
Hello! Im an artic!
“Kamu bukan! Bukan!” Hatinya sakit sekali, dan rasa pahit memancar dari matanya. “Anak baik, kamu bukan anak liar, paman yang jahat, paman salah, tidak seharusnya bercanda dengan mamimu, kita pergi tanya mami, kamu kan akan mami!”
“Cheng Cheng?” Ketika Mu Xue mengejar keluar ia melihat Cheng Cheng sudah ada dalam pelukan Qin Yinuo, tubuhnya sudah dikotori oleh sarang laba-laba, wajahnya penuh dengan bekas tangisan, tangan kecilnya melingkari leher Qin Yinuo, terus terisak. “Aku bukan anak mami! Aku bukan!”
Hello! Im an artic!
“Cheng Cheng!” Mu Xue berlari pergi, langsung memeluk Cheng Cheng. “Nak, mami salah, kamu ini anak mami, mami hanya punya dirimu, kamu tidak boleh tidak mau mami!”
Qin Yinuo membuang mukanya, hatinya sakit, tidak hanya memiliki Cheng Cheng, dia masih memiliki Tian Yu! Tapi sampai hari ini, bagaimana cara ia mengatakan tentang anaknya itu pada wanita ini?
Tak disangka sebulir air mata mengalir keluar dari mata Qin Yinuo. Ia membuang muka, ia memeluk ibu dan anak yang sedang menangis itu. “Kita pulang dulu lah, kalau tidak bisa demam!”
“Mami! Mami jangan nangis! Cheng Cheng sangat menurut, mami juga jangan tidak mau Cheng Cheng, Cheng Cheng akan jadi penurut!” Cheng Cheng memeluk leher Mu Xue dengan menurut, air mata anak itu memanasi leher Mu Xue, panas sekali, panas sekali, panas sekali sampai hatinya ikut mengerut rasanya.
Hello! Im an artic!
“Nak…mami tidak akan tidak menginginkanmu…kau juga jangan tidak mau mami, oke? Mami benar-benar tidak bisa tidak ada dirimu!” Mu Xue memeluk erat anaknya, ibu dan anak itu berpelukan sambil menangis. “Sayang, maaf…maaf…”
Mu Xue memeluk anaknya dengan erat, tak peduli bagaimana pun ia tidak ingin melonggarkan tangannya.
“Xiao Xue, lepaskan tanganmu, ayo cepat pulang!” Qin Yinuo hendak menarik Cheng Cheng, tapi Mu Xue tiba-tiba memeluknya dengan erat tanpa ingin melepaskannya.
Qin Yinuo menghelan nafas, “Xiao Xue, badanmu sudah basah kuyup, kalau begitu kamu malah akan membuat anakmu demam, ayo kita cepat pulang!”
Mendengarnya Mu Xue baru terpikir akan keadaan dirinya sekarang, “Cheng Cheng, mami mandikan kamu, kita pergi mandi!”
Kedua ibu anak itu menangis hingga mata mereka membengkak merah, sementara Cheng Cheng menggeleng. “Tidak mau mami mandikan!”
“Cheng Cheng?” Mu Xue menatapinya dengan terluka. “Kamu tidak mau mami?”
“Mami kan Wanita!” Cheng Cheng menunduk. “Mau dimandikan paman!”
Mu Xue langsung mengangguk. “Baik, mau bagaimanapun boleh!”
Qin Yinuo mengeratkan bibirnya, ia menerima anak itu, langsung berjalan ke kamar mandi–
“Mami, mami tidak akan membuang Cheng Cheng kan?” Setelah mandi anak kecil itu mengganti pakaiannya dan berbaring di atas ranjang, Mu Xue setelah habis mandi juga pergi memeluknya.
Kedua ibu anak itu bersama.
“Mami cuma punya kamu, mami mau kamu!” Mu Xue memegangnya erat-erat.
“Tapi Cheng Cheng bukan anak mami, pasti karena Cheng Cheng tidak penurut, makanya papi dan mami Cheng Cheng tidak mau Cheng Cheng lagi!” Suaranya semakin mengecil, kecilnya sampai hampir tidak terdengar.
Mendengar kalimatnya, hati Mu Xue sakit sekali. “Nak, kamu ini anak baik, paling pendengar! Kamu lupa ya kalau semua orang suka denganmu, mami suka denganmu, kalau ada kamu mami baru bisa senang!”
__ADS_1
Cheng Cheng adalah akar hidupnya, ia sepintar itu, selucu itu, ketika memungutnya dari samping sungai, ia sudah menetapkan, mulai saat itu, anak ini adalah miliknya, ia tidak akan memberikannya pada siapa pun.
Ia selalu ingat, malam itu, ia mencari anak kandungnya selama sebulan lebih, namun tidak memiliki hasil, ia ingin mengakhiri hidupnya, merasa hidup ini tidak ada artinya lagi! Tapi di atas batu samping sungai ia malah mendapatkan anak ini.
Ia menatapnya, mata sebesar itu, tidak menangis juga tidak merengek, ketika melihat Mu Xue, ia tertawa, saat itu, rasanya dirinya telah menemukan harapan, kehidupannya tidak segelap itu lagi!
Ia lebih cepat dewasa dibanding anak-anak lainnya, ia lebih pintar, tak sampai sepuluh bulan ia sudah bisa berjalan, di umur sebelas bulan ia bisa memanggil mama, di umur satu tahun, ia bisa mengatakan kalimat lengkap.
Ketika usianya satu setengah, ia bisa mengungkapkan perasaannya sendiri, bahkan bisa membaca ekspresi Mu Xue, tahu ketika dirinya lelah, anak ini akan penurut sekali, tidak menangis ataupun merengek, begitu melihat anak lain memiliki mainan, ia hnya melihat dan tak berkata apapun, kemudian sambil menarik tangannya, ia akan berkata, mami, ayo pulang!
Ketika Mu Xue lelah dan penuh dengan keringat anak ini akan membawakan handuk dan mengelap kering keringatnya, ketika sakit anak ini masih akan terus berjaga di sisinya, membantunya melihat jarum lalu meminta suster untuk membantunya mengganti jarum. Saat itu usianya belum dua tahun, dan ia sudah penurut serta pengertian sekali!
Ketika Mu Xue bekerja paruh waktu, ia akan meletakkannya di atas kursi roda, anak ini bisa duduk berjam-jam disana, sampai ketika dirinya kembali, ia juga tidak akan menangis, bahkan ketika lapar pun tidak menangis!
Ia penurut sekali, bagaimana dirinya tega? Bahkan kalau seumur hidup ia tidak bisa menemukan anak kandungnya, ia hanya akan memiliki Cheng Cheng, maka kehidupannya akan penuh dengan harapan dan tenaga! Ia tak bisa membayangkan kalau Cheng Cheng tak ada di sisinya, mungkin ia tidak akan bisa terus hidup!
“Anak baik, tidur, mami hanya bercanda dengan paman, kamu ini anak mami, kamu lihat, kita mirip kan?” Mu Xue mencoba menutupi kesalahannya dengan candaan, tapi kenyataan ini bagai bibit yang telah tertanam dalam hati Cheng Cheng.
“Mami, Cheng Cheng ini anak mami!” Tangan kecil Cheng Cheng memeluk lehernya, ia bersandar padanya, karena tadi menangis keras tubuhnya terkadang jadi bergetar. “ke depannya Cheng Cheng hanya punya mami, tidak mau daddy, juga tidak mau mami lain, hanya mau mami seorang!”
Hati Mu Xue sakit sekali, ia tak pernah sesedih ini. “Sayang!”
Ia hanya merangkul anaknya, hanya bisa memeluk anaknya!
Akhirnya Cheng Cheng tertidur!
Mu Xue menyelimutinya, barulah ia berjalan keluar. Baru keluar dari kamar ia sudah melihat Qin Yinuo yang berdiri di depan pintu, tubuhnya dililiti handuk, dadanya yang telanjang terlihat, Mu Xue tertegun sesaat, mereka terlalu dekat, membuat suasana di sekitar jadi penuh tekanan.
“Presiden Qin, ke depannya kalau bertemu kita pura-pura tidak kenal, bisa?” Ia tidak lagi ingin berhubungan dengan orang ini, ia tidak ingin terus mendapat sial.
“Kenapa?” Dalam tatapannya penuh dengan ketakutan, rambut hitamnya menempel di dahi, wajahnya pucat, bibirnya juga putih pucat, nafasnya terburu-buru, kelihatannya hidungnya mampet.
Dan sepertinya lehernya robek, ada bekas darah disana, seolah digores oleh kuku! Sepertinya itu adalah luka karena dirinya, ketika Mu Xue menggila, ia memukulnya, sementara Qin Yinuo tidak melepaskan tangannya, membiarkan ia terus memukulnya!
Tapi, orang inilah yang membuat Cheng Cheng mengetahui kebenaran, meski Mu Xue merasa bersalah atas luka yang ditimbulkannya, tapi ia tidak bisa memaafkannya, kalau bukan karena dirinya yang terus memaksa bertanya, bagaimana ia bisa mengatakan hal ini?
Heh! Tidak! Ini sebenarnya salahnya sendiri! Salah dirinya yang tidak bisa menjaga mulut!
Ia menunduk, berkata dengan dingin: “Kamu ini hanya mantan Presidenku, kita tidak berhubungan apapun, aku juga tidak suka menjalin pertemanan!”
Kata-katanya membuat alis Qin Yinuo berkedut, ia hanya menatapinya, melihat wajah kecilnya yang lelah, mata merah yang membengkak, tidak berkata apapun.
Tiba-tiba Qin Yinuo jadi kesal, ia tersadar untuk mencari rokok, tapi malah menyadari kalau rokoknya tidak ada, pakaiannya sudah basah sedari awal, sekarang ia hanya punya sehelai handuk.
Karena kata-kata Mu Xue, wajahnya pucat pasi. Sesuatu tengah bergerak dalam hatinya, membuat Qin Yinuo kacau, ia berkata dengan nada rendah: “Baik! Aku bisa pura-pura tidak kenal denganmu!”
“Sekarang masih hujan, kamu bisa pergi besok! ” Nada suaranya hambar, selesai berkata, ia membalikkan tubuh dan masuk ke dalam kamar Cheng Cheng.
__ADS_1
Qin Yinuo melihat punggungnya, tatapannya mendalam, seolah matany tengah berkilat–
Mu Xue tidak tahu kapan Qin Yinuo pergi, pagi ketika ia bangun, di dalam rumah sudah tidak ada lagi sosok Qin Yinuo, pakaian olahraga itu sudah dicuci dan digantung di balkon.
Cheng Cheng diam sekali, pagi ketika mengantarnya ke TK, ia tidak berbicara sepanjang perjalanan.
Mu Xue tahu kata-kata semalam telah membuat anak ini kehilangan rasa aman, sepanjang malam ia terus bermimpi buruk, sementara hati Mu Xue seolah tertusu-tusuk sakitnya. Sampai di pintu depan TK, Cheng Cheng masih menunduk.
“Sayang, begitu pulang kerja mami datang menjemputmu ya, kita tidak usah tinggal di sekolah lagi, mami akan datang menjemputmu setiap hari!” Mu Xue mengecup wajahnya. “Oke?”
“mami!” Cheng Cheng menengadahkan matanya dalam diam, ingin mengatakan sesuatu namun terdiam.
Hati Mu Xue sakit, lalu memeluknya erat sekali lagi. “Mami sudah mau pergi kerja, Cheng Cheng kan anak mami, selamanya anak mami!”
“Selamat tinggal mami!” Cheng Cheng mengecup wajahnya, saat ini barulah ia melepaskannya, tapi siapapun tahu, anak ini sedang tidak senang, ia tidak bisa tertawa–
“Kakak Mi, masalah izin kemarin…” Belum Xiao Xue menyelesaikan kalimatnya, Mi Lei sudah memutus kata-katanya.
“Xiao Xue, kemarin Qin Yinuo menelepon meminta izin untukmu. Tidak apa-apa, ini kan pertanda baik, minggu ini kita akan melayani tamu, sudah selesai mendiskusikan jenis masakannya kan?” Mi Lei jelas-jelas perhatian sekali, ia tidak menanyakan detail, karena kalau Qin Yinuo menelepon itu artinya ada sesuatu yang terjadi, sementara Xiao Xue dulunya adalah sekertarisnya.
Mu Xue mengangguk, “Sudah selesai dibicarakan, aku segera jelaskan pada kepala koki!”
“Baik!” Mi Lei mengangguk, lalu tersenyum anggun: “Xiao Xue, kamu ini pintar sekali, Mi Ling selalu memujimu, aku tahu hidupmu sulit, sehingga kalau belajar apapun daya tangkapmu cepat sekali! Setelah mendiskusikan makanan, kamu pergi belajar akan pengalaman di hall utama bersama Manajer Feng, bagaimana caranya menyambut tamu, menyambut tamu penting, buat orang kalau datang sekali ingin datang untuk kedua kalinya, untuk mempertahankan tamu itu ada ilmunya!”
“Kakak Mi, pujian Anda terlalu berlebih, aku ini bodoh sekali!” Mu Xue tersenyum. “Tapi aku akan belajar sebaik mungkin!”
“Pujianku berlebihan atau tidak aku juga tahu, pergilah!” Mi Lei berkata sambil tertawa.
Jam makan siang.
Tidak sedikit tamu yang terus berdatangan. Mu Xue mengikuti manajer Feng untuk berdiri di hall utama, manajer Feng adalah wanita yang berusia sekitar empat puluhan, meski usianya besar, tapi malah memiliki aura mewah para wanita dewasa, setiap gerakan tangan dan kakinya terlihat pintar dan menawan.
Manajer Feng membawa segerombol orang untuk naik ke lantai atas, sementara Mu Xue berdiri seorang di hall utama.
Saat inilah, seorang pria yang tinggi dan besar berpakaian jas hitam datang dari luar. Mu Xue menyambutnya penuh senyum, dan ketika melihat orang yang datang ia langsung tertegun, kenapa orang ini bisa ada di sini?
Sepasang mata Qin Yinuo ketika melihat orang yang berdiri di hall utama itu langsung senang.
Presiden Qin bagaimana mungkin ditolak oleh seorang wanita! Dan masih bilang kalau bertemu tidak ingin mengenalinya, ia ingin lihat hari ini bagaimana wanita ini berpura-pura tidak mengenalnya?
Setelah Mu Xue tertegun, sudut bibirnya langsung tersenyum.
Betul kan! Wanita itu tersenyum! Qin Yinuo pikir wanita ini pasti tidak bisa melakukannya, bagaimana ia bisa berpura-pura tidak mengenalinya!
“Apa kabar, tuan! Ini pertama kalinya tuan datang ke restoran kami kah? Perlu kuperkenalkan layanan spesial dari kami?” Mu Xue tersenyum sopan dan menganggapnya sepenuhnya sebagai orang asing.
Qin Yinuo agak terkejut, sialan, ia benar-benar berpura-pura tidak mengenalinya!
__ADS_1
Bagus! Bagus sekali! Ia kira bisa dengan begitu saja?
Ia menaikkan sudut bibirnya, seketika tatapan dingin Qin Yinuo langsung jadi mendalam, murung sekali. “Nona, maaf, ini adalah kedatanganku untuk kedua kali! Harap nona buat secangkir kopi!”