
Hello! Im an artic!
Tapi ketika ia berada di sini, tiba-tiba Mu Xue merasa dirinya tidak bisa memasak lagi. Setelah ia sibuk-sibuk sebentar, minyak di panci sudah panas, tapi ia lupa menyalakan alat penyedot asap, lupa kalau sayurnya belum dicincang. Qin Yinuo segera membantunya mematikan kompor. “Hati-hati, hampir kebakaran tahu!”
Mu Xue juga akhirnya tersadar, “Kamu keluarlah, aku bisa sendiri!”
Hello! Im an artic!
Karena keberadaannya, Mu Xue jadi gugup dan kaku, sehingga ia jadi tak bisa memasak.
“Aku membantumu! Sayur belum dipotong, kamu ingin memotongnya bagaimana?” Qin Yinuo meliriknya sekilas dengan bingung, lalu ia berjalan pergi seorang diri, mulai memotong timun itu.
Tapi timunnya terlalu kecil, sementara tangannya terlalu besar. Ketika dipegang, timun rasanya terlalu licin, dan lagi ia tak bisa memotong. Begitu ia menggoyangkan pisau tersebut turun, timun itu langsung terbelah dua.
“Aku saja!” Mu Xue melihatnya yang sepertinya agak kaku, ia tak bisa membayangkan orang ini adalah raja terbaik di dunia bisnis. Melihat jari pria itu yang mulus, ia langsung menghela nafas, ternyata ciptaan itu sudah berbeda-beda sedari awal.
Hello! Im an artic!
Qin Yinuo menaikkan alisnya. “Kelihatannya gampang kok, kenapa tak bisa dipotong?”
“Kamu ingin memotongnya jadi seperti apa?” Ia bertanya.
“Diiris jadi lembaran saja!” Ia berkata, lalu memberikan pisau padanya.
“Baik!” Ia memegang timun itu, lalu mulai memotong.
Qin Yinuo melihat timun yang bulat itu dipotong dengan lincah oleh tangannya menjadi irisan yang tipis. Untuk sesaat ia terkejut, tangannya sungguh lincah!
Ia teringat akan tujuh setengah juta yuan yang tak dipakainya sama sekali dan lalu dikembalikan, hatinya berdenyut sakit. “Kamu ini sangat pandai melakukan pekerjaan rumah ya?”
Sambil berkata, ia melihat apartemen yang rapi ini, semakin yakin dengan pemikirannya.
Mu Xue tertegun, gerakannya terhenti, namun kemudian ia meletakkan timun ke dalam piring. “Ya, kurang lebih lah!”
Selesai berkata, tiba-tiba ia kaget dengan komunikasi mereka saat ini. Mereka tidak bertengkar, sebenarnya lumayan baik juga. Sambil tersenyum, Mu Xue menengadah menatapnya, “Dan kamu tak pernah melakukan pekerjaan rumah kan?”
Untuk sesaat Qin Yinuo juga tersenyum, senyumnya lebih lebar dari sebelumnya. Mu Xue melihat wajahnya yang tersenyum, untuk sesaat ia tertegun. Pria ini benar-benar terlalu ganteng. Ia langsung cepat-cepat menunduk, wajahnya memerah diam-diam.
Ia menatapinya dengan tajam. “Irisanmu bagus sekali!”
“Heh!” Ia bingung, lalu menengdah, pandangan mereka bertemu di udara. Keduanya tertegun, lalu sama-sama jatuh ke dalam tatapan masing-masing.
Tiba-tiba pria itu tersenyum lagi.
Mu Xue tersadar kembali, lalu ia menunduk.
“Malam ini kamu senang sekali kan?” Ia berkata.
“Ya!” Menurutnya, anaknya sudah ditemukan, maka ia dihitung-hitung senang! “Asal kamu tak menyembunyikan Tian Yu, kupikir aku akan senang setiap hari!”
“Oh, benar kah?” Ia agak kaget, lalu terjerumus ke dalam pikirannya.
Tiba-tiba ia merasa komunikasi mereka saat ini sangat aneh, rasanya seperti sudah saling mengenal lama sekali. Bahkan ia sendiri juga merasa aneh, di depan pria ini, dirinya selalu kehilangan kontrol emosi. Dirinya biasanya tidak suka berbicara, apalagi di depan “orang asing”. Tapi bersama pria ini, rasanya selain marah dengannya, tidak ada lagi! Sejak tahu identitas asli pria ini, ia merasakan emosi yang aneh.
Orang asing? Ia menatapi Qin Yinuo, apakah ia orang asing?
Sepertinya ia, tapi sepertinya juga bukan…
Ia langsung menggelengkan kepalanya, ia teringat akan tokoh Bao Yu yang pertama kalinya bertemu dengan Dai Yu di cerita Dream of the Red Chamber yang berkata: “Adik Wanita ini aku kenal!”
Maka wajahnya memerah, ia yakin dirinya memerah.
Demi menutupi hatinya yang mendadak malu, ia menunduk dan berkata dengan cepat: “Kamu takkan menyembunyikannya, kan?”
__ADS_1
Ia menatapi wajahnya, kenapa wanita ini tiba-tiba memerah sekali?
Pipinya yang memerah sekali lagi membangunkan sesuatu dalam benaknya, ia tak suka perasaan gugup seperti ini. Perasaan ini hanya pernah muncul pada Laner. Sementara Laner sudah pergi, sudah pergi, sudah pergi! Ia menarik nafas dalam-dalam, tiba-tiba ingin merokok!
“Aku takkan menyembunyikannya!” Ia berkata dengan pasti, bagai tengah berjanji.
“Terima kasih!” Ia menengadah, berterima kasih dengan tulus.
Wajah Mu Xue yang putih di bawah pancaran lampu jadi terlihat seperti bunga yang mekar memerah. Sepasang matanya jernih, ia bersyukur sekali, tenang sekali.
Ia mulai memasak sayurnya, membuat sup timun telur. Masakan yang jernih sekali, tapi kelihatannya cantik.
Ia menatapinya tanpa berbicara, setelah selesai memasak, Mu Xue memberikan mangkok dan sumpit padanya, “Bawa ke meja!”
“Oh!” Ia meletakkannya dengan menurut.
Pagi-pagi, Qin Yinuo mengantarkan kedua anak itu ke SD dan TK, sementara Mu Xue pergi kerja.
Semalam Qin Yinuo tidur sendirian di atas kasur Cheng Cheng, sementara Mu Xue tidur dengan kedua anak itu. Pertama kalinya memiliki dua anak, hatinya dipenuhi kebahagiaan yang manis.
Layar TV di atas bus umum tengah memberitakan sebuah berita, pas sekali Mu Xue berdiri dib awah TV tersebut. Sebenarnya ia tak peduli, tapi begitu mendengar “Jabatan Presiden perusahaan Qin telah dikembalikan, Qin Yinuo tidak lagi menjadi Presiden”, ia langsung melongo!
Kenapa ia tidak menjadi Presiden perusahaan Qin lagi?
Tiba-tiba tampilan TV itu berubah menjadi Qin Yinuo yang tengah menghadapi pertanyaan para reporter, wajah Qin Yinuo dingin dan tenang, wajahnya berkedut, tatapannya bagai sumur yang dalam, hanya mendengar sepotong kalimat darinya: “Tidak ada yang bisa kukatakan.”
Mu Xue tertegun.
Saat ini, ia mendengar lagi penjelasan karena Qin Yinuo menolak pernikahan persatuan dengan keluarga Gong maka ia membuat marah tuan besar Qin. Karena marah, maka ia mengambil kembali warisan jabatan anaknya. Menghadapi pertanyaan para reporter, Qin Yinuo menjawab kalau dirinya takkan menikah seumur hidup!
Otak Mu Xue seolah hendak meledak, kata-katanya yang mengatakan takkan menikah seumur hidu karena ini kah? Tatapannya jatuh pada sosok tinggi di layar itu, ia dikelilingi oleh belasan reporter, namun wajahnya dingin sekali.
Sementara jas yang dipakainya sama seperti yang dipakainya kemarin.
Mu Xue tengah mencerna informasi ini.
Lalu layar itu berpindah lagi, berpindah pada Qin Maoxiang. Seorang kakek tua yang mengenakan jas dan ekspresinya galak, ia berdiri di depan para reporter, wajahnya berkerut, kelihatannya sangat tidak sabaran.
“Presiden Qin, Anda bermaksud mencari penerus yang lain kah?” Para reporter terus bertanya.
Qin Maoxiang tidak berkata apapun, bibirnya terkatup rapat, sementara bodyguard sudah mendorong para reporter untuk pergi. Lalu ia menghilang dari kamera. Sementara di layar TV terlihat seperti sedang ada di konferensi pers, jangan-jangan ia benar-benar di…
Mu Xue tak berani memikirkannya lagi!
Penerus yang lain?
Mu Xue tertegun, bus sudah sampai di stasiun terakhir, tapi ia masih tidak sadar.
“Nona, sudah sampai!” Sang sopir mengingatkan.
Mu Xue langsung tersadar kembali!
Qin Yinuo ada di mana?
Ia memasukkan koin sekali lagi, naik sekali lagi bus itu untuk kembali.
Ia menekan nomor telepon Qin Yinuo, tapi yang ada hanya suara deringan telepon, tidak ada yang mengangkatnya.
Mu Xue jadi tegang, sekarang orang itu sedang apa? Kenapa ia tidak mengangkat telepon?
Setelah lewat sesaat, ia menelepon sekali lagi, namun tetap tidak ada yang mengangkat teleponnya.
Mu Xue tak berdaya, ia mengetik pesan. “Kamu baik-baik saja kah?”
__ADS_1
Pesannya sudah dikirim, hatinya tetap tidak tenang. Ternyata kemarin sudah ada kejadian yang besar sekali, jangan-jangan alasannya tidak menikah adalah karena ayahnya? Berita dari reporter entertainment yang mengatakan kalau Qin Yinuo takkan menikah seumur hidup itu benar atau tidak?
Dan ia pernah bilang, selain sertifikat nikah itu yang tak bisa diberikannya, sisanya ia bisa memberikan semuanya! Kalau begitu apakah karena tak berdaya barulah ia memilih jalan seperti ini?
Memikirkan hal ini, hati Mu Xue tiba-tiba kesakitan, ia menggenggam erat handphonenya, teringat akan handphonenya direbut orang sebelumnya, Qin Yinuo yang menyelamatkannya, dan karena itu ia terluka pula. Hatinya jadi sedih.
Ia menelepon untuk minta izin pada Mi Lei, ia takkan pergi kerja lagi. Meski ia tahu kalau terus-terusan izin itu tidak baik, tapi saat ini ia hanya ingin bertemu dengan Qin Yinuo, menanyakan apakah alasannya tidak menikah karena ayahnya! Dan lagi, ia masih ingin mengatakan padanya untuk jangan ribut dengan ayahnya. Ia teringat akan kilasan TV tadi kalau raut wajah tuan besar Qin terlihat tidak baik, usianya sudah setua ini, bagaimana bisa menerima kalau anaknya membangkang!
Baru turun dari bus umum, Mu Xue langsung menelepon Zeng Li. Ini adalah pertama kalinya ia berinisiatif menelepon Zeng Li, “Kakak Zeng, perusahaan Qin benar-benar sudah mengganti Presiden ya?”
Begitu bertanya, ia baru sadar kalau suaranya bergetar.
“Xiao Xue, ini kamu ternyata. Benar, Presiden sendiri yang mengambil keputusan, Nuo sudah dihentikan!” Suara Zeng Li terdengar agak kelelahan, Qin Yinuo tidak datang kerja lagi, jadi dirinya kelelahan.
“Kalau, kalau begitu dia di kantor tidak?” Mu Xue bertanya lagi.
“Nuo?” Zeng Li tak mengira ia akan seperhatian ini pada Nuo, meski sebelumnya cara komunikasi mereka membuatnya merasa aneh dan bahkan merasa kalau Qin Yinuo tengah melakukan yang aneh-aneh seorang diri, ia kira Xiao Xue takkan seperhatian ini pada Nuo, setidaknya itu yang ia kira. Tapi tak dikira ia akan berinisiatif meneleponnya demi Nuo.
“Ya! Dia tidak di kantor kah?”
“Tidak datang, entah pergi kemana!” Suara Zeng Li tiba-tiba jadi terdengar kesal.
“Oh, terima kasih kakak Zeng, kuputus teleponnya ya!” Ia menutup teleponnya dengan terburu-buru, lalu Mu Xue melihat sebuah pesan di handphonenya.
Hatinya bergetar, ia membuka pesan itu, melihat kalau itu adalah pesan dari nomor yang ingin diketahui keadaannya sekarang, hanya ada satu kata, “Baik!”
Tapi kenapa ia merasa kata “Baik” itu agak dipaksa?
Maka ia meneleponnya sekali lagi, tapi malah tak diangkat.
Mu Xue tiba-tiba merasa aneh, kenapa orang itu tidak menjawab teleponnya.
Ia langsung mengetik pesan: “Kamu di mana? Aku pergi mencarimu!”
Setelah lama sekali, barulah ia membalas: “Tak perlu!”
Ia menolaknya!
Hati Mu Xue ikut bergetar, tak mengerti mengapa dirinya begitu mengkhawatirkannya. Rasanya hatinya diikat oleh sesuatu, ia ingin bertemu dengannya, bertanya langsung apakah ia baik-baik saja?
Tapi dia di mana?
Mu Xue baru menyadari, dirinya tidak memahami Qin Yinuo, meski ia memiliki seorang anak bersamanya. Meski mereka pernah adalah atasan dan bawahan, tapi ia sama sekali tak memahaminya, sebuah kekosongan!
Ia ada di Mansion Minghao atau di vila nomor 15?
Tak peduli, ia pergi mencarinya dulu, ia tak bisa hanya duduk menunggu!
Mobil berhenti di mansion Minghao, namun apartemen mewah tak bisa dimasuki semudah ini, setelah Mu Xue menjelaskan lama sekali pada satpam penjaga, barulah dirinya diberi izin masuk. Waktunya hanya lima belas menit, kalau ia tak menemukannya, maka ia harus segera keluar!
Berdasarkan ingatannya malam itu, ia mendapatkan pintu Qin Yinuo, ia mengetuk pintu. Tangannya megnetuk pelan di atas papan pintu, hatinya berdetak gugup, dia diamna? Dia di sini kah?
Tapi setelah mengetuk lama sekali, tak ada yang membuka pintu.
Ia terpaksa pergi!
Kemudian ia mendatangi vila nomor 15, ia melihat sebuah Bentley hitam dan sebuah Bugatti biru di tamannya!
Eh! Dia ada di sini kah? Hati Mu Xue serasa mencelos, ia berjalan dengan langkah besar-besar, mendorong pintunya. Pintunya langsung terbuka! Asbak di ruang tamu penuh dengan puntung rokok, tapi orangnya tidak ada disana!
“Qin Yinuo? kamu ada di mana?” Ia berteriak pelan.
Di tempat yang sebesar ini, suaranya bergema. Tiba-tiba ia merasa dingin, meski vila ini besar, tapi tak ada kehangatan di dalamnya, dingin sekali.
__ADS_1
“Kenapa kamu datang?” Tiba-tiba di belakang tubuhnya terdengar suara yang rendah dan lelah.