
Hello! Im an artic!
Dia bersandar di dadanya yang penuh keringat dan mencium keringat di badannya dan tidak tahu mengapa merasa sangat tenang. Lelah, lalu Song Yin menutup matanya dan tertidur.
Ketika sinar matahari yang menyilaukan masuk ke dalam dari tirai jendela warna krem yang setengah terbuka membuat semua yang ada di dalam kamar terlihat jelas.
Hello! Im an artic!
Di atas tempat tidur yang putih terlihat sangat berantakan, selimut yang tipis setengah tergantung di atas lantai dan setengahnya lagi menutupi tubuh telanjang Song Yin dan seluruh tubuhnya penuh bekas ****** dan goresan kecelakaan mobil, rambut hitamnya berserakan di bantal sehingga wajah kecilnya terlihat segar, bulu matanya tidak bergerak dan bibir merahnya sedikit terbuka dan bernapas dengan teratur.
Di depan jendela ada sesosok pria tampan bersandar malas di kursi sambil menjepit rokok di tangannya dan sedang menghembuskan asap tipis yang menutup wajahnya yang sempurna.
Yu Jinglan memegangi tubuh yang tertidur pulas dan keinginannya muncul lagi dan dia menemukan jika dia tidak bisa mengendalikan dirinya dengannya.
“Uh…..” Song Yin yang tertidur pulas mendesah karena sinar matahari membuat matanya silau sambil mengedipkan matanya dan dia mengangkat tangan untuk menutupinya dan dia melihat sesosok tubuh tinggi di depan jendela.
Hello! Im an artic!
“Ah…..” Dia bergumam karena badannya pegal, dia menutupi bagian tubuhnya lalu dia kaget dan bersembunyi dalam selimut serta tidak berani menatapnya.
Yu Jinglan mengangkat matanya sambil tersenyum kemudian dia memadamkan rokoknya dan naik ke atas tempat tidur.
Reaksi Song Yin sedikit tidak terkendali dan tanpa sadar dia bergerak mundur yang membuat badannya terasa sakit! Dia mengerang tapi dia berani bergerak sembarangan karena auranya kuat telah menekannya yang membuatnya panik.
Tangannya masuk ke dalam selimut untuk menariknya dalam pelukannya dan terdengar suaraYu Jinglan , “Sudah bangun ya?’
Dia menatap matanya dengan panik, lengkungan alisnya terlihat bagus dan membuatnya terlihat sangat tampan dan pandangan matanya menatap kulitnya yang putih.
“Selamat pagi Kakak besar Yu!” Song Yin menyapanya dengan panik dan suara serak yang baru bangun terdengar sangat menggoda.
Dia memakai jubah mandi putih dan samar-samar terlihat dadanya yanag kekar dan tercium aroma khas tubuhnya dan bau rokok bercampur napasnya yang unik.
Song Yin memegang selimut dengan erat karena dia merasakan napas yang mendekat dan dia mulai panik lalu dia bergerak ke samping tempat tidur…..
“Jangan bergerak!” Tangannya memeluk pinggangnya yang ramping sehingga punggungnya yang menjauh menempel di dadanya dan dia segera membalik badannya untuk berhadapan dengannya dan dia mengerutkan keningnya, “Apakah mau melarikan diri?”
“Tidak!” Dia menghela napas dan segera menahan dadanya yang mendekatinya, “Apakah kamu tidak pergi kerja?”
“Hari ini hari Sabtu!” Matanya yang hitam terlihat bersinar, matanya yang biasanya dingin terlihat berbahaya dan dia bisa merasakan napasnya.
Pada saat ini, tangannya sedang meluncur di badannya dan dia mulai membelai punggungnya dan dia terkejut seolah-olah terluka dengan sentuhan itu dan tanpa sadar mundur ke belakang untuk mengindarinya. “Kakak besar Yu, aku…..”
Dia masih belum selesai tapi mulutnya sudah ditutup.
Song Yin kaget dengan reaksinya.
__ADS_1
“Hari ini tidak boleh ke mana-mana!” Terdengar suara suram di telinganya. “Habiskan di atas tempat tidur!”
“Tidak…..” Dia mendorongnya.
“Tidak boleh menolak, Yinyin, kamu selamanya tidak bisa menolak permainan di antara kita!” Dia menekannya sehingga aroma pria masuk ke dalam mulutnya dan matanya yang hitam mengunci dirinya dan ciuman panas membara langsung menutupi bibirnya yang lembut, dia berbalik dan langsung berada di atasnya.
Permainan?
Ternyata benar hanya permainan! Apa lagi yang dia harapkan?
Emosi Song Yin jatuh karena kata-katanya ternyata memang benar seperti itu karena satu kalimat membuat membuat suasana hatinya tenggelam.
Yu Jinglan tidak memberinya kesempatan untuk berpikir, ujung lidahnya memenuhinya sehingga orang tidak bisa bernapas dan perasaan seperti ini membuat orang kehabisan napas dan tidak bisa berpikir, dia tidak tahu harus berbuat apa maka hanya membiarkannya saja.
Tentu saja terjadi serangan sekali lagi.
Setelah selesai, dia memeluknya tanpa bergerak dan kulit mereka menempel sambil mengantarkan panas tubuh masing-masing dan perasaan seperti ini membuatnya gelisah…..
Perasaan seperti ini seperti pasangan suami istri biasa yang bermesraan di pagi akhir pekan dan entah kenapa perasaan seperti ini membuat jantungnya berdetak kencang, sangat cepat…..
Sudah jam sebelas siang ketika dia bangun sekali lagi, tubuhnya seperti telah dibersihkan, luka gores juga diolesi obat dan tidak ada orang di dalam kamar, Song Yin melihat bekas luka di tubuhnya dengan bengong, apakah dia memakaikan obat ketika dia tertidur pulas? Dia merasa tubuhnya ada olesan yodium dan juga alkohol.
Dia bangun untuk memakai baju dan menemukan kaus besar bergambar kartun yang biasa dia pakai yang cukup untuk menutupi pantat dan pahanya dan sembarangan menguncir rambut panjangnya.
Pintu ruang belajar setengah terbuka dan terlihatYu Jinglan duduk di kursi serta tidak ada ekspresi di wajahnya sambil merokok dengan diam.
Apakah karena kakaknya?
Matanya Song Yin langsung terlihat suram dan sampai sekarang dia masih belum mengerti, apakah hubungan mereka akan seperti ini seumur hidup?
Ayah menyuruh dirinya membuatYu Jinglan mencintainya, apakah ini mungkin?
Dia berdiri di samping pintu sambil menghela napas ringan tapi tanpa diduga didengar olehYu Jinglan sehingga dia tiba-tiba berbalik mengangkat kepalanya dan matanya dingin sewaktu menatapnya yang sangat tajam serta membuat hatinya sakit…..
Ternyata dia hanya bersikap lembut di atas tempat tidur dan tidak ada sisanya lagi setelah itu atau pada saat ini dia sedang menyesal telah tidur bersamanya!
Pada saat ini Song Yin merasa dirinya tidak sedih atau benci, dia hanya mengangkat kepalanya untuk menatap mataYu Jinglan dan tersenyum datar, “Kakak besar Yu mau makan apa? Aku akan memasaknya!”
Dia sepertinya merasa kaget sehingga matanya yang dingin berhenti beberapa detik sampai melihatnya dan terlihat sedikit arogan. “Terserah!”
Dia berbalik sambil menyunggingkan mulutnya. “Baik!”
Sarapan sangat sederhana tapi harus dikombinasikan dengan baik.
Dia memasak bubur, acar mentimun, telur rebus juga pancake daun bawang.
__ADS_1
Song Yin sibuk selama satu jam lebih di dapur dan terdengar suara dari belakang. “Apakah masih belum selesai? Aku sudah lapar!”
“Ah! Sudah hampir siap!” Song Yin kaget lalu berbalik dan melihat mataYu Jinglan dan terlihat mulutnya seperti tersenyum.
“Apakah kamu yang memasak semua ini?” Dia menunjuk hasil masakan di lemari dapur yang mewah dengan ekspresi aneh dan terlihat kaget juga ingin tahu.
“Ya!” Song Yin tidak mengerti ekspresinya itu dan dia berbalik sambil membawa sarapannya. “Sudah boleh makan dan cuci tangan dulu!”
Dia terlihat tersenyum, “Aku tidak suka telur rebus! Apakah ada telur ceplok?”
“Makan terlalu banyak gorengan akan membuat kolestrol meningkat sehingga makanan rebus lebih sehat!” Song Yin berkata dengan pelan. “Jika kamu benaran mau makan telur ceplok maka aku bisa membuatnya lagi!”
Dia meliriknya dengan hati-hati dan mengerutkan keningnya, “Sudahlah, makan yang rebus saja!”
Dia duduk diam di meja makan sambil menunggu Song Yin melayaninya.
Song Yin juga duduk setelah dia menyajikan makanannya.
Yu Jinglan sudah mulai makan dan Song Yin menatapnya lalu segera menunduk lagi, dia tidak tahu apakah hubungan mereka akan berubah setelah kejadian malam tadi tapi hatinya tidak terlalu banyak berharap.
“Kamu punya rencana apa hari ini?”
Suara dinginYu Jinglan terdengar sewaktu Song Yin menunduk sehingga memecah keheningannya.
“Baca buku!” Song Yin terlihat gelisah sewaktu dia mengatakan ini, dia baru menyelesaikan skripsinya dan perlu mencari sedikit data. Tapi dia takut jika dia akan menguras waktunya karena dia masih merasa malu karena kata-katanya tadi malam.
“Oh!” Dia menjawab dengan sederhana sambil melanjutkan makanannya.
Song Yin segera selesai makan. “Kakak besar Yu, aku akan turun merapikan mangkuknya sebentar lagi dan kamu letakkan di sini saja setelah selesai!” Song Yin berdiri setelah itu dan bersiap naik ke lantai atas karena dia takut berduaan dengannya akan membuatnya tidak bisa bernapas.
Yu Jinglan mengangguk dan ponsel yang ada di atas meja berbunyi lalu jari panjangnya menekan tombol jawab sambil melirik Song Yin dan berbicara di telepon, “Ada apa sayang?”
Hati Song Yin bergetar, sayang?
Benar!
Dia menertawakan dirinya lalu berbalik untuk naik ke lantai atas dan dia berbalik melihatnya sewaktu tiba di belokan lantai dua, sinar matahari menyinari tubuhnya sehingga terlihat samar wajahnya yang tampan dan sikapnya yang dingin membuat orang sulit untuk mendekatinya, meskipun dia mengatakannya dengan lembut tapi tetap terasa sangat dingin. “Sayang, apakah kamu merindukanku? Baik, ya, tunggu aku, aku segera ke sana!”
Yu Jinglan pergi setelah menerima panggilan pagi itu dan pergi selama tiga hari.
Song Yin lembur pada hari Selasa dan pulang sangat malam dan dia tetap menunggu bus sewaktu berjalan keluar tapi dia melihat sebuah mobil dan sesosok tubuh tinggi berdiri di sampingnya yang sedang merokok sewaktu dia keluar dari gedung balai kota dan orang itu segera melempar puntung rokoknya sewaktu melihatnya keluar dan segera menghampirinya.
“Luo Weihan?!” Song Yin melihat Luo Weihan.
“Bagaimana dengan lukamu?” Luo Weihan berjalan maju dengan baju hitam di sekujur tubuhnya dan menatapnya penuh perhatian dan emosi yang rumit tersembunyi di balik kaca matanya yang polos.
__ADS_1
“Tidak apa-apa!” Song Yin tertawa, “Selamat tinggal!”
Dia tidak terluka parah dan Luo Weihan juga telah membayar biaya pengobatannya hari itu maka tidak perlu mempermasalahkannya lagi dan seharusnya sekarang sudah jam sembilan karena dia sedang sibuk mengurus pekerjaan tadi dan sebentar lagi akan tidak ada bus lagi.