AYAH, MAAFKAN AKU

AYAH, MAAFKAN AKU
Bab 360 Mengikat Rambut


__ADS_3

Hello! Im an artic!


Dalam keadaan setengah sadar, wanita itu hendak menarik kembali tangannya. Tanpa diduga, bagian pinggangnya semakin erat, aroma nafas pria itu tercium.


Hati Song Yin terkejut, rupanya pria itu sudah terbangun!


Hello! Im an artic!


Seketika matanya yang besar menatap wajah tampan Yu Jinglan yang baru membuka matanya, dirinya yang baru tersadar masih tampak mengantuk, namun sama sekali tidak mengurangi pesonanya walaupun sedikit menambah kesan malas pria itu.


Mata yang Yu Jinglan dengan alisnya yang tajam, bibirnya yang tipis sedikit mengkerut, matanya yang sebening es menatap Song Yin sejenak.


Song Yin larut dalam lamuannya sesaat, lalu dia mengerjapkan mata dan buru-buru berusaha melepaskan pelukan hangat itu.


“Pembohong kecil, mau lari kemana?” senyum jahat menghiasi bibir Yu Jinglan , lalu menghampiri dan menciumi bibir wanita itu.


Hello! Im an artic!


Song Yin terkesiap, “Tidak mau…”


Tetapi ciuman itu tetap menghampirinya.


Begitu lemah lembut, menyerangnya tanpa henti.


Sesaat kepala wanita itu terasa pusing dan tenaganya hilang entah kemana. Wajahnya merona, nafasnya memburu. Pria itu mengulurkan tangannya dan berkata dengan parau, “Selamat pagi.”


Pria itu berkata sambil mengecup kening wanita itu baru setelah itu dilepasnya.


Mata Song Yin melebar. Pria itu telah beranjak dan berjalan ke arah kamar mandi. Melihat siluet tubuh besar pria itu memasuki kamar mandi, wanita itu mengusap bibirnya sendiri. Bibir yang bengkak karena ciuman tadi. Wajahnya bersemu merah.


Setelah tidur semalaman, tubuhnya yang terkena demam sudah terasa jauh lebih baik. Akhirnya dia dapat mandi. Yu Jinglan memperingatkannya berkali-kali agar mandi air panas dan segera keluar setelah mandi.


Wanita itu melangkah keluar dengan handuk membalut rambutnya. Di ambang pintu pria itu sudah bersiap dengan pengering rambut di tangan “Kamu sedang apa?” tanyanya kaget.


“Mengeringkan rambutmu. Jika tidak nanti masuk angin dan demam lagi.” Yu Jinglan membawanya ke depan meja rias dan membantunya mengeringkan rambut.


Song Yin tidak tenang tiba-tiba mendapat perlakuan seperti itu. “Aku bisa sendiri.”


“Jangan bergerak!” Yu Jinglan segera menghentikannya. “Biarkan suamimu mengikat rambut ini.” Mengikat rambut?!

__ADS_1


Mengikat rambut, apakah rambut ini dapat ditukar dengan sebuah hiasan rambut? Mengikat perasaan mereka yang mendalam, sehidup semati berdua, Song Yin menghela nafas dalam hatinya, seumur hidup seorang wanita apakah sanggup menemukan seorang pria yang bersedia mengikat rambutnya? Seumur hidup tidak terpisahkan, sampai tua, yang tidak akan pernah mengeluh, tak peduli masih hidup ataupun sudah mati. Seperti saat berjanji di hadapan pastur, tidak peduli hidup atau mati, susah maupun sakit, tidak terpisahkan dan saling mengasihi?


Wanita itu sudah tidak sanggup lagi. Mencintai, bukankah itu artinya harus menerima semua ketidak adilan itu?


Pengering rambut dicolokkan ke listrik, suara angin menderu dari pengering itu menutupi pikiran Song Yin. Dia menunduk tak berbicara, hingga akhirnya, dia menengadah dan menatap pria itu, ada senyum lembut di wajahnya yang menawan. Dia mengeringkan rambut wanita itu dengan serius.


Setelah rambutnya kering, mesin pengering dimatikan. “Kita jenguk Mu Xue?”tanya wanita itu


Setelah sarapan Yu Jinglan membawa Song Yin ke rumah sakit.


Mereka berdua melangkah perlahan saat turun dari mobil.


Tangan mungil Song Yin terayun di sisinya, tiba-tiba dirasanya tangannya sedang digenggam pria itu. Sepuluh jari mereka saling menggenggam, begitu intim, panas di telapak tangan pria itu semakin terasa, seiring itu hati wanita itu menghangat. Diliriknya pria itu, dan ternyata pria itu juga sedang menatapnya. “Hari ini kita mulai berpacaran. Hari pertama, jangan melamun.” Kata pria itu perlahan.Wanita itu kaget dan tertegun sesaat.


Pria itu tertawa dan menggandengnya berjalan ke arah bangsal kelas satu.


Song Yin mengikuti sambil menunduk, memandangi tangan mereka yang saling bertaut, apakah ini rasanya berpacaran? Di dalam lift, sebelah tangannya menggandengnya, tangan satunya memeganginya, tidak ingin orang lain berhimpitan dengan wanita itu, posturnya canggung namun sangat hangat.


Kamar pasien di pagi hari sangat sepi, kamar-kamar pasien telah dibersihkan petugas kebersihan pagi-pagi sekali.


Seiring dengan sinar matahari pagi yang menyingsing, Mu Xue akhirnya mulai membuka matanya. “Xue Er? Kamu sudah siuman?” Gongben Yinan memanggilnya dengan suara rendah, suaranya terdengar tegang namun ada nada gembira di dalamnya. Matanya tampak memerah, tanda dirinya terjaga sepanjang malam. Dia menjaga Mu Xue sepanjang malam tanpa tidur sedikitpun.


Wanita itu mengira, kali ini apapun yang terjadi dia akan mati. Akan tetapi dia tidak akan seberuntung sebelumnya. Mengapa dirinya yang begitu berharap mati tidak kunjung mati? Apakah mati saja begitu sulit?


Dia tidak ingin berkata apapun, dia hanya memalingkan wajahnya, air matanya menggenang di pelupuk mata, dan perlahan mengalir jatuh.


“Xue Er!!!” Gongben Yinan dapat melihat kesedihan di mata wanita itu, ekspresi pria itu tampak kesal, dia menarik bahu wanita itu dan membalik badannya. Matanya berkilat-kilat marah. “Sebenarnya apa yang kau inginkan?”


“Aku tidak mau melihatmu!” kata Mu Xue dengan dingin memotong perkataan Gongben Yinan. “Aku tidak ingin melihatmu lagi!”


“Kamu lapar?” Tanpa mempedulikan nadanya dingin, Gongben Yinan tetap melanjtukan. “Biar aku suruh seseorang mengantarkan makanan untukmu.”


“Tidak butuh!” jawabnya datar. Memang wanita itu tidak ingin berurusan dengan pria itu. Pergelangannya terbalut kain tebal dan dipasangi selang infus, tatapannya melayang melihat cairan infus yang menetes. Sorot matanya menyorotkan kesedihannya dalam diam.


Gongben Yinan tidak tahan dengan sikap wanita itu yang seolah merendahkannya.


Pria itu menarik tubuh wanita itu ke dalam pelukannya. Sepasang matanya yang tajam menatap mata yang penuh sorot kesedihan itu. “Mu Xue, kamu sungguh tak berperasaan, kamu begitu ingin meninggalkanku? Bahkan kau tidak memikirkan Nian Nian? Apakah kau masih pantas disebut wanita? Pantas disebut ibu? Wanita sepertimu apakah layak disebut seorang ibu?”


“Aku tidak layak. Aku memang tidak ingin melahirkannya, kau memperkosaku!” Mu Xue meraung dengan suara rendah. Suaranya bergetar.

__ADS_1


“Aku memperkosa?” wajah Gongben Yinan menjadi suram. Suaranya dingin menusuk tulang, dengan suara dingin dia berkata: “Kamu ternyata menganggap malam itu sebagai aku memperkosamu! Mu Xue, kau berani bilang malam itu kau tidak terbawa perasaan? Kau tidak larut? Kau menghindar selama enam tahun, kau mengira dengan begitu Yu Jinglan akan menganggapmu? Kau hanya bisa ada di sisiku, jika kau tidak menghindar, aku tidak akan seperti ini! Kau, yang memaksaku jadi sedingin ini. Dirimu yang memaksaku hingga aku seperti ini.


“Keluar!” Mu Xue yang mendengar kata-katanya menjadi malu dan marah. “Tidak peduli apa katamu, aku tidak mencintaimu, dari awal aku tidak pernah. Aku ingin berpisah, tidak peduli walau harus mati. Aku ingin berpisah!”


“Mu Xue, kau ingin membuatku marah baru kau puaskan?” Gongben Yinan menarik dagu wanita itu, dan meraung marah, tangannya bergetar. Suatu perasaan kehilangan yang amat sangat. Mengapa wanita itu tidak dapat melihat kesungguhan hatinya. Pria itu hanya mencintainya.


Cinta.


Apakah itu salah?


“Gongben Yinan, kau takut?” Mu Xue berkata dengan marah dan meraung dengan suara dingin: “Aku tidak mencintaimu. Tidak cinta! Sampai matipun tidak!


“Aku tahu!” Katanya. Suaranya memelan, nyaris tak terdengar. Otot wajahnya menegang. Dalam sorot matanya yang dingin tampak kebencian. Darah seolah menghilang dari wajahnya. “Aku tahu kau tidak pernah mencintaiku. Hanya aku saja yang terus mencintai!”


Mu Xue terkejut dengan suara Gongben Yinan yang merendah. Air mata tak tertahan mengalir dari matanya: “Gongben Yinan, biarkan aku pergi, aku tidak mungkin menyukaimu. Sekarang kau memaksaku begini, menyiksaku, aku seperti tubuh tanpa jiwa, menyiksa wanita yang tidak akan pernah mencintaimu. Apa artinya bagimu?”


“Kau pikir aku peduli? Mu Xue, kamu ternyata berani mengacuhkanku! Aku memang tidak mendapatkan hatimu, namun aku tetap menahanmu di sisiku. Tidak akan berpisah selamanya!” Tiba-tiba pria itu naik ke tempat tidur, membalik wanita itu dan menindihnya, membuka pakaian wanita itu dengan paksa, sembari menggigiti kulitnya. Melihat wanita yang tersiksa dan kacau itu, pria itu tersenyum, senyum jahat yang seakan haus darah dan memiliki, yang mebuatnya menjadi gila. Seolah akan melahap wanita itu!


Tiba-tiba terdengar suara ketukan di pintu, menghentikan perbuatan Gongben Yinan, dia berhenti, mengerutkan alisnya dan turun dari tempat tidur.


Mu Xue bernafas lega, dia menggigiti bibir bawahnya dan menahan air mata. Setan ini, selamanya dia tidak akan mencintai setan ini. Yang dicintainyanya hanya Lan yang lembut dan penuh perasaan. Pintu terbuka, Yu Jinglan dan Song Yin melangkah masuk.


Melihat Yu Jinglan , air mata Mu Xue mengalur, “Lan ….” katanya.


Yu Jinglan tidak berjalan terlalu dekat, tangannya mengenggam erat tangan Song Yin, berdiri di depan tempat tidurnya dan berkata: “Mu Xue, kau ingin aku berkata apa? Kau sungguh egois.”


Mu Xue tertegun, dia diam dan menangis, kesadarannya terguncang dan menatap Yu Jinglan , Yu Jinglan megatainya egois?


“Kamu boleh tidak mengingkan orang lain, tetapi mengapa kau tega dengan anakmu yang baru lima tahun? Kau tidak kasihan padanya? Anak yang lucu, sejak lahir kasih sayang dari ayahnya kau rampas, sekarang kasih dari ibunya juga. Kau sungguh egois! Kau orang paling berdarah dingin yang kukenal di bumi ini. Wanita paling egois!” suara Yu Jinglan terdengar hangat namun ada nada dingin disana. Karena dia sungguh tidak pantas mengesampingkan Nian Nian anaknya.


“Aku egois? Aku egois!” Mu Xue tidak menyangkaYu Jinglan akan mengatainya seperti itu, apalagi disaat dirinya baru siuman, akhirnya dia melihat tangan pria itu yang mengenggam erat tangan Song Yin, sorot matanya meredup dan air matanya menetes.


Song Yin yang melihatnya menangis dengan sedihnya, membuatnya dapat merasakan apa yang dirasakan wanita itu dan Gongben Yinan yang masih merah matanya dan duduk di pinggir tempat tidur.


Yu Jinglan yang melihat air mata Mu Xue meleleh pun tidak melembutkan suaranya, “Ibu yang tidak mengesampingkan anaknya bukankan ibu yang egois? Tiap kali hanya memikirkan bunuh diri dan membiarkan anaknya, hanya untuk hatimu yang tersakiti? Kau tidak merasa dirimu egois? Memang pria ini juga bersalah, dia tidak pantas seperti itu padamu. Tapi apakah kau pernah berusaha? Mengapa kau tak berusaha membuatnya baik padamu dan bukan malah berbuat begini terhadapnya? Mu Xue, kau ingin hidup yang seperti apa lagi?”


Mendengar itu, air matanya semakin mengalir deras. Dia menggeleng dengan keras, wajahnya tampak sedih dan menuntut keadilan. “Aku egois? Sangat egois? Lan…”


Wanita itu terus mengejar jawaban atas pertanyaan yang sama, seolah bertanya pada orang lain, lalu menanyai dirinya sendiri. Dalam benaknya terlintas wajah mungil Nian Nian, anaknya, dia sudah banyak berhutang pada anaknya itu.

__ADS_1


Gongben Yinan berdiri di ujung tempat tidur, tak bergeming. Ditatapnya wanita yang terbaring di atas tempat tidur itu. Pria itu bertanya-tanya dalam diri, apa yang dicintainya dari wanita itu? Sifatnya? Kecantikannya? Atau hal lain? Apakah dia tidak salah mencintai?!


__ADS_2