AYAH, MAAFKAN AKU

AYAH, MAAFKAN AKU
Bab 146 Keluarga yang Paling Penting


__ADS_3

Hello! Im an artic!


Ketika Qin Yinuo kembali ke ruang perawatan, di dalamnya hanya tersisa Qin Maoxiang seorang.


“Ayah, dimana Xiao Xue?” Qin Yinuo sudah mandi dan berganti baju, sekarang ia kelihatannya jauh lebih segar. Tapi begitu ia masuk ke ruang perawatan, Xiao Xue sudah menghilang!


Hello! Im an artic!


Qin Maoxiang duduk di atas sofa dalam ruang ini, agak murung.


Melihat anaknya yang telah datang, ia menghela nafas lega, “Sudah diculik!”


“Diculik?” Qin Yinuo kaget, “Siapa yang menculik Xiao Xue?”


“Ayahnya!” Qin Maoxiang belum pernah orang yang sesembrono itu, begitu tahu dari dokter kalau Xiao Xue sudah boleh keluar dari rumah sakit, langsung membawanya pergi. “Yinuo, cepatlah pulang dan sembunyikan Cheng Cheng serta Tian Yu. Pei Lingfeng sudah bilang akan membawa pergi mereka. Sialan, cepat pulang!”


Hello! Im an artic!


“Ayah! Sebenarnya ada apa?” Qin Yinuo kebingungan setengah mati.


Qin Maoxiang menceritakan kalau Pei Lingfeng adalah ayah kandung Xiao Xue, lalu ia berkata, “Cepatlah. Xiao Xue kalau bersamanya takkan kenapa-kenapa, ia hanya marah kalau kau tidak menjaga putrinya baik-baik, membuat Xiao Xue menderita. Katanya ia tidak akan membiarkanmu bertemu dengannya lagi, sekarang kau cepat sembunyikan anak-anak, dengan begitu Xiao Xue akan mencarimu dengan sendirinya!”


“Baik, ayah! Kita segera pulang ke rumah!” Qin Yinuo juga jadi khawatir, hanya bisa mendengar perintah ayahnya.


Tapi begitu ayah dan anak itu masih ada di dalam mobil, mereka sudah menerima telepon dari Bibi Zhang, “Tuan, barusan ada segerombol orang yang menerobos masuk. Mereka punya pistol, langsung membawa Tian Yu dan Cheng Cheng pergi. Kita harus bagaimana?”


Qin Maoxiang langsung melongo, “Sialan!”


“Tuan, ini semua salahku. Aku sepatutnya mati! Tidak seharusnya aku membawa anak-anak pulang ke rumah!” Bibi Zhang mulai menangis, “Aku ingin melapor polisi, tapi takut mereka akan menembak!”


“Bibi Zhang, aku bukannya memarahimu. Kau tak usah khawatir, itu adalah kakeknya Tianyu, tidak akan kenapa-kenapa! Anak-anak aman!” Qin Maoxiang menenangkannya.


Qin Yinuo langsung tertegun, “Kenapa ia bisa berbuat begitu?”


“Nak, memang kau masih mau melawannya? Dia itu ayah kandung Xiao Xue. Kedepannya kalau kalian bertengkar, dia semakin tidak akan mengizinkan Xiao Xue untuk menikahimu. Benar-benar bikin kesal, kenapa Xiao Xue bisa jadi anaknya Pei Lingfeng? Preman tua itu ternyata punya putri sehebat ini!” Qin Maoxiang menghela nafas panjang, lalu mulai menelepon pada Pei Lingfeng.


Di seberang telepon, terdengar suara tawa puas Pei Lingfeng. “Qin, kedua cucu baikku sudah sampai di rumah. Kuberitahu kau dengan berbaik hati, kedepannya Tian Yu dan Cheng Cheng akan bermarga Pei mengikutiku. Kedepannya anggota keluarga Pei takkan berhubungan lagi dengan keluarga Qin!”


“Pei Lingfeng, kau ini perampok!” Begitu Qin Maoxiang mendengar marga cucunya akan diganti, ia langsung marah.


“Kalau kurampok memangnya kenapa?” Pei Lingfeng semakin bertindak semaunya, “Ini adalah hakku yang legal untuk melindungi putriku. Tian Yu sudah bersama kalian selama lima tahun. Putriku sudah menderita bertahun-tahun untuk mencari putranya. Si Qin Yinuo sialan itu mempermainkannya, heh, kedepannya jangan berharap kalian bisa bertemu dengan putri serta cucuku!”


“Hei! Pei Lingfeng, Xiao Xue dan Yinuo itu sama-sama memiliki perasaan. Bagaimana bisa kau memisahkan mereka, kalau ada masalah ya diskusikan!” Begitu Qin Maoxiang mendengar cucunya akan dibawa pergi, ia langsung gugup, terpaksa menurunkan nadanya untuk berdiskusi dengan Pei Lingfeng.


“Diskusi apaan, tidak perlu diskusi!” Pei Lingfeng tertawa, puas sekali, “Ha…tak kusangka diriku langsung punya banyak sekali keluarga, benar-benar menyenangkan!”


Qin Maoxiang mengerutkan alisnya, meletakkan handphone di sebelah untuk dijauhkan dari telinganya. Ia tidak ingin mendengar suara tawa puas Pei Lingfeng, ia tidak lupa tadi ketika orang itu memerintahkan orang untuk membawa Xiao Xue pergi itu seberapa bergengsi.


Mendengarnya, Qin Maoxiang langsung marah, “Pei Lingfeng, sehebat apapun dirimu, Tian Yu hanya akan memanggilmu sebagai kakek luar[. ], akulah sang kakek sejati. Meski ia mengikuti margamu, tapi ia hanya akan memanggilmu kakek luar, kami barulah keluarga yang sebenarnya!”


“Sialan!” Pei Lingfeng yang awalnya puas jadi mengerutkan wajahnya, “Heh, akan kusuruh Tian Yu dan Cheng Cheng untuk memanggilku kakek dan memanggilmu sebagai kakek luar! Hahaha…sini Cheng Cheng, panggil kakek!”

__ADS_1


Mendengarnya, wajah Qin Maoxiang hampir berubah jadi hijau!


“Ayah! Cepat tanya bagaimana keadaan Xiao Xue?” Qin Yinuo mengkhawatirkan kesehatan Xiao Xue.


“Pei Lingfeng, aku tidak ingin ribut denganmu. Anakku bertanya akan keadaan Xiao Xue, kau tidak membuatnya sakit kan? Tubuhnya butuh dirawat, kau tahu?”


“Heh! Anakmu? Atas dasar apa kuberitahukan keadaan Xiao Xue padamu, beritahu anakmu untuk pergi mati!” Pei Lingfeng memutuskan teleponnya.


Begitu teleponnya diputus, kedua ayah dan anak ini wajahnya jadi muram.


“Ayah! Aku pergi mencari Xiao Xue!” Qin Yinuo kebingungan.


“Pulang ke rumah dulu, selesai istirahat baru pergi! Sekarang Pei Lingfeng sedang emosi, kalau kau pergi begitu saja ia pasti makin emosi, takutnya kalau pergi juga sia-sia!”


“Tapi…”


“Jangan tapi-tapian, pulang dulu ke rumah!” Qin Maoxiang berkata dengan dingin, “Kalau tahu ada hari seperti ini, apa yang kau lakukan sebelumnya?”


**


“Cucu baik, cepat panggil kakek!” Pei Lingfeng tengah menenangkan kedua anak itu di dalam ruang tamunya.


Kedua anak itu imut sekali. Dalam sekejap langsung punya dua cucu, Pei Lingfeng senang sekali semalaman.


Tapi begitu teringat akan Xiao Xue yang keguguran, ia telah kehilangan satu cucu lainnya, hatinya masih tetap sakit. Ini adalah kelemahan para lansia, setelah tertawa ia langsung merasa sedih! Tapi mau bagaimanapun ia tetap senang, karena di depannya sudah ada dua anak imut ini.


“Cheng Cheng, Tian Yu, cepat panggil kakek!”


“Hahaha…anak jelek, kakek senang sekali!” Pei Lingfeng mencubit wajah Cheng Cheng, ia suka anak yang tidak takut apapun.


Du Jing kembali untuk memberitahunya kalau gerombolannya menengadahkan pistol ke arah Bibi Zhang, maka Cheng Cheng bertanya dengan penasaran, “Paman Du, pistol itu asli ya? Bisa digunakan untuk menembak burung?”


Beberapa orang itu kaget sekali, akhirnya Du Jing menenangkan diri dan tersenyum padanya, sepanjang perjalanan pulang terus menggendongnya, sementara anak kecil itu terus mencari pistol di tubuhnya, terus bertanya, “Paman, dimana pistolnya? Pistol? Pinjam untuk kumainkan sebentar, oke?”


Dengar-dengar Tian Yu kagetnya sampai tidak bisa berbicara, tapi ia tidak menangis. Karena Cheng Cheng berkata, “Tian Yu, jangan takut. Paman ini kenal dengan mami, mereka membawa kita untuk bermain petak umpet dengan Kakek dan Paman Qin!”


Pei Linfeng menggendong Tian Yu lagi, katanya ini adalah anak kandung Xiao Xue. Ia melihat wajahnya, memang mirip. Tapi sepertinya Cheng Cheng lebih mirip dengan Xiao Xue. Tapi biarkanlah, ia suka keduanya, kedua anak ini adalah cucunya. Tak peduli apakah cucu kandung atau cucu yang dipungut.


Sebenarnya Tian Yu gugup dan malu, tapi begitu melihat Pei Lingfeng yang senang sekali, ia juga tidak takut lagi.


Pei Lingfeng bertanya, “Tian Yu, takut sama kakek tidak?”


Tian Yu mengerjapkan mata besarnya, menatapi mata besar Pei Lingfeng. Maka ia langsung merasa dekat, “Tidak takut!”


“Kalian bermain lah, aku naik untuk melihat mami!” Begitu Cheng Cheng tiba ia langsung ditahan oleh Pei Lingfeng, sampai sekarang mereka hanya tahu mami sedang beristirahat di lantai dua, ia agak khawatir.


“Aku jug amua pergi, kakak tunggu aku!” Tian Yu hendak melepaskan diri dari Pei Lingfeng. “Kakak, bukannya mami ada di rumah sakit ya? Kenapa bisa disini?”


Cheng Cheng memutar bola matanya, melirik sekilas pada Pei Lingfeng yang tertawa puas, berkata, “Kalau aku tidak salah tebak, mami pasti diculik kesini! Orang lain menodong pistol pada kakekmu, maka kakekmu pasti juga tidak punya cara lain lagi!”


“Anak kecil, aku bukan orang lain, aku ini kakek luar kalian!” Begitu Pei Lingfeng mendengar kata ‘Orang lain”, ia langsung tidak senang, “Anak baik, panggil kakek!”

__ADS_1


“Kakek, mamiku sudah memanggilmu ayah belum?” Cheng Cheng mengerutkan alisnya, menunjukkan kalau maminya tidak memanggilnya ayah, ia juga tidak akan memanggilnya kakek, dan lagi Tian Yu juga tidak boleh memanggil kakek.


Pei Lingfeng tertegun, memang tidak, tapi cepat atau lambat mereka juga harus memanggilnya begitu, “Yang penting aku ini kakek kalian!”


“Kapan mami memanggilmu papa, barulah kami memanggilmu kakek.” Cheng Cheng menggandeng tangan Tian Yu, “Tian Yu, tahu tidak?”


“Tahu!” Tian Yu mengangguk dengan serius, “Kakak, ayahnya mami punya pistol loh. Mami suka tidak pada kakek yang punya pistol?”


“Kita pergi melihat mami! Kau sendiri langsung tanya pada mami saja!”Cheng Cheng seolah teringat akan sesuatu dan berkata pada Tian Yu, “Kau naik duluan.”


Tian Yu mencari Mu Xue dengan menurut.


Cheng Cheng berdiri di tangga, menatapi Pei Lingfeng sambil mengerutkan alisnya. “Kakek, kau yang merebut mami ya?”


Pei Lingfeng tertegun, ia agak kaku. Kata “merebut” ini kedengarannya tidak nyaman. “Apanya yang merebut, tak enak didengar. Kata dokter mamimu sudah boleh keluar dari rumah sakit, maka aku menjemputnya pulang. Dia itu putriku, tentu aku hendak menjemputnya pulang.”


“Kakek, mamiku benar-benar putrimu kah?”


“Memangnya bohong?” Pei Lingfeng mengerutkan alisnya.


Cheng Cheng mengangguk, seolah memikirkan sesuatu. Setelah sesaat ia berkata lagi, “Kalau kakek menjemput mami pulang jangan biarkan Paman Qin bertemu dengan mami ya!”


“Apa? Jangan-jangan kau juga tidak suka pada Qin Yinuo?” Pei Lingfeng menggendong Cheng Cheng bagai telah menemukan sahabatnya sendiri, “Cucu baik, beritahu kakek!”


“Sebenarnya suka, tapi dia tidak melindungi mami baik-baik, sekarang aku tidak suka lagi padanya!” Tatapan Cheng Cheng setara dengan Pei Lingfeng, “Aku ingin mencarikan suami yang bisa melindungi mami!”


“Eh, keinginan yang luar biasa!” Pei Lingfeng tertawa licik, tatapannya yang tajam jatuh pada Du Jing yang baru masuk dari pintu, lalu ia berbisik pada Cheng Cheng, “Lihat tidak, bagaimana dengan Paman Du? Dia bisa menembak, tidak suka pada wanita, kupastikan ia hanya akan menyayangi putriku seorang, bagaimana? Bagaimana kalau ia menjadi ayahmu?”


“Aku sih tidak masalah, tapi sepertinya mami tidak ingin mencarikan ayah tiri untuk Tian Yu!”


“Kenapa?”


“Karena mami suka sama Paman Qin!” Cheng Cheng memutar bola matanya, ia hanya ingin membuat Paman Qin khawatir, menghukumnya untuk tidak bisa bertemu dengan mami. Tapi tak disangka kakek malah serius, “Kakek ini bodoh sekali, pikiran kita berbeda, aku mau pergi melihat mami!”


“Pikiran berbeda? Tentu saja, aku ini orang yang sudah hampir lima puluh tahun usianya, tentu berbeda dengan kau yang baru lima tahun, kalau sama sih akan ditertawakan orang!”


“Kakek yang terlalu bodoh, kepintarannya masih tak sebanding dengan anak usia lima tahun!” Cheng Cheng menggeleng tanpa daya, “Kakek benar-benar ayahnya mami?”


“Kau curiga?”


“Sedikit!” Cheng Cheng meluncur turun dari pelukannya, “Kakek, kalau benar, jangan biarkan Paman Qin bertemu dengan mami ya!”


“Tahu! Anak jelek, malah berani mengaturku!” Pei Lingfeng tertawa, sama sekali tidak marah, menatapi sosok kecil itu menghilang di sudut tangga, menggeleng sembari tertawa.


Ketika Du Jing mencapai tangga, “Paman!”


“Ya?” Pei Lingfeng mengerutkan alisnya, “Bagaimana?”


“Ia tak membawa apapun, hanya membawa benda-benda lima tahun lalu!” Du Jing berkata, “Paman, sudah lima tahun, terlihat jelas kau suka sekali pada Nona Wu, benar-benar mau lepas tangan begitu saja?”


Pei Lingfeng tertegun, ekspresinya agak aneh, “Hah, Du Jing. Aku sudah lewat dari usia jatuh cinta. Usiaku sudah tua, aku hanya memikirkan keluargaku!”

__ADS_1


__ADS_2