AYAH, MAAFKAN AKU

AYAH, MAAFKAN AKU
Bab 595 Bermain Dengan Puas


__ADS_3

Hello! Im an artic!


“Ya! Aku akan menelepon!” Rong Hanchi berdiri dan berjalan keluar.


Feng Baiyi! Feng Baiyi! Su Yan mengangkat bibirnya dengan getir. Ternyata, tidak ada yang tidak bisa hidup tanpa siapapun. Ternyata, “hanya kematian yang dapat memisahkan” adalah sebuah omong kosong. Kehampaan itu hanyalah omong kosong!


Hello! Im an artic!


Pada saat-saat genting, Kakak Chi adalah yang terdekat!


Rong Hanchi menelepon dan berdiri di depan pintu. Dia menatap mata Su Yan yang terlihat kosong, sedang menatap ke luar jendela dan melamun. Dia berhenti di depan pintu, dan tidak masuk.


Ini adalah Yanyan. Meskipun dia menangis sedih dan putus asa beberapa saat yang lalu, tetapi setelah menangis, dia akan kembali menjadi seorang yang tersenyum cerah dan santai. Seolah-olah tidak terjadi apa-apa. Hanya ketika dia sendirian, dia kembali mengingat akan lukanya. Meskipun rasa sakit tersebut hampir mencekiknya, pada akhirnya dia tetap tertawa. Melihat langit biru di luar jendela, dia juga tertawa.


“Kakak Chi, hidup harus sehat dan bahagia!” Su Yan tiba-tiba menoleh dan menatap Rong Hanchi yang berdiri di dekat pintu. “Kita semua harus hidup bahagia!”


Hello! Im an artic!


Rong Hanchi merasa masam di dalam hatinya, ia berjalan mendekat dan mengangguk. “Ya, hidup sehat dan bahagia! Yanyan selalu yang terbaik!”


Namun, kehampaan di matanya beberapa saat yang lalu membuatnya merasa sakit.


Su Yan lagi-lagi tidak pulang.


Ketika Feng Baiyi kembali di malam hari, dia menemukan bahwa rumahnya gelap dan mendapat Su Yan tidak ada di sana.


Dia benar-benar tidak pulang!


Kemana dia pergi?


Malam ini, Feng Baiyi tidak menghubungi Su Yan. Hatinya menjadi semakin gelap, dan dia benar-benar tidak pulang!


Sepanjang malam, Feng Baiyi duduk di ruang kerja dan merokok, hingga seluruh ruangan dipenuhi dengan kabut tebal, dan dia masih tidak berhenti.


Langit perlahan semakin cerah.


Namun, hatinya semakin hampa.


Persis seperti ladang yang terbakar oleh api, hanya tersisa ladang berwarna abu-abu yang besar dan luas, dan tidak terlihat adanya sia-sia kehidupan.


Su Yan yang sudah diinfus sudah merasa jauh lebih baik.


Pada hari kamis, dia bersikeras untuk pergi ke sekolah.


Feng Baiyi menerima telepon dan mengetahui bahwa dia telah masuk sekolah.


Ketika waktu sekolah hampir berakhir, dia tidak bisa menahan diri lagi dan langsung pergi ke sekolah.


Su Yan dan Guan Xiaojin ada di kelas hari ini. Guan Xiaojin melihat bahwa Su Yan terlihat tidak bersemangat hari ini, lalu bertanya dengan penuh perhatian: “Ada apa? Kamu tidak datang ke kelas dua hari terakhir ini?”


“Jangan diungkit lagi, aku hampir saja mati!” Su Yan menggerakkan bibirnya. “Aku keracunan makanan, dan sampai sekarang aku masih merasa lemas!”


“Ah –– Kamu hebat sekali. Lain kali harus lebih berhati-hati, mengapa kamu bisa begitu ceroboh?” Guan Xiaojin merasa prihatin melihat ekspresi di wajah Su Yan yang terlihat pucat. “Atmosfirmu terlihat buruk, bagaimana hubunganmu dengan Feng Baiyi?”


“Perang dingin!” Su Yan melontarkan dua kata tersebut dengan getir.


“Yanyan ––” Keduanya berjalan keluar dari gedung sekolah, dan Rong Hanchi sudah berdiri di depan Ferrari miliknya menunggu Su Yan.


“Ah! Kakak Chi sudah datang menjemputku. Kakak kelas, biarkan kakak Chi yang mengantarmu pulang! Ayo!” Su Yan menariknya bersiap untuk pergi.

__ADS_1


“Tidak! Aku ada kerja sambilan sore ini, tidak pulang!”


“Kalau begitu, bagaimana dengan Momo?”


“Demam bibi sudah sembuh, dan sekarang dia sudah bisa membantu menjaganya. Tidak apa-apa!”


“Kalau begitu baiklah!” Su Yan menganggukkan kepalanya. “Kakak kelas, jaga dirimu baik-baik!”


“Ya! Pulang dan beristirahatlah!”


Mereka saling mengucapkan selamat tinggal layaknya sepasang kakak dan adik. Setelah itu, Su Yan berjalan menghampiri Rong Hanchi.


Di dalam mobil di kejauhan. Feng Baiyi melihat wajahnya yang bersinar ceria penuh dengan senyuman, membuat wajah tampannya tersebut semakin menjadi dingin. Dia tidak tidur semalaman karena mengkhawatirkan dirinya dan merindukannya. Tetapi tidak menyangka bahwa wanita itu sangat bahagia.


“Apakah kesehatanmu sudah lebih baik?” Rong Hanchi berjalan mendekati, meraih bahunya, dan bertanya dengan penuh perhatian: “Apakah kamu sudah ingin makan? Aku akan mengajakmu makan sesuatu yang enak!”


“Aku masih tidak ingin makan! Kakak Chi, menurutmu, apakah perutku berubah setelah keracunan ini? Kenapa aku kehilangan nafsu makan?” Su Yan mengerutkan keningnya. “Apakah perutku sedang membalas dendam padaku? Menyalahkan aku karena telah makan sembarangan, jadi dia tidak membiarkan aku untuk makan saat ini!”


“Gadis bodoh, sangat wajar apabila kamu kehilangan nafsu makan saat sedang sakit. Hari ini kita akan menyantap hidangan pembuka! Setelah pulang nanti, aku akan meminta bibi Xu untuk menyiapkan hidangan bubur kesukaanmu!” Rong Hanchi membantu membukakan pintu untuknya. Su Yan masuk ke dalam tanpa memperhatikan bahwa ada sebuah mobil RV tidak jauh dari sana, dan pria yang ada di dalam mobil tersebut sudah memasang ekspresi yang sangat suram di wajah tampannya.


“Jalan! Kembali ke kantor!” Feng Baiyi memerintahkan dengan suara yang dalam.


Mobil RV tersebut telah keluar dari universitas D terlebih dahulu mendahului Ferrari.


Su Yan masuk ke dalam mobil, lalu Rong Hanchi mengambil sebuah kotak dari kursi belakang mobil dan memberikannya kepadanya, “Yanyan, ini ponsel baru. Bukankah kamu kehilangan ponselmu? Ini untukmu!”


“Wah! Ponsel baru!” Su Yan tertegun, kembali teringat olehnya kenangan saat Feng Baiyi membelikan ponsel baru untuknya pada hari itu. Lalu, dia langsung menggelengkan kepalanya dan membuang ingatan itu dari benaknya dan tersenyum dengan riang. “Terima kasih, kakak Chi!”


“Kamu tidak bisa kalau tidak ada ponsel. Lain kali jika kamu bertemu dengan situasi seperti ini, ingatlah untuk segera menghubungiku!”


“Sebenarnya, aku sudah ingin menghubungimu, tetapi ketika aku hendak meneleponmu, ponselku jatuh ke dalam toilet!” Ucap Su Yan dengan cemberut dan mulai melihat ponsel baru tersebut.


Su Yan tertegun sejenak lalu mengangguk. “Ya! Karena kakak Chi selalu membantuku!”


“Yanyan, kamu dan Feng Baiyi?”


“Kakak Chi, bolehkah aku tinggal di sini selama beberapa hari?” Su Yan menyela pertanyaannya, dia tidak ingin menjelaskan, dia tidak ingin mengatakan apa pun.


Rong Hanchi mengangguk. “Tentu saja!”


Sebenarnya, meskipun kamu ingin tinggal seumur hidupmu, kakak Chi juga tidak keberatan. Aku tidak bisa meminta lebih!


Pada malam hari, Rong Hanchi hendak menghadiri acara makan malam amal. Berpikir bahwa Su Yan sedang dalam suasana hati yang buruk akhir-akhir ini, dia pun turut mengajaknya untuk menghadiri acara tersebut. Yang terpenting adalah, dia tahu bahwa Feng Baiyi juga akan turut hadir pada acara malam ini.


Meskipun Rong Hanchi merasa masam di dalam hatinya, tetapi karena dia berpikir bahwa Su Yan sedang bersedih. Pada akhirnya dia memutuskan untuk membantunya dan Feng Baiyi. Mungkin setelah bertemu, segala kesalahpahaman apa pun itu akan dapat terselesaikan.


Dia membawanya ke sebuah salon kecantikan untuk menata rambutnya, mengganti pakaiannya dengan sebuah gaun kecil yang imut. Hanya saja wajahnya yang pucat tersebut masih terlihat sedikit kuyu.


Begitu sampai di tempat tujuan, Su Yan mencari area di sudut ruangan dan duduk di sana, dan sesekali menyantap kue tart persik. Buah persik putih Jepang yang sudah dikupas dan direbus tersebut masih memiliki rasa yang segar, permukaannya bersinar dengan warna merah muda alami. Antara kue tart yang tebal dan buah tersebut dilapisi dengan sebuah saos custard yang harum dan lembut. Buah cranberry kecil yang berbentuk seperti batu ruby tersebut meledak di dalam mulut dan memberikan sedikit rasa asam, menyeimbangkan seluruh rasa manis yang ada di dalam makanan tersebut. Dipadu dengan segelas jus jeruk segar dan nikmat, sungguh lezat. Namun, rasa yang disukainya di masa lalu tersebut tidak terasa begitu indah hari ini!


Suasana hatinya masih terasa sangat aneh, hatinya merasa gundah gulana! Mulut merah kecil tersebut seketika menjadi cemberut, tetapi dia tetap tidak bisa menahan untuk memasukkan persik lezat terakhir tersebut ke dalam mulutnya.


“Enak tidak?” Rong Hanchi melihatnya makan dengan sangat nikmat.


“Ya! Lezat!” Dia menganggukkan kepalanya, tetapi setelah mempertimbangkannya dengan cermat, rasanya tidak begitu enak.


“Jangan makan terlalu banyak, biarkan fungsi kerja lambungmu pulih terlebih dahulu!”


“Baiklah! Kakak Chi!” Su Yan membalasnya dengan senyum bahagia.

__ADS_1


Tiba-tiba, dari pintu masuk terdengar sebuah keributan. Su Yan dan Rong Hanchi mendongak dan melihat seorang pria yang ramping berjalan di dekat pintu, dengan setelan klasik perak edisi terbatas, lurus tanpa ada kerutan.


Feng Baiyi berjalan dengan begitu saja. Dan begitu dia berjalan memasuki pintu, pandangannya segera tertuju pada Su Yan yang berada di samping Rong Hanchi.


Su Yan termenung untuk sesaat. Hatinya terasa melompat-lompat tiba-tiba melihat orang itu, dan pandangan mereka berdua saling bertemu.


Tidak ada seorang pun yang merasa keberatan ketika melihat dia berdiri di samping Rong Hanchi dan menjadi pendamping wanita Rong Hanchi. Surat kabar telah mengkonfirmasi bahwa mereka berdua adalah kakak beradik. Mereka hanya menebak-nebak mengapa dia tidak dengan Feng Baiyi, tetapi melainkan datang dengan saudara laki-lakinya sendiri!


Di aula, ditemani dengan iringan musik yang menenangkan, disertai suara bisikan dari orang-orang, dan suasana yang sedikit bising. Su Yan merasa bosan, dia bosan sendirian. Dia datang ke atap ruang makan terbuka sendirian. Dia bersandar di pagar untuk merasakan angin dingin meniup wajahnya. Meski agak dingin, tetapi tidak lagi menyesakkan.


Jika memungkinkan, dia ingin menunggu saja di sini sampai jamuan makan selesai.


Tiba-tiba, aroma tembakau melayang tertiup angin.


Su Yan menoleh lalu melihat, dan mendapati Feng Baiyi tiba-tiba melangkah naik ke atap. Tubuhnya yang ramping muncul di depannya, dan sinar rembulan menyinari sisi tubuhnya.


Di bawah sinar malam yang redup, dia tidak dapat melihat dengan jelas penampilannya yang tampan. Kepulan asap di antara jemarinya terbawa oleh angin. Hati Su Yan terangkat, dia merasa sedikit gugup. Sudah beberapa hari dia tidak melihatnya, dia tidak tahu bagaimana menghadapinya.


Karena dia menyukai atap, maka dia pun memberinya ruang. Menyingkir ke samping, lalu berbalik hendak pergi.


Pria itu bergerak tiba-tiba, menghalangi jalannya.


Su Yan kembali berpindah ingin pergi melalui sisi yang lain. Pria itu bergerak mengikuti, dan kembali menghalangi jalannya.


“Feng Baiyi!” Dia berteriak dengan suara yang rendah, tiba-tiba merasa seluruh tubuhnya lemah. “Minggir!”


Feng Baiyi menghisap rokoknya lalu mengeluarkan asap putih yang langsung tertiup oleh angin, tetapi dia masih dapat mencium bau tembakau yang menyengat tersebut. Karena keracunan, ditambah dengan peradangan, dia tidak bisa menahan diri lagi dan terbatuk: “Uhuk uhuk ……”


“Kamu bermain dengan puas sekali!” Suaranya menderu jauh ke telinganya.


Su Yan merasa hatinya seakan seperti tertegun untuk sesaat, sedikit tercengang. Ucapannya membuat hatinya merasa getir, lalu dia menarik bibir bawah, “Ya! Aku bermain sangat puas!”


Ya! Bermain!


Su Yan dengan sengaja memperdalam kata ‘bermain’.


“Bukankah kamu juga bermain dengan sangat puas?” Dia mencibir dan bertanya balik: “Hahaha ……”


“Apa yang kamu tertawakan?” Dia langsung marah, dan berkata dengan perlahan: “Sangat lucu?”


Su Yan tiba-tiba berhenti tertawa. Dalam kegelapan, dia menatap mata pria itu yang menyala-nyala. Dia mengerucutkan bibirnya, dan memaksakan diri untuk tidak menjawabnya. Dia sama sekali tidak menganggapnya lucu, dia hanya merasa sedih. Kapan dia bermain? Apakah dia sedang ingin bermain?


“Kenapa kamu bolos sekolah? Kamu sudah tidak ingin sekolah? Bermain-main dengan sekolahmu itu sangat menyenangkan? Kalau tidak ingin sekolah, maka jangan pergi lagi. Jangan membuang waktu!”


Su Yan terdiam, lalu tersenyum dengan pahit: “Ya, aku memang tidak ingin pergi. Selanjutnya aku pun tidak akan pergi lagi. Aku tidak sekolah lagi, apakah kamu sudah puas?”


Ketika asap rokok mencapai bibirnya, lalu Feng Baiyi tiba-tiba tersedak saat mendengarnya berkata demikian, dan melambatkan gerakannya. “Lalu kenapa kamu pergi lagi hari ini?”


“Karena aku bosan, aku adalah orang yang aneh, sudah cukup? Aku bosan, aku pergi jika aku ingin pergi, dan tidak akan pergi jika aku tidak menginginkannya. Itu semua karena aku bosan, aku aneh. Cukup?” Su Yan mendorongnya dengan keras lalu berlari masuk ke dalam seperti orang gila. Dia berpikir bahwa air matanya tidak akan keluar, tetapi pada akhirnya dia tetap mengeluarkan air matanya.


Melihatnya tiba-tiba pergi, Feng Baiyi kembali mengambil sebatang rokok dengan gusar. Memejamkan matanya, mengepalkan tinjunya, lalu melepaskannya kembali.


Rong Hanchi melihatnya datang sambil menangis, lalu melihat ke arah atap kemudian berjalan menghampiri dan bertanya dengan suara yang pelan: “Mengapa kamu menangis?”


“Tidak apa-apa!” Su Yan menggelengkan kepalanya, “Angin di luar tiba-tiba berhembus dengan kencang, membuat mataku perih! Sekarang karena sudah masuk ke dalam, aku sudah tidak apa-apa!”


Hati Rong Hanchi menegang. Gadis kecil ini bahkan tidak bisa berbohong, sungguh memprihatinkan.


Pada saat ini, Feng Baiyi juga muncul di aula. Pandangannya tidak lagi tertuju pada Su Yan. Dia menggenggam segelas anggur, dan berbicara dengan sekelompok pebisnis.

__ADS_1


__ADS_2