
Hello! Im an artic!
“Ini pujian atau sindiran?” Wen Xiaoxing balik bertanya.
“Pujian yang tulus!”
Hello! Im an artic!
“Terima kasih, aku juga merasa jika diriku sangat imut!” Wen Xiaoxing mengangguk. “Aku akan mentraktirmu makan karena pujianmu siang ini!”
Song Yin tidak bisa menolak kebaikan Wen Xiaoxing maka dia diajak makan siang bersamanya dan dia menerima sebuah pesan teks dari sebuah nomor asing sewaktu baru keluar…… makan bersama siang ini?! Ye Jintang!
“Ah!” Song Yin terkejut melihat pesan teks itu.
“Apakah kamu punya janji?” Wen Xiaoxing bertanya.
Hello! Im an artic!
“Tidak!” Song Yin memutuskan untuk tidak mempedulikannya tapi Ye Jintang muncul begitu mereka baru keluar dari kantor.
“Dua wanita cantik, bagaimana jika kita makan bersama?”
“Pergi ke Haihuang, apakah pegawai negeri kecil sepertimu mampu membayarnya?” Wen Xiaoxing mengangkat alisnya.
Ye Jintang juga tersenyum sambil mengangkat alisnya, “Selama memberiku kesempatan maka akan tahu apakah aku mampu atau tidak bukan?”
“Ha! Baiklah, Song Yin, kita makan bersama Ye Jintang dan besok baru makan bersamaku!”
Maka dari itu, mereka berdua naik mobil Ye Jintang untuk pergi keHaihuang.
Mereka duduk di dekat jendela dan Wen Xiaoxing terlihat seperti seorang ketua sambil duduk minum teh di sana dan tidak lupa menindas Ye Jintang. “Aku mau makan teripang liar bukan yang diternak, bagaimana denganmu Song Yin?”
“Pangsit udang!” Song Yin berkata dengan datar dan teringat sewaktu makan bersama Yu Jinglan kemarin dia juga memesan sepiring pangsit udang karena sepertinya dia selalu menyukai hal-hal yang sederhana seperti ini bukan yang mewah tapi bisa mengenyangkan.
Mereka bertiga duduk di meja dan Song Yin berkata dengan datar sambil minum tehnya dan tanpa sengaja dia memiringkan kepala ke arah luar jendela dan melihat seorang pria tinggi turun dari mobil…… Yu Jinglan .
Selain itu ada seorang wanita bergaun putih yang duduk di kursi samping kemudi dengan dandanan modis, rambut panjang, lembut dan wanita cantik yang klasik.
Yu Jinglan seolah-olah bisa merasakan ada orang yang melihatnya maka dia memiringkan kepalanya lalu melihat Song Yin yang dipisahkan kaca, mereka berdua bertatapan dan dia sepertinya juga terkejut lalu pandangan matanya menjadi tajam.
Song Yin membeku karena dia melihat mata Yu Jinglan melihat Ye Jintang yang ada di depannya dengan tatapan yang dingin dan tidak tahu Wen Xiaoxing pergi ke mana pada saat ini sehingga hanya ada dia dan Ye Jintang dan suasananya terasa aneh yang membuatnya merinding.
Jantungnya berdetak kencang lalu dia menarik pandangannya kembali.
Wanita berbaju putih berjalan di samping Yu Jinglan dan mereka berdua berjalan masuk ke dalam restoran, sepertinya mereka terlihat cukup akrab. Yu Jinglan melihat ke arah Song Yin lagi sewaktu dia masuk ke dalam kemudian Song Yin melihat dia berjalan ke arahnya yang membuat jantungnya berdebar……
Mata Yu Jinglan yang setajam elang seolah-olah menembus jantungnya dan membuatnya kaget, untung saja dia sudah melatih dirinya untuk mengontrol ekspresi wajahnya sehingga tidak terlalu kelihatan jika dia sedang panik dan dia menunduk untuk minum tehnya.
Yu Jinglan menatapnya dengan tajam sehingga jantung Song Yin berdetak tidak karuan karena dia masih bisa merasakan tatapannya meskipun sudah menunduk.
“Kalian mau minum apa?” Wen Xiaoxing datang sambil memegang sebotol yogurt, berjalan sambil bertanya dengan suara kencang.
__ADS_1
Tidak tahu apakah karena Wen Xiaoxing yang tiba-tiba datang atau karena alasan lain maka Yu Jinglan berhenti di meja yang ada di samping meja mereka lalu berbalik dan menarik kursi dengan gentle untuk wanita itu kemudian wanita bergaun putih itu tersenyum dan duduk.
Yu Jinglan juga duduk dan kebetulan saling bertatapan di pisahkan meja.
“Song Yin, kamu mau minum apa?” Ye Jintang bertanya penuh perhatian.
“Tidak, aku minum teh saja!” Song Yin tersenyum dan bertemu tatapan Yu Jinglan ketika dia mengangkat kepalanya sehingga dia buru-buru menghindarinya.
Habislah.
Song Yin berpikir jika dia pasti akan bertemu tatapan Yu Jinglan ketika dia mengangkat kepalanya, meskipun dipisahkan oleh dua meja, Ye Jin juga Yu Jinglan tapi dia masih bisa merasakan aura kuat Yu Jinglan sehingga membuatnya panik.
Habislah, benar-benar habis dan Song Yin terus memikirkannya dan kata-kata ini terus menyiksanya.
“Apakah kamu kurang tidur semalam?!” Ye Jintang bertanya melihat Song Yin yang tidak fokus.
“Ya, aku tidur agak malam.” Song Yin mengangguk dengan sopan dan matanya tidak berani melihat ke arah Yu Jinglan .
Bukan karena tidak cukup tidur semalam tapi karena Yu Jinglan menindasnya pagi ini sehingga seluruh tubuhnya merasa lemas dan tidak nyaman apalagi bertemu dengan Yu Jinglan yang membuatnya pucat sehingga orang bisa melihat jika kondisinya tidak terlalu bagus.
“Tidur pagi dan bangun pagi baik untuk kesehatan.” Ye Jintang berkata seperti orang tua.
“Ya!” Song Yin sembarangan mengangguk.
“Insomnia dalam jangka panjang akan menyebabkan gangguan dan lakukan yoga jika tidak bisa tidur kelak!” Wen Xiaoxing yang berada di sampingnya mengingatkannya.
“Baik!” Song Yin mengangguk dengan pasrah.
Tanpa sadar dia melihat mata Yu Jinglan yang ada di seberangnya bersinar dan dia segera menarik pandangannya sedangkan wanita bergaun putih di depannya sedang memperhatikannya.
Dia benar-benar genit, mengapa Kakak besar Yu yang dia kenal dulu tidak seperti ini? Setidaknya tidak menunjukkan sejelas ini, apakah dia menyembunyikannya dengan rapat atau dia sama sekali tidak mengenalnya?
“Mau makan apa?” Song Yin mendengar Yu Jinglan bertanya dengan lembut kepada wanita bergaun putih.
“Seperti biasa!” Suara wanita sangat lembut dan jernih.
Ini bukan wanita yang tidur bersama Yu Jinglan tapi wanita yang punya aturan dan Song Yin yakin jika posisi wanita bergaun putih ini sangat penting di mata Yu Jinglan .
“Kamu masih sangat keras kepala!” Yu Jinglan berkata lagi.
“Song Yin, pesananmu terlalu sederhana, bagaimana jika kita makan kepiting karena kamu dan Wen Xiaoxing terlalu kurus maka harus makan banyak lemak!” Suara Ye Jintang menutupi suara yang ada di seberang meja sehingga Song Yin mengangkat kepalanya karena dia tidak berniat mendengarnya lagi.
“Terima kasih.”
Dia bisa merasakan tatapan Yu Jinglan dan dia yang berada di meja yang ada di depannya sedang berbicara dengan pelayan.
“Aku ke kamar mandi dulu!” Song Yin tersenyum kepada Wen Xiaoxing dan juga Ye Jintang.
Dia tiba-tiba tidak punya selera dan tidak mau melihat tatapan Yu Jinglan sewaktu mereka menunggu makanan datang maka dia hanya bisa menghindar untuk beberapa saat. Dia baru bangun dan Yu Jinglan juga bangun setelah dia selesai memesan makanannya sambil berkata kepada wanita bergaun putih, “Aku keluar sebentar!”
Mereka berdua pergi hampir pada saat bersamaan menuju ke arah toilet.
__ADS_1
Song Yin menghela napas sewaktu dia berada di samping toilet karena dia tidak bermaksud untuk masuk.
“Siapa pria itu?” Song Yin terkejut dengan suara yang datang tiba-tiba, dia berbalik dan jantungnya hampir melompat keluar ketika melihat pria yang ada di belakangnya.
“Kakak besar Yu?”
Kedua tangan Yu Jinglan dilipat di dadanya dan sepasang matanya menatap Song Yin yang kaget. “Apa yang kamu takutkan? Apakah karena telah melakukan sesuatu yang salah? Apakah kamu memberikan perawanmu kepada pria tadi?”
Sesuatu yang salah?!
Song Yin bersumpah jika dia tidak pernah melakukan hal yang salah seumur hidup ini, perawan?! Ha, dia menyunggingkan mulutnya sambil tersenyum. “Kakak besar Yu, aku pergi dulu!”
Dia merasa tidak nyaman ketika melihat Yu Jinglan bertanya seperti sedang menginterogasi penjahat dan dia tahu jika dia tidak bermaksud ke toilet tapi sedang mengikutinya.
“Apakah dia atau bukan?” Suara Yu Jinglan terdengar marah.
“Apakah ada bedanya dia orangnya atau bukan?” Song Yin balik bertanya. “Pokoknya perawanku bukan diberikan kepadamu!”
“Bagus! Bagus sekali!” Suaranya sangat dingin.
Song Yin yang baru bernapas lega menjadi panik lagi ketika dilihat oleh sepasang mata hitam itu.
Yu Jinglan mengatupkan bibirnya yang seksi sambil menatap Song Yin yang terlihat sedikit panik dan wajahnya yang memerah, dia cukup berani karena dia memberikan perawannya kepada pria lain setelah dia memeriksanya.
“Aku akan pura-pura tidak kenal denganmu di depan teman-temanmu dan mohon kamu hormati aku juga karena kita punya kehidupan masing-masing dan jangan terlalu banyak ikut campur!” Song Yin berkata karena melihatnya tidak bicara dan berbalik untuk pergi tapi pergelangan tangannya ditarik.
“Lepaskan!” Song Yin berkata.
“Aku tanya sekali lagi, kamu memberikan perawanmu kepada siapa?!”
“Kamu selidiki saja jika kamu bisa! Aku, tidak akan mengatakannya!” Song Yin berkata dengan dingin dan tegas.
Yu Jinglan menatap matanya sambil menyipitkan matanya.
Mata besar Song Yin terlihat tegas. Tanpa sadar dia mengatupkan bibirnya dan mengangkat kepalanya untuk langsung melihatnya. “Kakak besar Yu, lepaskan dan jangan membuat teman wanitamu salah paham!”
Yu Jinglan tertegun dan tersenyum.
Song Yin kaget melihat senyumannya dan hatinya tiba-tiba merasa bersemangat dan tidak biasa.
“Apakah kamu tidak salah paham?” Dia balik bertanya.
“Kakak besar Yu, aku tahu jika kamu tidak benar-benar tulus menikah denganku karena pernikahan kita adalah sebuah transaksi, sebodoh-bodohnya aku juga tahu jika Kakak besar Yu tidak pernah menganggapku sebagai istrimu karena mungkin aku hanya sebuah bidak catur bagimu, apa yang kamu harapkan dari sebuah bidak catur?” Song Yin berkata dengan tenang dan serius.
Yu Jinglan melihat wanita di depannya yang tenang dengan wajah yang sedikit memerah, badannya langsing dengan kuncir kuda sederhana juga poni panjang yang menutupi matanya yang besar, sebagian menutupi wajahnya tapi terasa ada aura sombong yang kuat yang sama sekali tidak seperti bayangannya yang patuh, dia seolah-olah anak pohon yang tumbuh di tebing dan muncul dari cela bebatuan tapi akarnya bahkan lebih tangguh berlipat-lipat daripada pohon besar yang ada di sampingnya.
“Jinglan?!” Tiba-tiba terdengar suara wanita yang lembut dan Yu Jinglan berbalik setelah dia melepaskan tangan Song Yin.
Song Yin juga melihat wanita bergaun putih yang berjalan menghampirinya dengan senyum yang elegan.
Untung saja badan Yu Jinglan tinggi sehingga menutupi badannya yang kecil maka dia memiringkan tubuhnya lalu pergi.
__ADS_1
“Mengapa kamu datang?” Yu Jinglan berkata dengan wanita bergaun putih.
Wanita bergaun putih itu seolah-olah merasakan sesuatu dan secara naluriah merangkul tangan Yu Jinglan dan dia merasa jika Yu Jinglan menatap Song Yin yang melewati mereka, wanita bergaun putih itu berkata dengan manja, “Aku datang memanggilmu kembali karena kamu sudah pergi lama! Makanannya sudah disajikan! Apakah kamu tidak lapar?”