
Hello! Im an artic!
“Chi?” Rasa sedikit pusing datang menyerang, menyebabkan Feng Linger yang hendak berdiri itu hampir terjatuh.
Rong Hanchi segera mengulurkan tangan dan meraih lengannya. “Hati-hati!”
Hello! Im an artic!
“Terima kasih!” Feng Linger berterima kasih dengan suara rendah, tidak menyangka dirinya yang sedang menangis menyedihkan seperti ini terlihat oleh Rong Hanchi.
Dia tidak berkata apa pun, pandangan matanya hanya tertuju pada kelopak matanya yang merah dan bengkak berpikir bahwa wanita ini pasti telah menangis sepanjang malam.
Dia adalah seorang wanita, dia dapat menangis setelah mengalami putus cinta, tetapi bagaimana dengan dia? Dia hanya bisa menyimpan segalanya di dalam hatinya, mengasingkan diri sendiri. Rasa sakit itu tidak akan dapat berkurang walau hanya sesaat, dan juga tidak akan hilang dengan begitu saja.
“Oh! Ini adalah akta perceraian milikmu!” Feng Linger menyerahkan berkas yang bertuliskan nama pria itu kepadanya.
Hello! Im an artic!
Rong Hanchi mengulurkan tangan dan mengambilnya, tetapi dia tidak melihatnya.
“Jangan berada di luar sendirian, pulanglah lebih awal!” Rong Hanchi menahan hatinya yang melunak, dia tetap mengangkat kakinya untuk pergi. Feng Linger menatapnya dengan tatapan kosong, di dalam bola matanya masih tetap dapat terlihat sebuah pergejolakan, tetapi masih mencela kepada dirinya sendiri. Rong Hanchi berjalan dan berjalan, namun langkah kakinya semakin melambat. Langkah kakinya pun terhenti sesaat sebelum dia tiba pada mobilnya, menghelakan nafas ringan, sudut bibirnya melengkung tak berdaya, dan dia berbalik.
Feng Linger terus menatap bayang-bayang punggungnya, matanya penuh dengan kenangan. Melihat dirinya yang tiba-tiba berbalik seketika membuatnya panik. “Itu, selamat tinggal!”
Dia berbalik dengan panik hendak melangkah pergi, tetapi pria itu segera melangkah maju lalu meraihnya, “Aku antar kamu, kamu ingin pergi kemana?”
Dia sama sekali tidak tahu kemana dia akan pergi, hanya ingin keluar dan berjalan-jalan. Tetapi, sebelum dia bisa berbicara, pria itu sudah memasukkannya ke dalam mobil.
Sesampainya di dalam mobil, tangan kecil Feng Linger menegang dan dia menangkupkan kedua tangannya menjadi satu. Kepalanya menunduk, dia tidak berani menatapnya, dan bahkan tidak berani bernafas dengan kencang. “Aku, aku, aku tidak tahu ……”
Rong Hanchi terdiam untuk beberapa saat, tidak berkata apa pun.
Feng Linger semakin merasa tidak tenang, dia benar-benar tidak tahu ingin pergi kemana.
“Sudah makan belum?” Dia akhirnya membuka mulutnya.
Dia menggelengkan kepalanya. “Be, belum!”
“Kalau begitu, kita pergi makan saja!” Kebetulan dia pun juga belum makan.
Su Yan dan Guan Xiaojin tengah duduk di kursi santai di jalan, dan keduanya tertawa. “Kakak kelas, menurutmu apakah aku harus pulang dan makan di rumah? Meskipun itu rumahku, dan orang yang tiba-tiba muncul di sana adalah ayahku, tetapi aku merasa sangat aneh, aku sama sekali tidak merasa akrab atau pun intim dengannya. Bahkan aku tidak ingin memanggilnya ayah. Apa yang harus kulakukan? Tetapi aku sudah berjanji kepada kakak Chi untuk pulang dan makan di rumah. Huhuhu …… Aku benar-benar merasa seperti babi, aku tidak berpikir sebelum melakukan sesuatu. Apa yang harus kulakukan jika aku menyesal? Kamu bantu aku untuk mengakuinya sebagai ayah, ya?”
“Mati saja kau! Untuk mengakuinya sebagai ayah saja, kamu bahkan meminta orang lain untuk membantumu!” Guan Xiaojin seperti sudah bisa melihat Su Yan dengan jelas, “Kamu adalah seekor babi bodoh, kepala babi. Sebelumnya aku sangat bersimpati kepadamu karena melihatmu ditulis dengan sangat buruk oleh reporter. Aku tidak menyangka bahwa Rong Hanchi dan Mu Siyuan ternyata adalah kakakmu! Dan sekarang aku tiba-tiba tersadar, bahwa kepala babi sepertimu memang pantas untuk ditulis oleh orang lain! Hahahaha ……”
“Ya! Aku adalah kepala babi, aku ingin menjadi kepala babi! Hanya Feng Baiyi sajalah yang merupakan pria milikku! Yang lainnya hanyalah kakakku!” Su Yan secara terbuka mengakui hubungannya dengan Feng Baiyi untuk pertama kalinya. “Kakak kelas, apa yang harus kulakukan? Aku sangat menyukaimu, bagaimana kalau aku menjadikan salah satu dari kedua kakakku itu menjadi milikmu?”
“Mati saja kau!” Nona Guan mendorongnya ketika melihatnya yang semakin berbicara omong kosong. “Kakak tidak membutuhkan pria! Kakak bahagia!”
“Mu Siyuan sudah tidak bagus lagi, dia terlalu playboy! Tetapi kakak Chi juga sudah memiliki Feng Linger! Bagaimana kalau aku memberikan Feng Baiyi kepadamu, kita berdua melayani satu orang suami bersama?” Su Yan semakin berbicara omong kosong.
“Ah ––” Guan Xiaojin berteriak dan tiba-tiba menggelitik area rusuk Su Yan. “Terus membual, terus saja berbicara omong kosong, hahaha …… Tetapi menurutku boleh juga, panggil saja Feng Baiyi kemari! Aku tidak keberatan!”
Su Yan juga ikut tertawa. Dia merasa sangat senang sekali dapat tertawa riang sambil bercanda, setelah cukup banyak tertawa, tiba-tiba dia berkata dengan serius: “Itu tidak baik, Xiaobai adalah milikku seorang! Aku tidak rela apabila dia dirusak olehmu!”
“Cih! Aku sudah tahu kamu pasti tidak rela!” Ucap Guan Xiaojin mencibir. “Sudahlah, pertahankan priamu! Kakak sudah mempunyai seorang pria! Bahkan kakak mu ini juga sudah mempunyai anak!”
“Ah ––” Su Yan berteriak lalu tertegun, “Bagaimana bisa?”
“Nanti akan kuceritakan!” Saatnya kelas.
Su Yan terkejut, waktunya telah habis. Namun, dia tidak menyangka bahwa Guan Xiaojin adalah seseorang yang memiliki cerita. Sungguh tidak terduga, “Baiklah, ceritakan padaku lain kali. Malam ini haruskah aku pergi ke rumah keluarga Song untuk makan malam?”
“Pergi kalau kamu ingin pergi, dan jangan pergi kalau kamu tidak ingin!”
“Sebaiknya kamu tidak berbicara saja!” Ucap Su Yan datar.
Sore hari ketika kelas telah usai, mobil Mu Siyuan telah diparkir di Universitas D, dan tuan muda itu berdiri di samping mobil dengan begitu mencolok sambil menghubungi Su Yan. “Adikku oh adikku, kakak keduamu telah menunggumu di luar! Tanpa diduga, kita adalah keluarga! Pantas saja setiap kakak melihatmu selalu merasa perhatian, ternyata karena kita memiliki hubungan darah!”
Ketika Su Yan bergegas keluar dari gedung kelas, secara kebetulan dia dapat melihat Mu Siyuan yang sedang berdiri di dekat gedung kelas dan sedang menghubungi ponselnya. Su Yan segera menutup ponselnya, dan berjalan menghampiri.
Supir Feng Baiyi juga berjalan mendekat, lalu Su Yan memberitahunya bahwa dia akan pergi ke rumah keluarga Song untuk makan malam, jadi dia akan meliburkannya.
__ADS_1
“Aku akan mengantarnya pulang malam nanti. Kamu silahkan pergi, ingat, ini adalah adikku, beritahu Feng Baiyi bahwa aku yang bertanggung jawab atas keamanannya!”
“Ha! Mu Siyuan, ternyata kamu adalah kakak keduaku. Apakah kita masih memiliki saudara laki-laki atau saudara perempuan yang lain?” Tanya Su Yan sambil tertawa.
Mu Siyuan mengulurkan tangannya dan melingkarkan lengannya di bahu Su Yan tanpa mempedulikan berapa banyaknya orang yang ada di lingkungan sekolah ini yang sedang mengawasinya, sang pria tampan. “Adikku, sejauh ini, anak yang telah diungkapkan oleh ayah kita hanyalah kita bertiga, tiga orang anak dan tiga orang ibu. Bukankah itu menarik? Tetapi aku tidak pernah bermimpi bahwa kamu adalah saudara perempuanku!”
“Lalu ada berapa ibu yang akan makan bersama malam ini? Berapa bersaudara?”
“Tidak ada satu orang ibu pun yang hadir! Ibu dari kakak tertua sudah tidak ada, ibumu juga sudah tidak ada! Dan ibuku tidak ingin terlibat dalam urusan keluarga Song!” Ucap Mu Siyuan. “Hanya kita bertiga dan orang tua itu!”
“Apa yang harus kulakukan jika aku tidak ingin memanggilnya ayah?” Ucap Su Yan mengerutkan keningnya. Dia merasa bahwa dirinya dapat berbicara dengan Mu Siyuan dengan mudah dan santai, sehingga dia dapat langsung bertanya kepadanya.
“Kalau begitu sama sepertiku, panggil saja dia orang tua, atau hanya mendeham saja. Aku juga tidak suka dengan ayah ini. Lagipula, kita juga tidak bermarga Song. Ingatlah bahwa kamu harus berdiri bersamaku ketika kita harus berurusan dengan keluarga marga Song tersebut!”
“Baiklah! Kita tidak bermarga Song, selama tidak menyakiti kakak Chi, selebihnya aku akan bekerja sama denganmu! Ayo pergi, mari kita lihat orang tua itu!”
Ruang tamu keluarga Song.
Song Baikuan telah memerintahkan juru masak untuk menyiapkan hidangan di meja yang besar.
Mu Siyuan masuk ke dalam sambil merangkul Su Yan, dan segera duduk di seberang Song Baikuan. “Mengapa memanggil kami kemari? Merayakan Su Yan yang menjadi adik perempuanku?”
Su Yan tidak tahu harus memanggil apa. Dia ingin memanggil ayah, tetapi kalimat itu tidak dapat terucap keluar, ingin memanggilnya paman pun juga tidak cocok. Untungnya Song Baikuan juga tidak mempersulitnya. “Yanyan, duduklah!”
“Oh! Baik!” Ucap Su Yan lalu duduk di sisi Mu Siyuan.
Ketiganya pun saling berbicara berbasa basi satu dengan yang lainnya. Su Yan sangat pendiam, dan selalu setia mendengarkan adu mulut antara Mu Siyuan dan Song Baikuan.
Setelah sekitar setengah jam kemudian, Rong Hanchi akhirnya kembali.
Su Yan mendongak secara perlahan, mendapati Rong Hanchi dalam setelan jas perak gelap. Tidak lagi sama seperti pada siang hari, dia seolah-olah telah mengganti pakaiannya. Aura yang dipancarkan olehnya sangat elegan, layaknya seorang bangsawan pada abad pertengahan, tetapi ekspresinya terlihat sedikit lelah dan dingin. Setelah melihat Su Yan, dia sedikit menggerakkan bibirnya.
“Kakak besar, sudah kembali?” Sapa Mu Siyuan. “Bagaimana kalau kita mulai makan? Aku masih ada acara setelah makan nanti!”
“Acara apa?” Su Yan bertanya dengan penasaran.
“Gadis kecil mengapa begitu banyak bertanya? Kamu cukup diam dan tenang saja menjadi adik perempuanku!”
“Haha, apakah kamu ingin pergi untuk bermain bersama wanita?” Su Yan mencondongkan tubuh ke dekatnya dan bertanya dengan suara rendah di telinganya.
Keduanya sangat dekat seperti saudara laki-laki dan perempuan yang memang telah saling mengenal dengan baik selama bertahun-tahun. Rong Hanchi sekilas melihat ke arah mereka. “Ayah, ayo mulai makan!”
“Ayo makan!” Song Baikuan menatap Su Yan dengan tatapan mata yang kompleks, “Kalian mulai duluan. Yanyan, ikut ke ruang kerja denganku. Aku ingin menunjukkan foto ibumu!”
Su Yan tertegun.
Ibu?
Dimanakah sosok seorang ibu di dalam ingatannya? Saat mendengar tentang foto ibunya, dia seketika langsung berdiri dan mengangguk dengan penuh semangat. “Oke!”
Ruang kerja.
Rong Bai Kuan mengeluarkan foto itu. Itu ada foto lama yang tampak berusia dua puluh tahun. Ketika dia membuka tas kain yang dibungkus dengan brokat, foto tersebut segera mencuat menarik perhatiannya.
Sepasang mata itu tampak seperti Su Yan.
Su Yan melihat foto itu dengan penuh emosi, ini adalah ibunya, ini ibunya! Ibunya terlihat masih sangat muda. Tidak terlihat kapan, hanya dapat melihat ibunya yang masih mengenakan seragam, seragam sekolah dengan kemeja putih, dan rok di bawahnya. Tetapi dia tidak dapat melihat warnanya, karena foto tersebut adalah sebuah foto hitam putih.
Ibu sangat cantik, matanya terlihat cerah dan giginya putih. Terutama bagian matanya, matanya ikut melekuk pada saat ia tertawa, terlihat imut.
“Ibuku sangat cantik ya!” Dia melihatnya dan tiba-tiba tertawa, “Ibu sama imutnya denganku!”
“Ya! Kamu terlihat seperti ibumu!” Rong Baikuan berkata dengan tulus. Dia terus berusaha untuk mengingat bayangan Su Qian melalui wajah Su Yan dengan tatapan seperti itu. Ketika Su Yan melihat Rong Baikuan memandangnya seperti itu, dia berpikir, mungkin pria ini benar-benar mencintai ibunya, sangat mencintainya.
“Kemana perginya ibuku?” Su Yan melihat foto itu, mengerutkan keningnya. Dia tidak bisa mengingat, dia tidak dapat mengingat kenangan sebelum dia berumur tujuh tahun. Dia tidak tahu kemana ibunya pergi.
“Ketika kamu berumur tujuh tahun, ibumu meninggal karena sakit, dan aku baru saja mengetahuinya belakangan ini!” Rong Baikuan hanya berkata. “Setelah kepergian ibumu, tidak ada yang merawat dirimu, dan kamu dikirim ke panti asuhan. Mungkin karena ketakutan, kamu jatuh sakit lalu kehilangan ingatanmu setelah demam!”
“Oh ya!?” Su Yan mengerutkan keningnya berusaha mengingat-ingat namun dia tidak dapat mengingatnya. Dia tampaknya benar-benar sakit, tetapi dia benar-benar tidak dapat mengingat mengapa.
Hanya teringat pada tahun itu, kakak Chi datang ke panti asuhan bersama dengan gurunya. Kemudian dia dibawa pergi ke Swiss berlajar bersama dengan kakak Chi. Ketika dia berumur dua belas tahun, sang gurunya pergi untuk berkeliling dunia. Dia terus bersama dengan kakak Chi, dan mengenai kehidupannya, haruskah dia bertanya kepada guru?
__ADS_1
Hening.
“Apakah foto ini bisa diberikan kepadaku? Tanya Su Yan.
“Aku hanya memiliki satu ini saja. Akan kuberikan kepadamu setelah aku membuat salinannya, bagaimana?” Ucap Rong Baikuan. “Ayo kita turun dan makan sekarang!”
“Ya!” Su Yan mengangguk, dan menatapi foto tersebut sekali lagi seakan tidak rela melepasnya lalu mengembalikannya kepadanya. “Kalau begitu beri aku satu secepat mungkin!”
Rong Baikuan mengangguk, dan Su Yan menunggunya meletakkan kembali foto tersebut.
Melihat betapa dia menghargainya, dengan hati-hati dia membungkusnya kembali dengan brokat dan meletakkannya di rak. Sepertinya dia sangat mencintai ibunya, memperlakukan selembar foto tersebut dengan sangat hati-hati.
Ibu?!
Su Yan mencoba mengingat-ingat kembali di dalam benaknya, tetapi dia tetap tidak dapat mengingatnya. Mengapa dia bisa tidak memiliki ingatan tentang ibunya?
Tetapi dia mengetahui bahwa itu adalah ibunya. Sungguh, dia sama sekali tidak meragukannya.
Berbalik dan turun, Rong Baikuan membuka mulutnya. “Yan Yan!”
“Hm?”
“Apakah Feng Baiyi memperlakukanmu dengan baik?”
“Tentu saja baik!” Ucap Su Yan terlihat sangat gembira.
“Selama kamu bahagia, ayah pun akan tenang!” Rong Baikuan berjalan mendekat dan menepuk pundaknya. “Anak baik, ayah sangat senang melihatmu bahagia. Ayah benar-benar bersalah terhadap ibumu telah membuatmu menderita!”
Su Yan tertegun, lalu menggelengkan kepalanya.
“Yan yan, apakah pemandangan gunung yang kamu dan Yibai kunjungi kemarin indah?”
“Indah! Pegunungannya sangat hijau, airnya bersih, hutan yang rimbun, pemandangannya sungguh indah!” Terpikirkan olehnya bahwa kemarin mereka sama sekali tidak melihat pemandangan, melainkan hanya berbicara bercengkerama berdua dengan Feng Baiyi di dalam mobil sepanjang sore membuatnya wajahnya tersipu malu.
“Bagaimana menurutmu kalau ayah membangun villa yang besar di sana?” Ucap Rong Baikuan sambil menatapnya, terlihat kilau cahaya melintas di bola matanya.
“Apakah itu akan menghancurkan lingkungan alam?” Su Yan tidak mengerti mengapa dia berbicara tentang hal itu dengan dirinya.
“Mengapa bisa? Ayah paling memperhatikan kelestarian gunung dan hutan. Bagaimana kalau ayah memberimu satu gedung setelah dibangun?”
Su Yan kaget, alangkah baiknya jika dia memiliki sebuah villa di atas gunung, tetapi dia tetap menggelengkan kepalanya. “Tidak mau! Aku hidup dengan sangat baik sekarang, aku tidak suka rumah yang terlalu besar! Simpan saja untuk dirimu sendiri!”
Rong Baikuan tertegun untuk sesaat, “Anak baik, kamu benar-benar orang yang lain dari yang lain!”
“Aku tidak membawa apapun saat aku lahir dan mati nanti, untuk apa aku menginginkan begitu banyak? Bagaimana kalau kamu memang punya uang, sumbangkan saja uang itu kepada badan amal Grup Feng? Anak-anak di panti asuhan sangatlah memprihatinkan, dan masih ada lagi banyak orang-orang yang kesusahan kehilangan rumah karena bencana! Ada juga orang jompo, sakit, dan cacat, dan semuanya adalah sasaran dari badan amal Grup Feng! Bagaimana kalau kamu menyumbangkan uangmu saja?”
Rong Baikuan tertegun dan langsung tertawa. “Kamu sama seperti ibumu, sungguh baik!”
“Apakah ibuku juga sangat baik?” Su Yan bertanya dengan penuh penasaran.
“Tentu saja!” Sambil berkata Rong Baikuan kembali membuka laci mejanya, mengeluarkan buku cek, lalu menuliskan sesuatu dan menandatanganinya. “Ini tiga juta yuan, selanjutnya ayah akan mulai beramal!”
“Ah!” Su Yan kebingungan, dia tidak menyangka bahwa Rong Baikuan akan begitu bahagia. “Benar-benar akan disumbangkan?”
“Tentu saja. Selanjutnya aku akan terus melakukannya setiap tahun!”
“Kamu sungguh baik!” Su Yan hampir saja memanggilnya “ayah”, tetapi kalimat tersebut tetap tidak dapat terlontarkan keluar meski sudah sampai pada mulutnya.
Rong Baikuan memberikan cek tersebut kepadanya, lalu melihat wajah kecil Su Yan dan berkata, “Sebenarnya, jika villa tersebut bisa dibangun, ayah masih bisa menyumbangkan sepuluh juta yuan, dan dapat membantu lebih banyak orang!”
“Benarkah?” Su Yan terkejut. “Kalau begitu bangun saja, mengapa begitu sungkan?”
Rong Baikuan hanya tersenyum, lalu berkata dengan sedikit ragu: “Apakah kamu tidak mengetahuinya, bahwa pegunungan itu adalah milik dari keluarga Feng!”
“Milik keluarga Feng?”
“Apakah Yibai tidak pernah memberitahumu?” Ucap Rong Baikuan dengan tenang.
“Mengapa dia memberitahuku?” Su Yan bertanya dengan bingung.
“Ayah ingin membeli tanahnya!” Rong Baikuan berkata dengan santai, namun memiliki makna yang sangat dalam.
__ADS_1
“Kalau begitu bicaralah padanya!” Su Yan sama sekali tidak mengerti mengapa dia membahas masalah yang sangat mudah tersebut kepada dirinya? Tiba-tiba, matanya berputar seperti terpikirkan sesuatu. Bukan berarti dia bodoh apabila dia tidak memikirkannya. “Dia tidak setuju untuk menjualnya kepadamu? Kamu ingin aku membantumu? Bahkan amal donasi yang kamu bicarakan pun juga memiliki tujuan lain?”
Rong Baikuan tersenyum sedikit canggung, tidak mengira bahwa dia akan begitu pintar. “Bagaimana bisa. Ayah akan pergi berbicara sendiri dengannya. Jangan sampai hal ini mempengaruhi hubungan kalian sebagai suami istri! Kita tidak bisa menjadikan amalan sebagai bahan bercanda, ini adalah uang penyelamat hidup bagi banyak orang! Ayah tidak sejahat itu!”