kalau kamu lapar, bangun dan makan sesuatu. Aku akan meminta bibi Xu untuk memasak sup ayam dan sup iga babi untukmu!”
Hello! Im an artic!
“Terima kasih!” Air mata mengalir di matanya, dan membasahi sarung bantalnya. “Aku tidak lapar!”
Tubuhnya gemetar karena air mata. Rong Hanchi khawatir, dan kembali berjalan menghampirinya. Di sisi lain tempat tidur, dia melihat Su Yan yang terlambat menghapus air matanya.
Matanya sakit, duduk di tepi tempat tidur sambil membelai kepala Su Yan yang terkubur di bantal. Di jalan, dia telah menduga bahwa ada yang salah dengan dirinya, tetapi dia tidak menyangka bahwa dia benar-benar punya masalah dengan Feng Baiyi. “Yanyan, apa yang dilakukan oleh Feng Baiyi kepadamu?”
“Kakak Chi.” Menengadahkan kepalanya, Su Yan menatap samar-samar Rong Hanchi yang ada di depannya. Kesedihan datang melanda dari hatinya, dia tiba-tiba terisak lalu melemparkan dirinya masuk ke dalam pelukannya dan menangis.
Hello! Im an artic!
“Sudahlah. Tidak apa-apa.” Rong Hanchi memeluknya. “Ada kakak disini. Siapa yang berani membuat Yanyan ku bersedih seperti ini. Kakak tidak akan memaafkannya, beritahu aku, ada apa?”
Rong Hanchi menghela nafas panjang, dengan ketidakberdayaan di wajahnya yang dingin tersebut dia menepuk-nepuk tubuh Su Yan yang sedang menangis dan gemetar. Di matanya, sia selalu seperti anak kecil. Melihat dia menangis seperti ini, benar-benar terlihat seperti seorang anak kecil yang sedang menangis. Dia masih belum besar, dia selalu menjadi anak kesayangan di dalam hatinya. Adik perempuannya yang paling dia cintai!
Sambil menangis dengan pahit, Su Yan mencengkeram erat tubuh Rong Hanchi dan meneriakkan semua emosinya yang sudah tidak bisa dikendalikan lagi. Rasa kantuk berangsur-angsur menyelimuti dirinya. Setelah waktu yang lama, tangisan yang keras tersebut berangsur-angsur menjadi lebih kecil.
“Yanyan?” Rong Hanchi memanggilnya dengan curiga hanya untuk mendapati bahwa dia sudah tertidur, tetapi mata merah yang menangis tersebut menunjukkan sebuah kesedihannya yang hebat beberapa saat lalu.
Orang itu sudah tertidur, tetapi dia masih sesekali tersedak. Rong Hanchi menggelengkan kepalanya, lalu dengan lembut meletakkannya ke bantal dan memberikan Su Yan sebuah kecupan yang tulus di keningnya. “Anak baik! Tidurlah dengan nyenyak!”
Dia tidak tahu apa yang terjadi antara Su Yan dengan Feng Baiyi, tetapi melihat Su Yan seperti ini semakin membuatnya khawatir.
Dia tidak akan membiarkan siapa pun menyakiti –– Adiknya!
Rong Hanchi membantu menyelimuti tubuhnya dengan selimut. Dia duduk di tepi tempat tidur menatapnya. Mengapa dia masih tidak bisa menahan cintanya yang selama ini terjerat ketika dia mengetahui bahwa dia adalah adik perempuannya?
Melihatnya menangis, dia merasakan sedikit rasa sedih di hatinya. Rasa sesak yang begitu menyedihkan membuatnya ingin menghajar Feng Baiyi. Membautnya ingin mengecup Su Yan untuk menghiburnya dari kerapuhan.
Tetapi pada akhirnya dia masih bisa menahan dirinya dengan kesabarannya. Dia seharusnya tidak memiliki perasaan seperti itu pada saudara perempuannya. Ini adalah perasaan yang tidak dapat dibiarkan oleh moralitas dan sekularitas.
Hati dan perasaannya telah hancur sejak lama. Sekarang dia tidak tahu akan tujuan hidupnya! Setiap hari, dia seperti mayat berjalan.
Kamar pasien di rumah sakit.
Ekspresi Feng Baiyi terlihat seperti agak salah.
“Yi, ada apa?” Setelah berpikir lama, Chen Huilun akhirnya tidak bisa menahan diri untuk bertanya kepadanya.
“Tidak apa-apa!” Feng Baiyi menggelengkan kepalanya. “Tidak ada masalah apa-apa!”
“Su Yan hari ini pergi ke sekolah, bukan?” Chen Huilun berkata dengan santai. Setelah melihat Feng Baiyi yang sesaat berubah menjadi tegang, matanya berkedip, “Kalian?”
“Kami baik-baik saja!” Feng Baiyi menjelaskan dengan cepat. “Dia ada di kelas! Huilun, aku akan pergi ke kantor sebentar!”
“Ya!” Meski sedikit kecewa, Chen Huilun tetap tersenyum lembut. “Oke, pergilah!”
Grup Feng.
__ADS_1
Feng Baiyi berpapasan dengan Mu Siyuan begitu dia keluar dari mobil. Dia baru saja keluar dari gedung dan melihat Feng Baiyi dari kejauhan. Melihat wajahnya yang tampan terlihat begitu muram. Dia tertegun lalu dengan segera menghampirinya lalu menyapanya. Pandangannya melihat ke arah Feng Baiyi dengan seksama. “Yi, ada apa? Apa yang terjadi padamu dan Su Yan?”
“Membosankan!” Dia menyapu maksud baik dari Mu Siyuan , Feng Baiyi sama sekali tidak memiliki suasana hati untuk bercanda saat ini.
“Uh! Kenapa dia tidak menjawab saat aku meneleponnya? Aku ingin mengajaknya keluar, kenapa teleponnya selalu tidak bisa dihubungi?”
“Hanya setan yang tahu!” Feng Baiyi berkata dengan suara rendah.
“Uh!” Dengan terkejut Mu Siyuan segera menghalangi jalan Feng Baiyi. “Kamu tidak bisa seperti ini. Apa yang sebenarnya terjadi dengan kalian? Aku berani bertaruh kali ini semua pasti adalah karena ulahmu. Feng Baiyi, segera minta maaf pada adikku!”
“Jangan ikut campur!”
“Cih! Aku tidak ikut campur. Aku tidak peduli dengan orang lain, tetapi jangan sekali-kali kamu berharap dapat menyakiti Su Yan!” Ekspresi di wajah Mu Siyuan seketika menjadi serius. “Jangan berpikir bahwa gadis kecil itu dapat dengan begitu mudah untuk disakiti, aku beritahu padamu, aku selalu membelanya!”
Feng Baiyi mengulurkan tangannya dan mendorong Mu Siyuan ke samping. Dengan tampang yang kusut, dia naik ke atas.
“Kalau kamu tidak beritahu aku, aku akan bertanya langsung kepada Su Yan!” Mu Siyuan berteriak di belakangnya.
Namun, ketika Mu Siyuan berkali-kali mencoba menelepon dan tidak ada yang mengangkat, seketika dia menjadi cemas dan langsung pergi ke sekolah. Setelah mencari tahu bahwa Su Yan tidak datang ke kelas, dia kembali menelepon Feng Baiyi. “Su Yan tidak datang ke sekolah, aku tidak tahu apa yang terjadi dengannya? Apa yang sebenarnya terjadi?”
Kali ini, Feng Baiyi sedikit terkejut, lalu dia segera menyalakan pemantau suara telepon Su Yan, tetapi gagal, dan tidak ada suara sama sekali. Mungkinkah ponselnya rusak?
“Ada apa dengan nyonya?” Feng Baiyi menelepon, dan bertanya pada orang yang ada di sisi lain telepon dengan suara yang dalam.
“Tuan muda! Bukankah anda menyuruh kami untuk tidak mengikuti nyonya?” Terdengar sebuah suara yang menyedihkan datang dari ujung telepon.
“Shit!” Feng Baiyi mengumpat dengan suara yang pelan.
Ya!
Dia yang melihatnya dengan seorang pria asing dengan mata kepalanya sendiri, dan tidak pulang semalaman! Mengapa dia harus pergi mencarinya? Tidak mencari, tidak akan mencari! Feng Baiyi mengeluarkan sebatang rokok, menyalakannya, dan hanyut dalam pikirannya.
Su Yan tidur untuk waktu yang sangat lama, dia merasa sedih dan bingung.
“Dokter, mengapa dia demam?” Tanya Rong Hanchi dengan gugup kepada dokter yang datang untuk memeriksa Su Yan.
Karena Su Yan tidur terlalu lama dan terus berbiccara dalam tidurnya. Dia merasa khawatir untuk beberapa kali dan harus memanggil dokter.
“Ini adalah efek akhir akibat keracunan makanan. Mungkin mukosa lambung nona sedang terluka, membuat bakterinya menjadi aktif, sehingga menjadi radang. Biarkan dia menerima infus terlebih dahulu, sambil kita melihat situasinya. Kalau demamnya masih tidak kunjung sembuh, harus segera dikirim ke rumah sakit!” Dokter pribadi keluarganya segera membuka resep.
Setelah beberapa saat, obatnya telah siap.
Rong Hanchi dengan lembut meraih tangan kecil Su Yan. Dia duduk di tepi tempat tidur, dan memeluk Su Yan ke dalam pelukannya. “Pelan-pelan, jangan sampai membangunkan dia!”
“Ya!” Dokter memberikan suntikan.
“Tidak!” Air disinfektan terasa agak dingin, dan Su Yan berbicara dengan setengah sadar lalu menepis tangan yang sedang mengulur kepadanya. Tubuh kecil itu meringkuk ke dalam pelukan Rong Hanchi, dan dia kembali tertidur.
“Uh! Nona tidak ingin disuntik!” Sang dokter menatap kosong ke punggung tangannya yang ditepis oleh Su Yan, ia menggelengkan kepalanya dan tertawa.
Su Yan sedang tertidur, semua terasa samar-samar. Dia tiba-tiba merasakan pelukan hangat Feng Baiyi, lalu melekat kepadanya. Lalu tanpa diketahui siapa orang itu, tiba-tiba dia merasa ada yang ingin menariknya, dan sosok Feng Baiyi pun tiba-tiba berubah menjadi sangat dingin. Dia tidak ingin meninggalkan pelukan yang hangat tersebut.
Namun, Feng Baiyi menggenggam pergelangan tangannya dengan erat, dan memaksa untuk menariknya.
“Tidak ––” Teriak Su Yan dengan nyaring. Ia melambaikan tangan kecilnya, dan sekali membenamkan kepalanya di pelukan Rong Hanchi. Lengan rampingnya masih memeluk tubuhnya dengan erat, tidak ingin berpisah dengannya walau hanya sedikit saja.
__ADS_1
“Yanyan, aku adalah kakak Chi. Kita mau mulai menyuntikmu. Anak baik, dengarkan aku. Kamu sekarang sedang demam, kita hanya memakaikan infus kepadamu! Ayo menurut, berikan tanganmu kepadaku!” Sebuah suara yang lembut terdengar di telinganya, dan Rong Hanchi mengulurkan tangannya menarik tangan kecilnya. Kali ini, tidak ada lagi perlawanan.
Rong Hanchi memegang erat tangan kecilnya, dan ketika jarum tersebut hendak menembus pembuluh darahnya, kegugupan Rong Hanchi semakin terlihat jelas. “Hati-hati, jangan sampai menusuknya terlalu sakit!”
Dokter hanya bisa memutar matanya tak berdaya, “Tidak akan terlalu sakit!”
Su Yan yang meringkuk membuat tubuh Rong Hanchi ikut gemetar.
“Sakit ……” Teriak Su Yan. Dia membuka matanya dan melihat sekeliling, memanggil dengan suara yang serak dari tenggorokannya yang kering. Ternyata dia sedang berada di rumah kakak Chi, dan tersenyum sedih.
“Yanyan, jangan bergerak, kamu sedang diinfus!” Suara Rong Hanchi terdengar di telinganya.
“Uh!” Su Yan menundukkan kepalanya dan melihat dokter sedang menempelkan selotip, cairan di tangannya telah menetes merasuk ke dalam pembuluh darahnya, terasa dingin.
Kembali mendongakkan kepalanya, dia menemukan dirinya sedang terbaring di pangkuan kakak Chi. Pantas saja terasa begitu hangat! “Kakak Chi, ada apa denganku?”
“Sedikit demam, jadi kamu diinfus untuk menurunkan demam. Jangan bergerak!” Suara lembut dan hangat dari Rong Hanchi membuat Su Yan ingin menangis lagi.
Air mata Su Yan hampir jatuh, mungkin inilah yang dinamakan dengan keluarga. Tidak akan pernah meninggalkan dirinya sendiri kapan saja. “Kakak Chi, biarkan aku berbaring saja!”
Dokter telah keluar lebih dulu dan hanya menyisakan Su Yan dan Rong Hanchi berdua di kamar.
“Ya, baiklah. Hati-hati, jangan sampai terkena jarumnya!” Dengan lembut Rong Hanchi membaringkannya di atas bantal, dan dia tiba-tiba terhuyung.
“Ada apa?” Su Yan memperhatikan bahwa ada yang salah dengannya.
“Tidak apa-apa!” Rong Hanchi menggelengkan kepalanya lalu berdiri dengan kokoh.
“Apakah kakimu kesemutan?” Su Yan dengan cepat dapat memahami penyebab dari ketidaknyamanannya tersebut. Hatinya menjadi merasa lebih bersalah, tetapi juga lebih hangat. “Kakak Chi, apakah aku sudah lama berbaring di pangkuanmu?”
“Tidak masalah!” Rong Hanchi menggelengkan kepalanya. “Apakah kamu lapar?”
Su Yan menggelengkan kepalanya. “Tidak lapar! Apakah kakimu sudah lebih baik?”
Rong Hanchi bergerak sedikit. “Rasanya sudah lebih baik!”
Su Yan baru merasa lega sekarang. Sungguh aneh, setelah dia keracunan makanan, dia tidak merasakan lapar sama sekali.
Memikirkan apa yang telah dilakukan oleh kakak Chi untuknya, dia merasa sanga tsungkan. Ternyata, di dunia ini hanya kakak Chi seorang yang paling dekat dengannya, hanya kaka Chi yang paling peduli kepadanya, dan menjaganya.
Namun, dia merasa hatinya semakin jauh! Kakak Chi hanyalah kakak Chi, sedangkan orang yang melukai hatinya tersebut adalah seorang asing yang baru dikenalnya selama beberapa bulan saja!
Dan Feng Baiyi, pria yang aneh itu adalah orang gila. Dia tidak mengetahui dimana letak kesalahannya? Dia pun semakin merasa sebal dengannya, menghela nafas, dan dengan pasrah menatap tetesan botol infus yang menetes masuk ke dalam pembuluh darahnya sedikit demi sedikit.
Rong Hanchi tinggal untuk beberapa saat hingga kesemutan di kakinya telah berlalu, dan kemudian dia menarik kursi di sebelahnya dan duduk di sana.
“Berhenti memikirkan yang macam-macam, apakah kamu sudah merasa lebih baik?”
“Sudah jauh lebih baik! Siapa aku?!” Su Yan tiba-tiba tersenyum cerah. “Aku tidak akan bisa tumbang! Hanya sedikit keracunan makanan, bagaimana bisa membuatku tumbang? Aku adalah yang terhebat, yang terkuat!”
Sambil berbicara seperti itu Su Yan mengangkat tangan kanannya yang tidak diinfus. Dia melihat sebuah cincin berlian yang diberikan oleh Feng Baiyi. Melihat cincin berlian tersebut membuat senyum Su Yan tiba-tiba menjadi membeku.
Rong Hanchi juga melihat cincin berlian yang mencolok mata ditangannya tersebut dan terdiam.
Su Yan mengalihkan pandangannya ke arah jendela. Ia menatap langit biru dengan tenang, dan berkata dengan santai: “Kakak Chi, tolong buatkan aku surat ijin sakit. Hari ini aku tidak pergi ke kelas lagi!”
__ADS_1