
Hello! Im an artic!
“Jangan tidak angkat telepon!”
“…”
Hello! Im an artic!
Pesannya banyak sekali, seolah setiap hari ia bisa mengirimkan ratusan pesan.
Hanya saja Mu Xue tidak pernah membalasnya. Tapi ia akan membaca pesan itu beberapa kali sebelum disimpan dalam komputer.
Kalau telepon, ia juga tidak pernah mengangkatnya. Qin Yinuo meneleponnya banyak kali, tapi ia tidak mengangkatnya. Maka kemudian ia tidak menelepon lagi, hanya mengirim pesan.
Setiap malam ia bisa melihat Qin Yinuo, tapi Qin Yinuo tidak melihatnya.
Hello! Im an artic!
Dengan begitu rasanya seperti pencuri. Setiap malam ia akan melihatnya bagai seorang pencuri, terkadang ia bisa merasakan tatapan Qin Yinuo dari arah jendela. Mu Xue curiga, jangan-jangan pria itu tahu kalau ia ada di kamar satu ini.
Cheng Cheng dan Tian Yu ketika ke sekolah juga dijaga oleh bodyguard, sepulang sekolah langsung dijemput. Pei Lingfeng bilang ia tidak mengizinkan Qin Maoxiang dan Qin Yinuo untuk bertemu dengan mereka.
Qin Yinuo sendiri juga menderita setengah mati.
Ia pergi dua puluh lima kali berturut-turut ke kediaman keluarga Pei, maka sekarang ia tidak perig lagi.
Tapi begitu ia tidak datang, malah gantian Pei Lingfeng yang tidak tenang. Begitu hari sudah malam, Qin Yinuo malah tidak datang.
Pei Lingfeng berjalan memutar di ruang tamu. Mu Xue turun ke lantai bawah dan melihatnya berjalan mondar-mandir, “Presiden, ada masalah?”
“Xiao Xue!” Pei Lingfeng menatapinya, “Kenapa kau masih memanggilku presiden?”
Wajah Mu Xue mematung, “Tak bisa kuubah lagi!”
Ia tak bisa memanggilnya ayah, tapi sebenarnya dirinya sudah menerima Pei Lingfeng. Kalau tidak ia juga takkan tinggal disini, dan lagi ia sudah tinggal hampir sebulan.
“Jangan keluar, angin diluar kencang sekali. Kusurh tante Li untuk memasakkanmu sup, oke?”
“Belakangan aku tak punya aktivitas apapun, hampir berubah jadi babi!” Mu Xue tertawa. Tiap hari minum sup, makan, ia benar-benar sudah menggemuk.
“Harus sebulan penuh baru boleh keluar. Sekarang kau tidak boleh kena angin, cepat kembali dan berbaring!” Pei Lingfeng berjalan mendekat, membantunya membenarkan pakaian. “Kalau bosan ya menonton TV. Tapi jangan ditonton kelamaan, kalau tidak matamu rusak.”
Hati Mu Xue hangat sekali, diperhatikan orang rasanya hangat sekali. Meski sekarang adalah musim dingin, tapi ia tetap merasa hangat.
Tapi, ia tetap tidak bisa memanggilnya ayah.
“Ya, aku naik!” Mu Xue menunduk dan menaiki tangga.
“Kenapa belum datang juga!” Pei Lingfeng bergumam.
Hati Mu Xue juga kaget. Ia tahu orang yang dimaksudnya adalah Qin Yinuo, biasanya Qin Yinuo sudah akan sampai, tapi hari ini tak ada–
Pesan masuk ke dalam handphonenya.
Mu Xue segera membuka isi pesan, tapi ternyata itu adalah iklan, bukan pesan dari Qin Yinuo, maka ia kecewa. Ia tertegun beberapa saat, baru kembali ke atas ranjang perlahan.
Laptopnya masih terletak di atas meja.
__ADS_1
Mu Xue membukanya perlahan, membuka halaman website Perusahaan Qin, entah apa ada berita besar dari perusahaan Qin atau tidak.
Begitu dibuka, ia baru sadar kalau belakangan Qin Maoxiang yang memimpin perusahaan, sementara Qin Yinuo tidak pernah datang ke perusahaan.
Waktu sudah menunjukkan jam dua belas malam, tapi ia masih belum juga melihat Qin Yinuo.
Mu Xue menatapi layar komputer, air matanya berjatuhan tanpa suara, jatuh ke atas keyboard laptopnya, membentuk sebuah tetesan. Ia mengulurkan tangan untuk mengelapnya, tapi kemudian dirinya baru sadar kalau tetesan air itu semakin membanyak, berjatuhan semakin banyak. Ia menutupi wajahnya dengan kedua tangan dan baru sadar kalau wajahnya sudah basah sedari awal.
Ternyata ada beberapa hal yang sedari awal sudah jadi kebiasaan. Ia terbiasa atas kedatangannya setiap hari, begitu ia tidak datang, hati Mu Xue jadi sesedih ini. Memang dirinya tak berguna sekali.
Ia mengambil handphone, hampir menelpon padanya. Tapi akhirnya ia menahan diri.
Kemudian ia melihat jam. Sudah lewat dari jam dua belas. Maka ia menutup laptop dan naik ke atas kasur, menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut, lalu menangis diam-diam di dalam selimut.
Ketika kenop pintu bergerak, Mu Xue tidak sadar. Ada orang yang masuk perlahan dan menutup pintu tersebut. Sementara orang yang di atas kasur terus terisak, tidak mendengar suara tersebut sama sekali.
Pintu dikunci dari dalam.
QIn Yinuo melihat sekilas pada tubuh yang terus bergetar di dalam selimut. Gadis bodoh ini, jelas-jelas merindukannya, tapi malah lebih memilih untuk bersembunyi untuk menangis di dalam selimut dibanding meneleponnya.
Tatapan Qin Yinuo jatuh pada samping ranjang. Ia menahan nafas, mereka sudah tak bertemu hampir sebulan. Ia baru sadar kalau rasa kangen dirinya kental sekali, ia menahan dirinya untuk gegabah. Ia mengulurkan tangan dan membuka selimut yang bergetar itu.
Begitu selimut itu dibuka, terlihat wajah yang basah dengan air mata. Mu Xue langsung tertegun, diantara air matanya, wajah siapa yang ia lihat?
Qin Yinuo menatap wajahnya. Tidak kurus, untung saja. Pei Lingfeng merawatnya degnan baik sekali, maka hatinya langsung tenang. Tapi begitu teringat kalau mereka sudah tak bertemu sebulan, hatinya terus berkerut, setiap otot dalam dirinya menginginkan Mu Xue.
Mu Xue mengerjapkan matanya, mengusap air mata dengan punggung tangannya, menyadari benar-benar ada orang di depannya.
Tanpa menunggunya berbicara, Qin Yinuo langsung mendekapnya ke dalam pelukan.
Begitu menunduk, ia langsung menciumi bibirnya. Ia menggigit bibirnya, tapi kemudian tak tega kalau wanita itu akan kesakitan, maka detik berikutnya ia melembutkan gerakannya, mencari lidahnya bagai dirinya yang terus mencari hatinya.
Maka ia memejamkan mata, menutupi kesenangan dalam hatinya.
Akhirnya mereka terengah-engah. Qin Yinuo khawatir kesehatan Mu Xue yang belum pulih, maka ia melepaskan bibirnya, bertanya sambil menggertakkan gigi, “Kenapa kau tidak menerima teleponku, juga tidak membalas pesanku?”
Mu Xue membuka matanya, melototinya. Sementara sepasang mata hitam Qin Yinuo juga menatapinya, tidak hendak melepaskannya sedikit pun. Dan tangan besar Qin Yinuo terus mengurungnya dalam pelukan, tidak membiarkannya bergerak.
Meski Mu Xue senang akan kedatangannya. Tapi ini kan rumah keluarga Pei, bagaimana pria ini bisa masuk?
“Bagaimana kau bisa masuk?” Mu Xue melongo, “Mereka tidak menyadari keberadaanmu kah?”
Qin Yinuo mengerutkan alisnya, menahan pinggang wanita itu. Memang Mu Xue tidak kurus, makanya akhirnya ia baru benar-benar tenang.
Ia menatapi Mu Xue begitu saja. Di malam yang hening ini, kedua orang yang kesepian ini saling bertatapan.
Mu Xue melongo, entah harus bagaimana menghadapi pria ini.
Kemudian tangan Qin Yinuo semakin mengerat, menariknya semakin mendekat.
Mu Xue kaget.
“Istriku, aku rindu sekali padamu!” Ia berkata dengan nada rendah.
Setelah berkata, ketika Mu Xue masih melongo, ia menempelkan tubuh lembut Mu Xue pada tubuhnya, lalu mengangkat dagunya dengan bossy, menempelkan bibirnya pada bibirnya yang bergetar.
Ciumannya rakus dan lapar, lidahnya langsung terjulur masuk.
__ADS_1
“Qin Yinuo, kau, kau…” Mu Xue hampir kehilangan nafas.
Nafas Qin Yinuo yang panas terasa diantara mulut Mu Xue, membuatnya tak bisa bernafas.
Lidah Qin Yinuo bergerak-gerak diantara bibirnya, menyiratkan arti seberapa dirinya menginginkannya, menggetarkan segala logika dan pikiran Mu Xue…
Ketika dirinya rasanya hampir pingsan karena kekurangan nafas, akhirnya Qin Yinuo melepaskannya.
“Qin Yinuo!” Mu Xue agak kesal. Sebenarnya bagaimana cara pria ini masuk, siapa yang mengizinkannya untuk menciumya? “Kalau kau begitu terus aku akan meminta presiden untuk mengusirmu keluar!”
“Jangan!” Qin Yinuo menggeleng, memeluknya dengan erat, “Kita sudah tidak bertemu selama dua puluh lima hari lewat lima jam, aku rindu sekali denganmu!”
Ingatannya benar-benar pas. Mu Xue tertegun, sejak kapan ia berubah jadi sedetail ini?
Tapi begitu teringat akan anaknya yang telah tiada, Mu Xue masih menyalahkan dirinya. Ia sedih sekali, menyesal sekali. Dirinya bersalah pada pria ini, bersalah pada anaknya. Salah dirinya yang tak berhati-hati.
“Qin Yinuo, kau tak menyalahkanku kah?” Ia menengadah bertanya padanya.
“Menyalahkanmu apa?” Ia merendahkan suaranya, nada suaranya lembut sekali.
“Menyalahkanku karena keguguran!” Ketika mengatakannya air matanya langsung mengalir. Itu adalah buah dari cinta mereka, itu adalah anak mereka setelah di Hokkaido!
Meski sudah lewat sebulan, tapi sebulan ini dirinya tidak bisa menghadapi suasana hatinya. Ia tidak berani memikirkannya. Tapi begitu melihat Qin Yinuo, hatinya sakit sekali, ia merasa amat bersalah.
Mendengar hal ini, untuk sesaat Qin Yinuo bagai telah disambar petir. Qin Yinuo melongo menatapi Mu Xue. Begitu teringat akan darah segar hari itu, darah Mu Xue serta darah bayi mereka. Bayi mereka menghilang begitu saja!
Tangan panjangnya bergetar, langsung terisak. Matanya langsung memerah dan penuh dengan air mata, “Xiao Xue, aku yang bersalah padamu.”
Ia memejamkan mata, namun tetap tidak bisa menghapus memori dalam kepalanya.
Kemudian ia mengulurkan tangan dan menarik tubuh Mu Xue ke dalam pelukannya. Ia memeluknya dengan erat, ingin menarik semua kesedihan Mu Xue ke dalam dirinya sendiri.
Mu Xue menatapi dalam-dalam pria di depannya yang sedih sekali, air matanya mengalir.
Setelah begitu lama, akhirnya mereka menghadapi masalah ini bersama.
“Sayang, kau masih belum boleh menangis. Yang menurut, jangan menangis!” Teringat kalau kejadian itu belum sebulan, kalau mengalirkan air mata seperti ini malah tidak baik untuk tubuhnya, akan merusak matanya.
Tangan besarnya terulur untuk membantunya mengusap air mata.
“Qin Yinuo!” Ia berteriak dengan suara yang seolah pecah, air mata Mu Xue mengalir jatuh. Ia mengulurkan tangan untuk memeluk Qin Yinuo.
Ia membiarkan air mata Mu Xue membasahi dadanya. Setiap tetes itu bagai masuk ke dalam hatinya, “Qin Yinuo, aku tidak merelakan bayi itu. Aku sangat menyesal, aku sedih sekali, sedih sekali!”
Ia belum pernah membicarakan masalah bayinya di depan orang lain. Tapi Mu Xue benar-benar peduli sekali, bagaimana mungkin orang lain bisa merasakan kesedihan hatinya! Hanya Qin Yinuo yang memiliki suasana hati seperti dirinya, karena anak itu adalah buah hasil mereka berdua.
Setelah mengangguk tanpa suara, Qin Yinuo menengadah sambil meneteskan air mata. Ia merasakan tubuh dalam pelukannya bergetar, “Jangan menangis, jangan menangis lagi!”
Tapi Mu Xue masih juga menangis. Qin Yinuo tak berdaya, menciumi bibirnya untuk menahan suara tangisnya.
Rasa hangat ini seolah menenggelamkan Mu Xue. Bulu matanya yang selembut bulu bergetar, air mata mengalir menuruni pipinya. Sementara Qin Yinuo sibuk mengusap air matanya, bergumam, “Jangan menangis lagi. Kalau kau menangis terus, aku akan menciummu sampai kau kehilangan nafas.”
Mu Xue kaget, langsung menahan tangisnya. Saat ini barulah Qin Yinuo tertawa sambil berkata, “Ini baru istri baikku.”
Qin Yinuo merangkak menaiki ranjangnya, memeluknya. “Sst, kecilkan suaramu, pak mertua masih ada di lantai bawah!”
“Bagaimana kau bisa naik? Dia membiarkanmu naik kah?” Mu Xue menurunkan suaranya, masih ingin menangis.
__ADS_1
Bapak mertuanya mengancamnya setiap hari dengan berkata untuk menembaknya dengan sebuah peluru. Tapi Qin Yinuo tak takut pada pistol, yang ia takutkan adalah identitas mertuanya itu. Sehingga selama beberapa hari ini, ia hanya bisa menahan diri. Hingga hari ini, ia benar-benar tidak tahan.
Mu Xue bergerak-gerak dalam pelukannya, membuatnya mengencangkan kedua tangannya “Aku hanya ingin memelukmu!”