
Hello! Im an artic!
Setelah nafas dan jantungnya kembali teratur, Song yin menengadahkan kepalanya perlahan dan melepaskan pegangan Yu Jinglan di bahunya. “Lepaskan aku.” Suaranya yang sedingin es mengalir, tidak terpengaruh suasana barusan.
” Yin yin?” Yu Jinglan tampak panik menghadapi wajah dingin wanita itu, dan sekali lagi dirinya berusaha memeluk erat tubuh wanita itu. “Jangan begini, jangan pergi.” Bujuknya dengan suara pelan.
Hello! Im an artic!
“Kita sudah tidak pantas untuk bersama.” Katanya menggeleng dan mengalihkan pandangannya, tak sanggup melihat wajah kecewa pria itu.
Dia seorang pria yang arogan dan selalu percaya diri, wanita itu tidak berhak untuk menggodanya, menyakitinya, akan tetapi video yang beredar luas di internet itu adalah kakak perempuannya, dan pria yang terbaring di rumah sakit itu tak lain adalah ayahnya.
” Yin yin.” Panggilnya pelan, penuh perasaan, panggilannya menyayat hati Song yin.
Hanya Tuhan yang tahu, bertahun-tahun ini selain pekerjaan, untuk pertama kalinya dia sungguh menginginkan sesuatu, tetapi mengapa Tuhan begitu kejam padanya.
Hello! Im an artic!
“Aku ingin cerai, aku lelah, amat sangat lelah, kak Yu , tolong lepaskan aku!” kata Song yin dengan suara yang sarat dengan nada memohon.
Semakin dia menginginkan wanita itu, yang didapatkannya hanyalah wajah yang dingin dan tatapan yang asing dari wanita itu, Yu Jinglan tersenyum lemah “Kita bicarakan lagi saat sudah tenang.”
Sorot mata Yu Jinglan sarat dengan keenganan, penyesalan, dan luka yang mendalam, dia mengenggam erat tangan Song yin, tampak sorot penuh kasih yang mendalam berkilat di matanya saat berkata: “Yin yin, aku memberimu kesempatan untukmu kembali ke sisiku kapanpun kamu mau.”
Dulunya, wanita itu sungguh berangan-angan bahwa pria itu akan baik padanya, memanjakannya, memperhatikannya, tetapi sekarang, semua hal yang terjadi telah menghancurkan semua keindahan yang ada. Bagaimana dia harus menahan semua perasaan itu? Harus bagaimana dia menahan semua itu?
Tatapan Song yin yang dingin melayang jauh saat pikiran akan ayahnya yang sedang terbaring di rumah sakit kembali terbersit di benaknya. Ditariknya kembali tangannya yang digenggam pria itu. “Aku sungguh-sungguh minta maaf, pengacaraku akan menyerahkan berkas perceraian kita padamu.” Katanya datar.
Hanya itulah yang dapat dilakukan wanita itu, dirinya tidak sanggup lagi melewati rintangan yang merintanginya itu. “Kakak, jaga dirimu!”
Pria itu kembali meraih tangannya, tangannya yang besar menggenggam erat tangan mungil wanita itu, dia menatapnya seperti orang bodoh, namun tatapannya tegas dan menolak untuk melepas tangannya.
Song yin tidak punya kebernian untuk berbalik dan menatap pria itu, dia takut dirinya akan mnangis, tidak sanggup menahan agar nangisnya tidak pecah. Akan tetapi pria itu menggenggam tangannya demikian eratnya. “Yin yin, kita tidak bisa berakhir seperti ini.” Katanya dengan nafas memburu.
Wanita itu berbalik, dilihatnya mata memerah pria itu, untuk pertama kalinya dilihatnya pria itu demikian.
Hati wanita itu terasa amat sakit, terlebih melihat pria itu menggenggam tangannya dengan mata memerah, seolah wanita itu akan lenyap saat tangan itu terlepas.
Dilihatnya mata yang berkilat seperti kristal itu, seketika terlintas di benak wanita itu, mengapa begitu sulit? Mengapa mencintai begitu sulit? Mengapa ingin melepaskan tangan ini saja sulit?
Wanita itu telah menguras nyaris seluruh tenaganya untuk menahan air mata, “Yu Jinglan , mengapa kita tidak boleh berpisah? Tidak berpisah apakah aku bisa menghadapi orang tak berhati? Siapa yang akhirnya terluka?” kataya dengan tawa dingin dan tanpa perasaan. Kalimat itu memotong seperti pisau yang tajam. Memotong benang terakhir yang menghubungkan mereka berdua.
“Tidak berpisah yah tidak berpisah!” Katanya nyaris melolong.
Tangannya menggenggam dengan eratnya sehingga wanita itu kesakitan, seluruh air mata itu ditahannya, pandangan disekelilingnya menjadi bulatan-bulatan cahaya, di dalamnya hanya ada wajah pria itu, alisnya, matanya, bibirnya, perlahan semuanya memudar dan yang tersisa hanya garis-garis cahaya.
“Lepaskan tanganku.” Pintanya.
“Tidak.” Tolaknya.
Kesedihan terasa menyengat di hidungnya, lututnya melemas, hatinya terasa sangat sakit dan berguncang, tubuh wanita itu bergetar.
__ADS_1
Suaranya berubah, satu per satu kata diucapkannya dengan jelas: “Tidak ingin pun harus kau lepas, apakah kau bisa memutar balikkan waktu?
Apa kau bisa membuat lukaku tidak pernah terjadi? Jika terus dilanjutkan hal apalagi yang akan terjadi, apa bisa kau prediksi?”
Pria itu terus menatapnya, hatinya merasakan sakit yang amat sangat.
Pria itu menatapnya, lama, tanpa sepatah katapun terucap, lalu dengan pelan dia bertanya: “Mengapa begitu sulit?” dia tak kuasa menyembunyikan lukanya.
“Ya, mengapa begitu sulit?” gumam wanita itu menanyai dirinya sendiri, menanyai pria ituWanita itu perlahan meloloskan tangannya dari jari-jari pria itu, yang masih enggan melepasnya. Satu per satu jarinya dilepas. Akhirnya tangannya terlepas dan wanita itu berbalik.
Sosoknya yang berbalik seperti sebentuk cahaya dalam pandangan pria itu, saat wanita itu berbalik, detik itu pula rasa dingin yang menusuk tulang menyergap tubuhnya. Pria itu bahkan tidak tahu bagaimana harus memulai langkah untuk mengejar sosok yang menjauh itu.
Tangannya terkulai ke sisi tubuhnya.
Song yin bergegas memasuki elevator, air mata mengaburkan pandangan kedua matanya, dia berjalan keluar dari aula dan menuju jalan raya. Dia berjalan dan terus berlajan, hingga dia tersadar, saat itulah dia merasa hatinya sakit bagai ditusuk dengan pisau.
Dia merasa hidup manusia itu seperti berjalan di ujung pisau, tiap langkahnya harus bergenang darah, dia terduduk di tepi jalan raya, memeluk lengannya dan menangis dengan keras, dia terus menangis hingga satu jam telah berlalu, dia terus menangis hingga terasa pusing, dia tidak lagi menghiraukan pandangan dari pejalan kaki yang berlalu lalang. Dia bangkit dan mengusap air matanya, dirinya tampak kacau. Kemudian dia kembali berjalan, menelusuri jalan, air matanya tak berhenti menetes sepanjang jalan.
Dirinya tidak pernah tahu bahwa mencintai seseorang akan sesulit ini. Seolah sebagian hatinya telah diambil, seperti memegangi pisau dan menusuki hatinya sendiri bukan?
Ribuan pisau! Satu persatu pisau mengirisi hatinya, sakit yang tak lagi dapat dijelaskan dengan kata-kata, rasanya pusing dan tercekik di antara berbagai rasa yang dirasakannya.
Yu Jinglan , aku mencintaimu, makanya aku menjauhimu!
Aku takut! Suatu hari semua masalah ini membuatku berhenti mencintaimu, karenanya aku memilih berpisah!
Sudahilah. Sejak awal aku sudah tidak berdaya menghadapimu!
Walaupun menangis hingga hatinya remuk berkeping-keping dan air matanya kering, perasaan tidak adil dan sedih tetap berkecamuk di hatinya, enggan untuk pergi.
Setelah Song yinberlalu, Yu Jinglan berdiri di pojok di luar aula dengan rokok terselip di bibirnya, dia membuka penutup koreknya, tangannya bergetar, dipantiknya sekali, api tidak menyala. Barulah rokok itu menyala setelah dia mencobanya berulang kali. Dia menengadah, alisnya bertaut. Setelah menghisap beberapa batang rokok berturut-turut, Yu Jinglan berjalan masuk dengan wajah suram tanpa berkata sepatah katapun.
” Lan!” tanya sosok Jian yi yang keluar dari ruangan sambil membawa gelas wine.
“Kau baik-baik saja kan?” Wajah Du Liling dingin dan sorot matanya seolah memperingatkan.
Garis wajah Yu Jinglan yang tajam membentuk senyuman dingin, sorot matanya yang dingin tampak semakin dalam. Matanya yang dingin dan gelap serta ekspresinya yang sedingin es tampak seperti raja yang muncul dari kegelapan, berdarah dingin dan bertatapan dingin yang membuat tampak menakutkan.
Para tamu agaknya sedikit kaget, namun mereka menyadari sepertinya Presiden Yu tersandung masalah hingga wajahnya begitu suram.
Suara dentuman terdengar, Yu Jinglan melayangkan tinjunya dengan keras ke dagu Jian yi, pukulan itu terlampau kuat, sosok Jian yi terhuyung mundur dan berusaha menyeimbangkan tubuhnya. ” Yu Jinglan .” Katanya sembari mengusap darah yang mengalir dari ujung bibirnya, Jian yi menatap tidak mengerti Yu Jinglan yang melayangkan tinjunya.
Pada saat itu wajah Yu Jinglan tampak dingin, seolah mati rasa, matanya sarat dengan amarah yang membara. Sesaat kemudian, Yu Jinglan kembali melayangkan tinjunya lagi.
Jian yi yang sejak semula memang mudah tersulut emosi tidak mau kalah kali ini, mereka berdua saling melayangkan tinju, tinju yang membabi buta dan seluruhnya hanya pelampiasan.
“Sedang apa? Sedang apa ini?”
Du Liling berteriak dengan nada tajam. “Berhenti kalian berdua!”
Tetapi tidak ada satupun yang mendengar, dan terus bergumul.
__ADS_1
Tamu-tamu dari Jepang sangat terkejut menyaksikannya.
“Satpam, cepat kemari. Pisahkan dua orang ini!” suara Du Liling yang tajam bergema di seluruh aula. Tetapi siapa yang berani maju?
Jelas sekali kedua orang itu hanya menjadikan itu sebagai pelampiasan, beberapa menit kemudian, satpam akhirnya maju melerai kedua orang itu, Jian yi mengendurkan dasinya, berbaring di atas lantai terengah-engah, seluruh wajahnya lebam membiru.
Walaupun memiliki keterampilan, tetapi tampang Yu Jinglan tidak kalah berantakan, bibirnya pecah, sebelah matanya lebam. Setelah melampiaskannya, dia merasa kemarahan dalam dirinya akhirnya mulai mereda.
“Masalah ini tidak ada kaitannya denganku, lagian bukan aku yang memulai.” Jian yi merasa diperlakukan tidak adil, alhasil dia tidak bersedia mengalah.
Yu Jinglan tidak berkata sepatah katapun, dia menatap Du Liling dengan dingin lalu berlalu dari situ.
“Berhenti!” geram Du Liling
Yu Jinglan menghentikan langkahnya dan berbalik dengan cepat: “Begini saja kau sudah tidak senang? Apa untungnya untukmu?”
Du Liling terhuyung, lalu berkata dengan dingin: “Kau tahu bagaimana diriku, tidak akan berhenti sebelum apa yang kuinginkan tercapai, dendam walau sudah 30 tahun pun tidak pernah terlambat untuk dibalas!”
Yu Jinglan tertawa dingin dan hanya menjawab: “Terserah, asal kau senang!”
Song yin kembali ke rumah sakit, Song Qingquan telah membuka matanya, saat menatap Song yin, matanya hanya menatap wajahnya, tidak berkata apapun, hanya menatap wanita itu, emosi tampak bekecamuk di
matanya.
“Ayah!” kata Song yin pelan, suaranya tercekat.
” Yin….” panggil Song Qingquan , baru saja kata itu terucap, air liurnya mengalir keluar sangat banyak, suaranya nyaris tidak jelas, yang terdengar hanya suaranya yang memanggil nama Song yin.
Song yin seketika merasa sangat sedih, mengapa ayahnya menjadi seperti ini? Ayahnya yang begitu terpelajar, begitu menawan. Ayahnya terkena stroke, bahkan kultivasi dirinya yang kuat dan kokoh pun tidak sanggup menahan cobaan seperti itu?
“Ayah, maafkan aku.” Hanya empat kata ini yang sanggup diucapkannya. Tenggorokannya terasa sakit, membuatnya hampir tersedak saat mengucapkannya.
Lan xin mengambil lap dan membantu Song Qing mengelap air liurnya. “Jangan panik, ayahmu akan dapat berbicara dengan jelas lagi.”
Ayahnya hendak menyampaikan sesuatu namun tidak dapat diucapkannya, dan dia semakin panik, dengan tangannya dia mendorong Lan xin dan berkata: “Yin…”
“ayah, ingin bilang apa? Coba bilang.” Hati Song yin amat sulit menahan kesedihannya. “ayah, aku akan mendengarkan.”
Dengan kaku Lan xin berbalik dan mengusap air matanya.
“… ….” Song Qingquan berkata, namun sayangnya baik Song yin maupun Lan xin tidak ada yang mengerti, semakin mereka tidak mengerti, dirinya semakin panik, dia mencoba beberapa kali namun akhirnya hanya air liur yang mengalir, dia memukul ranjangnya dengan tangan.
“Ayah. Jangan panik, panik pun tidak ada gunanya, dengan berlatih pasti akan membaik. Jangan terburu-buru, biarkan kami menebak saja bagaimana? Jika kami benar ayah mengangguk, jika salah ayah menggeleng.” Song yin berupaya menggunakan cara itu untuk berkomunikasi dengan ayahnya.Song Qingquan segera mengangguk.
Akhirnya ditemukan solusi atas masalah cara berkomunikasi, Song yin berusaha menerka isi hati ayahnya. “Ayah, apakah ayah ingin tahu kakak ada dimana?”
Song Qingquan berpikir sejenak lalu menganggukkan kepalanya.
“Kami sudah menelepon namun tidak terhubung.” Song yin sebelumnya menelepon beberapa kali. “Tetapi aku akan mencari dia ayah.”
Song Qingquan menggeleng lagi.
__ADS_1