AYAH, MAAFKAN AKU

AYAH, MAAFKAN AKU
Bab 357 Bertemu di Rumah Sakit


__ADS_3

Hello! Im an artic!


Mata yang terpejam dalam keheningan… Perlahan merasakan sensasi aliran darah yang mengalir keluar tubuh. Detik demi detik, menit demi menit terus berlalu, dia berangsur-angsur tenggelam dalam gelap, tubuhnya semakin terasa ringan , semakin tidak bertenaga, bahkan untuk bernafas saja dia kesulitan.


Rasa sesak nafasnya semakin menjadi, Mu Xue telah koma, dalam ketidak sadarannya dia mendengar kematian yang memanggilnya. Dia tidak tahu berapa lama dirinya akan bertahan, tetapi dia tahu dirinya tidak perlu tersiksa lagi.


Hello! Im an artic!


Saat Yu Jinglan menggendong Song Yin keluar dari rumah sakit, dia bertemu dengan Gongben Yinan yang bertelanjang kaki dan panik menggendong Mu Xe yang berlumuran darah, detik itu dia merasa darah di tubuhnya membeku.


Song Yin juga melihatnya, darah ada dimana –mana, seluruh tubuh Gongben Yinan berlumuran darah, wanita dalam pelukannya terbungkus handuk putih, bawahan laki-laki itu berteriak: “Minggir, dokter, tolong!”


“Apa yang terjadi?” Yu Jinglan terpana, bahkan Songyin pun ikut tertegun.


Darah segar itu mengangetkan Song Yin dan membuatnya takut. Tubuh Yu Jinglan menegang. Astaga! Mengapa tubuh Gongben Yinan dan Mu Xue penuh darah?


Hello! Im an artic!


“Turunkan aku!” Song Yin baru menyadari dirinya masih berada dalam gendongan Yu Jinglan . Dia meronta turun, tubuhnya yang baru sembuh dari demam masih lemah dan belum banyak bertenaga.


Yu Jinglan tidak melepas sepenuhnya, dia memegangi tubuh wanita itu yang terhuyung-huyung. Gongben Yinan yang bertelanjang kaki dan memeluk Mu Xue bergegas melewati mereka, bau darah segar menguar. Song Yin melihat wajah Mu Xue yang pucat dan tampak mulai tidak sadarakan diri. Tetapi Gongben Yinan malah membawanya datang tanpa mengenakan alas kaki.


Meskipun Song Yin tidak tahu apa yang terjadi, namun dia dapat melihat Gongben Yinan begitu mengasihi Mu Xue, seorang pria yang dalam situasi darurat bergegas pergi tanpa alas kaki demi menyelamatkan wanita yang dicintainya.


“UGD! Dimana UGD?” suara Gongben Yinan yang berteriak terdengar panik, suaranya serak. Bawahannya yang ikut menyusul di belakangnya tersengal-sengal, salah satu diantaranya membawa sepatu pria itu.


Yu Jinglan menggandeng tangan Song Yin dan bergegas menuju Unit Gawat Darurat Song Yin yang menyadari itu adalah saat genting tidak berkata sepatah pun.


Ada apa dengan mereka? Mengapa mereka berlumuran darah?


Di luar Unit Gawat Darurat, perawat mendorong tempat tidur “Cepat naikkan, transfusi sudah siap. Keluarga pasien harap tinggal di luar.”


Pintu Unit Gawat Darurat tertutup.


Gongben Yinan terduduk di lantai, pria itu meskipun dalam keadaan kacau, berlumuran darah dan tanpa alas kaki namun tetap tampak sangat menawan.


“Gongben Yinan, ada apa dengannya?” tanya Yu Jinglan menggeram, tubuhnya bergetar. “Bukankah sudah kuperingatkan, gadis itu sangat nekat. Apa kau membuatnya ingin bunuh diri lagi? Sial, bagaimana dengan Nian Nian?”


Lagi?


Song Yin terdiam, gadis seperti Mu Xue bagaimana mungkin bunuh diri? Gadis itu disana ketakukan. Keberanian seperti apa yang membuat gadis aristokrat itu menjadi begitu menyedihkan dan bahkan membuatnya tak gentar mengahadapi kematian? Dia masih memiliki anak yang berusia lima tahun, bagaimana mungkin dia bisa begitu tidak bertanggung jawab?


Kepala Gongben Yinan menunduk frustasi, tidak menjawab sepatah kata pun. Bawahannya datang dan mengangkatnya untuk duduk di kursi, bawahannya malah didorong pergi saat hendak memakaikannya sepatu.

__ADS_1


Songyin melihat tangannya bergetar, hanya ketakutan yang amat sangat yang dapat membuatnya seperti itu. Wajahnya yang menawan tampak lelah dan pucat, seolah seluruh darah hilang dari wajahnya. Rasa bersalah membayang di alisnya.


Sosoknya yang biasanya tampak gagah dan berani, hari ini tampak berbeda. Dia tampak lelah dan lesu, matanya merah. Wajanya pucat, kacau, dan lelah. “Bagaimana kau bisa memaksanya sampai begini?” Walaupun Jinglan merasakan ketakutan Gongben Yinan, tetapi dia tidak membiarkannya.


Dihadapkan pada pertanyaan seperti itu, sesaat Gongben Yinan merasa beban berat yang teramat sangat menekannya, matanya yang tajam dan dingin terpejam sesaat, tidak sepatah katapun diucapkannya.


Dia berjalan dalam diam di koridor, seluruh tenaganya seolah lenyap, wajah Yu Jinglan muram seolah kabut menutupinya, bagaimana jika terjadi hal-hal yang tidak diingikan pada Mu Xue, bagaimana dengan Nian Nian?


Mata Gongben Yinan yang suram dipenuhi rasa sakit yang tidak dapat dibendungnya, Song Yin menarik Yu Jinglan untuk menanyainya, mereka berjalan ke depan bawahan Yinan yang didorong tadi, mengambil sepatu hitam itu, tanpa berkata sepatah pun lalu membawanya ke depan Yinan, dia berlutut dan menaruh sepatu itu di lantai. “Dia akan baik-baik saja, pakailah sepatu!”katanya pelan.


Begitu kalimat itu terucap, tubuh Gongben Yinan bergetar, diam tak bergeming, benar, Xue Er nya akan baik-baik saja.


Bersamaan pula, bawahannya yang tinggi besar turut berlutut. “Tuan muda, tolong kenakan sepatu Anda, nyonya orang yang baik dan pasti dilindungi Tuhan, jaga diri Anda.”


Yu Jinglan duduk di kursi sebelahnya, diam menunggu, Song Yin melihat Yinan mengenakan sepatunya, berjalan ke sisi Jinglan dan duduk di sebelahnya, dirinya yang baru demam tidak bertenaga.


Sesaat semuanya menunggu di depan pintu Unit Gawat Darurat, menunggu hasil .


Setengah jam berlalu, pintu ruang operasi terbuka, dokter menurunkan maskernya, tampak kelelahan, di atas ranjang Mu Xue tergantung infus dan darah transfusi.


Terkejut, Yinan bergegas menghampiri. “Xue Er,Xue Er?”


“Pasien baik-baik saja, untung saja dia datang tepat waktu, pasien telah kehilangan 400 cc darah, harus ditransfusi 1000cc, sementara pasien sudah melewati masa kritis, sementara jangan dibangunkan, pasien perlu beristirahat!”


Ruang VIP itu seperti ruang hotel berbintang, warna putihnya yang nyaman dan lembut, dalam keremangan hanya ada cahaya temaram yang menyinari tirai dan menembus melewati kaca di atas pintu. Di atas tepat tidur yang besar itu, Mu Xue terbaring dengan tangan diinfus dan darah ditransfusi melalui kakinya, wajahnya yang pucat tampak semakin kurus, keindahannya itu seolah dapat lenyap kapan saja.


“Xue Er….” panggil Gongben Yinan pelan, emosi di wajahnya tidak dapat dijelaskan, akhirnya dia duduk di sisi ranjang Mu Xue.


Mata Mu Xue terpejam dan tertidur.


Yu Jinglan dan Song Yin juga berada di ruangan itu, melihat kondisi Mu Xue yang seperti itu ditambah kondisi Yinan, mereka tidak tahu harus berkata apa.


Yu Jinglan menunduk melihat wajah mungil Song Yin yang pucat, tangannya yang besar memegang pinggangnya, “Aku tahu kamu peduli pada Mu Xue, karenanya jangan biarkan dia terluka lagi, jika dia terluka lagi, bagaimana kau akan menghadapi anakmu? Kami akan menjenguk Mu Xue lagi, jaga dirimu!” katanya pada Yinan.


Tanpa banyak bicara, Yu Jinglan membawa Song Yin pergi.


“Kamu tidak menunggunya sadar?” tanya Song Yin dengan pelan saat mereka menyusuri koridor.


Yu Jinglan menunduk melihat wajah lelah gadis itu, dan menggeleng “Pulang dan tidur, kamu tidak lelah?”


Song Yin panik dan kaget, bukankah Mu Xue yang terpenting? Kondisinya seperti itu dan dia ingin malah ingin pulang.


Nyaris dapat menebak isi hati Song Yin, Yu Jinglan berkata pelan: “Tubuhmu kurang sehat, baru sembuh dari demam tentu menguras tenaga, dan kamu sudah berdiri begitu lama, dia sudah tidak apa-apa, kita pulang dulu, masalah mereka biar mereka yang selesaikan.”

__ADS_1


Intinya begitulah konsistensi dalam diri seorang Yu Jinglan . Benar kata Xing Jiabai, jangan menjadi ambigu! Yu Jinglan merefleksikan sikapnya sendiri, yang tampaknya tidak begitu sempurna, namun dia bertekad untuk menjadi sempurna.


Song Yin menatap ke arah Yu Jinglan tak mengerti, pada saat yang bersamaan dia juga menatap wanita itu, tatapan mereka bertemu, begitu banyak emosi yang tidak dapat dijelaskan, saat mereka saling bertukar pandang.


“Kamu pasti sudah lelah.” Kata Yu Jinglan sembari tertawa, membungkuk dan menggendongnya lagi. “Istriku, kita pulang!”


Song Yin tertegun saat digendongnya, dirinya dengan acuh melepaskan diri, “Lepaskan, aku bisa jalan sendiri!”


Melihatnya yang begitu berhati-hati dan panik, Yu Jinglan tersenyum, tubuh dalam pelukannya itu begitu ringan, harus diberi nutrisi, tanpa mempedulikannya dia menggendongnya menuju mobilnya di parkiran.


Sesaat setelah mereka berangkat, Song Yin baru menyadari mereka melewati jalanan yang paling ramai, lampu-lampu neon menyinari kedua sisi jalan, ramai sekali.


Apa yang dipikirkannya tadi? Dia melihat area yang sangat dikenalnya itu, larut dalam lamunannya sendiri.


“Antar aku ke Perumahan Li Yuan!” katanya membuka suara.


“Pulang ke villa saja, aku sudah menyuruh Kak Zhang memasak sup ayam, lagian kamu belum makan!”jawab Yu Jinglan lembut penuh kasih.


“Tidak mau!” tolaknya tanpa ragu, Song Yin tidak melupakan tujuan awalya walaupu pria itu tiba-tiba begitu memperhatikannya, dengan pelan dia memegang lehernya, disana telah ada seuntai kalung, tanpa ragu dia melepasnya “kukembalikan padamu.”


“Yin Yin!” Yu Jinglan terdiam sesaat sebelum melanjutkan: “Ini hadiah untuk merayakan kelulusanmu.”


Song Yin mengerutkan alisnya dan menatap kalung berbatu biru itu, dan tertawa “Aku tidak pantas untuk kalungmu, simpan dan berikan pada orang lain saja.”


“Yin Yin?!” katanya tertegun saat mendengar wanita itu berkata tidak pantas untuk kalungnya, hatinya sakit, dia tidak suka wanita itu merendahkan dirinya sendiri.


” Yu Jinglan , antar aku ke Perumahan Li Yuan.” Song Yin membuka mulutnya.


Kepalanya sangat sakit, untuk berbalik saja dia sudah tidak bertenaga, dia tidak ingin berhadapan dengan situasi ini, juga tidak ingin berhadapan dengan sikap hangat itu, dia takut menghadapi ketidakpastian seperti bom asap itu, siapa tahu dibalik itu ada bom sesungguhnya yang siap meledakkannya berkeping-keping.


Yu Jinglan tengah menyetir, dia melirik sekilas pada Song Yin, tatapannya tidak terjelaskan, dia tampak iba melihat wajah pucat wanita itu, yang tampak lelah dan kesulitan, sinar matanya telah meredup, ditambah lingkaran hitam yang membayang di bawah matanya, dia tampak begitu kerus dan matanya mencekung.


 


“Yin Yin, kamu tahu akulah yang selalu dituruti, jadi aku tidak bisa menuruti keinginanmu.” Katanya lembut, walaupun berkata demikian, tangannya memegangi tangan kecil wanita itu “Aku tidak mungkin membiarkanmu yang sakit di Perumahan Li Yuan, jika kamu tidak ingin bertemu denganku, tunggu sampai kamu sembuh.”


Song Yin melihat tangannya yang sedang dipegangi tahu bahwa pria itu sedang mencemaskannya.


Tangannya yang besar sangat hangat, menggenggam seluruh tangan mungilnya.


Dalam diam, Song Yin mengangkat kepalanya dan menghadap wajah Yu Jinglan yang damai, pria itu menatapnya, terus mengemudi, wajahnya tampak tegas.


Song Yin tidak berkata-kata lagi, tangannya menggenggam kalung bermata batu biru, tangan besar pria itu masih memegangi tangannya, dengan satu gerakan, dipindahkannya kalung itu ke dalam genggaman pria itu, dia sangat ingin segera menarik tangannya, namun tangan pria itu dengan erat menahannya. “Hadiah yang sudah diberikan tidak bisa diambi kembali, jika kamu tidak ingin, buang saja.”

__ADS_1


__ADS_2