
Hello! Im an artic!
“Ayo, aku antar kamu pulang karena aku tidak bisa tenang!”
Song Yin memegang ponselnya dengan erat tapi dia tidak berani menelepon Yu Jinglan karena dia takut dia akan marah dan dia benar-benar takut jika dia akan marah.
Hello! Im an artic!
Luo Weihan turun terlebih dahulu setelah sampai di vila lalu memperhatikan Song Yin turun. “Jangan lupa minum obat antibiotik meskipun lukanya kecil tapi tetap harus diminum!”
“Terima kasih telah mengantarkanku pulang!” Song Yin mengangguk.
“Selamat malam!” Luo Weihan melambaikan tangannya dan melihat ke arah vila sebelum masuk ke dalam mobil.
Song Yin berdiri di pintu dan lampu ruang tamu masih menyala dan dia menarik napas panjang karena dia merasa pasti akan terjadi bencana nanti tapi dia tetap memberanikan diri mendorong pintunya dan masuk.
Hello! Im an artic!
Aroma tembakau yang wangi tercium dan ruangan yang penuh tekanan juga langsung datang menghampiri.
Tanpa sadar Song Yin melihat ke arah sofa dan melihatYu Jinglan memakai baju santai, kaus putih dengan celana panjang berwarna krem dan dia bersila dengan malas, rambutnya yang tebal hitam menutupi matanya yang tajam dan jari tangannya yang panjang menjepit rokok dan asap memenuhi dirinya, matanya bersinar di balik rambut hitamnya dan sedang menatapnya.
Song Yin menunduk sehingga rambut panjangnya menutupi luka dahinya dan dia memanggilnya, “Kakak besar Yu!”
“Dari mana?!” Yu Jinglan mengangkat kepalanya sambil bertanya dengan dingin.
“Lem, lembur!”
“Bagus sekali, apakah kamu berpikir berbohong sangat menyenangkan?” Yu Jinglan berdiri sambil menatap wanita yang berdiri di pintu dan tidak berani berjalan masuk.
“Maaf!” Dia hanya bisa minta maaf.
“Kamu pergi selingkuh bukan?”
“Tidak!” Song Yin menggigit bibirnya dan berkata. “Aku tidak punya hobi seperti itu!”
“Tidak? Lalu kamu memberikan perawanmu kepada siapa?” Nada suaranya terdengar sangat kesal.
Yu Jinglan tidak bisa menebak wanita ini jika dia sembarang mengarang cerita mengapa pandangan matanya terlihat sangat jernih?
Jika dia tidak sembarangan tapi jelas-jelas dia masih perawan ketika melakukan pemeriksaan tapi dia kehilangan selaput itu setelah dia pulang dari dinas dan dia bahkan lebih tenang dari dirinya ketika ditanya, apakah dia benar-benar orang yang sangat terbuka?
Apakah dia bisa bersama pria lain setiap malam dan bisa tidak malu sama sekali?
Yu Jinglan tidak bicara lagi dan tanpa sadar dia melihat ke arah wajahnya yang dingin dan sudut bibirnya ada senyum dingin sehingga Song Yin bisa merasakan jika dia akan meledak kapan saja.
“Apakah kamu masih mau makan? Aku akan masak untukmu!” Dia tidak ingin berantem sehingga dia berjalan ke arah dapur karena luka tergores di tubuhnya banyak dan kakinya terkilir maka cara jalannya terlihat aneh tapi dia tetap memaksakan dirinya supaya melangkah seperti biasa untuk masuk ke dapur.
Dia tidak ingin memberitahunya tentang masalah kecelakaan hari ini karena dia mungkin juga tidak peduli jika mengetahuinya maka dia tidak perlu menambah kesedihannya.
“Aku tanya padamu, kamu pergi ke mana?” Dia tetap tidak menyerah.
Song Yin menggigit giginya dan berhenti sejenak, “Jalan-jalan!”
Bukankah dia melihatnya bersama denganWen Xiaoxing?
“Bukankah kamu lembur?!”
“Jalan-jalan setelah selesai lembur!” Dia tidak menoleh.
__ADS_1
“Gedung kantor urusan luar negeri gelap gulita, kamu lembur di mana Song Yin?”
“Bagaimana kamu tahu? Kamu menyelidikiku?” Song Yin kaget sambil berbalik untuk melihatnya. Apakah dia pergi ke kantornya?
“Apakah menurutmu kamu pantas aku selidiki?” Nadanya kesal sambil mengisap rokoknya dan menghembuskan asap putih, “Song Yin, kamu adalah istriYu Jinglan maka jaga identitasmu, jangan membuatku malu dan Walikota Song yang terhormat malu!”
Suaranya terdengar berat dan terdengar penuh ancaman.
Kata-kata seperti itu seperti jarum yang menusuk hatinya dan terasa sakit dan dia mengangguk setelah waktu yang lama.
“Aku masih belum makan malam!” Yu Jinglan tiba-tiba berkata.
Song Yin kaget dan buru-buru berkata, “Hah, oh! Aku segera masak untukmu!”
MataYu Jinglan terlihat dingin dan berkata, “Jika aku meneleponmu kelak maka harus langsung diangkat dan tidak boleh mematikan ponselnya dan pulang dalam waktu setengah jam setelah menerima panggilanku!”
“Hmm.” Song Yin menjawabnya.
“Jawab!”
“Aku tahu! Aku akan langsung pulang setelah menerima teleponmu!”
Dia memaksakan diri untuk tersenyum dan berjalan ke arah dapur lalu mengambil sayur dari dalam kulkas karena untung saja dia menyediakan makanan dan dia membeli sayuran kemarin.
Dia memetik sayur dengan terampil, mencucinya, memotong, membuka kompor gas dan menuangkan minyaknya.
Dia menatap minyaknya panas lalu dia menghela napas dan memberitahu dirinya sendiri. “Song Yin, kamu bisa, semangat!”
Dia menuangkan sayurnya lalu mengambil sutil untuk membaliknya.
Yu Jinglan melihat dirinya sangat diam hari ini, dia merokok di sofa lalu melihatnya melalui kaca dan dia melihat kain kasa di dahinya sewaktu dia berbalik, kain kasa di bawah rambutnya sehingga dia mengerutkan keningnya sambil mematikan rokoknya, berdiri dan berjalan ke arah dapur.
“Piang…..” Piringnya jatuh dan terdengar suara yang renyah.
Yu Jinglan dengan tinggi sekitar 185 cm berdiri di depannya sehingga dia terlihat tidak tenang.
Aduh! Song Yin menunduk untuk menutupi kepanikannya.
Ekspresi seriusYu Jinglan tidak berubah hanya kedua alisnya yang bergerak. Dia menyingkirkan poninya dan melihat sebuah kain kasa dan plester besar.
Dia melihat Song Yin yang panik dan melihat kedua tangannya memegang kedua ujung bajunya dan terlihat sangat gugup.
Kepanikannya membuatnya kesal, “Katakan, apa yang terjadi?”
“Oh, tidak apa-apa…..” Tatapan dinginYu Jinglan membuatnya panik sehingga wajahnya perlahan terlihat pucat.
“Tidak apa-apa tapi bisa tergores?” Suaranya dingin dan tatapannya juga dingin.
“Aku…..” Wajahnya pucat sambil menatap wajah dinginnya tapi tidak tahu apakah dia sedang marah atau bukan. “Dalam perjalanan pulang aku tergores oleh sebuah mobil!”
AlisYu Jinglan bergerak sambil menatapnya dengan tajam. “Jadi?”
“Itu saja, aku baik-baik saja dan masih hidup!” Suaranya yang datar ditambah kegelisahan di dalam matanya membuatnya merasa tidak nyaman.
“Apakah tidak apa-apa?” Dia bertanya lagi.
“Ya!” Dia mengangguk.
“Baguslah! Aku ingin makan mie buatan tangan, apakah kamu bisa?” Yu Jinglan menatapnya dengan arogan dan berkata seperti itu.
__ADS_1
Song Yin kaget karena dia menyangka dia tidak akan mengkhawatirkan lukanya tapi setidaknya lembut sedikit, tidak diduga dia memintanya membuat mie buatan tangan sehingga dia tertegun dan matanya berkedip lalu menunduk dan akhirnya berkata, “Bisa! Tunggu sebentar!”
“Cepat sedikit, aku sudah lapar! Karena kamu baik-baik saja maka cepat sedikit!” Setelah itu dia berjalan ke arah luar.
Song Yin menghela napas sewaktu Ye Jintang pergi dan dia membersihkan pecahan piringnya dengan sapu terlebih dulu.
Sewaktu mienya sudah siap, Song Yin meletakkannya di atas meja dan melihatYu Jinglan duduk di sofa sambil memejamkan matanya, bulu mata yanag panjang menutupi kelopak matanya dan ada lingkaran hitam di bawah matanya dan terlihat seolah-olah sudah lama tidak tidur.
“Kakak besar Yu.” Dia memanggilnya dengan pelan.
Yu Jinglan membuka matanya dan berkata dengan suara berat, “Sudah matang?”
“Ya.” Song Yin mengangguk.
Yu Jinglan mengerutkan keningnya lalu bangun dari sofa.
Sosok yang tinggi berjalan menghampirinya yang membuat Song Yin takut tapi kakinya seperti tumbuh akar sehingga dia tidak bisa mundur. Dalam sekejap mata dia sudah berdiri di depannya, jaraknya sangat dekat.
Tanpa sadar Song Yin menunduk dan jantungnya berdetak kencang.
“Angkat kepalamu.” Dia memberikan perintah.
Song Yin mengangkat kepalanya dengan ragu dan melihat wajahnya yang tampan. Kemudian dia membungkuk sehingga matanya sejajar dengan matanya, matanya seperti punya kekuatan magis yang membuatnya tenggelam.
“Apakah kamu merasa sedih?” Dia bertanya.
“Tidak!” Memangnya dia bisa mengatakan apa? Meskipun sedih tapi siapa yang akan mendengarkannya? Dia menertawakan dirinya sendiri sambil menatap ke luar jendela yang gelap. “Yang paling tidak dibutuhkan di dunia ini adalah belas kasihan.”
“Sangat sakit?” Dia melihatnya sambil mengerutkan keningnya dan seperti sedang memikirkan sesuatu.
“Tidak!” Dia menggigit giginya.
Tiba-tiba tangan besarnya membuka bajunya.
“Ah…..” Song Yin berteriak dan dia hampir terjatuh karena tenaganya yang kuat lalu pada waktu yang sama dia merasakan pinggangnya yang terluka terasa perih dan gerakannya membuat lukanya terasa sakit dan air matanya langsung jatuh, dia buru-buru menutupi dadanya dengan tangannya.
Tanpa di duga matanya melihat air matanya lalu dia terlihat tegang tapi segera hilang dan berkata dengan tenang, “Apakah tubuhmu juga terluka?”
Dia tidak bicara hanya saja air matanya semakin deras. Lekukan yang indah membuat mataYu Jinglan terlihat dalam.
Hanya saja ada beberapa luka gores di tubuhnya yang putih sehingga hatinya merasa tegang tapi wajahnya tetap tidak ada ekspresi dan dia masih menangis sambil menunduk. “Aku, apakah aku boleh naik ke atas?”
MataYu Jinglan menegang, apa sebenarya yang terjadi? Apakah dia bukan pergi kencan dengan pria lain?
Dia maju ke depan dan melihat jika lukanya seperti telah diobati, apakah pria liar yang mengobatinya?
Hatinya langsung merasa marah dan dia berdiri di situ tanpa bicara juga tidak memberinya jalan, dia juga tidak mengatakan jika tidak mengizinkannya naik ke atas.
Di depan kaki Song Yin basah oleh air mata dan kedua pundaknya terlihat bergetar serta kedua tangannya menutupi dadanya, badannya yang ramping terlihat tidak berdaya.
“Mengapa kamu menangis?” Dia mengerutkan keningnya dan terdengar kesal. “Katakan, apa yang terjadi sebenarnya, aku mau penjelasan yang mendetail!”
Badannya menegang sambil menggigit bibirnya dan diam karena dia takut dia akan menangis kencang jika dia mengatakannya, dia merasa kasihan dan sedih.
Yu Jinglan melihatnya tidak bicara maka dia menarik tangannya naik ke lantai atas.
“Jangan menarikku!” Song Yin memberontak tapi suara tangisannya sudah pecah, “Jangan menarikku!”
Dia berbalik dan melihat wajahnya yang penuh air mata sambil menatapnya dengan sedih.
__ADS_1
Dia tertegun tapi dia tidak melepaskan tangannya dan tangisannya tidak berhenti sehingga air mata jatuh di depannya.