
Hello! Im an artic!
Mobil berhenti di depan pintu gerbang apartemen dan Su Yan keluar dari mobil sendirian. Mobil Feng Baiyi melaju cepat melewatinya, tetapi Su Yan tidak menyadarinya. Feng Baiyi melihat sosok yang kecil turun dari mobil melalui kaca spion mobil sambil menahan amarahnya. Untungnya, dia hanya makan bersama dengan pria itu dan tidak melakukan hal lain!
Zuo Shaofeng adalah seorang pria sejati. Dia benar-benar melakukan seperti apa yang telah dikatakan olehnya, mengantarnya pulang setelah makan.
Hello! Im an artic!
Su Yan merasa sedikit lelah.
Beberapa hari ini dia mendapatkan haid, tubuhnya tidak mendapatkan asupan suplemen kesehatan, dan Feng Baiyi juga sedang sibuk dengan urusan Chen Huilun sehingga tidak dapat mengurusinya dan memberinya asupan gizi. Dulu, kakak Chi pasti akan meminta seseorang untuk memberinya makan sup iga babi, sup ayam, dan juga bubur sarang walet. Karena begitu dia mendapatkan haid, tubuhnya akan menjadi sangat lemah, tubuhnya termasuk dalam golongan dingin.
Begitu ia memasuki pintu, ia melihat sepatu kulit Feng Baiyi di lemari sepatu, masih basah, dan sepertinya baru saja kembali karena payung yang bersandar di pintu masih meneteskan air.
Su Yan tertegun lalu mencarinya, tetapi dia tidak dapat menemukannya, “Feng Baiyi, kamu sudah kembali? Bagaimana dengan keadaan kakak Chen?”
Hello! Im an artic!
Tidak ada jawaban, Su Yan masuk ke dalam dan mencarinya, tetapi dia tidak dapat ditemukan di ruangan mana pun.
Aneh!
Kemudian, dia mengganti sepatunya dan pakaiannya sedikit basah. Itu semua karena dia yang menolak maksud baik dari Zuo Shaofeng. Mengembalikan pakaiannya kepadanya lalu kembali ke rumah sendirian dengan payung, membuatnya basah kuyup sebagian.
Pada saat ini, pintu tiba-tiba terbuka.
Feng Baiyi terlihat sedang mengenakan sendal, dan memegang tas di tangannya. Sepertinya itu adalah tumpukan pakaian, sepertinya dia masuk dari sebelah.
“Kamu sudah pulang?” Su Yan menengadahkan kepalanya dan melihat kepadanya.
Dia hanya meliriknya dengan dingin, kemudian meletakkan setumpuk pakaian tersebut di atas meja. Su Yan dapat melihat bahwa tumpukan pakaian itu tampak seperti pakaian wanita. Dia terkejut, lalu menunjuk ke seberang, “Itu juga rumahmu?”
Feng Baiyi diam, lalu dengan dingin berjalan melewatinya dan masuk ke dalam rumah.
Dia mengerutkan kening, “Bagaimana dengan kondisi kakak Chen?”
Dia tetap tidak menjawab, lalu masuk ke ruang kerja. Seluruh raganya diselimuti aura yang dingin, bahkan meskipun dia tidak berbicara pun juga dapat membuat orang merasakan hawa dingin yang memancar dari seluruh tubuhnya.
Su Yan tidak mempedulikannya. Terpikirkan olehnya Feng Baiyi yang langsung menutup telepon, dan melihat tingkahnya yang seperti ini, kemungkinan karena kondisi Chen Huilun sedang tidak baik. Sedangkan dia sebagai pelakunya, merasa lebih bersalah dan tidak berani bertanya lagi.
Kemudian ia pergi ke kamar mandi, membasuh diri, dan berencana untuk memperhatikan Feng Baiyi setelah mandi.
Su Yan keluar dari kamar mandi dengan santai, dan Feng Baiyi sepertinya masih berada di ruang kerja.
Dia menuangkan secangkir air, masuk ke dalam, meletakkan cangkir di atas meja, dan bertanya dengan lembut: “Apakah kakak Chen pulih dengan baik?”
Tidak ada balasan.
Feng Baiyi sedang duduk di atas kursi kulit, seluruh raganya hanyut di dalam kursi tersebut. Wajahnya tidak terlihat, dia hanya bisa melihat samar-samar rambut di atas kepalanya dan kakinya yang panjang sedang terentang di atas meja dan asap yang mengepul. Apakah dia sedang merokok? Su Yan menatap dengan heran, dia pasti memiliki sesuatu yang sangat dikhawatirkan jika tidak dia pasti tidak akan merokok di ruang kerja.
Su Yan berjalan dengan penuh keraguan. Dia berpikir bahwa dia harus berbagi kekhawatirannya dan menyelesaikan maslaah untuknya, dan harus menjadi orang kepercayaannya.
Tetapi dia tidak tahu menahu bahwa Feng Baiyi telah mengekornya sepanjang waktu, melihatnya mengenakan pakaian pria asing dan masuk ke dalam mobil. Tanpa berpikir jauh dia langsung mengejar, dan kemudian melihat mereka pergi ke kedai jajanan bersama di bawah payung berduaan, dan keluar lagi.
Mereka menghabiskan setengah jam untuk makan bersama, dan dia sangat tidak bahagia.
Su Yan berjalan perlahan di depannya, mengawasinya yang masih hanyut di dalam kursi kulit tersebut. Wajahnya terlihat sangat suram.
__ADS_1
Su Yan berteriak keras seraya keheranan di dalam hatinya. Sepertinya pria itu sedang sangat tertekan, dan masalahnya pasti sangat serius kali ini.
“Feng Baiyi, sebenarnya apa yang terjadi? Apakah kondisi kakak Chen tidak baik?” Su Yan bertanya penuh dengan perhatian. Sangat jarang dia melihat Feng Baiyi seperti ini. Dia selalu berpikir bahwa dia tidak akan memperlihatkan ekspresinya, sebesar apapun masalahnya pasti akan diselesaikan olehnya dengan diam.
Feng Baiyi mengangkat matanya, dan perlahan menghadap ke arah wajah Su Yan yang penuh dengan kekhawatiran. Segera, kegelisahan di dalam hatinya mulai lega, pria itu tidak sedang mengkhawatirkan kondisi Chen Huilun. Faktanya, Huilun telah pulih dengan sangat baik, dan dia sudah akan bisa berbicara tidak lama lagi. Yang sedang digelisahkan oleh pria itu adalah Su Yan!
“Sudah makan belum?” Dia tiba-tiba bertanya.
“Sudah.” Su Yan mengira dia sedang menyalahkannya karena tidak pulang lebih awal, hatinya pun merasa sedikit bersalah. “Makan dengan siapa?” Feng Baiyi memutuskan untuk memberikan kepadanya kesempatan sekali lagi, mungkin saja dia yang terlalu banyak berpikir.
“Dengan, dengan teman!” Entah mengapa pada saat ini Su Yan sedikit terkejut dan berbohong.
“Wanita?” Suara Feng Baiyi semakin lebih dalam.
Su Yan tertegun untuk sesaat, lalu menjawabnya sambil menggumam, “Hm.”
Tetapi karena keragu-raguannya membuat Feng Baiyi menjadi semakin marah.
Beraninya dia berbohong kepadanya. Dia lebih memilih diri sendiri yang berpikir terlalu banyak, tetapi Su Yan berbohong kepadanya. Jelas menunjukkan bahwa dia tidak ingin dia mengetahui bahwa dia sedang makan dengan seorang pria.
Su Yan menatap Feng Baiyi dengan tidak nyaman.
Dia sebenarnya ingin mengatakan bahwa dia bersama dengan pria asing, tetapi dia tidak mengatakan apa-apa ketika teringat akan peringatannya beberapa hari yang lalu dan berpikir kembali bahwa dia hari ini sedang tidak bahagia. Oleh karena itu, dia tidak mengatakannya.
“Aku …… Aku sedikit lelah hari ini. Aku akan tidur siang sebentar, lalu akan mengerjakan PR nanti.” Su Yan berkata dengan suara rendah. Amarahnya sedang meluap-luap, lebih baik dia menunggu amarahnya reda terlebih dahulu sebelum datang kembali untuk menghiburnya.
Feng Baiyi menariknya masuk ke dalam pelukannya dengan kencang. Su Yan tidak dapat menyeimbangkan dirinya lalu jatuh menimpanya.
“Ah ––” Dalam kepanikan, cangkir yang berada di atas meja tersebut terjatuh ke atas karpet. Dan percikan air tersebut tumpah tersebar ke tubuh Su Yan, sedikit panas.
Ketika Feng Baiyi memikirkan Su Yan yang sedang berbohong, dia merasakan ada sesuatu yang menyumbat di dadanya, sesak dan menyakitkan. Dia telah belajar berbohong, dan bahkan berbohong demi pria itu!
Bibirnya yang bersemangat, dan tangannya yang arogan dengan gila ingin menelannya. Dia sangat dekat dengan pria lain di belakangnya! Dan mengenakan pakaian pria lain dengan santai!
Feng Baiyi yang teringat akan pemandangan itu, merasa gunung berapi di dalam hatinya mulai meletus.
Su Yan merasa sedikit kesakitan. Bibir pria itu menyerang bibirnya dengan begitu keras, dan giginya terus menggigit, gigitannya terasa sakit, “Feng Baiyi ……”
Dengan panik Su Yan mendorongnya. Gigitannya terasa sakit, bagaimana dia bisa menggigitnya seperti ini?
Tetapi begitu Feng Baiyi merasakan penolakannya, gunung berapi di dalam hatinya semakin meluap-luap, dan dia menggigit bibirnya lebih keras.
Su Yan memukul-mukuli pundak pria itu dengan kesulitan, dia sudah gila!
Ini bukanlah ciuman sama sekali. Ini sama seperti dia yang sedang menghukumnya, menggigit bibirnya dengan giginya dan membuat rasa sakit itu datang melanda. Su Yan merasakan rasa berdarah menyebar di mulutnya, sepat, asin, dan amis ……
“Uh –– Jangan ––” Su Yan menggelengkan kepalanya dan berbicara dengan suara yang rendah, mencoba menolak. Suasana hatinya sedang sangat buruk, tetapi dia juga tidak boleh melampiaskan kepadanya, bukan?
Wajah Feng Baiyi menempel dengan wajahnya, sakit?
Sesakit-sakitnya itu, apakah akan sesakit hatinya?
Su Yan meremas dan meringkuk erat mencoba menghindari tangannya. Dan hasilnya dia menyandarkan punggungnya ke dada Feng Baiyi.
Mata Feng Baiyi menjadi gelap, menatapi tengkuk lehernya yang terbuka. Bonekaku, kamu hanya bisa menjadi milikku!
***
__ADS_1
Dada Su Yan menegang, dan tiba-tiba dia merasakan sakit di dadanya.
Su Yan dengan sangat tidak nyaman tidak tahu apakah harus memundurkan tubuhnya untuk menghindari dari telapak tangannya atau harus mencondongkan tubuh ke depan untuk tubuhnya yang menempel pada dirinya. Tangan pria itu, bibirnya, dan bahkan tubuhnya semua sedang mengelilinginya, membungkusnya.
Dengan puas Feng Baiyi melihat alis wanita itu yang sedikit mengkerut. Dengan perlahan bibirnya menempel, menjilati sepanjang tulang pipinya dengan ujung lidahnya. Dia dapat merasakan kulitnya berdebar lembut di lidahnya, wanita itu sedang gemetar.
“Tidak ––” Pria itu dengan jelas sedang menyiksanya, dia tidak ingin merasa seperti ini, dia merasa seluruh tubuhnya itu tidak nyaman sama sekali. “Jangan begini ––”
Tetapi Feng Baiyi semakin menyukai godaan yang menyiksa ini. Dia ingin membuktikan bahwa dia adalah miliknya!
“Katakan kamu menginginkannya!” Nada suaranya begitu kuat, membuat Su Yan yang sedang panik merasakan hawa dingin.
Dia tidak menginginkannya! Matipun tidak menginginkannya!
Feng Baiyi menatapnya, bahkan alisnya pun sudah penuh dengan cinta. Matanya menyala membara, menatapnya tanpa henti dan memegang harapan terakhir sembari menunggu jawaban darinya.
Su Yan memalingkan wajahnya, dengan keengganan di wajahnya, “Tidak, aku tidak mau!”
Matanya yang membara dengan cepat menjadi dingin, dan akhirnya kembali ke dalam kegelapan es yang dingin. Seperti malam yang gelap, dan rasa kesepian yang tak bisa dijelaskan tiba-tiba melonjak di dalam hatinya.
Semakin dia tidak menginginkannya, semakin pula dia akan memberikannya!
Dengan buas dia menggigit dadanya, dan rasa sakit yang tajam menusuk tersebut membuat Su Yan terdiam.
Dia tercengang, dia seperti telah mendengar suara seperti kaca yang pecah, dia tahu bahwa itu adalah suara hatinya yang pecah. Dia mulai memberontak dan memutar-mutar tubuhnya dengan putus asa, mencoba untuk segera lepas darinya. Dia tidak ingin diperlakukan seperti itu olehnya. “Feng Baiyi, kamu sudah gila, aku kesakitan! Aku tidak mau! Kamu dengar tidak?”
Dia tidak berbicara!
Su Yan menendangnya dengan kakinya, tetapi, pria itu meraih kaki kecilnya tersebut secepat kilat. Berpisah, lalu berputar, dia menahannya di kursi kulit. Matanya yang penuh dengan amarah bertemu dengan wajahnya yang terlihat pucat dan panik menimbulkan sebuah perasaan cinta yang kompleks dan kejam. “Kenapa tidak mau?”
“Feng Baiyi, kamu sudah gila?” Teriak Su Yan dengan nyaring. Dia masih menstruasi dan tidak bersih, mengapa dia bisa memperlakukannya seperti ini?
Meskipun kedua tangan dan kakinya terus memukul dan menendang dengan sembarangan, tetapi dia masih tidak bisa lepas darinya sedikitpun. Tidak peduli seberapa keras dia mencoba, dia tidak bisa melepaskan diri dari cengkeramannya yang seperti baja tersebut.
Feng Baiyi hampur gila, dia merobek pakaian Su Yan dengan kasar, meraih kedua tangannya yang tidak patuh kepadanya, menyatukannya, dan diletakkannya di atas kepala wanita itu dengan satu tangan.
“Tidak mau, tidak mau, tidak mau ……” Su Yan menggelengkan kepalanya, dia terengah-engah berjuang dengan sangat keras. Dia tidak suka dengan cara yang seperti ini, dan dia tidak ingin menjadi pelampiasannya.
Namun, penolakannya justru semakin membuatnya menjadi semakin marah.
“Jangan sentuh aku!” Teriak Su Yan.
Mata Feng Baiyi menegang, rasa sakit memenuhi matanya, dan dia tiba-tiba kehilangan kesabaran ……
“Ah …… Ahhhhhh ……” Su Yan menjerit panjang tak terbendung dari tenggorokannya. Tubuhnya gemetar panik karena rasa sakit yang tak tertahankan.
Bagaimana dia bisa menyakitinya dengan segala cara?
Dia menyerang dan menggila.
Dalam sekejap, dia berhenti berontak, dan sang pria baru menyadari apa yang telah dilakukan olehnya saat semuanya selesai!
Bagaimana dia bisa? Dia tidak ingin menyakiti Su Yan, tetapi dia tetap menyakitinya! Mengapa dia bisa kehilangan akal sehatnya?
“Bonekaku, aku ––” Hatinya tiba-tiba merasakan sakit.
Su Yan menoleh tiba-tiba dan menatap Feng Baiyi dalam-dalam. Terlihat tatapan itu dipenuhi dengan kengerian, kebencian, ketakutan, dan kesedihan. Semuanya menyerangnya seperti gugusan duri.
__ADS_1