
Hello! Im an artic!
“Karena paman Li membelikan banyak sekali mainan untukku! Mami hendak berterima kasih padanya, paman, bukannya ini seharusnya kita memperlakukan tamu?” Cheng Cheng tidak merasakan perubahan suasana, ia menengadah menatap Qin Yinuo, lalu menatap Mu Xue. “Paman tidak suka pada paman Li?”
“Cheng Cheng, makan!” Mu Xue hendak menahanny untuk tidak asal bicara, lalu ia melirik sekilas pada Qin Yinuo, bahkan dirinya tidak tahu mengapa dirinya hendak melihat perubahan wajahnya!
Hello! Im an artic!
Sesak dalam dada Qin Yinuo rasanya semakin parah, ia menerima mangkok yang diberikan Mu Xue, setelah memakannya, karena panas ia langsung mengernyit, masakan yang panas membakar itu menuruni kerongkongannya, lalu berhenti di dadanya, dirinya serasa terbakar.
“Ah! Masih panas sekali, kamu tidak apa-apa kan?” Mu Xue berkata dengan khawatir: “Kamu tidak apa-apa? Presiden?”
“Paman,kau ini benar-benar lapar sekali ya?” Cheng Cheng melihat Qin Yinuo yang tersedak panas, langsung pergi, memberinya air, berkata dengan penuh perhatian: “Paman, cepat minum air, kalau minum tidak panas lagi.”
Melihat manusia kecil yang perhatian padanya ini, hati Qin Yinuo jadi terasa hangat, anak ini, kalau bukan anaknya Mu Xue, pasti bagus sekali! Atau mungkin bisa berdiskusi dengan ayahnya, lihat saja wajah mereka berdua, ia tahu, ayahnya tidak akan membiarkan dirinya membawa wanita yang telah memiliki anak ke dalam keluarga Qin! Bahkan ibu kandung Tian Yu sekalipun juga tidak boleh!
Hello! Im an artic!
“Terima kasih!” Qin Yinuo menerimanya, ia minum sesaat, dan memang jauh membaik.
Anak ini langsung tersenyum. “Sama-sama paman!”
Kemudian ia berlari pergi, berlari ke dapur untuk mengambil sendok, “Paman pakai ini, pakai ini tidak akan kepanasan lagi!”
Qin Yinuo merasa hatinya kacau sekali, menghadapi anak ini, tiba-tiba ia merasa dirinya berpikiran sempit, anak-anak kan polos, ia bilang benci padanya, tapi anak ini malah membawakannya air dan sendok, hati Qin Yinuo langsung bercampur aduk.
“Makanlah!” Qin Yinuo menepuk kepalanya, tersenyum.
“Paman, yang ini enak!” Cheng Cheng menunjuk ayam pedas itu, masakan kesukaannya.
“Tak bisa, paman tidak bisa makan pedas!” Mu Xue berkata untuk menahannya.
“Kenapa?”
“Kenapa?”
Keduanya bertanya di waktu bersamaan. Kedua wajah itu menatapi Mu Xue, dalam sesaat, melihat kedua ini secara bersamaan, tatapan Mu Xue jadi gugup.
“Orang yang demam seharusnya makan yang agak hambar, jadi kamu makan bubur milet sajalah, tak boleh makan ayam pedas!” Setelah Mu Xue tertegun sesaat, ia berkata.
“Kalau begitu kenapa kamu masih memasak ini!” Qin Yinuo menaikkan alisnya. “Sengaja tidak membiarkanku makan!”
“Ini kumasak untuk diriku dan Cheng Cheng, Presiden, kamu boleh makan kentang, dan telur tomat.”
“Tidak mau!” Ia menaikkan sumpitnya dan langsung menjepitnya. “Aku mau makan yang pedas-pedas!”
“Paman, aku juga suka makan yang pedas!” Cheng Cheng berkata penuh semangat: “Mamiku juga suka loh! Paman, kuambilkan untukmu!”
Sambil berkata, Cheng Cheng sudah membawakan piring masakan itu, “Mami, paman suka makan ini, bukannya katanya kalau orang sakit boleh makan makanan kesukaan mereka?”
“Cheng Cheng!” Mu Xue meneriakinya: “Paman tidak boleh makan itu! Terlalu pedas, sementara perutnya kosong, kalau makan nanti lambungnya tidak sehat!”
“Kalau begitu kan paman tinggal makan bubur dulu! Kalau dalam perutnya sudah ada makanan kan tidak apa-apa!” Anak kecil itu mengeluarkan ide dengan penuh puas.
“Tidak boleh!” Mu Xue menggeleng dengan keras kepala. “Orang yang sudah kelaparan seharian, tidak boleh makan pedas, bisa menyakiti lambung!”
“Kelihatannya kamu peduli sekali padaku!” Qin Yinuo tiba-tiba tersenyum.
“Siapa yang peduli padamu!” Kenapa semua yang dikatakan pria ini rasanya berubah artinya?
__ADS_1
“Mami, kalau kamu tidak peduli pada paman untuk apa mami membawanya ke rumah kita?” Cheng Cheng tidak mengerti sama sekali.
Wajah Mu Xue mematung. “Cheng Cheng, makan, kalau makan tak boleh ngomong!”
“Oh!” Cheng Cheng langsung menunduk, ia mulai makan dengan senang, tidak lagi berbicara.
Dalam suatu waktu, suasana di meja makan jadi aneh.
“Cheng Cheng kan? Namamu Cheng Cheng?” Saat ini lagi-lagi Qin Yinuo berbicara.
Cheng Cheng menengadah menatap Qin Yinuo sebentar, mulut kecilnya penuh dengan ayam pedas, mami tidak membiarkannya berbicara, tapi tidak melarangnya untuk mengangguk, maka ia langsung mengangguk.
Mu Xue langsung menatap ke arahnya, “Presiden, makan!”
Qin Yinuo tidak memedulikannya sama sekali, wajahnya tidak berekspresi, ia menatap ke arah Cheng Cheng, melihat ia memasukkan begitu banyak cabe ke dalam mulutnya, maka ia agak tidak bisa menahan diri. “Pedas tidak?”
Cheng Cheng menggeleng, ia tidak bisa menahan, maka membuka mulutnya. “Paman, tidak pedas, enak sekali!”
Qin Yinuo tertawa sambil menggeleng, Tian Yu tidak makan pedas dari dulu, kelihatannya Mu Xue juga suka makan yang pedas, dan dirinya sendiri juga suka sekali, lalu kenapa Tian Yu tidak suka? Jangan-jangan gennya berubah sendiri?
“Paman, kamu jangan makan cabe hijau, makan ayamnya sedikit lah!” Cheng Cheng kira Qin Yinuo tidak bisa menahan diri, menyarankan: “Ini tidak pedas, bisa dimakan!”
Qin Yinuo melirik pada Mu Xue sekilas, seolah tidak peduli. “Biarkanlah, paman tidak ingin melihat seseorang marah, karena kalau makan melihat ada muka yang ekspresinya jelek, malah jadi tidak selera!”
Cheng Cheng tidak mengerti, ia melihat Qin Yinuo sekilas, lalu menatap lagi pada Xiao Xue. “Mami, seseorang yang dikatakan paman sepertinya mami, mami marah?”
“Tidak!” Wajah Mu Xue yang membatu jadi tersenyum sesaat. “Mami tidak marah, ayo cepat makan!”
“Oh!”
Mu Xue menatap Qin Yinuo, pria ini jahat sekali, mulutnya benar-benar berbisa.
Ya! Rasanya enak, tak disangka Zeng Li malah menikmati masakan ini lebih duluan daripadanya, Qin Yinuo sedang berpikir, apakah ke depannya ia akan sering-sering datang untuk makan! Ini cocok sekali kan dengan dirinya?
Sepasang mata yang tidak tenang itu, melihat pada wajah Mu Xue, lalu menjepit sedikit kentang, rasanya gurih dan asam, potongan tebal tipisnya juga cocok sekali, masakannya lumayan enak.
Mu Xue merasa meski orang itu tengah makan, tapi tatapan matanya itu licik sekali, Presiden selalu menatap ke arah wajahnya, tubuhnya, membuat Mu Xue tidak tenang makannya.
Qin Yinuo memincingkan matanya, ia melirik sekilas pada Mu Xue yang tampak tidak tenang, ia berkata dengan penuh arti, “Setelah makan malam, aku akan langsung pergi, kamu tak perlu setakut ini! Tapi…”
Ia sengaja menyetop kalimatnya, lalu berkata dengan suara dalam, “Tapi memangnya kamu ini benar-benar tak punya hati nurani ya? Aku ini orang sakit loh!”
Mu Xue melototinya. “Kebaikanku sudah mencapai batas!”
“Oh? Benarkah?” Qin Yinuo langsung meletakkan sumpitnya, lalu sambil mengelus dagunya, ia menaikkan alis. Alisnya yang tajam serta sepasang mata yang seolah berkilau, hidungnya yang mancung, dan lagi bibir yang seksi, ketebalan bibir atas dan bawahnya pas, sementara mulutnya seperti sedang tertawa, berkata: “Bailah, asal hati nuranimu bisa menerimanya, maka aku akan pergi!”
Selesai berkata, ia mengangkat sumpitnya lagi, hanya saja ia terus menatapi wajahnya, bahkan ia menatap dengan lebih berani pada dada Mu Xue, lalu tersenyum padanya.
Mu Xue menunduk, ia makan dengan terburu-buru, sekarang dirinya tidak bernafsu makan lagi, kenapa rasanya ia telah memungut seekor rubah pulang ke rumah?
“Mami kenapa tidak makan lagi?” Cheng Cheng tidak mengerti.
Qin Yinuo menatap Mu Xue, lalu berkata mempermainkannya, “Mamimu palingan juga lagi malu!”
“Kenapa mami malu?”
“Kalau ini sih harus tanya mamimu!”
“Paman beritahu aku dong!”
__ADS_1
Mu Xue menatap kejam pada Qin Yinuo. “Presiden, sudah selesai makan belum, kalau sudah selesai makan harap pergi!”
“Aku akan pergi setelah menghabiskan ini! Tapi terima kasih sekali padamu hari ini, hanya saja aku tidak membawa apapun, jadi lain kali, aku akan datang untuk berterima kasih!” Wajah Qin Yinuo yang arogan tidak menampakkan segala sesuatu yang aneh, hanya saja berkata dengan tenang.
Sementara Mu Xue malah kaget sekali, wajahnya yang cantik menatapinya. “Presiden, sudahlah, ini kan hany bantuan kecil, silahkan Anda pergi!”
Qin Yinuo melirikinya sekilas, memanyunkan bibir merahnya, dan malah terlihat memesona. Tapi Mu Xue sama sekali tidak tahu, semakin dirinya menginginkan ketenangan, semakin ia menggali keinginan pria untuk menaklukkannya.
“Paman sudah mau pergi ya?” Cheng Cheng berdiri, bertanya dengan nada lembut, seolah agak tidak rela.
“Ya, mamimu tidak membiarkan paman tinggal, kasihan sekali, paman kan orang sakit!”
Wajah Mu Xue semakin dingin, bukannya dirinya yang kejam, tapi pria ini benar-benar mengerikan. “Presiden, sekarang belum terlalu larut, cepatlah kamu pulang, ini obatmu!”
Qin Yinuo tidak menerimanya, ia menunduk dan berkata pada Cheng Cheng: “Selamat tinggal, Cheng Cheng!”
“Selamat tinggal!”
Qin Yinuo mengambil jasnya dan berjalan keluar, hanya saja ketika keluar dari pintu, ia baru sadar kalau langit gelap sekali, hujan! Bau tanah membuat orang mabuk, dan juga dingin sekali! Ia bergetar kedinginan, lalu menoleh melihat pintu yang sudah tertutup di lorong, wanita itu pasti sudah ketakutan sekali, hanya saja melihat dirinya yang gugup sungguh lucu rasanya!
Dan wanita itu masih belum mengenali siapa dirinya, kalau ia tahu Tian Yu adalah anak yang selalu dicarinya, takutnya ia akan langsung ambruk! Apalagi ketika mengetahui pria bertopeng yang bersamanya selama beberapa malam, ia pasti akan lebih marah kan? Mungkin kah ia akan membenci dirinya?
Mata Qin Yinuo menyipit, tiba-tiba dirinya jadi kesal!
“Mami, paman masih sakit loh!”
“Tak peduli, dia akan pulang ke rumah!”
“Tapi bukannya mami bilang papanya akan khawatir?” Cheng Cheng bertanya dengan ragu.
“Eh! Sekarang kan sudah baikan, sudah baikan!”
“Oh!” Cheng Cheng mengangguk, ia pergi ke kamarnya.
Di pintu luar apartemen, sosok yang tinggi itu mulai merokok, setelah mengeluarkan sekepul asap, ia masih saja kesal, acara perjodohan hari Sabtu nanti, apakah dirinya terlalu gegabah?
Ia baru hendak pergi, tiba-tiba hujan kecil berubah jadi hujan yang lebih besar, dan kelihatannya masih akan jauh lebih deras.
“Mami, turun hujan!” Ketika Cheng Cheng kembali ke kamarnya, ia melihat di luar jendela sudah ada tetesan hujan.
Mu Xue tertegun, lalu melihat keluar, benar-benar turun hujan, petang tadi ketika pulang padahal masih baik-baik saja, kenapa sekarang mendadak hujan! Kalau begitu ini artinya orang itu akan kehujanan dong?
“Mami, turun hujam, paman kan sakti, kalau kehujanna bisa makin parah!”
Seolah hati Mu Xue merasakan suatu keanehan, ia hanya berkata dengan hambar: “Dia kan tidak suka padamu, untuk apa kamu peduli padanya?”
“Tapi paman kan sakit!” Cheng Cheng mengambil payung, “Mami, aku pergi cari paman!”
“Tunggu!” Mu Xue menahannya, “Aku yang pergi!”
Mungkin di kehidupan sebelumnya ia benar-benar telah berhutang pada Qin Yinuo, Mu Xue keluar membawa payung, begitu sampai di lantai bawah ia tidak melihat orang itu, sementara hujan semakin deras.
Pria sialan, benar-benar sudah pergi ya? Memangnya ia tidak bisa menghindari hujan?
Mu Xue membuka payung dan masuk ke dalam hujan, ia tidak mengerti mengapa dirinya benar-benar khawatir, kalau orang itu sakit apa hubungannya dengannya?
Sampai ia melihat sebuah sosok yang tinggi berjalan di antara hujan, ia tidak memiliki payung, jalannya juga tidak cepat, seolah sengaja bermandi hujan.
Tiba-tiba Mu Xue berhenti, lalu pergi mengejarnya. “Presiden!”
__ADS_1
Qin Yinuo tertegun, begitu membalikkan tubuhnya, payung Mu Xue sudah menutupi kepalanya, tapi pakaiannya sendiri kan sudah basah kuyup, rambut di dahinya juga menempel basah, ketika membalikkan tubuhnya itu, hatinya berdetak kencang.