AYAH, MAAFKAN AKU

AYAH, MAAFKAN AKU
Bab 79 Menghilang


__ADS_3

Hello! Im an artic!


Di hari-hari kemudian, Mu Xue melewatinya dengan tenang sekali, Qin Yinuo tidak lagi mengganggunya, acara perjodohan itu sudah berlalu seminggu, kehidupannya kembali normal, Qin Yinuo dan Zeng Li jadi menghilang.


Sekarang Cheng Cheng sudah masuk ke sekolah dasar, Mu Xue khawatir ia takkan bisa mengejar PR-nya, tapi anak itu malah kelihatannya santai sekali, setelah masuk sekolah, ia menjemputnya seminggu sekali, jadinya Mu Xue agak santai, dirinya sendiri bahkan tidak terlalu terbiasa.


Hello! Im an artic!


Akhir pekan adalah hari di mana ibu dan anak itu bertemu.


Setelah menangis sebelumnya, anak itu tidak pernah lagi mengungkit masalah tersebut, meski ia tidak mengungkit, namun Mu Xue bisa merasakan perubahannya, ia jadi lebih diam.


Ia sakit hati sekali untuk anaknya, tapi luka sudah terjadi, maka ia hanya bisa semakin menyayanginya, berharap bisa menambal luka di hatinya.


“Mami, kenapa hari ini Tian Yu tidak datang bermain di rumah kita?” Cheng Cheng bertanya ketika ia memasak.


Hello! Im an artic!


Tubuh Mu Xue membeku, memikirkan kata-katanya mungkin telah berpengaruh pada Qin Yinuo, pria itu takkan datang mengganggunya lagi. “Tidak tahu!”


“Benar-benar aneh sekali!” Cheng Cheng mengerutkan alisnya, “Kalau begitu aku pergi tulis PR dulu!”


“Ya! Masakan mami akan segera selesai juga!” Mu Xue menoleh melirik anaknya sekilas, tapi yang dipikirkannya malah Qin Yinuo, ia benar-benar tidak akan membawa Tian Yu datang lagi kah?


Cheng Cheng menyelesaikan PR-nya cepat sekali, lalu ia membuka komputer, sebelumnya ia sudah bertukar nomor telepon dengan Tian Yu, berjanji ke depannya akan mengobrol di internet.


“Tian Yu, apa kamu ada?”


Tak lama kemudian, ada balasan. “Ada!”


Tian Yu masih belum bisa mengetik aksara mandarin, maka ia hanya bisa menulis ejaan pinyin. Ia tidak seperti Cheng Cheng yang bisa mengenal begitu banyak huruf, dan lagi ia belum bisa mengetik huruf yang dikenalnya, tapi Cheng Cheng juga bisa mengerti maksudnya.


“Daddymu tidak di rumah kah?” Cheng Cheng paling ingin menanyakan ini, karena sudah lama sekali ia tidak bertemu dengan paman.


“Cheng Cheng, aku sangat ingin main ke rumahmu!”


“Lebih baik kita teleponan saja, kalau kamu mengetik pinyin mah capek sekali!” Cheng Cheng videocall padanya.


Tak lama, muncul wajah kecil Tian Yu, begitu melihat kedua anak itu langsung tertawa.


“Hei! Tian Yu, bisa dengar tidak?”


“Cheng Cheng!” Tian Yu malu sekali, ia duduk di depan komputer, telinganya memakai headset. “Kamu bilang daddyku suka pada mamimu?”


“Kamu tidak tanya padanya?”


“Tidak!” Tian Yu menggeleng, “Belakangan emosi daddy jelek sekali, kakek tidak membiarkannya pulang ke rumah!”


“Kenapa?”


“Tidak tahu, kakek tidak bilang!”


“Kalau begitu mah kakekmu terlalu galak! Malah tidak membiarkan anaknya sendiri pulang ke rumah!”


“Iya! Aku juga takut sekali sama kakek!” Tian Yu melirik sekilas ke luar pintu. “Sst, jangan sampai terdengar!”


“Hah! kamu sedang bilang yang jelek-jelek tentang kakekmu!”


“Jangan asal ngomong, nanti kakek bisa marah, aku tidak ingin membuatnya marah!” Tian Yu berkata.


“Ya! Kalau daddymu pulang ke rumah, jangan lupa suruh dia bawa kamu main ke rumahku!” Cheng Cheng memutar bola matanya, “Oh ya, mamiku juga rindu sekali padamu!”


“Benar kah? Tante benar-benar rindu padaku kah?” Tian Yu langsung bersemangat, meski ia malu sekali, tapi jelas-jelas ia jadi senang. “Aku juga kangen sekali sama tante.”


“Kalau begitu suruh daddymu bawa kamu kemari, mamiku sekarang sedang memasak!” Cheng Cheng terus menggodanya.


“Tapi daddy sepertinya lelah sekali, ah! Aku mendengar daddy pulang! Aku pergi melihatnya, nanti kita ngobrol lagi ya!” Tian Yu langsung memutus telepon.

__ADS_1


Cheng Cheng tertawa puas, ya, sedari awal sudah nampak sekali kalau paman suka pada mami, kalau ada paman yang seperti ini jadi daddy juga lumayan, setidaknya mami takkan kesepian lagi. Kalau bukan karena malam itu ia melihat paman memeluk mami, mungkin ia juga tidak akan menjodohkan paman dengan mami, setidaknya mereka cocok!–


“Daddy! Kapan kita bisa pergi ke rumah Cheng Cheng?” Begitu Tian Yu melihat Qin Yinuo, ia langsung bertanya.


Qin Yinuo merokok diam, anaknya begitu turun dari lantai atas malah menanyakan pertanyaan ini, kalimat ini membuat alisnya mengerut, langsung mengisap rokok dalam-dalam. “Tian Yu, belakangan ini daddy lelah sekali, kita lain kali baru pergi bisa?”


“Kalau begitu kapan?” Jelas-jelas Tian Yu sudah tidak sabaran.


“Ketika dadddy tidak sibuk!” Bahkan dirinya tidak bisa menata emosinya, sudah seminggu, setelah perjodohan itu, ia tidak lagi bertemu dengannya, kalau wanita itu membutuhkan hidup yang damai, maka itu tidak bisa terjadi! Karena kenal dengan Qin Yinuo, maka hidupnya takkan biasa-biasa saja.


“Baiklah, tapi aku rindu sekali sama tante!”


“Tante apa?” Tiba-tiba, sebuah suara galak terdengar.


Qin Yinuo tidak bergerak, sementara Tian Yu kagetnya sampai terlonjak sesaat, ia langsung memanggil: “Kakek!”


“Tante apa?” Qin Maoxiang mendengar percakapan mereka, untuk sesaat ia langsung merasa aneh, jangan-jangan anaknya sudah memiliki wanita yang disukainya? Dan masih mengenalkan cucunya pula?


Tian Yu menunduk, entah kenapa, ia agak takut sama kakek, rasanya kakek tidak terlalu suka padanya, karena begitu kakek melihatnya pun tidak tersenyum!


“Tian Yu, beritahu kakek!”


“Kakek, seorang tante yang cantik…”


“Tian Yu, naiklah ke lantai atas!” Qin Yinuo langsung menepuk bahu Tian Yu.


“Oh!” Tian Yu naik dengan penurut.


“Tante itu adalah alasanmu untuk menolak perjodohan ini? Apa identitasnya…?” Qin Maoxiang tak tahan untuk berteriak: “Kalau wanita seperti itu, tunggu ia mati dulu baru masuk ke rumah ini!”


“Sifat Tian Yu selemah ini, gara-gara teriakanmu yang menakutinya!” Qin Yinuo melirikinya sekilas. “Kalau kamu terus seperti ini, kupastikan aku akan keluar membawa putraku, kalau terus bersamamu, aku khawatir psikologi anakku tidak sehat!”


“Kamu si pembangkang!” Qin Maoxiang kesalnya sampai bergetar.


Qin Yinuo membungkam mulut, ia berdiri, tanpa berkata sepatah pun ia berjalan keluar.


“Aku mau tinggal di apartemen!” Qin Yinuo melirik sekilas pada tante Zhang, tatapannya tersimpan kelembutan, berkata pelan. “Aku tidak apa-apa!”


“Sudah selarut ini, sebaiknya jangan pergi!” Bibi Zhang khawatir ia tak bisa menjaga diri seorang diri. “Disana tak ada yang menjagamu!”


“Tak apa!” Qin Yinuo tersenyum. “Aku pergi dulu!”


“Daddy bilang sibuk sekali!” Tian Yu memberitahu informasi ini pada Cheng Cheng, lalu ia jadi sedih. “Kakek marah lagi!”


Cheng Cheng agak kecewa. “Baiklah, mamiku juga sudah menyuruhku untuk makan! Kita ke depannya baru ngobrol lagi!”


Qin Yinuo menyetir, ia berputar-putar di jalanan sendirian, tiba-tiba handphonenya berdering.


“Halo?”


“Nuo!” Terdengar suara wanita dari seberang, “Belakangan kamu baik-baik saja kah?”


Ini adalah suara Gao Siqi, Qin Yinuo mengerutkan alisnya. “Bukankah sudah kubilang, jangan mencariku lagi?”


“Tapi aku tak bisa melupakanmu!”


“Sayangnya aku sudah melupakanmu ke ujung dunia!” Selesai berkata, Qin Yinuo memutus teleponnya.


Tak terasa, mobilnya datang ke sebuah gang, bugatti yang mewah berhenti di depan gang, ia turun dari mobil, menyalakan rokok, di sebuah gang yang kosong, di bawah pancaran lampu, bayangannya jadi panjang sekali.


***


Sudah hampir dua minggu, namun Mu Xue belum juga menerima telepon dari tuan rubah, tiba-tiba ia agak gugup, entah kenapa hatinya takut sekali, ia takut orang itu menghilang tiba-tiba, dengan begitu, selamanya ia takkan bisa bertemu anaknya lagi.


Ia ragu lama sekali, akhirnya menekan nomor sang sopir. Tapi ia tidak berani menelepon, maka ia ragu, tapi akhirnya ia menelepon.


“Nona, apa ada yang bisa saya bantu?”

__ADS_1


“Tuan sopir, bisa kamu bantu aku hubungi dia sebentar?” Akhirnya ia berkata. “Atau kamu bisa memberitahuku nomor teleponnya, aku meneleponnya, bisa?”


“Nona, belum tentu bisa dihubungi, tapi aku coba dulu!” Sopir itu was-was sekali.


“Oh! Kalau begitu kutunggu teleponmu!” Setelah meletakkan hanpdhonenya, Mu Xue gugup sekali, ia tahu dirinya yang berinisiatif menelepon ini tindakannya berbahaya sekali, tapi ia takut orang itu menghilang.


Hari ini hari Kamis, Cheng Cheng tidak di rumah.


Mu Xue hanya merasa malam ini panjang sekali, begitu ia santai langsung kangen akan anaknya yang hanya bisa ditemuinya sekali, pikirannya kemana-mana, ia takut seumur hidup ini tak bisa bertemu dengannya.


Hari sudah mendingin, ia begulung di atas sofa.


Waktu penungguan adalah waktu terpanjang, setelah kira-kira lewat lima belas menit, handphonenya berdering, nadanya pendek dan tergesa-gesa, itu adalah sebuah pesan singkat dari nomor asing.


Mu Xue mengerutkan alisnya dengan curiga, lalu membuka isi pesan itu, ia melihat tulisan di atasnya: Dengar-dengar kamu mencariku?


Itukah dia?


Mu Xue tidak bisa memastikan, maka ia memutuskan untuk meneleponnya, tapi malah diputus, orang itu tidak menerimanya.


Kemudian sebuah pesan masuk lagi: Kalau ada apa-apa kirim saja lewat pesan singkat!


Ia tertegun, instingnya bilang ini adalah pesan dari dia, maka ia menarik nafas dalam-dalam, lalu menekan isi pesan– kapan aku bisa bertemu dengan anakku?


Ketika mengirim, ia menatapi layar handphonenya, ia menunggu balasannya dengan tidak tenang.


Setelah lama sekali, ketika ia mulai khawatir, handphonenya berdering, ia langsung membaca: Tunggu beberapa saat lagi.


Kemudian ia mengetik lagi: Sebenarnya kapan?


“Setelah bertemu bagaimana?”


Mu Xue melihat isi pesan tersebut, ia tertegun, benar juga, ia selalu ingin melihat anaknya, tapi bagaimana setelah bertemu? Memang ia bisa membawakan apa untuk anaknya?


Sudah lima tahun! Anaknya sudah besar, dalam lima tahun itu tak ada dirinya, ia ingat akna malam itu, pria itu mengangkat telepon dengan lembut, seolah ia memiliki istri, ia mencari orang untuk hamil akan anaknya apakah karena istrinya tak bisa melahirkan? Kalau tidak, mana bisa ia menerima anak yang dilahirkan wanita lain?


Lima tahun kemudian, tanpa peduli apapun ia menyetujui permintaan pria yang tak bermoral itu, ia ingin bertemu dengan anaknya, tapi tidak tahu apakah perbuatannya ini baik untuk anaknya!


“Aku tidak tahu! Tapi aku ingin bertemu dengannya!” Ia menjawab begitu.


Setelah ia mengirimkan pesan, ia langsung jatuh dalam kebingungan, ia menggulung dengan bingung, rasanya hatinya sedih bagai telah kosong.


Untuk sesaat kesedihan memenuhi hatinya, ia terisak, air mata mengalir menuruninya, kenapa hidup terus mempermainkan wanita lemah sepertinya?


“Bagaimana kalau kamu jadi wanitaku?” Setelah terdiam lama, pesan itu datang lagi.


Kalimat itu, kenapa terasa tidak asing, saking tidak asingnya membuat hati Mu Xue sakit!


Ia tertawa pahit, “Dalam kurun waktu?”


“Seumur hidup!”


Hatinya bergetar, waktu seumur hidup, bagai sebuah perjanjian, tapi sedari awal ia sudah terbiasa akan sebuah pertemuan dan perpisahan.


Sementara sekarang, begitu ia melihat kata-kata ini, hatinya ikut bergetar. “Asal dengan begitu aku baru bisa bertemu dengan anakku kah?”


“Kamu bisa menemani di sisinya!”


Hati Mu Xue langsung gugup, “Maksudmu aku bisa selalu berada di sisinya? Asal aku menyetujui permintaanmu? Asal aku menjadi kekasihmu, semudah itu?”


“Tidak ada status yang sah, hanya kekasih!”


“Aku bisa melihatmu tidak?” Entah kenapa, tiba-tiba ia ingin melihatnya, sangat sangat ingin.


“Kenapa ingin melihatku?”


“Memangnya kamu ingin memakai topeng seumur hidupmu?”

__ADS_1


__ADS_2