
Hello! Im an artic!
Sebenarnya, terkadang Yu Jinglan masih suka bermain-main. Tetapi beberapa tahun terakhir ini, banyak masalah yang menekan sifat aslinya ini, membuatnya tidak dapat bersikap normal. Tidak seperti anak-anak lain yang dapat tertawa bebas.
Meskipun sekarang ada banyak masalah antara dia dan Song Yin. Tapi dia memahami hatinya sendiri juga memahami hati Song Yin. Dia benar-benar tidak ingin menekan dirinya lagi. Tidak lagi ingin menutupi minatnya sendiri.
Hello! Im an artic!
Suara air akhirnya berhenti, dan Song Yin sepertinya sedang menjalani penyiksaan.
Tidak ada gerakan untuk waktu yang lama, mau tidak mau Song Yin membuka mulut. “Sudah belum?”
“Belum! Sedang mengosongkan tangki!” Dia berkata. “Aku takut kalau aku mau kencing lagi, kamu juga tidak mau membantuku, melepas ikat pinggang ini benar-benar susah! Bagaimana kalau aku melepasnya?”
“Yu Jinglan !” Song Yin menggeram. “Jika kamu masih seperti ini aku akan pergi!”
Hello! Im an artic!
“Baiklah! Aku sudah mengencangkan ikat pinggangku!” Yu Jinglan berbalik sambil menekan tombol flush. Lalu berjalan kembali ke ranjang rumah sakit dengan langkah anggun dan mantap.
Amarah Song Yin hampir mencapai puncaknya, dia sudah tidak sabar menunggunya sembuh lalu merobek tulangnya!
Yu Jinglan berjalan dengan wajah tertawa dan penuh kepuasan. Bahkan jika sekarang dia hanya menemaninya dan tidak melakukan apapun, tapi dirinya merasa nyaman. Bahkan kekhawatiran dan kecemasan tentang masalah pekerjaan sepertinya telah menghilang. Seolah-olah selama Song Yin berada di sisinya, dia akan merasa kuat.
Song Yin menggelengkan kepalanya untuk melihat wajah tersenyum Yu Jinglan . Dia buru-buru menghampirinya untuk membantu menggantungkan kantong infus, “Cepatlah istirahat, sudah larut malam.”
“Yinyin, temani aku tidur.” Yu Jinglan berbicara dengan suara rendah dan dengan cepat mengangkat tangannya ke arah tatapan Song Yin sambil dengan sungguh-sungguh berjanji, “Aku berjanji, hanya mengobrol saja, aku tidak akan berbuat aneh-aneh.”
“Aku harus membantumu melihat infus. Aku tidak boleh tidur!” Melihatnya seperti itu, Song Yin duduk di samping tempat tidur dan menatap matanya yang merah dengan serius, “Kamu sudah lama tidak tidur karena perusahaan terkena masalah. Lebih baik kamu istirahat dengan baik agar kamu punya energi untuk bertarung. Kamu sekarang cepatlah tidur!”
“Yinyin, tidak bisakah kamu lebih lembut sedikit?” Dengan gigi terkatup, Yu Jinglan dengan pandangan marah menatap pembohong kecil yang berada di depannya tapi serasa ribuan mil jauhnya dengan tak bertenaga dan frustasi.
“Diam! Tidur!” Dia berkata dengan tegas.
Kekhawatirannya membuat dia merasa tersentuh. Dia memang juga sudah mengantuk dan lelah, “Setelah suntikan selesai, kamu juga naik saja dan tidur!”
Song Yin terkejut tapi tidak berkata-kata.
Tempat tidur itu terlalu kecil. Walaupun tempat tidurnya besar, dia juga tidak bisa memastikan apakah dirinya masih memiliki kesempatan untuk tidur bersamanya. Hatinya merasa sedih dan sorot matanya menjadi suram.
Dalam keadaan linglung, entah sejak kapan dia tertidur. Song Yin sudah terbaring di tepi ranjang rumah sakit dan tertidur nyenyak. Tubuhnya meringkuk kedinginan karena tidak tertutup selimut.
Yu Jinglan terbangun ketika perawat datang untuk menarik jarum infusnya. Pukul tiga subuh, infusnya sudah habis. Meskipun batuknya masih sesekali muncul, tapi dia harus mengakui kalau efek obatnya sangat bagus dan membuat batuknya terkontrol.
Dia berdiri dan mengangkat tubuh lembutnya ke atas tempat tidur. Tubuh Song Yin menjadi kaku dan sekejap terbangun, tapi tidak membuka matanya.
“Pembohong kecil, kenapa kamu harus bercerai dariku?” Yu Jinglan menutupinya dengan selimut dan dengan lembut memeluk pinggangnya yang ramping dengan tangannya yang besar dan mendesah lemah dengan perasaan dalam.
__ADS_1
Sudut matanya tiba-tiba basah dan perasaan ini mengingatkan Song Yin akan hari-hari indah bersamanya.
Tempat tidurnya kecil dan keduanya berbaring berdekatan. Yu Jinglan memeluknya dan berhenti berbicara, seolah-olah tidak menyadari kalau Song Yin sudah terbangun. Tidak lama kemudian terdengar suara napas yang tenang.
Tubuh Song Yin berangsur-angsur rileks, dia menutup matanya dan dalam pelukan hangat, Song Yin tertidur lagi. Saat memeluknya, tubuhnya yang kaku membuat Yu Jinglan tahu kalau dia sudah bangun.
Setelah lebih dari sepuluh menit, dia mengalihkan pandangannya dan melihat tidak ada penolakan, Song Yin malah tidur dengan tenang di dalam pelukannya. Senyum tipis Yu Jinglan akhirnya berubah menjadi senyuman besar yang agak konyol. Napasnya yang teratur adalah sesuatu yang Yu Jinglan sengaja lakukan agar Song Yin mengira Yu Jinglan tidak tahu kalau dia sudah bangun.
Dia menundukkan kepalanya dan sebuah ciuman lembut jatuh di pipi Song Yin. Kemudian memeluknya dengan puas dan menutup matanya lalu tertidur.
Di kegelapan malam yang sama, di sebuah sudut tersembunyi di tempat parkir rumah sakit ada sebuah mobil mewah Ferrari berwarna merah diparkir di sana.
“Tuan Xing, aku sudah menemukan almat Song Sitong yang Anda inginkan!” Ada suara pelan di telepon, “Tapi mungkin dia akan pergi ketika fajar, jadi mau tidak mau aku harus menelepon Anda sekarang.”
Pria yang duduk di dalam mobil adalah Xing Jiabai , “Oke! Berikan padaku alamatnya!”
Setelah orang di ujung telepon memberikan alamatnya, Xing Jiabai menutup telepon lalu menyalakan rokok. Ketika korek api melintas di depannya, menerangi wajah tampannya. Merokok…asap rokoknya penuh dengan kesedihan dan duka.
Asap putih memenuhi mobil, satu tangan Xing Jiabai memegang rokok sambil memandang ke jendela ruang perawatan di mana Song Yin sedang menemani Yu Jinglan dengan cemas dan sedih. Dia menghela napas dengan lembut. Yu Jinglan adalah kebahagiannya. Dia menundukkan kepalanya dan mulai menghidupkan mobil. Yang bisa dia lakukan hanya melihat dari jauh. Selain itu, dia tidak tahu lagi harus berbuat apa.
Mobilnya meluncur keluar dan mencari alamat itu di kegelapan malam.
Song Sitong, yang bisa Xing Jiabai lakukan adalah membantu Song Yin menemukan kakaknya.
Ketika dia tertahan di gang sempit yang mengarah ke gedung rumah susun untuk mencari alamat Song Sitong. Di tengah malam dia mengetuk pintu rusak di daerah yang bisa dibilang kumuh dan bertanya-tanya apakah tindakannya dengan menemukan Song Sitong lalu membawanya kembali ke keluarga Song adalah benar atau tidak? Tapi apa yang terjadi adalah hal yang sungguh tragis bagi seorang wanita.
Xing Jiabai berbisik,” Song Sitong, ini aku, Xing Jiabai . Jika aku tidak salah tebak, kamu sekarang pasti sudah tidak memiliki uang. Buka pintunya!”
Di dalam sangat sunyi. Tetapi setelah sekitar satu menit, lampu menyala dan pintu terbuka.
Xing Jiabai tercengang melihat wanita yang berada di dalam. Song SItong yang tidak terawat tampak seperti pengemis. Sepertinya dia sudah berhari-hari tidak mandi, rambutnya acak-acakan dan badannya berbau aneh. Di dalam kamar hanya ada sebuah ranjang rusak, sama sekali tidak ada selimut. Di dalam kamar selain sebuah ranjang rusak tidak ada apa-apa lagi. Dan banyak bekas kotak mie instan yang dibiarkan bertumpuk di lantai yang sudah mengeluarkan bau asam tidak sedap. Dia hanya berdiri di depan pintu dengan sepasang matanya yang kusam dan dingin.
Sambil mengerutkan kening, Xing Jiabai menatapnya dan berteriak kaget, “Bagaimana kamu bisa menjadi seperti ini?”
“Bukankah aku harus seperti ini? Bukankah wanita paling tidak bermoral di Fengcheng harus hidup seperti ini?” Song Sitong sama sekali tidak peduli atau dia sama sekali merasa tidak memiliki harga diri lagi. Ada kilatan mencela dirinya sendiri yang menyala di matanya.”Aku pantas mendapatkan hasil seperti ini, kan?”
Ketika dia mengatakan ini, Xing Jia merasa sedikit simpati padanya.”Jangan berkata seperti itu. Meskipun terjadi hal seperti itu, tapi sejujurnya masih lebih banyak wanita yang tidak bermoral dari kamu. Hanya saja mereka tidak bernasib buruk dan dicelakai orang.”
“Kenapa kamu datang kemari?”
“Kemasi barang-barangmu dan ikut aku!”
“Pergi kemana?”
“Apakah kamu berencana akan terus seperti ini?”
“Tidak! Aku mau pindah rumah!” Song Sitong tidak menyangka Xing Jiabai akan mendatanginya, apalagi niatnya datang kemari.
__ADS_1
“Aku tahu kamu mau pindah, tapi kamu tidak memiliki uang. Kamu mau pindah kemana?”
“Asal bisa tidur dengan seseorang maka aku akan punya tempat tinggal! Kamar ini bukankah juga kudapatkan dengan tidur satu malam dengan seseorang!”Song SItong berkata dengan dingin dan sekilas ada rasa sakit di matanya, tapi sudah hilang dalam sekejap.
Xing Jiabai menatapnya dan tidak mengabaikan rasa sakit yang terpancar dari matanya. Dia berkata dengan tulus, “Ikuti aku dulu, aku akan mencari tempat untukmu lalu mengirimmu keluar nergi.”
“Kenapa kamu begitu baik padaku?” Song Sitong sudah tidak percaya kalau di dunia ini masih ada orang yang memperlakukannya dengan baik.
“Karena kamu adalah kakak perempuan Song Yin.” Xing Jiabai berkata dengan jujur. “Song Yin terus mencarimu dan memintaku untuk mencarimu.”
Sebenarnya dia sendiri yang berinisiatif untuk membantunya mencari. Song Yin sama sekali tidak tahu hal ini.
“Lagi-lagi Song Yin!” Song Sitong tersenyum pahit.”Tidak perlu, aku tidak membutuhkan kebaikan palsunya!”
“Kamu ini seorang wanita yang keras kepala, kalian berdua benar-benar kakak beradik!” Xing Jiabai teringat Song Yin yang terkadang juga bisa sangat keras kepala, bahkan sampai menghela napas. “Song Sitong, ayahmu sekarang berada di rumah sakit. Kamu pasti juga sudah mendengarnya. Aku tidak percaya kamu bisa begitu acuh tak acuh!”
Seluruh tubuh Song Sitong gemetar lalu perlahan-lahan menghilang dan tertawa dingin. “Aku sudah putus hubungan dengan mereka!”
“Dapatkah memutuskan hubungan darah?” Xing Jiabai membungkamnya dengan sebuah kalimat. Dia melihat ke langit, langit di luar jendela sudah sedikit terang. “Aku belum tidur sepanjang malam, sekarang kamu sebenarnya mau atau tidak pergi denganku? Kamu yakin selain aku masih ada yang bisa membantumu?”
Song Sitong tercengang, seolah sedang memikirkan sesuatu.
“Ayo pergi. Mandilah dulu dan ganti bajumu. Baumu sungguh menyengat!”
“Baik! Aku akan pergi denganmu!” Song Sitong tidak lagi bertele-tele. “Ayo pergi!”
Pagi-pagi sekali, Song Yin terkejut keitka bangun dari pelukannya yang hangat. Dan pemandangan yang familiar tadi malam terputar kembali di depan matanya. Yu Jinglan ? Setelah membuka mata, Song Yin memandang pria yang belum bangun itu dengan tatapan dingin.
Wajahnya yang tegas dan tampan terlihat lembut karena tidur nyenyaknya. Alis pedangnya terangkat, hidungnya yang mancung, pipinya yang licin dan juga rahangnya yang bersih dan segar.
Alangkah baiknya jika tidak ada dendam di antara kedua keluarga?
Dia memejamkan mata dan dalam hatinya ada rasa sakit.
Setelah mendapatkan kembali ekspresi tenangnya, Song Yin turun dari tempat tidur.
Meskipun hanya sebuah gerakan kecil, tapi orang di dalam pelukannya tiba-tiba pergi, Yu Jinglan secara reflek mengulurkan tangan untuk menghentikannya. Song Yin yang baru saja bangun sekali lagi masuk ke dalam pelukannya dan hidungnya menabrak dada Yu Jinglan dengan keras.
Song Yin berteriak pelan dan menatapnya tapi malah melihat Yu Jinglan sudah bangun dan matanya yang dalam diam-diam bersirobok dengan tatapannya.
“Sudah bangun.” Sambil menyentuh hidungnya, Song Yin berbicara dengan acuh tak acuh dan bangkit berdiri dengan ekspresi dingin.
“Yinyin.” Di pagi hari, suara yang serak itu terdengar lebih berat dan dalam dari biasanya. Yu Jinglan memandang Song Yin yang tanpa ekspresi dan tiba-tiba mengencangkan kekuatan lengannya.
Tubuh yang baru saja bangun jatuh menimpanya lagi, Song Yin mengangkat kepalanya dengan takjub dan menciumnya juga menekannya dengan penuh perasaan. Sangat liar dan sama sekali tidak ada ruang untuk mengelak.
Ciuman tiba-tiba tersebut membuat Song Yin terkejut dan dia dengan cepat mendorong tubuh Yu Jinglan . Tetapi sayang, lengannya terikat erat di tubuhnya seperti lem besi dan bibir dinginnya dengan liar dan lancang menyerang bibirnya karena keinginan yang sudah tertahan. Tetapi begitu teringat kalau dirinya masih terkena flu, dia segera melepaskannya karena takut menularinya.
__ADS_1