
Hello! Im an artic!
Baru memikirkannya, ponselnya sudah berdering keras, setiap deringannya membuat orang tidak tahan. Yu Jinglan segera mengambil ponsel, Jianyi yang menelepon. Pagi-pagi sudah menelepon, Yu Jinglan mengernyitkan alisnya dengan tidak senang. Memperhatikan Song Yin yang masih tertidur di bawah tubuhnya, dia benar-benar kelelahan. Dia kelelahan karena keinginannya yang tidak terkendali, dan bibir tipisnya yang menawan terangkat sedikit—
“Hei–” Dia langsung mengangkat telepon lalu menjawab dengan suaranya yang malas dan terdengar sedikit aneh.
Hello! Im an artic!
“Bos tampaknya menyadari kalau aku membantumu. Aku sudah mendapatkan salinan videonya, tetapi sepertinya masih ada satu lagi. Dia berkata jika aku membantumu lagi, dia akan menendangku keluar. Demi membantumu, aku mengkhianati bos yang sudah menyelamatkan hidupku. Kamu benar-benar sudah membuatku susah.”
“Kamu sudah tertangkap olehnya?” Yu Jinglan mengerutkan kening.
“Ya! Aku akan segera mengirimkan salinan ini kepadamu.” Jianyi berkata.
“Kirim ke vila.”
Hello! Im an artic!
Setelah setengah jam, ketika Yu Jinglan menerima video dari Jianyi, senyum jahat di wajah Jianyi tampak serius. “Aku akan mencari cara untuk mendapatkan satu salinan yang tersisa. Tetapi aku pikir bos sudah waspada dan telah memberiku peringatan keras. Aku mungkin tidak dapat mencurinya.”
Mengangguk, Yu Jinglan tiba-tiba mengangkat alisnya.”Kamu tidak melihatnya?”
“Aku berani melilhatnya? Tapi aku harus membuka dan melihatnya, aku harus memastikan yang berada di dalam video itu adalah kalian, kan?” Jianyi mengedipkan matanya.
“Matilah!” Yu Jinglan meraung dan hampir membalikkan atap vila.
“Hahaha…Aku pergi!” Jianyi melesat pergi, lalu menoleh dan berkata, “Lan, tenagamu boleh juga. Melakukannya berkali-kali dalam satu malam sampai membuat Song Yin kelelahan. Lain kali harus santai sedikit.”
“Matilah!Kamu benar-benar menonton semuanya?”
“Tidak! Tidak!” Jianyi buru-buru menyangkalnya lalu berbalik dan tersenyum diam-diam, memangnya bisa tidak menontonnya? Jika tidak melihatnya maka dia bersalah pada dirinya sendiri. Tidak bisa mendapatkan gadis keras kepala itu, melihatnya saja tidak apa-apa, kan?
Bagaimanapun dia mengakui kalau dirinya bukan orang baik. Aku tidak akan mengabdikan diriku untuk menjadi pria terhormat seumur hidup.
Yu Jinglan tidak percaya dan melangkah untuk mengejarnya, “Berhenti!”
“Aku bilang tidak melihatnya, benar-benar tidak melihatnya!” Dia sengaja menegaskan dua kata tidak melihatnya, niatnya sangat jelas. “Sungguh, tidak, lihat!”
Aneh jika Yu Jinglan mempercayainya.
Sangat menyebalkan! Wanita yang paling dicintainya ternyata dilihat oleh orang lain. Sial!
Jianyi berjalan sampai ke mobilnya lalu berbalik dan berkata, “Aku akui kalau aku hanya menontonnya sebentar. Sialan, tubuh kamu terlalu besar sehingga menutupi Song Yin. Aku ingin melihat bagian belakangnya, tapi aku tidak ingin merendahkan diriku lagi, jadi aku tidak melihatnya.”
Yu Jinglan mengambil napas dan menahan keinginan untuk memukul Jianyi. Dia menunduk melihat rekaman video di tangannya, setidaknya tidak seperti Jianyi dan Song Sitong yang terlihat oleh seluruh negeri.
__ADS_1
Jianyi mengemudikan mobil pergi, Yu Jinglan memejamkan matanya erat-erat dan menertawakan dirinya, mencegah kesedihan yang mendalam di matanya mengalir. Tiba-tiba dia merasa, dirinya dan Song Yin seperti Romeo dan Juliet. Sangat menyedihkan!
Perselisihan antara keluarga Yu dan keluarga Song menjadi semakin sulit. Bahkan ibu kandungnya harus memperlakukannya seperti ini.
Dia kembali ke ruang kerja dan membuka video itu. Ketika melihat bagian depan di mana dia baru saja memeluk Song Yin dan menciumnya, dirinya merasa rileks. Untungnya tidak melepaskan pakaian. Tetapi kemudian, dia sama sekali melepasnya dan dia menggunakan banyak sekali posisi. Kesal, dalam hati dia berpikir bercinta pun tidak aman, benar-benar mengesalkan!
Dia mengeluarkan CD itu lalu mematahkan benda itu. Walaupun sudah hancur tapi masih ada satu salinan lagi. Dia harus mendapatkannya. Kalau tidak jika ibunya menggila, tidak tahu masalah apa yang akan ditimbulkannya.
Setelah benar-benar terlipat menjadi beberapa bagian, Yu Jinglan melemparkannya ke dalam laci. Dia lalu berjalan ke jendela dan membukanya, membiarkan angin bertiup masuk. Matahari pagi juga menyinar masuk ke dalam. Dia menyalakan rokok lalu bersandar di jendela. Alisnya bertaut dengan erat.
Setelah menghisap panjang rokok tersebut, keluar asap putih berbentuk lingkaran. Ternyata ada waktunya dia tidak berdaya dan tidak bisa melakukannya. Sama sekali tidak hebat.
Jika dia cukup hebat, dia bisa membujuk ibunya dan melindungi Song Yin. Kejadian yang terjadi pada Song Sitong juga mungkin tidak akan terjadi. Dia benar-benar merasa sangat kesal.
Song Yin tidak melihat Yu Jinglan saat bangun subuh. Dia membuka matanya dengan lemah lalu turun dari tempat tidur. Dia hampir terjatuh, kakinya terpisah, sangat sakit, dan rasa sakit itu membuatnya hampir berlutut. Mengingat semua yang terjadi tadi malam, wajahnya tersipu lagi dan ada rona merah. Dia begitu tak terkendali, dia hampir membuatnya lumpuh karena kelelahan.
Tubuhnya penuh dengan tanda hijau dan merah, yang merupakan tanda eksklusif yang dia tinggalkan tadi malam. Dia mengambil pakaiannya dan memakainya, lalu keluar untuk mencarinya.
Dia berada di ruang kerja. Ketika dia membuka pintu dan berjalan masuk, dia menemukan sebatang rokok di antara jari-jarinya sudah hampir membakar jari-jarinya. Tapi sepertinya dia sama sekali tidak merasakan dan tetap mememandang ke luar jendela.
“Apakah tidak sakit? Kamu kenapa?” Sambil mengerutkan kening, Song Yin dengan cepat berjalan dan menjentikkan puntung rokok yang terbakar di antara jari-jari Yu Jinglan , “Apakah masalah perusahaan?”
Berdiri di sampingnya, mengangkat wajah kecilnya untuk melihat alis Yu Jinglan yang berkerut, dia merasa hatinya sangat sakit dan bersalah. Lu Chennian benar-benar terlalu merepotkan. Tangan kecilnya memegang tangan besar Yu Jinglan dan berkata dengan suara rendah, “Kakak Yu, maafkan aku! ”
Dia mengulurkan tangan dan melingkari lehernya.
Jika Du Liling bukan ibunya, dia tidak akan terlibat.
“Kenapa menangis?” Yu Jinglan sedikit terkejut ketika merasakan dadanya basah. Sambil menepuk bahu Song Yin, dia dengan lembut mebelai rambut hitamnya dengan tangan besarnnya dan berkata dengan suara rendah, “Kenapa?”
“Kakak Yu, aku sudah tahu semuanya!” Song Yin melingkarkan lengannya di leher Yu Jinglan dengan sedih dan membenamkan wajah kecilnya di dadanya. “Lu Chennian, kan?”
Sedikit terkejut, Yu Jinglan mengerutkan kening.”Bagaimana kamu bisa tahu?”
“Aku mendengarnya!” Song Yin tidak mengatakan kalau Lu Chennian sudah mencari dirinya. Dia takut Yu Jinglan akan marah, yang penting dia tidak memedulikannya. “Semua karena aku, aku yang mencelakai perusahaanmu!”
“Ini baru adil. Aku menyakitimu begitu dalam dan parah. Sekarang giliranku. Jika tidak aku akan merasa tidak puas, karena aku berhutang pada keluarga Song. Jika aku bisa menangani semuanya dengan baik, kakakmu tidak akan menghilang dan ayahmu tidak akan berbaring di rumah sakit.”
“Ini sebenarnya juga bukan salahmu, salah ibumu!” Sudah sampai di tahap seperti ini, tidak tahu harus menyalahkan siapa. Siapa yang harus disalahkan? Wajah Song Yin berkerut di pelukan Yu Jinglan .
Dia juga tahu seberapa banyak Song Yin terluka dan seberapa banyak keluarga Song terluka, tetapi orang yang paling terluka adalah kakak perempuannya.
“Kakak Yu, apa yang harus dilakukan kakakku?” Song Yin bertanya dengan suara teredam, suaranya tercekat. “Apa yang harus kakakku lakukan mulai sekarang?”
Mata hitam pekatnya meredup untuk beberapa saat, Yu Jinglan menatap kepala di pelukannya dengan penuh kasih sayang, dan dengan lembut membelai wajah kecilnya yang menjadi tirus, “Setelah menemukannya, aku akan mencari cara untuk mengirimnya ke luar negeri. Pergi ke tempat di mana tidak ada orang yang mengenalnya. Yang terbaik baginya adalah memulai hidup baru.”
__ADS_1
“Kakak Yu, apakah kamu pernah mencintai kakakku?” Song Yin tiba-tiba berbicara lagi.
Yu Jinglan terdiam, tapi jawabannya sama sekali tidak. Tapi tidak seperti itu juga. “Pernah terobsesi.”
Ketika Yu Jinglan mengatakannya dengan jujur, dia tidak bisa mengungkapkan perasaannya. Berharap dia pernah mencintai kakaknya, tetapi juga tidak mengharapkannya. Perasaan rumit itu sangat menyiksa. Ini adalah monopoli cinta. Berharap dia selamanya adalah miliknya sendiri, tapi juga berharap dia bukannya pernah bersama kakaknya karena suatu tujuan.
Yu Jinglan bertanya pada dirinya sendiri, kenapa waktu itu dia bisa menyukai Song Sitong? Mungkin karena sifat pemberontaknya yang keras kepala, tapi dia juga sudah tidak ingat lagi. Sampai kemudian dia mengetahui Song Qingquan adalah pembunuh yang tidak sengaja membunuh ayahnya, dia hanya memiliki tujuan tertentu terhadap Song Sitong. Yaitu membuang Song Sitong lalu dia akan menyerang Song Yin. Dia akan membuang semua putri Song Qingquan dan membuat mereka selamanya tidak dapat menghadapi dunia. Namun dia tidak menyangka dirinya akan jatuh cinta pada Song Yin.
Dalam permainan ini, dia bukan pemenang. Pada akhirnya, dia menyakiti semua orang, sedangkan hatinya sama sekali tidak bisa merasa tenang.
“Cemburu?” Melihat Song Yin yang tidak senang, dia bertanya dengan suara rendah.
“Tidak!” Song Yin menyangkal kalau dia cemburu, tapi dalam hati dia merasa masam. Ternyata seperti inilah rasanya mencintai seseorang dengan begitu mendalam, “Ada sedikit asam. Aku berharap kamu pernah menyukai kakakku, tapi juga tidak menginginkannya.”
Jawaban jujurnya membuat Yu Jinglan sedikit sedih, tertekan dan merasa bersalah. “Yinyin…sebenarnya…”
Jika sejak awal dirinya tahu orang yang paling dicintainya dalam hidup ini adalah dia, dia lebih suka tidak pernah terlibat dengan orang lain. Tetapi tidak ada yang dapat mengetahui lebih awal.
“Jangan katakan apapun lagi, Kakak Yu. Aku sudah mengerti. Aku mengerti semuanya!” Song Yin hanya merasa dirinya mengalami kebahagiaan dan kesedihan dalam sekejap. Memang lebih banyak kebahagiaan, karena dia sudah menjadi miliknya.
Itu sangat tidak mudah dan jalan di masa depan juga sulit. Selama ada dia, dirinya sudah merasa sangat bahagia. Begitu bahagia sampai tiba-tiba menangis lagi.
“Yinyin?” Suara Yu Jinglan berubah. Kegelisahan, kekhawatiran, dan kepanikan semuanya terungkap dalam nadanya, “Ada apa denganmu? Jika aku tahu akan jatuh cinta pada dirimu, aku pasti tidak akan mendekati wanita manapun—jika bisa, aku berharap kita bertemu di taman kanak-kanak. Karena saat itu pasti aku mencintaimu dan kamu juga mencintaiku, dan tidak ada orang lain lagi yang terlibat.”
Yu Jinglan mengira dia cemburu…cemburu pada Song Sitong. Mendengarnya menjelaskan seperti ini padanya membuat hati Song Yin semakin tersentuh.
“Aku…Aku…” Dia terisak, “Aku begitu bahagia sampai rasanya ingin menangis.”
Song Yin mengangkat matanya yang basah dan menatapnya dalam diam.
Betapa Song Yin mencintainya matanya yang gelap. Dia lebih dalam, lebih lembut dan kemampuannya lebih hebat menggetarkan hati dibandingkan sebelumnya. Song Yin menggigit bibirnya dengan keras. Untuk sesaat dia merasa memiliki seribu kata tapi tidak tahu harus mulai dari mana.
Yu Jinglan memperhatikannya dan pelan-pelan alisnya mengernyit. “Gadis bodoh, bahagia kenapa menangis?”
Melihat mata berkaca-kaca di depannya, dia merasa seluruh hatinya dipenuhi oleh kasih sayang.
“Kakak Yu, aku sangat mencintaimu, aku sangat mencintaimu!”
“Aku tahu! Aku tahu!” Tenggorokannya serak, “Jangan menangis lagi, menangis sampai seperti kucing kecil, jadi tidak lucu lagi.”
“Aku memang tidak lucu!” Song Yin merajuk dan menurunkan alisnya. Air mata membasahi bulu matanya yang panjang, membuat orang merasa tersentuh.
“Di mataku, kamu adalah yang paling imut.” Dia menoleh sejenak dan berkata, “Terutama ekspresi malu-malu di tempat tidur, aku menyukainya.”
“Menyebalkan!” Sony Yin merasa malu. Dia menyeka air matanya dan dengan cepat membuka matanya lalu menatapnya sekilas.
__ADS_1
“Apakah kamu benar-benar membenciku? Kalau begitu aku akan segera pergi dan menyingkir dari pandanganmu?”
“Tidak mau!” Song Yin meraih pakaiannya dengan cemas dan berkata dengan gugup, “Aku ingin pergi ke perusahaan bersamamu, aku ingin menyegarkan diri di sana dan membantumu merapikan dokumen.”