
Hello! Im an artic!
“Oh! Maaf paman, kau kelihatannya terlalu muda. Aku benar-benar tak menyangka kenapa kau bisa memiliki anak sebesar Xiao Xue!” Mi Ling menilai Pei Lingfeng untuk sesaat. Lima puluh tahun kah? Sepertinya belum?
Saat ini hati Wu Jingxuan kacau sekali. Bagaimanapun ia tak menyangka Xiao Xue adalah putrinya Pei Lingfeng, dan lagi tatapan Pei Lingfeng yang tajam membuatnya tidak nyaman.
Hello! Im an artic!
Wu Jingxuan berdiri di ruang tamu, menunduk menatap keramik lantai yang bersinar, diam sekali.
“Nona Mi sungguh pandai berbicara, aku ini sudah tua!” Pei Lingfeng tertawa sambil berkata, lalu menatap ke arah Wu Jingxuan, “Xiao Xue menunggu kalian di lantai atas!”
“Ya! Kami segera naik!” Mi Ling mengangguk, lalu melirik sekali lagi ke arah Du Jing.
Du Jing membawa Mi LIng naik, sementara Wu Jingxuan tidak bergerak. Ketika ia berjalan hampir mencapai ujung pojok lantai dua, Mi Ling menoleh melihat Wu Jingxuan, “Jing…hmph…”
Hello! Im an artic!
Belum sempat berkata-kata, mulutnya langsung ditutup. Sementara dirinya juga digendong keluar dari tangga ke tempat yang tak terlihat.
Dirinya langsung tertegun. Tangan yang menutupi mulutnya panas dan kuat sekali, tak perlu ditebak juga tahu kalau itu tangan Du Jing.
Ia langsung mendongak, tatapan mereka bertemu untuk sesaat. Kemudian ia mendenar, “Maaf, terpaksa!”
Wajahnya langsung memerah, mengulurkan tangan untuk menepis tangannya, tapi pria itu tetap tak melepaskannya, “Kau jangan sembarangan berteriak. Kupastikan akan langsung melepaskanmu!”
Mi Ling melototkan sepasang matanya dengan melongo menatap Du Jing, apa yang dilakukannya?
Melihat sepasang mata Mi Ling yang melototinya karena kaget, tiba-tiba Du Jing merasa ingin tertawa, maka perlahan ia melepaskannya, “Jangan kagetkan orang dibawah, Xiao Xue ada di kamar kedua!”
Mi Ling menoleh, namun dari sudut ini ia sudah tak lagi bisa melihat Wu Jingxuan.
Meski ia masih curiga, tapi pikirannya tak ada disana. Ia masih memikirkan bibirnya yang baru saja disentuh oleh Du Jing, wajahnya memerah luar biasa.
“Cepatlah pergi, maaf soal tadi!” Du Jing berkata dengan serius.
“Ada sesuatu yang tak boleh kau katakan kah? Untuk apa kau menutup mulutku?” Ia mengomel dan mendengus dingin, lalu berlari cepat ke arah kamar kedua. Tapi entah kenapa, kakinya terpelosok, dirinya jatuh ke arah depan, “Ah–Uh–”
Suara teriakan wanita yang melengking terdengar di sepanjang koridor, tak sakit? Sesaat kemudian, sepasang mata Mi Ling yang terpejam langsung mengerjap besar, sekarang barulah ia sadar dirinya sudah ada dalam sebuah pelukan. Bibirnya ditutup, rasanya intens sekali.
Du Jing mengulurkan tangan secara alami untuk menahan tubuh Mi LIng, melihat wajahnya yang penuh dengan ekspresi, ia tak berdaya, “Berhati-hati sedikit!”
“Terima kasih.” Setelah sesaat ia keluar dari pelukan Du Jing. Mi Ling tersenyum kaku, tatapannya jatuh pada wajah Du Jing yang dingin dan serius, dan ia segera berjalan ke arah kamar kedua.
Di dalam ruang tamu.
Wu Jingxuan berdiri di ruang tamu bagai anak kecil, setelah lama sekali barulah ia tersadar dan bergumam, “Aku, aku pergi melihat Xiao Xue!”
“Baik!” Pei Lingfeng mengerutkan alisnya. Wu Jingxuan tidak menanyakan apapun, meski tiba-tiba dirinya memiliki putri sebesar ini, ia juga tidak bertanya satu kalimat pun.
Wu Jingxuan menggigit bibirnya. Tanpa melirik pada Pei Lingfeng sedikit pun, ia berjalan ke lantai dua.
Pei Lingfeng tidak senang, hatinya kesal sekali. Dinginnya wanita ini, setelah bersamanya selama lima tahun, sekarang setelah bebas pun tak meliriknya sedikit pun. Wajah Pei Lingfeng semakin dingin, “Vila itu jadi milikmu sekarang. Kenapa kau tidak mau? Sekarang kau tinggal dimana?”
***
Suara pintu dibuka dan mereka melihat Mu Xue yang terbaring di atas ranjang. Di sisi kiri kanannya masing-masing ada satu anak yang duduk. Mereka tengah memijit kaki Mu Xue. Begitu melihat Mi LIng masuk, kedua anak itu menyapanya dengan senang.
“Halo Tante Mi Ling!”
“Halo Tante Mi Ling!”
“Halo anak-anak! Cheng Chengku! Xiao Xue, sebenarnya kau kenapa?” Kekhawatiran Mi Ling nyata sekali. Begitu Mu Xue melihatnya, matanya langsung memerah.
__ADS_1
“Mi Ling…”
Mi Ling langsung memeluknya, “Sudah sudah, yang penting kau baik-baik saja. Kenapa kau tidak memberitahuku sedari awal, bagaimana kalau tidak ada yang merawatmu?”
“Sudah tidak apa-apa!” Mu Xue menurunkan suaranya, “Sekarang diriku baik-baik saja!”
“Qin Yinuo itu benar-benar deh, bagaimana kejadiannya, dia itu ngapain saja sih?” Suara Mi Ling penuh dengan kemarahan, “Ia tahu tidak kau begini?”
“Daddy tahu dirinya salah!” Suara Tian Yu terdengar, melirik pada Mi Ling dengan penuh berhati-hati, “Tante Mi Ling, daddy tahu dia bersalah. Daddy ingin mami memaafkannya, tapi mami tidak ingin berbicara dengannya! Daddy kasihan sekali!”
“Daddymu kasihan?” Mi Ling mengerutkan alisnya, menatapi Tian Yu. “Yang sakit kan bukan dia, kasihan apaan. Kau anak kecil apakah karena sudah tinggal lama bersama ayahmu, sehingga kau membelanya?”
Tian Yu memanyunkan bibirnya, menunduk. “Bukan, aku kan mau daddy dan mami bersama. Agar kedepannya daddy tidak melakukan kesalahan lagi! Kata guru anak yang memperbaiki diri setelah tahu salah adalah anak baik. Daddy tahu dirinya bersalah, tapi mami masih tidak mau memaafkan daddy!”
Begitu Mu Xue mendengar kata-kata Tian Yu, hatinya sakit. Ia memiliki tubuh anaknya, tapi anak ini tumbuh bersama Qin Yinuo, tentu ia akan lebih dekat pada Qin Yinuo. Tapi ia senang juga anak ini bisa menyayangi anaknya, kedua anaknya ini baik sekali, pria kecil yang baik hati, “Tian Yu…sayang!”
Tian Yu juga memeluk Mu Xue, “Mami, Tian Yu kangen dengan daddy! Mama maafkan daddy, oke?”
“Kau ini merepotkan sekali!” Cheng Cheng si pengacau menghela nafas, “Tian Yu, kalau kau kangen dengan daddy, maka kau pulanglah ke rumah.Biar aku saja yang menjaga mami!”
Begitu Tian Yu mendengar dirinya diusir, ia langsung menutup mulutnya, berkata dengan sedih, “Aku tidak kangen daddy lagi, jangan usir aku!”
“Makanya, untuk apa merindukannya?” Mi Ling bertanya dengan kesal, “Ia sudah membuat mamimu sesedih ini. Jangan memikirkannya, sayang, pikirkan saja Tante Mi Ling. Sini, lihat wajah cantik Tante Mi Ling, cowok ganteng kecilku, harus ingat tante Mi Ling ya!”
“Tapi dia akan daddy. Aku ingat sama Tante Mi Ling, tapi Tante Mi Ling kan bukan daddy!” Keberanian Tian Yu semakin membesar.
“Kalau Tante Mi Ling itu laki-laki, maka akan jadi daddy kalian, sayang sekali bukan!” Mi Ling tertawa.
“Sudahlah, jangan kagetkan dia, Tian Yu itu pendiam anaknya!” Mu Xue memeluk Tian Yu dan menenangkannya.
Begitu Wu Jingxuan masuk ia melihat Mu Xue memeluk Tian Yu. Pemandangan hangat seperti itu membuatnya langsung mengelus perutnya. Kalau ada anak pasti bagus sekali, ia menginginkan seorang anak, ingin hidup bersama anaknya. Meski ia tidak menikah seumur hidup, tadi cukup jika ia memiliki anak yang menemaninya!
“Kak Wu?” Mu Xue menengadah, tak menyangka dirinya akan bertemu dengan Wu Jingxuan disini.
“Kenapa bisa ada disini?”
“Bertemu dengan Mi Ling!”
Tiba-tiba Mu Xue teringat akan memori di Jepang, ia melihat Pei Lingfeng menciumi Wu Jingxuan. Apa hubungan mereka? Untuk sesaat ia melongo.
Tapi di depan Mi Ling, akhirnya ia tak mengatakan apapun.
Wu Jingxuan dan Mi Ling hanya menenangkannya agar jangan sedih. Karena ia masih muda, pasti masih bisa punya anak.
Kemudian Wu Jingxuan berkata, “Xiao Xue, sebenarnya Qin Yinuo itu orangnya lumayan. Kau cukup menghukumnya sebentar saja, ada hal-hal yang jika terlewat maka akan terlewat selamanya!”
Ketika mengatakannya, terdengar suara ribut-ribut dari luar vila. Padahal sekarang sudah jam sebelas malam.
“Ada apa?” Mi Ling mengerutkan alisnya.
“Xiao Xue! Aku Qin Yinuo, aku ingin bertemu denganmu!” Terdengar suara teriakan Qin Yinuo dari luar.
“Ah! Kenapa ia datang?” Mu Xue juga tertegun.
“Ya, lumayan, setidaknya ia datang juga!” Mi Ling tertawa, “Kelihatannya ia tergila-gila. Aku pergi melihat Qin Yinuo yang tergila-gila, apa masih sama seperti sebelumnya, langsung menghabiskan tiga bungkus rokok sekaligus! Hahaha…”
Tiba-tiba terdengar suara tembakan.
Beberapa orang itu langsung tertegun, hati Mu Xue bergetar, ketakutan. “Mereka menembak, aku hendak pergi melihat!”
Saat ini Du Jing naik, berkata di depan pintu, “Paman bilang ia tidak akan benar-benar membunuhnya. Ia hanya menembak untuk menakut-nakutinya, agar ia pergi. Xiao Xue kau jangan turun!”
Mendengar kalau mereka hanya hendak menakut-nakuti Qin Yinuo, Mu Xue terduduk kembali.
__ADS_1
Wu Jingxuan menghela nafas sesaat dan menggeleng, “Qin Yinuo tidak seharusnya membuat Pei Lingfeng marah!”
“Aku mau pergi melihat daddy!” Tian Yu sudah berlari pergi.
“Aku juga mau pergi melihat!” Mi Ling menarik Cheng Cheng untuk turun.
Pei Lingfeng benar-benar menakut-nakuti orang menggunakan pistol. Mi Ling benar-benar mengidolakan Pei Lingfeng, ia turun dengan penuh semangat.
“Xiao Xue, aku masih akan datang untuk menemuimu. Rawatlah tubuhmu baik-baik, jaga diri ya!” Terdengar lagi suara Qin Yinuo. Saat ini barulah Mu Xue menghela nafas lega, membuktikan dirinya tidak kenapa-kenapa.
Wu Jingxuan tertawa, “Dia benar-benar tergila-gila!”
“Kak Wu!” Mu Xue meneriakinya sesaat.
“Ya?”
“Kau dengan Pei Lingfeng?” Akhirnya ia bertanya.
“Dia itu ayahmu!” Wu Jingxuan berkata sambil tertawa.
“Aku tahu. Meski aku kaget sekali tiba-tiba memiliki ayah kandung, tapi aku tahu dia tidak berbohong. Kakak Wu, hubunganmu dengannya apa?”
“Aku sudah tidak lagi berhubungan dengannya!” Wu Jingxuan berkata pelan, ekspresinya datar. Ya, mereka tidak lagi berhubungan, “Xiao Xue, rawat tubuhmu baik-baik. Jangan terlalu lelah!”
“Ya!” Meski Mu Xue masih curiga, tapi ia tidak bisa mengatakan apapun, “Kakak Wu, wajahmu kelihatannya tak terlalu sehat. Apakah karena kecapekan?”
Wu Jingxuan tertawa, “Ya, belakangan ini agak lelah, kupikir sudah seharusnya kau beristirahat! Beristirahatlah sebentar baru pergi kerja lagi.”
“Xiao Xue, aku takkan menyerah!” Terdengar suara Qin Yinuo lagi.
Mu Xue dan Wu Jingxuan tertegun.
Wu Jingxuan melihat keluar jendela, “Mau lihat sebentar?”
Mu Xue turun dari ranjang dan berjalan ke samping jendela. Ia melihat ke taman bawah. Di bawah pancaran lampu, Qin Yinuo tengah berdiri dan melihat ke arah lantai dua, kemudian berteriak, “Xiao Xue, aku sudah bilang kalau aku tidak akan menyerah. Aku akan membuatmu memaafkanku!”
Mu Xue berdiri di samping jendela dan melihat sosok besar itu di lantai bawah. Ia menghela nafas tanpa suara.
“Tidak turun kah?” Wu Jingxuan bertanya.
“Tidak!” Mu Xue menggeleng.
Wu Jingxuan tidak mengatakan apapun lagi. Ia hanya mengkhawatirkan Qin Yinuo. Kelihatannya kalau Qin Yinuo ingin mendapatkan maaf masih membutuhkan perjalanan yang panjang.
***
Dua puluh lima hari kemudian.
Sudah hampir natal, dan Mu Xue sudah tinggal di rumah keluarga Pei selama sebulan. Cheng Cheng dan Tian Yu setiap harinya juga tinggal di rumah keluarga Pei. Qin Yinuo biasanya akan datang, tapi setiap kali ia datang akan langsung diusir oleh satpam.
Setiap hari mereka bisa melihat Qin Yinuo. Mu Xue rasa waktu berjalan dengan cepat sekali, setiap hari ia menerima pesan darinya.
Ia akan berkata, “Xiao Xue, aku rindu sekali padamu!”
“Xiao Xue, aku benar-benar tak bisa hidup tanpamu!”
“Xiao Xue, aku sudah hampir gila!”
“Xiao Xue, jangan sentuh air dingin, jangan berdiri di samping jendela, jangan marah. Wanita perlu merawat tubuhnya setelah keguguran, aku ingin sekali menemani di sisimu! Berikanlah aku satu kesempatan lagi, tolong beritahu bapak mertua untuk jangan mengusirku lagi, oke?”
“Kalau kau tidak mau bertemu denganku lagi aku benar-benar bisa menggila. Kumohon, bertemu denganku sekali saja, oke? Sekali saja, boleh kah? Kumohon!”
“Xiao Xue, balaslah pesanku!”
__ADS_1