
Hello! Im an artic!
“Yang telah berlalu, tak usah kita ungkit-ungkit lagi! Aku seharusnya berterima kasih pada kesulitan. Kesulitan telah mengajariku harus bagaimana menghadapi hidup! Ini milikmu! Aku tak mau!”
“Kakak…” Gong Tianer masih bersikeras.
Hello! Im an artic!
Mu Xue menggelengkan kepalanya, “Terima kasih atas maksud baikmu, tapi sekarang aku sudah sangat bahagia. Kebahagiaan tidak diukur dari uang, memiliki banyak uang belum tentu bahagia! Hidupnya selama ini tak bahagia, kukira setelah menikahi ayahmu dia akan bahagia sekali. Tapi sepertinya tidak juga, aku tak menyangka akan terjadi hal seperti ini. Dan sekarang, mereka berdua telah tiada, kita juga takkan mengomentari siapa yang benar dan siapa yang salah. Yang penting kau harus teguh!”
Mu Xue keluarga Gong hanya tersisa Gong Tianer seorang, dan ia baru berusia dua puluh dua tahun. Usianya masih semuda ini, bagaimana bisa menanggung bisnis keluarga sebesar ini. Tapi kekuatan manusia tak terbatas, Mu Xue percaya dia pasti akan menghadapinya dengan tabah.
“Kakak, untukku uang sama tak pentingnya. Aku hanya ingin memiliki lebih banyak anggota keluarga, yaitu kakak seorang. Karena di dunia ini selain ayah dan Tante Mei, aku hanya punya kakak seorang!” Sehingga dirinya amat menghargai juga berinisiatif memberikan saham ini padanya.
“Kau masih punya Kakak Mi, Kakak Mi itu orang baik!” Mu Xue berkata.
Hello! Im an artic!
Gong Tianer malah menggeleng dengan pahit, “Bukan! Dia bukan milikku, sedari awal kami sudah putus!”
Sambil mengatakannya, ia segera mengangkat dan menyeruput kopinya. Tapi karena minumnya terlalu terburu-buru, ia jadi terus terbatuk-batuk. Akhirnya entah bagaimana, tiba-tiba ia jadi ingin muntah, “Maaf…”
Gong Tianer segera menutup mulutnya dan berjalan cepat-cepat ke arah toilet. Mu Xue tertegun, ia agak khawatir, maka pergi mengikutinya.
Ia datang ke wastafel dan Gong Tianer tengah muntah di sana, seolah telah memuntahkan semua makanannya hingga bersih. Ia agak kaget, dalam otaknya teringat akan sesuatu.
“Tianer, apa kau hamil?”
Perlahan Tianer mengangkat kepalanya. Setelah melihat dirinya yang pucat melalui pantulan kaca, ia tidak menyangkal. Tatapannya rumit, tapi menyiratkan keyakinan. “Benar Kak, tolong jangan beritahu masalah ini pada siapapun, oke?”
“Apakah anak ini milik Kakak Mi?” Mu Xue langsung merasa dirinya benar.
“Em!” Tianer mengeratkan bibirnya, terhitung mengakui.
Kemudian keduanya kembali ke meja, Gong Tianer berkata pelan, “Dia tak mencintaiku. Aku tahu dia selalu mencintai orang lain, sehingga aku juga tak mau mengecewakan diriku sendiri bersama dengan orang yang tak mencintaiku. Meski punya anak, aku juga takkan menggunakan anak untuk mengikatnya. Sehingga, Kakak, tak peduli bagaimanapun tolong jangan katakan, oke?”
Tatapan Mu Xue penuh dengan kekhawatiran, “Tapi kalau kau tak memberitahunya, adil kah ini untuk anakmu?”
“Ini adalah anakku, milikku seorang! Tak ada hubungannya dengannya!” Gong Tianer tertawa pahit, tangan kecilnya mengelus perut. “Sekarang aku sudah memiliki lebih banyak keluarga, kakak dan bayi ini!”
Mu Xue menghela nafas panjang, tidak tahu harus berkata apa. Kalau tidak cinta, bagaimana bisa hidup saling berdampingan? Meski saling berdampingan bagaimana caranya melewati seumur hidup ini?
“Kakak, harap kau menerimanya!” Gong Tianer memberikan data itu.
Mu Xue malah mendorongnya kembali.
“Kakak!”
“Kalau kau merasa aku adalah kakakmu, maka jangan berikan lagi padaku, jaga dirimu baik-baik! Aku hendak pergi ke pemakaman menjenguknya. Aku tidak ikut acara pemakaman, maka aku akan pergi sekarang, entah terlambat atau tidak!” Mengatakannya, ia berdiri.
“Tidak terlambat! Asal kakak bersedia pergi, Tante Mei pasti senang!”
__ADS_1
***
Setelah kembali dari pemakaman, Mu Xue diam sekali.
Karena kematian Mei Xiyun telah mengacaukan segala rencana. Qin Yinuo juga tidak melamar pernikahan lagi.
Pei Lingfeng tidak pergi menjenguk Mei Xiyun, siapapun tak tahu apa yang tengah dipikirkannya!
Hanya saja Wu Jingxuan juga tenang sekali. Keluarga Pei tenangnya sampai terasa aneh.
Cheng CHeng sudah dipindahkan ke sekolah khusus laki-laki, ia tidak bersekolah bersama anak perempuan lagi. Meski Mu Xue khawatir kedepannya Cheng Cheng tidak suka pada anak perempuan, tapi memikirkan kalau Cheng Cheng terus dikelilingi murid perempuan juga tidak baik untuk proses belajarnya, maka ia hanya bisa menyetujui.
Beberapa hari sudah lewat, tenang sekali.
Tapi, tiba-tiba Mu Xue mendapatkan sebuah surat.
Ia tertegun melihat surat yang tertera namanya, namun malah tidak ada nama dan alamat pengirim. Siapa yang akan mengirimnya ke kediaman keluarga Pei? Aneh sekali!
Setelah membuka surat, ia melihat tulisan ketikan, di atasnya adalah data kecelakaan ayahnya Mu Nanbei.
Kecelakaan delapan tahun lalu–
Dan di kecelakaan itu ia tidak pernah melihat sopir dari pihak lain, ternyata– Qin Yinuo!
Mu Xue melongo!
Ternyata kematian ayahnya Mu Nanbei ada hubungannya dengan Qin Yinuo.
Sebuah petir menyambar dalam otak Mu Xue.
“Ya!” Mu Xue menjawab tanpa sadar, lalu membalikkan tubuhnya dan menilai Qin Yinuo.
“Xiao Xue?” Merasakan Mu Xue yang bengong, Qin Yinuo bertanya dengan curiga, “Kenapa?”
Berdasarkan perasaannya, ada yang salah dengan tatapan Mu Xue!
Mu Xue menatapi matanya, “Qin Yinuo, kau masih ingat pada kecelakaan delapan tahun lalu?”
Qin Yinuo langsung kaget, ia menatapi Mu Xue dengan kaget. Wajahnya yang memucat jadi makin muram, dan tangan yang diletakkan di samping tubuhnya bergetar perlahan, seolah tengah berusaha menekan perasaan bersalah beberapa tahun lalu dalam hatinya.
“Xiao Xue, kau sudah tahu?” Ia kaget, entah Mu Xue bagaimana bisa tahu.
“Kau juga tahu kan? Hari itu sejak kembali dari kuburan kau tahu kan?” Tatapan tajam Mu Xue mengunci Qin Yinuo. Qin Yinuo pasti sudah tahu.
Sehingga sejak kembali hari itu tangan dan kaki Qin Yinuo sedingin es, sehingga ia akan menginginkannya dnegna menggila, Qin Yinuo takut akan kehilangan dirinya!
Tapi…
“Kenapa kau tak memberitahuku saat itu?” Ia bertanya lagi.
Wajah Qin Yinuo putih pucat, setelah berpikir lama sekali, akhirnya ia menengadahkan tatapan yang penuh dengan rasa bersalah pada Mu Xue, berkata pelan, “Di dalam kecelakaan itu, aku… aku adalah sopir yang menyebabkan kecelakaan… karena aku…ayahmu kehilangan nyawanya, karena aku, Mo Yilan tidak bisa hamil lagi…”
__ADS_1
Tatapan Mu Xue langsung berubah jadi dingin, tangannya diletakkan ke bawah dan membentuk tinju, berusaha menekan emosinya yang menyeruak naik. Ia bertanya dengan dingin, “Tapi kenapa kau membuat pihak polisi berkata kalau ayahku mengemudi karena mabuk? Kau tahu? Dia tak pernah minum bir!”
“Aku tidak ada!” Qin Yinuo kaget, menatapinya dengan aneh, “Aku tidak berbuat seperti itu! Aku hanya meminta polisi melindungiku, meminta polisi mewakiliku untuk mengatasi kecelakaan ini, kukira dengan memberikan lebih banyak uang bisa mendapatkan ketenangan dalam hati nurani. Tapi Xiao Xue, selama beberapa tahun ini hatiku tak pernah tenang!”
“Kau beritahu aku kenapa? Aku mau tahu kebenarannya!” Mu Xue berkata dengan dingin, wajahnya sudah berganti jadi ekspresi lain.
Kenyataan ini bagai petir yang menyambar di hari cerah. Membuatnya langsung berhenti bernafas untuk sesaat, sebuah jawaban yang mengagetkan bagai sebuah tangan besar yang mencekik tenggorokannya, membuatnya tak bisa bernafas.
“Hari itu, aku minum bir dengan Mo Yilan. Di perjalanan pulang, di dekat Jalan Panshan, sebuah mobil truk yang membawa pasir datang melawan arah. Yilan bilang sopir truk itu melawan peraturan lalu lintas, menempati jalur kami dan menyuruhku menyingkir. Sebenarnya bisa dihindari, tapi karena sudah minum, emosiku juga jadi jelek. Kubilang aku hendak memaksanya kembali ke jalan sebelah sana, tapi aku tak tahu kalau sopir truk itu juga sudah mabuk. Ketika aku sadar mobil itu terus menerjang ke arahku, akhirnya kami bertabrakan. Aku sudah memutar ke arah lain, tapi Yilan tertabrak bagian perutnya, rahimnya robek. Sementara sopir truk itu karena tidak memakai sabuk pengaman juga terlonjak keluar dari kaca. Pas sekali dia sedang dalam kondisi turun dari gunung, sehingga setelah jatuh, dia terseret hingga terluka oleh mobilnya sendiri, kemudian terguling hingga mati!”
“Dengan begitu, ayahku menabrak mati dirinya sendiri?” Mu Xue bertanya dengan dingin.
Ketika itu dirinya baru berusia sembilan tahun,dan Mei Xiyun pergi mengurus kecelakaan itu. Ia benar-benar tidak tahu kebenaran dari kecelakaan, tapi tahu ayahnya tak pernah minum bir.
“Bukan! Xiao Xue, bukan ini maksudku. Aku tidak menghindari tanggung jawabku, aku benar-benar patut bertanggung jawab! Kalau bukan karena aku yang keras kepala, kalau aku menghindarinya, mungkin takkan ada kejadian seperti ini!”
Dan karena ini, selama beberapa tahun ini dirinya sangat merasa bersalah pada Mo Yilan. Setiap tahun ia juga akan pergi menjenguk Mu Nanbei di makamnya!
“Xiao Xue! Tak peduli bagaimanapun, ini salahku! Ayahmu memang mati karenaku!” Nada suara Qin Yinuo terdengar penuh dengan rasa bersalah dan penyesalan, “Aku bersalah padamu, aku bersalah pada ayahmu!”
“Jangan ngomong lagi.” Ia berteriak dengan galak. Mu Xue menatap dalam diam keluar jendela. Sudah bertahun-tahun, ia tidak rela pergi ke kantor polisi untuk menanyakan kecelakaan ayahnya, tidak rela menghadapi tragedi kematian ayahnya. Tapi setelah bertahun-tahun kemudian ia baru tahu, ternyata ayahnya meninggal karena orang yang amat dicintainya!
Ia tidak tahu harus menyalahkan siapa!
Ayahnya tak pernah minum bir!
Setelah kecelakaan itu, Mei Xiyun juga pernah bilang kalau pihak lain adalah orang kaya. Mereka tak bisa melawan, dan masih membaik-baiki pihak lain untuk memberikan mereka uang timbalan dua kali lipat, tapi uang itu habis untuk biaya pengobatan Mu Xiao.
“Xiao Xue!” Ia menunduk dengan penuh bersalah. Qin Yinuo berkata dengan penuh kesengsaraan, untuk sementara waktu rasanya kekuatannya telah tersedot habis, menyisakan tubuh yang kosong, ia bergumam, “Karena itulah Mo Yilan divonis tidak bisa melahirkan lagi. Ia hendak bunuh diri beberapa kali, sehingga aku terus menemani di sisinya, tidak pergi menjenguk kalian! Aku menyuruh asistenku untuk mengurus semuanya, aku tahu kalau menjelaskan semuanya sekarang…”
“Jangan bicara lagi, aku tak ingin melihatmu lagi! Pergilah!” Mu Xue memindahkan tatapannya dengan dingin.
“Xiao Xue…” Qin Yinuo masih ingin berkata-kata, tapi dipotong sekali lagi oleh Xiao Xue, “Jangan bicara lagi, aku tidak ingin mendengar apapun. Pergilah.”
Qin Yinuo tak berdaya, hanya bisa berjalan keluar.
Mendengar pintu ditutup, Mu Xue memejamkan matanya dalam diam. Air mata yang penuh dengan tekanan mengalir menuruni wajahnya. Cahaya matahari diluar jendela menyakiti hatinya yang sedih.
Entah seberapa lama kemudian, tiba-tiba ia ingin pergi melihat ayahnya!
Tapi begitu pintu dibuka, ia melihat Qin Yinuo yang berdiri di depan pintu bagai orang bodoh, menatapinya dengan tatapan rumit dan penuh berhati-hati, “Xiao Xue…”
Mu Xue melewatinya dengan cepat, berjalan keluar. Ia berjalan semakin terburu-buru, semakin cepat, ia hanya takut dirinya tak tahan dan menangis, ia hanya takut dirinya tak tahan dan membalikkan badannya.
Akhirnya Qin Yinuo mengejarnya, menarik lengannya dengan erat, bahkan nafasnya pun terburu-buru, “Xiao Xue, kau tak bisa begitu. Kau sudah bilang tak peduli bagaimanapun kau takkan meninggalkanku!”
Mu Xue membalikkan badan, melihat mata Qin Yinuo memerah. Ia hanya memegangnya dengan erat, seolah takut begitu ia melepaskan pegangan, maka Mu Xue bisa menghilang.
***
Rasanya Mu Xue sudah menggunakan seluruh kekuatan dirinya baru bisa menahan air matanya, “Qin Yinuo, lepaskan!”
__ADS_1
“Kau pernah bilang takkan meninggalkanku, tak peduli bagaimanapun takkan pergi!” Wajah Qin Yinuo penuh dengan ekspresi rumit, “Xiao Xue, aku tahu kematian ayahmu ada hubungannya denganku, beberapa tahun ini aku selalu menyalahkan diriku!”
“Aku tak melihat kau menyalahkan dirimu, aku hanya tahu kau telah membuatku kehilangan ayahku, dan ayahku meninggal di kecelakaan itu. Aku hanya tahu aku tak memiliki ayah lagi!” Ia tersenyum dengan keji, “Aku butuh menenangkan diri, kau jangan menggangguku!”