AYAH, MAAFKAN AKU

AYAH, MAAFKAN AKU
Bab 48 Orang Tua Tunggal


__ADS_3

Hello! Im an artic!


Setelah menghabiskan jus tersebut Chengcheng berkata, “Mami, ayo kita pulang saja. Aku tahu paman itu hanya mempermainkanku.”


“Kita tunggu sebentar lagi ya!” Mu Xue tidak ingin menyerah. Bukan demi uang, melainkan demi anaknya. Dia tidak ingin jerih payah Chengcheng lenyap begitu saja. Tiba-tiba datang seorang pelayan menghampiri, “Nona, apakah tadi anda mencari orang yang bermarga Zeng?”


Hello! Im an artic!


“Iya, benar,” jawab Mu Xue.


“Tuan, di sebelah sana ada ibu dan anak yang mencarimu tadi,” jawab pelayan sambil menunjuk.


Ceng Li berjalan menghampiri mereka, Chengcheng melihat itu adalah paman tampan yang dia temui bersama dengan paman Da Niao di dalam pesawat!


“Wah, paman tampan!” sapa Chengcheng.


Hello! Im an artic!


“Ternyata kamu!” ujar Ceng Li. Mu Xue terkejut. Kenapa Ceng Li berada di sini?


“Manager Zeng, kenapa anda yang datang?” tanya Mu Xue.


“Xiao Xue, jangan bilang bahwa dia adalah anak yang Nuo ceritakan!” ujar Ceng Li sambil melihat ke sekelilingnya. Dia merasa sangat terkejut.


“Apa yang anda lakukan di sini?” tanya Mu Xue dengan terheran.


“Nuo tanpa alasan yang jelas ingin membuka perusahaan game, dia memintaku ke sini untuk mewakilinya membicarakan kerjasama ini,” Ceng Li menjelaskan.


“Ternyata anda?” Mu Xue sangat terkejut, dia tertawa, “Aku kira aku telah ditipu pada awalnya!””Maaf! Jalan sangat macet!” ujar Ceng Li kemudian duduk, “Ku lihat kalian memang sangat berjodoh.”


Mu Xue berpikir, apakah yang Chengcheng maskud dengan “paman Da Niao” adalah Qin Yinuo?


“Hai anak manis, siapa namamu?” Ceng Li menyapa.


“Mu Cheng!” jawab Chengcheng.

__ADS_1


“Xiao Xue? Siapa anak ini?” tanya Ceng Li.


“Anakku,” jawab Mu Xue dengan tersenyum.


“Apa? Kamu sudah menikah?”Ceng Li tidak menyangka. Mu Xue tampak sangat muda, ternyata dia sudah memiliki anak sebesar ini. “Iya, aku sudah pernah menikah,” jawab Mu Xue meskipun dia tidak suka membahas hal ini. “Oh, baiklah. Apakah Nuo mengetahui bahwa Chengcheng adalah anakmu?” tanya Zengli.


“Seharusnya dia tidak tahu! Aku rasa dia tidak tahu,” jawab Mu Xue menggelengkan kepalanya. “Wah, anak ini sangat mirip denganmu!” ujar Ceng Li sambil memandang Mu Xue. “Chengcheng, berapa umurmu?”


“Lima tahun!”


“Xiao Xue, muda sekali kamu menikah!” Ceng Li mengingat bahwa usia Mu Xue yang tertera di CV berkisar 23 atau 22 tahun. Dengan kata lain Xiao Xue melahirkan anak di usia 17 atau 18 tahun!


“Iya!” jawab Mu Xue dengan canggung.


“Paman, bagaimana dengan gameku?” tanya Chengcheng yang tidak tahan menyela.


“Baiklah, ayo kita bicarakan!” Ceng Li membunyikan bel memanggil pelayang, “Pelayan! Tolong ambilkan menu!”


“Paman akan mentraktirmu makan! Anakmu sungguh sangat pintar. Chengcheng, apa yang ingin kamu pesan?” tanya Zengli memperlihatkan menu.


Ceng Li yang melihat itu pun mengerti. Anak ini sungguh sangat megnerti tata krama.


“Sudah jangan sungkan. Ayo pesan saja!” ujar Ceng Li.


Ceng Li melihat gelas kosong di atas meja kemudian berkata kepada pelayan, “Tolong bawakan jus yang sama seperti yang tadi mereka pesan.”


“Tidak usah, paman. Aku sudah cukup,” ujat Chengcheng meskipun dia sangat menyukai jus tersebut. Dia merasa tidak enak dan tidak ingin merepotkan.


“Kenapa? Tenang saja, semua ini dibayarkan oleh bos paman! Hahahaha ….”


“Mami, apakah aku boleh meminum jus lagi?” tanya Chengcheng meminta ijin. Ceng Li melihat anak ini sangat pegnertian, hatinya merasa kasihan melihat anak ini, “Untuk apa meminta ijin, minum jus bukanlah pelanggaran. Sudah paman akan memesankanmu.”


Mu Xue mengerti bahwa Ceng Li sudah bercanda, dia pun tidak banyak berbicara.


Beberapa saat kemudian pelayan datang membawakan pesanan mereka.

__ADS_1


“Chengcheng ayo minum!” Ceng Li meletakkan jus tersebut di hadapan Chengcheng.


“Manager Zeng, apakah Qin Yinuo sungguh ingin membeli game Chengcheng dan mengembangkannya?” tanya Mu Xue.


“Iya. Dia akan membelinya dengan harga 200juta. Bagaimana?” tanya Ceng Li.


“Paman aku ingin tahu, apakah game milik orang lain juga dihargai dengan harga ini?” tanya Chengcheng.


Ceng Li sangat kagum dengan anak ini. Terlihat bahwa anak ini sangat cerdas meskipun di usianya yang baru 5 tahun.


“Tentu saja harga gamemu lebih mahal,” jawab Ceng Li. Dia pun tidak mengerti kenapa Qin Yinuo membuka harga sertinggi itu.


“Kenapa?” tanya Mu Xue.


“Aku tidak tahu!” jawab Ceng Li sambil tersenyum, “Ini adalah ceknya, silahkan ambil.” Ceng Li mengeluarkan selembar cek yang telah ditulis angka di atasnya.


“Mami, apakah ini adalah cek? Apakah kita sudah bisa membeli rumah?” tanya Chengcheng.


“Hey!” Wajah Mu Xue memerah memandangi cek tersebut. Dia tidak menyangka anaknya bisa menghasilkan uang demikian banyak.


“Mami, kita bisa membeli rumah sendiri. Kita tidak perlu merepotkan orang lagi!” ujar Chengcheng kegirangan.


Mendengar hal itu Ceng Li bertanya, “Apakah kalian tidak memiliki rumah?”


“Yang kami tinggali sekarang adalah rumah temanku,” jawab Mu Xue.


“Oh. Tapi uang ini tidak akan cukup untuk kalian membeli rumah!”


“Tidak cukup? Kalau begitu berapa banyak yang dibutuhkan supaya bisa membeli rumah?” tanya Chengcheng dengan kecewa.


“Chengcheng, membeli rumah adalah tugas mami,” ujar Mu Xue. Ceng Li merasa penasaran, “Xiao Xue, dimana ayah anakmu?”


Belum sempat menjawab, Chengcheng menyela pembicaraan tersebut, “Paman, tidak setiap anak memiliki ayah, sama juga dengan tidak semua anak memiliki inu!”


Ceng Li terdiam. Lantas apakah Mu Xue menjadi orang tua tunggal untuk anaknya?

__ADS_1


__ADS_2