
Hello! Im an artic!
Qin Yinuo mengeluarkan salah satu diantaranya dan dibuka. Untuk sesaat ia langsung tertegun, itu adalah fotonya dengan Mo Yilan. Ketika mereka berfoto, tangannya tengah memegang pingganngya. Senyum mereka cerah sekali, untuk sesaat, ekspresinya penuh dengan kebingungan, seolah ia kembali ke beberapa tahun silam…
Melihat ekpresinya, wajah Mu Xue memucat. Bibirnya juga ikut memucat.
Hello! Im an artic!
Apakah memorinya telah membangunkan hatinya? Ekspresinya yang seperti ini, dirinya yang terlena seperti ini membuat Mu Xue menunduk. Dirinya malah berani melihat ekspresi Qin Yinuo yang seperti itu, karena ia tahu hatinya pasti akan hancur…
Ternyata, cinta memang akan membuat orang semakin rakus. Dirinya malah tidak membiarkan pria itu mengingat memori lamanya yang indah, Mu Xue, kau tidak boleh seperti ini!
Ia menarik nafas dalam-dalam dan menunduk, terus mengancam dirinya sendiri. Jangan berpikiran sempit seperti ini, jangan seperti ini!
“Ini bisa tidak?” Qin Yinuo memberikan album foto itu pada Will, sampai saat ini ia belum menyadari perubahan ekspresi Mu Xue. Mungkin dirinya terlalu tidak berhati-hati, atau mungkin ia sama sekali tidak menyadari.
Hello! Im an artic!
Will menerimanya, hendak mendekati Mo Yilan. Tapi wanita itu malah berteriak, “Ah, jangan bakar aku–”
Langkah Will langsung terhenti, ia tidak berani maju lagi, lalu ia menatap Mu Xue, “Nona, harap Anda berikan ini padanya, sepertinya dia percaya padamu!”
Mu Xue menatap album yang diberikan kepadanya. Ia langsung tertegun. Tubuhnya bergetar untuk sesaat, wajahnya saking pucatnya sampai hampir tembus pandang. Akhirnya ia mengangguk, “Baik!”
Ia tidak tahu bagaimana dirinya bisa berjalan ke arahnya, tangannya bergetar.
“Nona Mo, kubantu kau cari Qin Yinuo. Kau lihat ini dia kan?” Sambil mengatakannya, ia memberikan album itu.
Qin Yinuo tiba-tiba tersadar. Saat ini ia melihat wajah Mu Xue yang pucat pasi. Dan ia seolah sadar Qin Yinuo menatapnya, maka ia menunduk, fokus pada Mo Yilan.
Kemudian Mo Yilan perlahan menengadah, dan Mu Xue membuka album tersebut, “Kau lihat, ini adalah foto kalian, kau cantik sekali! Qin Yinuo juga ganteng sekali kan? Ini Qin Yinuo bukan?”
Fokus Mo Yilan langsung tersedot olehnya, tatapannya jatuh pada album tersebut. Ia mengerutkan wajahnya dengan penasaran, kemudian berpikir lama sekali, akhirnya ia berkata dengan senang, “Benar, ini sepertinya adalah Nuo. Tapi kenapa matanya tidak berwarna biru?”
Mu Xue berusaha menahan kekacauan dalam hatinya. Ia tidak menengadah, karena ia tidak ingin siapapun menyadari kelemahan dalam matanya, ia hanya membalikkan album foto itu sambil berkata, “Kau lihat, ini kan dirimu! Cantik sekali!”
Mo Yilan tiba-tiba menggeleng, kedua tangannya terpilin bersama, “Tapi sekarang aku tidak cantik, Nuo tidak suka lagi padaku!”
Semua orang menahan nafas, sementara tatapan Qin Yinuo jatuh pada Mu Xue. Sialan, melihat Mu Xue yang tengah melihat foto lamanya dengan Yilan, tiba-tiba hatinya ragu. Ia telah melupakannya, sialan.
“Bagaimana mungkin, kau masih cantik sekali!” Mu Xue menengadahkan kepalanya.
Saat ini Qin Yinuo baru melihat wajahnya yang pucat pasi, matanya seolah tersirat sebuah cahaya, apa wanita itu hampir menangis? Hati Qin Yinuo jadi sakit, kenapa ia tidak memikirkan perasaan Xiao Xue?
Mu Xue menatapi wanita di depannya ini. Ia memang tidak cantik lagi, ia kelihatan lembah, tatapannya dalam, dan kerutan di belakang matanya telah jadi makin dalam.
Kecantikannya tidak ada lagi, sungguh wanita yang kasihan sekali. Benar-benar tidak cantik, tapi dia pernah secantik itu. Kalau tubuhnya sehat kembali, ia bisa jadi cantik lagi.
Mungkin, ia masih akan menjadi wanita yang dicintai Qin Yinuo!
__ADS_1
Tiba-tiba ia teratawa, meski itu adalah tawa pahit, tapi ia masih tertawa.
“Nona Mu, kau lihat, orang seganteng Qin Yinuo saja sudah tergila-gila padamu, bagaimana bisa ia tidak menyukaimu? Kau lihat kalian ini cocok sekali, aku saja iri sekali!”
“Benar kah?” Mo Yilan seolah tidak memercayainya, lalu menengadah menatapi album di tangan Mu Xue. Tiba-tiba ia mengambilnya.
Mu Xue mengikuti arah tatapannya, menyadari pemandangan di tempat itu ternyata dikenalnya. Itu adalah pemandangan subuh danau Ahan di Hokkaido, Jepang. Dan di subuh itu, keduanya tengah berpelukan, senyum mereka sungguh menusuk mata!
Hatinya langsung mencelos, pikirannya jadi kosong.
Mo Yilan membuka album itu beberapa lembar ke belakang, lalu menunjuk dengan senang, “Ini adalah foto jalan-jalanku dengan Nuo ke Jepang! Ini adalah…Ahan National Park!”
Ia bisa mengatakan nama tempatnya dengan benar, membuat Will kaget.
Qin Yinuo juga kaget! Tapi bukan karena memori Mo Yilan, tapi karena raut wajah Mu Xue!
“Xiao Xue!” Ia berteriak sesaat, tidak ingin wanita itu terus melihatnya lagi.
Ia hanya menatapinya tanpa ekspresi, lalu tersenyum. Ia ingat mereka bahkan tidak berfoto bersama ketika di Hokkaido, ternyata bukan karena pria ini tidak suka berfoto, tapi ia hanya tidak suka berfoto dengannya, “Qin Yinuo, kau lihat. Nona Mo ingat denganmu, senang sekali! Dokter, Nona Mo sudah ingat dengan masa lalunya!”
Will senang sekali, suster khususnya juga ikut senang.
Qin Yinuo malah penuh dengan kekhawatiran, “Xiao Xue, kemari!”
Ia tidak bisa membiarkan wanita itu terus melihatnya lagi.
Tapi Mo Yilan menunjuk salah satu fotonya lagi dan berkata, “Ah, ini dimana? Kenapa aku tidak ingat?”
Qin Yinuo tidak beranjak pergi, ia hanya menatapi Mu Xue. Tatapannya penuh dengan rasa sakit, semuanya adalah rasa sakit. Qin Yinuo benar-benar menyesal, wajah Xiao Xue pucat sekali, ia tahu kalau dirinya berjalan pergi, raut wajahnya akan makin memucat!
Hatinya semakin kesal, tiba-tiba jadi ingin merokok, lalu ia berkata, “Maaf, aku pergi merokok sebentar!”
Mo Yilan menatapi sosoknya yang pergi. Ia mengerutkan alisnya dan menggeleng, “Dia bukan Nuo, Nuo takkan mengacuhkanku!”
Qin Yinuo masuk ke dalam ruang membaca, ia merokok sambil bergetar. Tangannya bergetar, ia mengisap dalam-dalam.
Sementara di ruang tamu terdengar suara Mo Yilan yang senang, “Ah, ini adalah Nuo yang sedang memancing. Ia memancing seekor ikan yang besar sekali. Kau lihat kau lihat, ikan ini besar sekali kan?”
Mu Xue menatapi Qin Yinuo di dalam foto, tangannya memegang pancingan, sementara di atas meja ada ikan yang besar sekali. Mu Xue menatapi foto itu, anehnya matanya jadih memerah, tapi ia masih tersenyum, “Ya, ikan ini besar sekali. Qin Yinuo hebat sekali!”
Saat ini dirinya bagai boneka kertas yang telah kehilangan nyawa. Ia hanya asal tersenyum. Senyum seperti ini membawa kabut di matanya. Ia berusaha tidak membiarkan kabut menutupi pandangannya, tapi terus tersenyum, “Nona Mu dan Qin Yinuo benar-benar pasangan serasi!”
Berkata sampai sini, Mo Yilan tiba-tiba menurunkan tatapannya penuh rasa bersalah, “Tapi Nuo tidak suka lagi padaku, Nuo tidak suka lagi padaku! Dia sudah punya anak. Kuberitahu kau ya, dia sudah punya anak! Kau jangan beritahu orang lain ya, Nuo tidak tahu aku tahu!”
Mu Xue kaget. Ternyata benar-benar karena Tian Yu. Mo Yilan tahu keberadaan Tian Yu. Saat ini hati Mu Xue menyalahkan dirinya sendiri, kenapa dulu ia menyetujui kontrak itu? Gagal menyelamatkan Mu Xiao malah telah mengubah hidupnya selamanya.
Saat ini, dirinya benar-benar menyesal!
“Tidak kok, Qin Yinuo tidak punya anak. Benar, kuberitahu kau, itu adalah kebohongan orang lain. Kau percayalah padanya, cepat percantik dirimu dan jadi istrinya! Kau harus makan obat ya, lalu pergi berjemur matahari, sekarang dirimu terlalu putih! Kau butuh sinar matahari!” Mu Xue masih menenangkannya, tapi hatinya malah penuh dengan kekacauan.
__ADS_1
“Baik! Aku pergi berjemur!” Mu Yilan berkata, “Aku ingin menjadi pengantin Nuo! Aku mau jadi cantik!”
Qin Yinuo tidak mampu mendengar lebih jauh, maka ia segera keluar dengan tangannya yang bergetar. Ia melangkah besar-besar ke arah Mu Xue. Dirinya yang mendekat tiba-tiba membuat Mo Yilan jadi ketakutan dan bergetar.
Qin Yinuo malah tidak melirik Mo Yilan sama sekali. Ia langsung mengenggam tangan Mu Xue, baru sadar kalau tangan Mu Xue sekarang sedingin es, dinginnya sampai hati Qin Yinuo juga ikut bergetar.
Mungkin karena gerakannya yang terlalu kasar, mengagetkan Mo Yilan sampai berteriak. Album di tangannya juga jatuh ke lantai.
Pas sekali, itu adalah foto yang baru dilihat Mu Xue, foto Qin Yinuo dengan Mo Yilan yang berciuman.
Tatapan Mu Xue jatuh pada album di atas lantai, sementara Qin Yinuo juga melihat ke arah tatapannya.
Waktu berlalu diantara tarikan nafas mereka.
Sebuah tetes darah segar mengalir keluar dari bibir pucat Mu Xue, dan tubuhnya bergetar.
Sebuah air mata mengalir turun dari matanya, bersamaan dengan tetesan darah yang mengalir turun ke lantai. Lantai yang putih bersih jadi ternodai darah dan air mata…
Ia malah mengembangkan senyum di bibirnya, yang terlihat sengsara namun juga terlihat seperti kebebasan.
Ia menengadah, di matanya sudah tidak ada air mata lagi. Ia tersenyum anggun, sepasang matanya agak lelah, sementara bibir pucatnya robek karena digigit, tapi senyumnya itu malah bertahan lama, dan senyumnya terlihat tidak pasti, seolah bisa ditiup angin kapan saja.
Qin Yinuo langsung gugup, tatapannya juga gugup, “Xiao Xue…”
Ia hanya tersenyum dengan tenang dan diam dan menatapi Qin Yinuo. Kemudian ia melepaskan pegangannya, menunduk dan memungut album itu, tapi tangannya yang bergetar malah membuatnya gagal mengambilnya.
Semua orang tertegun, sementara Mo Yilan juga saking takutnya sampai bergetar, ia terus bergetar.
Will dan para suster khusus langsung menyadari sesuatu, tidak berani berbicara.
Tiba-tiba Qin Yinuo merasa senyum diam ini telah menyentuh kelemahan hatinya, maka untuk sesaat ia lupa untuk berbuat sesuatu, ia hanya merasa gugup sekali.
Akhirnya Mu Xue berhasil memungut album itu dan memberikannya pada mo Yilan. Ia rasa sekujur tubuhnya tak bertenaga, rasanya pusing. Ia tidak makan siang tadi, maka ia pasti jadi makin lapar. Dan dirinya masih hamil pula, tidak ada yang lebih penting dibanding bayinya.
Tiba-tiba ia menyadari sesuatu dan berkata pada Mo Yilan, “Nona Mo, ini untukmu. Qin Yinuo akan menceritakannya untukmu, aku masih perlu kerja! Sekarang aku akan kembali untuk kerja!”
“Kau, kau, kau akan kembali untuk menjengukku lagi?” Tiba-tiba Mo Yilan menarik ujung bajunya.
Mu Xue menoleh, mengangguk sambil tersenyum, “Tentu, aku akan datang menjengukmu. Ingat berjemur matahari ya! Jangan takut pada orang!”
“Baiklah! Kau pergilah kerja!” Mo Yilan melepaskan tangannya, lalu menerima album itu.
Mu Xue mengangguk pada Will dan kedua suster itu, tanpa menatap Qin Yinuo ia berjalan keluar.
Qin Yinuo mengejarnya, “Xiao Xue…”
Ia tidak tahu harus bagaimana menjelaskan, ia hanya merasa mulutnya tidak bertenaga. Ia benar-benar pria yang ceroboh.
Tapi Mu Xue masih menoleh sambil tersenyum dan menatapnya, lalu berkata dengan lembut, “Masuk lah, ceritakan padanya memori di foto itu, mungkin dia akan ingat dan sembuh. Aku harus kembali untuk kerja!”
__ADS_1
Meski tersenyum, tapi hanya Mu Xue sendiri yang tahu kalau senyumnya adalah senyum pahit.