AYAH, MAAFKAN AKU

AYAH, MAAFKAN AKU
Bab 47 Anak Yang Pintar


__ADS_3

Hello! Im an artic!


Qin Yinuo menatap Mu Xue dalam-dalam. “Bagaimana? Apakah kamu tidak ingin mempertimbangkannya lagi?” tanya Qing Yinuo.


“Tidak!” Dengan tegas Mu Xue menggelengkan kepadanya.


Hello! Im an artic!


Mu Xue tahu persis akan statusnya. Statusnya yang seperti sekarang ini sangat sulit diterima oleh lelaki manapun. Namun dia tidak mengerti kenapa Qin Yinuo berkata demikian? Apakah dia sudah gila? Apakah dia merasa dia sangat hebat? Qin Yinuo memandang Mu Xue, secara perlahan dia melepaskan genggamannya, “Pikirkan baik-baik! Jika kamu sudah mempertimbangkan dengan matang, kabari aku. Aku serius!”


Setelah berkata demikian, Qin Yinuo beranjak pergi meninggalkan Mu Xue.


Kepala Mu Xue seperti selembar kertas putih. Dia tidak tahu apa yang harus dia lakukan.


“Mami!” Chengcheng berlari keluar dengan bahagia, “Mami, akhirnya ada yang membeli gameku. Paman ingin membeli gameku! “Mami? Apa yang sedang kamu pikirkan?” tanya Chengcheng.


Hello! Im an artic!


“Hah? Maaf, ayo kita pulang,” ujar Mu Xue sambil menggandeng tangan Chengcheng.


Mu Xue tampak tidak berkonsentrasi. Sepanjang perjalanan bahkan ketika makan pun dia tidak memperhatikan Chengcheng.


“Mami!” teriak Chengcheng.


“Chengcheng! Ada apa? Kamu membuat mami terkejut!” ujar Mu Xue sambil memegang dadanya.


“Mami, kenapa kamu tampak tidak memperdulikanku?” tanya Chengcheng dengan kecewa dan cemberut, “Mami, apa yang kamu pikirkan?”


“Maafkan mami. Coba ulangi apa yang kamu katakan?” Mu Xue mencoba untuk mengatur kembali suasana hatinya.

__ADS_1


“Apakah mami ingat paman Da Niao? Paman ini ingin membeli gameku! Paman yang kita temui di pesawat!” cerita Chengcheng.


“Hah? Bagaimana mungkin?” Mu Xue terkejut.


“Sungguh! Sini kuperlihatkan. Aku tidak tahu harus menjualnya dengan harga berapa,” ujar Chengcheng sambil beranjak ke dalam kamarnya.


“Mami lihat paman ini sedang oneline,” ujar Chengcheng.


“Hey, apakah mamimu sudah datang?”tanya paman tersebut.


“Mami, lihat ini! Paman ini bilang dia ingin mengembangkan game yang aku buat!” ujar Chengcheng sambil menunjuk ke layar, “Harus ku jual dengan harga berapa game ini?”


“Chengcheng, mamu harus berbicara dengan paman ini. Kita lihat dengan harga berapa dia ingin membelinya,” jawa Mu Xue.


“Baik,” jawab Chengcheng.


MuXue mulai mengetik di komputer tersebut. “Tuan, apakah benar kamu ingin membeli game anakku?” tanya Mu Xue.


“Benar aku adalah ibunya. Aku ingin tahu kenapa kamu ingin membeli game anakku, bagaimana aku memastikan bahwa kamu bukanlah pembohong?”


Setelah beberapa saat paman tersebut membalas, “Aku mengerti ketakutanmu, namun jika aku berniat membohonginya, apakah aku perlu menunggumu untuk berdiskusi denganmu? Aku bisa saya langsung mengembangkan game ini tanpa memberitahu kalian terlebih dahulu?”


“Maafkan aku. Aku hanya khawatir, anakku masih sangat kecil,” jawab Mu Xue.


“Anakmu sangat cerdas. Aku ingin mengembangkan game ini. Begini saja, kapan kamu ada waktu? Bagaimana jika bertemu langsung untuk membicarakannya?” “Bagaimana kalau besok?”


“Baik, besok siang aku akan mengutus asistenku untuk menemuimu di restoran Jingya. Bagaimana?” “Bawa anakmu bersamamu. Akan ada seseorang yang bermarga Zeng menemuimu. Dia akan membicarakan harga dan hal lainnya denganmu”


Bermarga Zeng? Mu Xue berpikir sejenak.

__ADS_1


“Baiklah, terima kasih!”


Mu Xue membalikkan badan kemudian berkata, “Anak mami sangat hebat! Besok kita akan bertemu dengan paman itu untuk membicarakan harga!”


Keesokan harinya Mu Xue membawa anaknya ke restoran Jingya.


“Nona, apakah ada seseorang bermarga Zeng yang memesan tempat di sini?”


Pelayan menggelengkan kepala, “Tidak ada!”


“Mami apakah benar kita bertemu di sini?” Chengcheng bertanya.


Apakah dia adalah pembohong? Waktu sudah siang, kenapa tidak ada orangnya?


“Mami, di mana paman itu?” Chengcheng kembali bertanya.


“Chengcheng, sabar sebentar. Kita tunggu dulu,” ujar Mu Xue.


Mereka telah menunggu 15 menit lamanya ….


“Mami, apakah paman itu membohongi kita?” tanya Chengcheng. Mu Xue melihat jam tangannya kemudian berkata, “Chengcheng, mami akan memesankanmu minuman. Apa yang kamu mau pesan?”


“Minuman di sini sangat mahal. Ayo kita pulang saja! Paman itu pasti hanya membohongi kita,” ujar Chengcheng dengan kecewa.


“Pelayan, tolong bawakan segelas jus kiwi,” pinta Mu Xue.


“Mami aku tidak ingin minum.”


“Chengcheng, tidak perduli apakah paman itu membohongi kita atau tidak. Di hati mami kamu adalah anak yang pintar! Mami sangat bangga denganmu!” Mu Xue sangat takut jika Chengcheng sampai trauma.

__ADS_1


“Baik, aku mengerti,” jawab Chengcheng.


“Ayo, minum jus ini,” Mu Xue memberikan jus tersebut kepada Chengcheng.


__ADS_2