
Hello! Im an artic!
Pintu lift terbuka dan dia baru melepaskannya, Su Yan masih belum bisa berdiri stabil dan dia menggendongnya langsung menuju ke mobilnya.
“Apa maksudnya ini?”
Hello! Im an artic!
“Sayangku yang penasaran, jangan datang lagi kelak!” Dia berkata dengan suara berat.
“Kenapa?”
“Dia sudah hampir sembuh dan kamu tidak berutang kepadanya lagi! Kamu tidak perlu datang terus!”
“Tapi, dia menyukaimu!” Suaranya menjadi berat, “Apakah tidak pernah terjadi apa-apa dengan kalian?”
Hello! Im an artic!
Dia mengerutkan keningnya, “Menurutmu, apa yang harus terjadi?”
Apa yang dipikirkan oleh orang ini?
“Baik! Aku percaya kepadamu!” Dia tiba-tiba terlihat bersemangat sambil mengangguk, “Kamu dan dia tidak boleh terjadi apa-apa! Kamu juga tidak boleh menyukainya kelak, hanya boleh menyukaiku!”
“Tentu saja harus menyukaimu saja!” Mulutnya terlihat tersenyum lembut sehingga raut wajahnya terlihat lembut, sinar matahari masuk dari kaca depan yang menyinari wajahnya yang sangat tampan.
“Kamu harus menepati janjimu!”
“Wawa, suami istri harus saling percaya, apakah aku tidak bisa kamu percaya?” Suaranya terdengar sedih dan tiba-tiba menghentikan mobilnya di pinggir jalan lalu berbalik melihatnya.
“Mengapa berhenti?” Dia melototinya.
Dia bertatapan dengan mata hitam Su Yan, bibir tipis Feng Baiyi terlihat tersenyum mempesona di wajahnya yang tegas, “Ingin menanyakan hatimu!”
“Hatiku?” Su Yan tertegun, “Memangnya apa yang bisa ditanyakan dengan hatiku!”
“Apakah kamu mencintaiku?” Dia bertanya.
“Feng Baiyi?!” Su Yan kaget, apakah dia mencintainya?
Keheningan ini membuat Feng Baiyi menertawakan dirinya sendiri karena pada akhirnya, cintanya padanya tidak sebesar cintanya pada Su Yan! Dia pada akhirnya adalah orang yang paling takut kehilangan!
Feng Baiyi meletakkan tangannya di atas setir dan bersiap menjalankan mobilnya.
“Feng Baiyi!” Hati Su Yan merasa kacau untuk beberapa saat, Su Yan segera memegang tangan besar Feng Baiyi sewaktu dia akan menginjak gasnya untuk menghentikan gerakannya dan berkata sambil mengerutkan keningnya, “Jika begitu, apakah kamu mencintaiku?”
Suara menghela napas pelan terdengar di dalam mobil, Feng Baiyi merapikan rambutnya yang berantakan, wajahnya yang dingin terlihat menertawakan dirinya sendiri, “Aku yang tanya duluan!”
Alis yang tadinya mengerut terlihat semakin mengerut lagi, Su Yan tidak mengerti Feng Baiyi yang sedang bicara, pikirannya mengalir dengan cepat, “Aku menyukaimu!”
Dia tidak tahu apakah itu cinta! Tapi dia benar-benar menyukainya, dia akan merasa sedih ketika dia bersikap lembut dengan wanita lain, apakah ini cinta?
Tapi untuk waktu yang lama di dalam hidupnya, orang yang dia cintai adalah Kakak Chi, meski jantungnya akan berdetak kencang sewaktu melihat Feng Baiyi dan merasakan ada perasaan yang aneh, tapi, apakah itu cinta?
Apakah selama hidup ini, seseorang boleh mencintai dua orang? Bukankah boleh seperti itu?
__ADS_1
“Kamu belum memakai perasaanmu.” Dia menggelengkan kepalanya dengan pelan dan terlihat tidak berdaya, wajahnya terlihat dingin seperti biasanya sambil menatap Su Yan dan bergumam, “Aku yang telah kalah!”
Feng Baiyi menertawakan dirinya sendiri, matanya yang tajam terlihat sedih dan Su Yan merasa hatinya sakit ketika melihat senyum kecutnya dan dia tidak ingin melihat senyumnya yang seperti itu.
“Feng Baiyi, aku…..” Dia ingin mengatakan sesuatu tapi tidak tahu harus mengatakan apa.
“Aku mengerti!” Dia terlihat tersenyum kecut lagi dan terlihat tidak berdaya.
Tapi hatinya merasa kacau ketika melihat senyumnya seperti itu, “Kamu, apakah kamu mencintaiku?”
Dia berpaling dan menjawabnya dengan ciuman yang dalam.
Dia baru melepaskannya sewaktu napasnya terengah-engah dan dia masih tidak mengerti apa jawabannya sewaktu dia menjalankan mobilnya. Cinta atau tidak? Apa maksud sebuah ciuman?
“Wawa, kita pindah kembali ke villa saja!” Dia tiba-tiba berkata setelah terdiam untuk beberapa saat, “Kita tinggal di vila lagi ya?”
“Kenapa?” Dia tidak mengerti.
“Kamu tidak mau?”
“Rumah yang terlalu besar terasa kosong!” Dia takut kesepian, takut sendirian dan tidak ada yang menemani.
“Ada Kakak ipar Li di vila!” Dia berkata.
“Kita bahas nanti saja!” Dia menggelengkan kepalanya.
Sewaktu Chen Huilun keluar dari rumah sakit pada hari Sabtu, akhirnya Su Yan tahu mengapa Feng Baiyi bersikeras pindah rumah karena Chen Huilun tinggal di seberang apartemen mereka.
Ternyata, mereka selama ini adalah tetangga.
Chen Huilun sudah sembuh dan terlihat sama dengan orang normal lainnya dan dokter mengatakan beberapa saat lagi akan sembuh total.
Feng Baiyi tidak pergi di hari dia keluar dari rumah sakit karena sedang ada acara di perusahaannya, Su Yan berada di sebelah sewaktu dia pulang dan Chen Huilun sedang berbicara dengannya, “Su Yan, kita adalah tetangga kelak, selamat datang!”
Nada bicaranya terdengar seolah-olah dia adalah pemilik rumah yang membuat Su Yan merasa tidak nyaman, dia tersenyum canggung, “Kak Chen, apakah kamu sudah lama tinggal di sini?”
“Ya! Sudah lima tahun, kami bertetangga setelah lulus!” Chen Huilun tersenyum lembut, “Kamu pintar memasak dan sering memasak untukku!”
Dia berkata sambil memperhatikan ekspresi wajah Su Yan dan dia tersenyum sewaktu melihat wajah gadis tengik ini sedih.
Pada saat ini terdengar suara di pintu dan suara kunci diputar, Feng Baiyi masuk begitu saja dan memegang kunci rumah Chen Huilun.
“Yi, kamu sudah pulang ya!” Chen Huilun tersenyum cerah dan segera berdiri untuk menyapa Feng Baiyi.
Su Yan merasa terkejut ketika dia mengangkat kepalanya karena dia bahkan punya kunci rumah Chen Huilun dan Feng Baiyi hari ini sedang memakai jas buatan tangan berwarna hitam dan wajahnya terlihat tampan, dia tersenyum sewaktu melihat Chen Huilun dan Su Yan yang sedang duduk di sofa, “Huilun, selamat ya karena kamu sudah keluar dari rumah sakit!”
“Yi! Terima kasih! Juga terima kasih atas perhatian Su Yan menjagaku selama beberapa waktu ini!” Chen Huilun terus menatap wajah Feng Baiyi terkadang berbalik melihat Su Yan yang tidak bicara.
“Aku pulang dulu karena aku masih ada tugas yang belum selesai dikerjakan!” Su Yan tersenyum cerah. “Feng Baiyi, kamu temani kak Chen saja!”
Su Yan berusaha tetap tersenyum tapi dia tetap merasa wajahnya sangat kaku, Feng Baiyi kaget sewaktu dia melewatinya sambil menunduk dan dia merasa ada yang tidak beres.
Su Yan sudah berjalan keluar.
“Yi! Duduklah!” Chen Huilun tersenyum.
__ADS_1
Feng Baiyi tersenyum datar sambil meletakkan kunci di atas meja, “Aku kembalikan kuncimu! Aku pulang dulu karena aku agak lelah hari ini!”
“Baiklah!” Chen Huilun tidak banyak bicara, “Kamu pulang saja karena aku baik-baik saja dan tidak perlu khawatir!”
Su Yan terus memikirkan kenapa dia bisa punya kunci rumah Chen Huilun tapi akhirnya dia ingat jika dia pernah mengatakan suami istri harus saling percaya maka dia berpikir jika dirinya terlalu banyak pikiran saja.
Dia menggelengkan kepalanya dan segera mengeluarkan buku sketsanya.
Feng Baiyi mencarinya sewaktu dia pulang dan dia bernapas lega sewaktu melihatnya sedang menggambar di dalam kamar, “Wawa, aku sudah pulang!”
Su Yan mengangkat kepalanya, “Iya, bukankah aku sudah melihatnya tadi?”
“Apakah kamu tidak datang menyambutku dulu?” Dia mengerutkan keningnya.
“Buat apa menyambutmu karena kita sudah bertemu setiap hari?” Dia mencibir tanpa melihatnya lagi dan meneruskan tugasnya. “Aku masih harus mengerjakan tugas, jangan mengangguku!”
Dia memikirkan kunci itu lagi sewaktu dia menunduk.
Kemudian dia teringat tentang masalah pindah kembali ke vila dan hatinya merasa tidak nyaman.
Feng Baiyi melihatnya sambil melepas dasinya untuk pergi mandi dan keluar begitu saja.
Dia keluar memakai handuk setelah selesai mandi dan dia melihat Su Yan sedang menggambar sambil mengerutkan keningnya, sewaktu dia berjalan mendekati, dia menemukan jika gambar sketsanya terlihat seperti kunci!
Feng Baiyi kaget dan teringat jika dia memegang kunci rumah Chen Huilun barusan maka dia segera mengerti, tangannya memegang kepala Su Yan dengan penuh kasih sayang, dia terlihat tidak berdaya dan frustasi dan berkata dengan suara berat, “Wawa, kamu cemburu ya?”
“Tidak!” Su Yan mendengus dingin, “Kamu jangan berpikir sembarangan!”
“Jika tidak, buat apa kamu menggambar begitu banyak kunci?” Dia melihat setiap sketsanya adalah gambar kunci.
Su Yan kaget dan menemukan jika dirinya menggunakan kunci sebagai elemennya, dosen pernah mengatakan jika boleh menggunakan setiap elemen dalam kehidupan sehari-hari, dirinya sendiri bahkan tidak tahu jika gambar yang dia gambar adalah sebuah kunci, dia memukul kepalanya dan bergumam kesal, “Ah…. kunci yang menyebalkan!”
“Wawa, apakah ada yang ingin kamu katakan?” Dia bertanya, “Jika aku tidak salah maka kamu sekarang sedang merasa sangat marah!”
Su Yan mengangkat kepalanya lalu melihat dadanya yang telanjang yang masih ada tetesan air dan wangi sabun, rambut hitamnya masih basah dan terlihat berantakan di wajahnya yang elegan, tubuhnya yang tidak tertutup handuk terlihat kekar yang memancarkan pesona seorang pria yang menawan.
Su Yan merasa dia menelan air ludahnya dan tenggorokannya terasa kering sambil mengerutkan keningnya, dia melihat tetesan air perlahan-lahan mengalir dari wajahnya, dia berdiri lalu mendorongnya ke kursi kulit.
Feng Baiyi tertegun lalu duduk di atas kursi mengikuti gerakannya.
Su Yan meletakkan tangannya di pinggul dan terlihat marah dan tidak sabar, “Katakan, ada apa dengan kuncinya? Mengapa kamu punya kunci rumah seorang wanita?”
Dia tiba-tiba merasa marah ketika memikirkan dia bahkan punya kunci rumah wanita lain dan hatinya merasa tidak nyaman, “Katakan sejujurnya!”
“Wawa, apakah kamu mencintaiku?” Dia menatapnya dan tiba-tiba berkata, matanya terlihat bersinar seolah-olah menantikan sesuatu, dia tidak terlihat marah dan hanya melihatnya saja.
“Dasar!” Dia berteriak, “Kamu jangan mengubah topiknya, aku mau tahu kenapa kamu bisa membawa kuncinya?”
“Karena tidak mencintaiku maka aku tidak perlu memberitahumu!” Dia memalingkan wajahnya dan tidak bicara serta terlihat agak kecewa.
“Aku…..” Dia melihat wajah kecewa dan Su Yan menemukan jika dia tidak bisa mengatakan apa-apa karena dia benar-benar tidak tahu apakah diaa mencintai Feng Baiyi! Tapi dia merasa tidak nyaman, tidak nyaman melihatnya bersikap baik kepada wanita lain, tidak enak sama sekali.
Dia berjalan ke arahnya dan langsung duduk di pahanya lalu melingkarkan tangannya di lehernya dan berkata dengan suara manja, “Xiao Bai, kamu kasih tahu aku! Apakah kalian benaran tidak ada hubungan apa-apa?”
“Wawa!” Feng Baiyi menatapnya dengan serius, “Aku sudah mengatakan jika suami istri harus saling percaya!”
__ADS_1