
Hello! Im an artic!
Ia tersenyum bodoh. Dan Mu Xue menyadari dirinya tenggelam dalam matanya yang dalam. Sepasang mata yang dalam membuatnya mabuk. Tiba-tiba wajahnya memerah, lalu melarikan diri turun ke lantai bawah, dan sepasang mata menatapnya dengan penuh api membara di belakang.
***
Hello! Im an artic!
Qin Yinuo membuka pintu kaca kamar mandi, dan Qin Yinuo hanya memakai handuk untuk menutupi tubuh bagian bawahnya. Ia turun begitu saja ke lantai bawah. Tangannya masih memegang sebuah handuk lain untuk mengelap air dari rambutnya.
Di dapur, Mu Xue tengah sibuk. Karena sekarang terlalu larut, tidak sempat untuk memasak bubur. Maka ia hanya memasak semangkok sup telur, kemudian memasukkan sayuran ke dalamnya dengan sederhana.
Begitu menoleh, ia menlihat Qin Yinuo tengah bersandar di pintu dapur. Pinggangnya dililiti handuk, tubuhnya yang kuat dan tinggi bagai model. Ia tak menemukan lemak di tubuhnya. Wajah Mu Xue memerah, “Kenapa kau tak pakai baju?”
Alisnya yang lurus jadi terangkat. Ia maju dan langsung memeluknya. Mu Xue tidak sempat menghidar. Maka ia mematikan api dan langsung diciuminya sampai kehilangan nafas rsanya. Sampai dirinya tak punya tenaga, barulah ia meminta ampun dengan pelan.
Hello! Im an artic!
“Cepat lepaskan aku, supnya sudah siap!”
Barulah Qin Yinuo melepaskannya. Perasaan bahagia melingkupinya, awan hitam yang telah mengelilinginya selama beberapa hari ini lenyap.
Mu Xue membawakan sup, tak lupa berkata, “Cepat ganti bajumu, nanti demam!”
Ia mengikutinya, datang ke samping meja, “Tidak ganti lagi, nanti juga harus dilepas!”
“Kau–” Mu Xue mengerutkan alisnya, wajahnya panas, “Cepat pergi!”
Ia tak berdaya, mencubit pipi Mu Xue, “Bailah, nyonya tukang urus!”
“Siapa nyonya tukang urus?” Ia berteriak pelan, seperti sedang manja, membuat hati Qin Yinuo semakin melembut.
Ia langsung meberikan kecupan di bibirnya dengan cepat, lalu naik ke lantai untuk berganti pakaian.
Mu Xue melihat sosoknya yang tinggi, wajahnya memerah. Ia meletakkan masakannya dengan baik. Qin Yinuo belum turun, maka Mu Xue berjalan ke samping jendela dan melihat kegelapan malam.
“Ayah, kau sudah melihat dari surga? Maaf, anakmu mencintainya! Aku pasti akan bahagia. Ayah, aku menyayangimu selamanya!” Ia berkata dalam hati, kedua tangannya dikatupkan sambil memejamkan matanya, memohon agar ia dan Qin Yinuo bisa bahagia selamanya!
Begitu matanya dibuka, di luar jendela ada seseorang yang berdiri! Orang itu berdiri di luar jendela, menatapinya dalam diam. Ekspresinya dingin bagai sesosok zombi.
“Ah–” Mu Xue kagetnya sampai berteriak. Ia mundur selangkah, siapa yang dilihatnya?
Itu adalah wajah wanita yang kurus– Mo Yilan.
“Kenapa?” Qin Yinuo segera berlari turun. Mendengar teriakan Mu Xue, ia langsung berlari turun. Ia melihat tubuh Xiao Xue yang bergetar di depan jendela sambil mengelus dadanya. Hatinya berdetak tak karuan, dan Mu Xue berkata dengan tergesa-gesa, “Itu, itu, itu Mo Yilan, dia…dia kenapa bisa ada diluar?”
Qin Yinuo juga kaget. Ia melihat pada Mo Yilan yang berdiri diluar jendela dengan rambut yang dilepas. Ia berdiri diam disana. Tatapannya kosong, bagai hantu.
“Kenapa dia bisa ada disini?” Qin Yinuo juga kaget.
Mu Xue menggenggam tangan Qin Yinuo erat-erat. Ia melihat jam, sudah jam tiga subuh. Kenapa Mo Yilan bisa muncul disini, hati Mu Xue berdentum-dentum, “Bagaimana?”
Orang diluar bergerak, tersenyum.
Mu Xue kaget, menggenggam tangan Qin Yinuo erat-erat, “Kenapa dia ada disini. Qin Yinuo, itu dia kah? AKu takut!”
__ADS_1
Mo Yilan yang tidak bisa tidur nyenyak datang kemari bagai sesosok hantu. Eh, bukannya dia sudah gila? Kenapa bisa sampai kesini?
Wajah Qin Yinuo muram. Ia juga kaget sekali kenapa Mo Yilan bisa ada disini. Ia tak pernah memberitahunya alamat ini. Kenapa ia bisa tahu?
“Jangan takut. Aku hendak membiarkannya masuk, lalu menelepon pada Mo Yihui untuk menjemputnya pulang!”
Untuk sementara, hanya bisa begini!
Wajah Qin Yinuo juga mengeras, sebelumnya ia sudah menebak kalau surat itu adalah perbuatan Yihui. Kali ini pasti Yihui yang sedang berbuat macam-macam!
“Ya!” Mu Xue mengangguk. Ini subuh jam tiga, memang seharusnya membiarkannya masuk. Qin Yinuo membuka pintu dan berjalan ke hadapan Mo Yilan. Melihat diluar vila tidak ada orang lain, bagaimana ia bisa datang?
“Yilan!” Ia berteriak.
Gerakan tubuh Mo Yilan agak kaku, tapi kemudian ia tersenyum. Ia tidak bergetar seperti sebelumnya. Ia hanya membuka matanya lebar-lebar menatap Qin Yinuo, kemudian tersenyum. “Nuo, akhirnya aku menemukanmu!”
Qin Yinuo tertegun. “Kau, kau kenal denganku?”
Mu Xue kaget, langsung menatap ke arah Mo Yilan. Mo Yilan langsung tersenyum, “Nuo, aku sudah sembuh! Aku sudah sembuth! Aku kenal kalau kau adalah Qin Yinuo!”
Qin Yinuo kaget, “Kau bilang apa?”
“Aku sudah sembuh!” Ia berkata lagi, bagai orang yang baru terbangun dari tidur, membuka matanya lebar-lebar, “Penyakitku sudah sembuh, Nuo!”
Qin Yinuo semakin kaget, “Yi, Yilan, kenapa kau bisa kemari?”
Hati Mu Xue juga jadi curiga. Tapi ada satu perasaan dalam hatinya, yaitu takut! Kenapa rasanya seperti horor tengah malam. Rasanya dalam satu malam, penyakit Mo Yilan langsung sembuh! Tapi dilihat dari keadaannya sekarang, ia tak berani memercayai kalau ia sudah benar-benar sembuh.
Saat ini, kelihatannya Mo Yilan sama seperti manusia sehat. Ia jatuh dari langit dan muncul di depan vila.
Ketiganya masuk ke dalam vila.
Mo Yilan memegang erat tangan Qin Yinuo. Sementara Qin Yinuo langsung menurunkan pegangan tangannya, lalu mengulurkan tangan untuk mendekap tubuh Mu Xue.
Mu Xue agak kaget. Kali ini, Mo Yilan muncul dan Qin Yinuo tidak lupa akan keberadaan dirinya. Qin Yinuo menoleh dan memberikan senyum untuk menenangkannya, berkata pelan, “Aku akan segera menelepon Mo Yihui untuk menyuruhnya menjemputnya!”
“Dia benar-benar sudah sembuh!” Mu Xue juga berkata dengan pelan, suaranya penuh dengan kejutan, “Sepertinya sudah benar-benar sembuh!”
“Masih belum jelas, aku segera mengambil handphone!” Ia naik ke lantai dua.
“Nuo, kau mau kemana?” Mo Yilan menarik tangannya lagi.
Qin Yinuo melepaskan tangannya sekali lagi, “Aku pergi mengambil handphone! Yilan, kau tunggu sebentar!”
“Oh!” Mo Yilan mengangguk, sedari awal ia tidak melirik sedikit pun pada Mu Xue. Ini membuat Mu Xue curiga, dia sudah benar-benar sembuh kah? Sebelumnya bukannya ia tak kenal pada Qin Yinuo? Kenapa tiba-tiba kenal?
Qin Yinuo naik ke lantai dua, dan tatapan Mo Yilan jatuh pada sosok Qin Yinuo. Hal ini membuat Mu Xue merasa kacau, bagaimana kalau ia terus mengikuti Qin Yinuo?
***
Setelah Qin Yinuo naik ke lantai atas, Mo Yilan membalikkan badannya menghadap Mu Xue. Tatapannya tajam, membuat Mu Xue kaget.
“Kau Mu Xue?” Mo Yilan menaikkan alisnya.
Mu Xue baru sadar kalau tampang Mo Yilan agak galak. Maka ia tertegun dan bertanya, “Nona Mo, kau tak kenal denganku?”
__ADS_1
Mo Yilan menatapnya, matanya mengerjap-ngerjap, agak mengerikan. Kemudian tiba-tiba ia tersenyum, dan senyumnya membuat bulu kuduknya berdiri, lalu ia berkata, “Aku kenal denganmu. Tentu aku kenal denganmu, kau membantu Nuo melahirkan bayi!”
“Eh!” Mu Xue mulai perang dingin, “Kau tahu? Kau benar-benar sudah sembuh?”
Tubuh Mo Yilan bergerak mendekati Mu Xue. Mu Xue langsung mundur. Ia benar-benar agak takut dengannya, entah kenapa. Yang penting hatinya terus berdebar-debar.
Mo Yilan menghentikan langkahnya, menatapinya langsung, bertanya, “Kau takut padaku?”
“Tidak, tidak!” Mu Xue menggeleng. Ia hanya merasa dirinya agak aneh. Kalau dibialng takut, ia takut akan menyakitinya, karena emosinya berbeda dengan orang normal. Ia takut membuatnya marah dan berharap Mo Yilan segera sembuh!
Mo Yilan menatapnya, mendekat selangkah, suaranya bagai roh, “Bayi yang kau lahirkan, bukankah sudah mati?”
Nafasnya tertiup ke wajah Mu Xue, membuatnya bergetar, “Nona Mo, kenapa kau, kau berkata seperti ini?”
Anak-anaknya masih hidup dan baik-baik saja. Ia benar-benar curiga apakah Mo Yilan benar-benar sudah sembuh atau belum. Kalau orang baik mana mungkin mengutuki anaknya untuk mati?
“Tidak mati ya?” Mo Yilan tersenyum dingin, lalu duduk di atas sofa. Wajahnya agak curiga, “Oh! Berarti bayiku sudah mati! Bayiku sudah naik ke surga!”
Mu Xue tak mengerti. Ia agak tertegun, bayinya? Bukannya ia tak bisa melahirkan? Astaga, ada apa ini?
Saat ini Qin Yinuo turun sambil menelepon, “Yihui, Yilan ada di tempatku. Kau datang untuk bawa dia pergi!”
“Apa kau bilang? Kakakku hilang lagi?” Suara Mo Yihui terdengar khawatir, “Dia dimana? Dia tidak apa-apa kah?”
Qin Yinuo mengerutkan alisnya, “Yihui, kau benar-benar tak tahu Yilan sudah keluar?”
“Qin Yinuo, apa maksudmu?” Mo Yihui bertanya dengan dingin, “Bagaimana mungkin aku tahu kakakku keluar. Kenapa bisa aku melepaskannya keluar? Sekarang tubuhnya sudah jauh lebih sehat, bagaimana aku bisa mengambil resiko untuk membiarkannya keluar? Apa maksudmu, Qin Yinuo?”
“Yihui, tak perlu bermain akting di depanku. Yang mengirim surat pada Xiao Xue juga kau kan?” Qin Yinuo tertawa dingin, bibir tipisnya membentuk senyuman aneh, “Aku tidak menghukummu, bukannya aku tidak tahu. Yihui, kau ini keterlaluan jadi orang!”
“Surat apa? Aku tak tahu!” Sampai mati pun Mo Yihui takkan mengakui, “Kakakku dimana? Cepat kau antar dia pulang, sekarang aku ada diluar, tak bisa pulang!”
Qin Yinuo berkata lagi, “Baik kalau begitu, kuantarakan dia pulang! Kau ingat, diriku Qin Yinuo takkan membiarkan siapapun menyakiti keluargaku, kalau tidak, tetap harus dibunuh!”
Mo Yihui di seberang telepon kagetnya sampai berkeringat dingin.
Qin Yinuo memutus teleponnya di tangga, wajahnya saking muramnya sampai terlihat mengerikan.
Mu Xue menatapi langkah Qin Yinuo dengan curiga. Sosoknya tetap sama tinggi, tapi saat ini malah menebarkan aura seperti seorang raja, auranya yang kuat membuat orang menahan nafas. Ia agak khawatir. Mendengarnya menelepon, ternyata surat itu kiriman Mo Yilan!
Hatinya berdenyut sakit, seolah mengerti akan sesuatu. Ternyata Mo Yihui ingin membuatnya menyalahkan Qin Yinuo! Membuat mereka tidak berhubungan, dan dirinya hampir saja masuk dalam perangkap! Dirinya benar-benar bodoh!
Untung saja! Untung saja atas kata-kata ayah Lingfeng, dirinya baru tersadar. Hampir saja ia menyalahkan Qin Yinuo.
Qin Yinuo menelepon lagi pada Mao Zhiyan, “Kau datang sebentar ke vila nomor 15, bantu aku antar Mo Yilan pulang!”
Setelah memutuskan telepon, Qin Yinuo berjalan ke samping sofa, melirik pada Mu Xue sebentar agar ia tidak khawatir.
Tapi Mu Xue tetap khawatir. Ia melirik sekilas pada Mo Yilan, merasa Mo Yilan sebenarnya belum sembuh.
“Nuo! Kau menelepon untuk menyuruhku pergi?” Tiba-tiba Mo Yilan bertanya.
Qin Yinuo hanya berjalan ke sisi Mu Xue dan menggenggam tangannya, berkata pada Mo Yilan, “Sekarang sudah terlalu larut, kau harus pulang!”
“Nuo, aku sudah sembuh!” Mo Yilan berkata lagi.
__ADS_1