
Hello! Im an artic!
Setelah beberapa hari tidak bertemu dengannya, dia masih begitu cantik, sangat murni, kulit putih, wajah polos, dan matanya yang besar terlihat sangat lesu sesaat ketika dia melihat dirinya. Asa tak berdaya yang terpancar darinya membuat Qin Yinuo tak bisa menahan dirinya sendiri untuk tidak memeluk Mu Xue. Mu Xue mengerutkan kening, ia sangat bingun saat melihat dirinya. Wanita siala ini, masih berani kabur?
Feng Baiyi mengangkat alisnya, bertanya-tanya, ada apa ini? Wanita hamil?
Hello! Im an artic!
Ketika Mu Xue melihat Qin Yinuo, dia segera menarik Cheng Cheng dan berlari ke kamar mandi.
“Sial!” Qin Yinuo mengerutkan kening dan mengutuknya, ia bergegas menghampirinya.
Feng Baiyi menyipitkan mata elangnya. Ia terkejut dengan reaksinya, tapi tidak bergerak, ia malah melihat pertunjukan yang mengasyikan itu.
“Tunggu tunggu!” Qin Yinuo mengulurkan lengan panjangnya meraih pergelangan tangannya, “Jelaskan semuanya padaku, apa yang terjadi?”
Hello! Im an artic!
Mu Xue ditarik sampai berbalik olehnya, lalu menghadap ke arahnya, wajah tampan Qin Yinuo muncul di matanya. Mu Xue melihat wajah marah Qin Yinuo yang sangat familier di matanya.
Hanya saja, hati terasa sangat sakit!
“Tuan, tolong lepaskan tangan saya!”
Mendengar kata-kata ini, dengan nada bicara yang datar dan acuh tak acuh, Qin Yinuo hampir menggila. Qin Yinuo menenangkan ekspresi wajah tampannya. Ia langsung menarik Mu Xue ke sudut tempat yang sepi.
“Paman, aku menunggu kalian di sini!” Cheng Cheng tersenyum licik. Meski tidak tahu apa yang terjadi, dia sangat senang melihat pamannya saat ini. Ternyata paman bukannya tidak peduli pada maminya!
“Qin Yinuo, lepaskan tanganku!” Mu Xue berteriak mendesaknya. Mu Xue menahan rasa sakit tangannya yang digenggam erat oleh Qin Yinuo. Tetapi ketika dia berjalan ke tempat yang sunyi, Qin Yinuo baru menghentikan langkah kakinya. Ia melepaskan tangannya, lalu menatapnya.
Dia membuatnya kesakitan saat menarik tangannya tadi. Mu Xue menundukkan kepalanya, mengerucutkan bibir dan berhenti berbicara.
“Katakan, ada apa?” Suaranya terdengar sagat berat.
“Aku mau pergi!” Dia berkata dengan acuh tak acuh, menundukkan kepalanya dan menatap jari kakinya, hatinya terasa sangat sakit. Dia tidak tahu mengapa dirinya merasa tidak mau menyerah. Kata-kata Qin Maoxiang muncul di benaknya, dan hatinya tiba-tiba tersadar kembali.
Dia berbalik dan hendak pergi, tapi Qin Yinuo meraih pundaknya.
Pemandangan dari keduanya yang saling menarik mulai menarik perhatian orang lain.
Mu Xue diblokir oleh tubuhnya yang tinggi, ia tidak memperhatikan mata penasaran orang-orang yang melihatnya. Dia menundukkan kepalanya lagi dengan panik, Qin Yinuo mengulurkan tangannya untuk mencubit dagunya dan mengangkatnya. Setelah terdiam lama, dia mengertakkan gigi dan bertanya, “Katakan! Apa yang terjadi! Kenapa mau kabur?”
Mu Xue memelototinya, tatapan matanya kabur, dan Qin Yinuo menyadari, mereka belum bertemu lagi selama kurang dari seminggu ini. Ada perasaan yang tak bisa dijelaskan saat melihat wajah Mu Xue lagi. Wajah polos ini benar-benar cantik dan menakjubkan, begitu cantik, dia begitu cantik sehingga membuat jantungnya berdebar kencang.
Jantung Mu Xue ikut berdebar juga, tetapi dia mengepalkan tangan erat, sampai merasakan rasa sakit dari kukunya yang terluka kemarin. Tubuhnya yang terasa sakit, membuatnya tak bisa berbuat apa-apa, ia hanya bisa menatapnya seperti ini saja. Kemudian, dengan tenang menyampaikan beberapa kata,”Aku sangat lelah, kehidupan di kota sangat tidak cocok denganku!”
Mendengar kata-katanya yang lemah, hati Qin Yinuo bergetar, ia tiba-tiba memeluknya. Dia tidak akan membiarkannya pergi! Mungkin karena terlalu panik untuk membuktikan sesuatu, dia tiba-tiba mencium Mu Xue di bandara yang ramai…
Ciumannya, bercampur dengan bau tembakau, jatuh dengan rapat, membuat jantungnya berdebar kencang, dan membuat suara dari gerakan mereka berdua.
Tapi Mu Xue tetap membuka matanya seperti ini, tidak menolak, tidak meresponsnya, ia hanya merasakan mati rasa yang tak jelas.
Tidak boleh membiarkan dirinya tenggelam, dia ingin meninggalkannya, meninggalkan Tianyu, dia tidak bisa tenggelam dalam masalah ini lagi!
Dia adalah presiden direktur keluarga Qin. Bahkan jika sekarang bukan presiden direktur, tapi dia tetap pewaris keluarga Qin. Seorang wanita seperti dirinya tidak bisa tinggal di sisinya, bahkan jika walaupun dirinya bukanlah kekasihnya, tapi dia memiliki sedikit harga diri, tidak hanya untuk dirinya sendiri, tetapi yang lebih penting, untuk Tianyu.
Feng Baiyi terkejut, apakah itu adalah Qin Yinuo yang dia kenal? Berciuman di depan umum.
__ADS_1
Tapi Cheng Cheng menoleh untuk melihat Feng Baiyi, dan tersenyum cerah: “Halo Paman!”
“Ehm!” Feng Baiyi menundukkan kepalanya dan melihat seorang anak kecil. Sebenarnya dia sudah melihatnya dari awal, tapi dia sangat terkejut karena reaksi Nuo terhadap wanita itu, lalu sampai mengabaikan anak itu! Begitu dia menundukkan kepalanya, dia melihat bahwa matanya sangat familier dalam benaknya, uh! Nuo, itu mata Nuo!
“Nak, perkenalkan dirimu!” Feng Baiyi mengangkat alisnya.
“Paman, paman sangat tampan!” Pujian sepenuh hati Cheng Cheng, paman ini sangat keren dan tampan serta memiliki selera yang bagus!
“Ehm!” Pertama kali Feng Baiyi dipuji oleh seorang anak kecil, Feng Baiyi merasa sedikit aneh,”Siapa namamu!”
“Mu Cheng! Nama panggilanku Cheng Cheng!”
Tidak jauh dari sana, raungan Qin Yinuo kembali terdengar.” Sial, katakan padaku apa yang sedang terjadi?”
Mu Xue tidak berbicara, dia hanya menahan dan bertanya dengan acuh tak acuh: “Apakah ini bisa dibilang ciuman perpisahan?”
“Sial!” Qin Yinuo menggila, dia benar-benar membuatnya marah saat ia berbicara kepadanya dengan nada bicara seperti tadi.
“Nuo, apa kamu tidak akan memperkenalkannya padaku?” Suara rendah tiba-tiba datang dari belakang, penuh canda tapi terdengar sangat antusias juga.
Qin Yinuo menoleh ke samping. Mu Xue langsung melihat orang yang sedang menghampirinya.
Qin Yinuo berkata dengan acuh tak acuh: “Bukan urusanmu!”
Mu Xue melihat pria yang sangat tampan sedang menghampirinya, tetapi seluruh tubuhnya memancarkan aura yang acuh tak acuh. Bahkan jika dia tersenyum, senyumnya tidak mencapai bagian bawah matanya. Pria dengan setelan putih itu bertubuh ramping dan tinggi. Dengan rambut hitam tebal menutupi dahinya, alis pedangnya terangkat, dan sekilas dia tahu bahwa orang ini memiliki temperamen yang agak buruk.
Ada senyum main-main di sudut mulutnya, dan sepasang mata yang indah dan sipit menatap tajam ke arah Mu Xue. Tatapannya tampak asal, tetapi sangat tajam, hingga membuat Mu Xue jelas merasa pria itu sedang menyapu tubuhnya. Tatapan itu seolah sedang mengagumi sesuatu, menilai sesuatu.
Mu Xue menundukkan kepalanya, tidak berani melihat ke arah itu, ia berkata dengan ringan: “Cheng Cheng, kita harus pergi sekarang!”
Qin Yinuo terkejut, dia benar-benar ingin pergi, bahkan tidak mau melihat dirinya di depan temannya.
Ekspresi wajah Qin Yinuo berubah, membuatnya sedikit tersipu malu. Ia memegang tangan Mu Xue dengan erat.
“Uh! Kamu malu!”
“Cheng Cheng, biarkan paman ini membawamu pulang. Beberapa hari ini tinggal dulu di rumah paman. Aku ada urusan dulu dengan mamimu!” Ucap Qin Yinuo.
“Uh! Masih mau aku membantumu mengurus seorang anak kecil?” Feng Baiyi semakin panasaran.
“Qin Yinuo, biarkan aku pergi!” Mu Xue sedikit malu, berteriak dengan nada rendah.” Lepaskan!”
“Mami, aku pergi dengan paman berjas putih ini ya. Tenang saja, aku akan bersenang-senang!” Cheng Cheng tidak takut sama sekali, ia malah mendongak menatap Feng Baiyi.” Ayo pergi, Paman, Paman Qin berkata dia ingin aku pergi ke rumahmu bersamamu!”
“Nak, itu ayahmu ya!” Mata ini bisa menceritakan segalanya. Feng Baiyi secara naluriah merasa kalau anak ini adalah anak kandung Nuo.
“Tidak, Tianyu adalah putra Paman Qin, aku bukan!” Cheng Cheng menjelaskan.
Sedikit terkejut, Feng Baiyi tidak mengatakan apa-apa, tetapi hanya menatap Qin Yinuo.
Mata Qin Yinuo bertemu tatap dengan Feng Baiyi, dan dia tidak mengatakan apapun. Dia menggendong Mu Xue, langsung pergi ke arah lift, tanpa memedulikan orang-orang di bandara.
“Lepaskan aku, Qin Yinuo, aku ingin pulang. Lepaskan aku!” Mu Xue tidak bisa tetap tenang lagi. Digendong seperti ini, ia terus memukuli punggung Qin Yinuo yang bidang. Tapi, Qin Yinuo malah tak memedulikannya, ia mengancamnya dengan suara rendah.Kalau pantatmu tak mau dipukul, bijaklah sedikit!”
Setelah berbicara, dia menepuk pantat kecilnya. Mu Xue segera berteriak, “Ah—”
Setelah berteriak, dia tidak berani berontak lagi, jadi dia hanya bisa pasrah dibawa keluar bandara.
__ADS_1
Melihat pemandangan ini, Feng Baiyi dan pengawal di belakangnya tercengang, apakah ini masih Qin Yinuo yang mereka kenal? Siapa yang bisa menjelaskan?
Cheng Cheng malah tertawa, ia tiba-tiba mulai tertawa.” Paman, ayo kita pergi juga!”
Dalam mobil Royal Blue Bugatti, alis cemberut Qin Yinuo semakin erat lagi kerutannya.” Katakan, apa yang terjadi?”
“Tidak ada yang perlu dikatakan!”
“Ayahku sudah menemuimu?” Dia mencurigainya.
“Ti… tidak!” Dia buru-buru menyangkalnya. Mu Xue tidak ingin mengatakan apa-apa. Hatinya terasa sangat sakit ketika teringat akan ayah Qin Yinuo yang mengatakan kalau Yinuo juga adalah orang yang tidak memiliki ibu sejak dia masih kecil. Sejak kecil, ia juga tidak memiliki seorang ibu?
“Kalau tidak ada apa-apa, kenapa kamu mau lari?” Dia membungkuk dan menatap matanya.
“Menjauhlah sedikit dariku!” Dia berbisik dan mulai mendorongnya.
Tatapan mata Qin Yinuo memadat, ia berkata dengan kaku, “Kamu hanya bisa menjadi wanitaku, kamu hanya bisa tinggal di sisiku, kamu tidak diizinkan pergi ke mana pun, dengar tidak?”
Kata-kata arogannya yang konsisten membuat hati Mu Xue bergerak sedikit.
Qin Yinuo menatapnya, lalu melihatnya menundukkan kepalanya, matanya tampak sedikit sedih, sedikit tidak berdaya, bahkan terlihat putus asa, dan dari sudut ini, dia bahkan bisa melihat kulit putih lembut di dadanya melalui kerah pakaiannya.
Gadis cantik seperti itu membuat Qin Yinuo merasa tak tahan, sesuatu hampir menembus celananya!” Apa tamumu sudah pergi?”
“Uh? Apa?” Untuk sementara waktu, ia tak meresponsnya.
“Aku bilang, menstruasimu sudah selesai? Sepertinya sudah seminggu ya? Bukankah begitu?” Dia menghitungnya, sepertinya memang begitu.
Wajahnya memerah, kapan dan situasinya, dia masih memikirkan hal ini, tetapi tatapan mata Qin Yinuo semakin dalam. Mu Xue bingung, dia hanya bisa berpegangan pada bagian belakang kursi belakang, tidak berani bergerak.
“Sudah lewat kan?” Dia bertanya lagi, tiba-tiba mengangkat bibirnya, membungkuk ke arahnya, lalu mengecup bibir yang sudah lama tak ia jamah.
Matanya sejelas rusa, lalu perlahan menutup matanya karena terkejut. Dia membawanya keluar dari bandara seperti ini, dan masih berada di tempat parkir bandara, “Mmm..Lepaskan!”
“Hah! Oke, ayo kita pulang!” Dia sepertinya dalam suasana hati yang baik. Ia melepaskannya, tetapi tetap menatapnya dengan cermat, matanya tidak berkedip sedikit pun.” Aku akan membunuhmu tanpa ampun kalau berani kabur lagi!”
Tapi dia adalah seorang wanita yang tidak memenuhi syarat untuk tinggal di sisinya. Hati Mu Xue mulai terasa masam lagi begitu teringat akan hal ini. Pandangannya agak kabur, ia menundukkan kepalanya dalam diam.
Villa No.15.
Mu Xue dibawa ke vila No.15 olehnya.
“Qin Yinuo, lepaskan aku!” Bisiknya.” Aku ingin hidup damai!”
Jika ini terus berlanjut, dia benar-benar akan kewalahan, tidak bisa melihat Tianyu, tidak boleh mengenali putranya. Demi kebaikan putranya, semuanya untuk kebaikan putranya! Dia sudah berdosa, dan tidak tidak ingin berbuat dosa lagi.
Qin Yinuo berjalan ke arahnya. Aroma sabun segar seolah tidak tercium dari tubuhnya. Mu Xue mulai membuatnya terikat, membuatnya sangat tegang.
Dia menundukkan kepalanya dan melihat sepatu kulit hitamnya yang cerah, tapi ia tak kunjung mendengar responsnya. Mu Xue mendongak, lalu melihat tatapannya. Tatapan itu membuat dirinya merasa memiliki dorongan untuk bersembunyi, kedua matanya terlalu fokus menatap dirinya.
Saat dia menundukkan kepalanya, telapak tangannya yang besar dan keras terulur memeluk pinggangnya, kemudian ia menggendongnya ke dalam pelukannya, “Aku pernah tidur denganmu, kamu tidak bisa meninggalkanku! Kenapa kamu sangat tidak patuh?”
Nada bicara Qin Yinuo terdengar sangat tidak berdaya.
Mu Xue kaget, wajahnya tiba-tiba memerah, tubuh mereka saling menempel, erat, begitu erat, wajahnya begitu panas, karena dia merasakannya, reaksinya benar-benar begitu kuat.
Dia menekankan dagunya ke bahunya, “Aku sudah terikat untuk bersamamu, kalau kamu ingin melarikan diri, lantas apa kamu tidak menginginkan Tianyu lagi?”
__ADS_1
Dia bertanya dengan suara yang dalam.