AYAH, MAAFKAN AKU

AYAH, MAAFKAN AKU
Bab 189 Bukannya Tak Percaya


__ADS_3

Hello! Im an artic!


“Uh…” Sebuah perasaan familiar melingkupinya, membuat hatinya jadi jauh lebih tenang.


Qin Yinuo membuka selimutnya, tubuhnya yang kekar menekannya.


Hello! Im an artic!


Mu Xue langsung kaget, “Tak mau! Jangan begitu, Qin Yinuo!”


Qin Yinuo terus mengisap bibirnya, “Kau ini memang perlu dipukul. Kau hanya boleh jadi milikku. Apa kalau tak dicicipi orang lain kau jadi kecewa?”


“Benar kah?” Mu Xue mulai percaya. Mungkin benar-benar tidak ada. Ia samar-samar ingat Qin Yinuo meneriakkan namanya, ia mendengar suaranya di telinganya.


“Xiao Xue, ini aku! Aku Qin Yinuo….” Ia berteriak sekali lagi di samping telinganya. Suaranya sebegitu familier, membuat hatinya bergetar, “Aku terus meneriakkan namamu di samping telingamu. Istriku, kau lupa ya?”


Hello! Im an artic!


“Qin Yinuo, benar-benar kau orangnya! Aku benar-benar kaget setengah mati!” Tiba-tiba Mu Xue jadi tenang. Hatinya yang tegang jadi tenang. Maka ia langsung terisak, membenamkan kepalanya ke dalam bahu Qin Yinuo dan mulai menangis.


“Aku! Selalu aku! Gadis bodoh, kalau pun misalnya kau kenapa-kenapa, kau tetap wanita milikku. Seumur hidup jadi wanita yang takkan berpisah denganku! Kau tenang saja, kedepannya aku takkan membiarkanmu tersakiti lagi!” Ia menenangkannya dengan lembut. Ia sakit hati sekaligus sedih.


“Kukira…kukira orang lain…” Ia memeluk leher Qin Yinuo erat-erat, menerima rasa hangat serta penenangan darinya, “Aku takut sekali!”


Mu Xue mengalirkan air matanya.


“Sudah! Gadis bodoh, jangan nangis lagi! Kau ini bersih, murni! Hehe…Aku tak pernah melihat wanita yang sebegitu tak percayanya pada ayahnya! Sudah, jangan menangis lagi…” Suara tawa Qin yinuo dekat sekali, terdengar di samping telinganya.


Mu Xue tertegun, air matanya berhenti mengalir, ia agak tidak enakan, “Qin Yinuo, aku takut diriku tidak bersih lagi, takut…”


Qin Yinuo mengulurkan jarinya dan ditekankan pada bibirnya, “Tak peduli apapun yang terjadi, kau adalah wanita milikku! Yang kumau adalah dirimu, mengerti?”


Mu Xue tersentuh, mengangguk, “Terima kasih!”


Katanya Qin Yinuo tetap menginginkannya tak peduli apapun yang terjadi, tapi Mu Xue mana punya muka? Ia tidak bisa.


“Gadis bodoh, kali ini sudah percaya padaku kan?” Qin Yinuo menggendongnya, berbaring di samping tubuhnya. Ia ingin tidur rasanya, tapi ia tak punya waktu. Masih ada banyak sekali masalah yang menunggu untuk diurus.


“Ya!” Mu Xue mengangguk, menarik nafas dalam-dalam, akhirnya ia jadi lebih tenang.


“Aku harus pergi!” Qin Yinuo berkata, “Terlalu banyak hal, aku harus mengurusnya seorang diri. Kusuruh Du Jing untuk mengantarmu pulang, oke?”


“Ya!” Tiba-tiba Mu Xue teringat akan sesuatu, “Anu, orang-orang itu benar-benar tidak menyentuhku kan?”


“Tidak!” Qn YInuo berkata dengan tegas.


“Kalau, kalau begitu mereka siapa? Kenapa mereka berbuat seperti ini padaku? Aku kan tak berbuat salah pada mereka!” Ia benar-benar tak tahu mereka itu orang-orang yang muncul dari mana. Ia takut sekali, hatinya sudah trauma.

__ADS_1


“Mo Yihui. Dia agak paranoid, tapi sudah dibawa ke kantor polisi! Sekarang kau masih belum boleh keluar. Pulang dan diam disana. Kalau kubilang kau tak boleh keluar maka kau tak boleh keluar. Menurut, oke?”


“Mo Yihui, dia…” Mu Xue tak berani memercayainya. Kenapa wanita itu bisa sekejam ini, teringat akan wanita bertopeng yang dingin itu mendesak beberapa orang itu untuk memerkosanya. Hatinya langsung merasa jijik, ia agak bergetar, “Kenapa ia berbuat seperti ini padaku?”


“Dia jadi agak paranoid, selalu tak bisa lepas dari masalah Yilan! Mungkin dia dan Yilan jadi sama seperti ibu mereka, ada keturunan penyakit genetik. Aku khawatir dia akan terus membuat keributan dan membahayakan kita.” Tatapan Qin Yinuo jatuh pada wajah Mu Xue, “Kau menyalahkanku tidak?”


“Menyalahkanmu apa?” Mu Xue bingung.


“Hanya memasukkan Yihui ke kantor polisi.” Ia berkata, menatapinya dalam-dalam.


Mu Xue tidak berbicara. Begitu ia memikirkan dirinya hampir diperkosa bergiliran ia langsung merasa kalau Yihui benar-benar sudah paranoid. Ia hanya berkata pelan, “Kalau dia benar-benar gila, takutnya hukum juga tak berpengaruh untuknya. Mungkin masih ada lain kali. Aku tak ingin dia kenapa-kenapa, hanya takut akan terjadi hal seperti ini sekali lagi.”


Tatapannya yang penuh dengan ketakutan membuat hati Qin Yinuo sakit. Ia tertegun sebentar, alisnya bertautan. Ya, mungkin akan ada kejadian sekali lagi. Qin Yinuo menggeleng, “Tidak akan lagi. Xiao Xue, aku akan mengurusinya baik-baik, percaya padaku!”


Mu Xue mengangguk, tatapannya agak ragu, bagaimana cara Qin Yinuo mengatasinya? Membunuh Mo Yihui kah? Mu Xue menggeleng. Tidak akan, kalau hari ini Mo Yihui bisa mencari lima pria untuk memerkosanya, lalu lain bagaimana lain kali? Kalau kali ini ia bisa berbuat seperti ini, maka lain kali bagaimana? Mungkin ia masih akan membahayakan anak-anaknya. Kalau ia terus paranoid, Mu Xue tak bisa membayangkan. Tiba-tiba ia ketakutan.


“Handphone! Handphone!” Mu Xue berkata dengan terburu-buru, “Aku ingin menelepon!”


***


“Telepon siapa?” Qin Yinuo bertanya dengan kebingungan. Tapi ia masih tetap memberikan handphone padanya.


Melihat Mu Xue yang gugup, ia agak khawatir.


“Ayahku.” Mu Xue berkata dengan kacau. Saat ini yang terpikirkannya adalah ayahnya. Memikirkan anak-anaknya, ia langsung menelepon Pei Lingfeng. “Aku ingin ayahku melindungi anak-anakku. Aku mau pulang, mau bersama mereka. Aku tak mau ada sesuatu yang terjadi lagi. Qin Yinuo, aku takut sekali!”


Ia menggenggam handphonenya dengan sekuat tenaga. Qin Yinuo melihat jari-jarinya yang sampai memutih, hatinya jadi sakit.


“Xiao Xue, sekarang ayah dalam perjalanan. Baru selesai mengurus urusan di kantor polisi. Kau tenang saja lah, ayah akan menghancurkan mereka, membuat mereka jadi orang kasim. Hal-hal yang tak bisa diatur oleh hukum, akan ditangani oleh ayah. Tak ada orang yang boleh menyakiti putri kesayanganku!” Begitu menerima telepon, Pei Lingfeng langsung berkata panjang lebar, “Anakku sayang, kau benar-benar tidak apa-apa kan?”


Hati Mu Xue terasa hangat, ia tahu dirinya benar mencari ayah, “Ayah, aku tak apa-apa. Untung saja tak apa-apa!”


Hanya saja luka di dahinya agak sakit. Tapi ia sama sekali tak memedulikannya, “Ayah, aku bisa meminta tolong satu hal?”


Menggunakan kata “meminta tolong” membuat hati Pei Lingfeng jadi sakit. Bahkan hati Qin Yinuo juga ikut sakit. Suara Mu Xue yang bergetar sambil meminta tolong, hati Qin Yinuo jadi kacau sekali.


“Xiao Xue, jangan berkata seperti ini pada ayah. Kau katakan saja, hal-hal yang kau minta akan ayah lakukan!” Pei Lingfeng berjanji di seberang telepon.


“Ya, terima kasih ayah. Ayah bisa membantuku menjemput Tian Yu dan Cheng Cheng pulang? Aku takut mereka juga disakiti, aku takut sekali! Bisa?” Nada suaranya terdengar rendah diri.


Kata-katanya membuat Qin Yinuo tertegun. Ia menatapi Xiao Xue, hatinya kaget. Xiao Xue tak percaya pada dirinya kah?


Sepertinya Mu Xue tak percaya dirinya bisa mengurus masalah ini, sehingga barulah ia memohon pada Pei Lingfeng. Ia juga tidak berkata padanya, apakah Qin Yinuo telah mengecewakannya? Hati Qin Yinuo jadi menyalahkan dirinya sendiri.


“Baik, aku akan segera menyuruh orang untuk menjemput anak-anak kembali dari rumah keluarga Qin. Kau jangan takut, ada ayah. Beberapa hari ini mereka tak usah ke sekolah, tunggu kuhabisi orang dibalik layar baru kita pikirkan lagi!”


“Terima kasih, ayah!” Hati Mu Xue hangat, matanya memerah, “Kalau begitu maka aku tenang!”

__ADS_1


“Aku segera sampai di vila untuk menjemputmu pulang.”


“Ya!” Mu Xue mengangguk.


Memutus teleponnya, ia melihat tatapan Qin Yinuo yang rumit. Ia tertegun sesaat dan baru menyadari sesuatu. Dirinya yang berbuat seperti ini bukannya jelas-jelas tidak memercayai Qin Yinuo?


Mungkin dirinya tak terlalu percaya, atau mungkin dirinya bukannya tidak percaya, ia hanya khawatir ketika mengurusi kakak beradi keluarga Mo, hati Qin Yinuo akan jadi ragu. Dirinya benar-benar takut. Kali ini dirinya tak kenapa-kenapa, tapi siapa yang bisa tahu kedepannya.


Ekspresi Qin Yinuo rumit sekali, ia menyalahkan dirinya dalam-dalam. Ia menatapi Mu Xue, “Maaf!”


Sepasang lengannya yang bertenaga memeluk Mu Xue erat-erat. Mu Xue mencium bau rokok yang familier. Ini adalah bau yang dirindukannya, pelukan yang dirindukannya. Ia menjelaskan dengan pelan, “Qin Yinuo, bukannya aku tak memercayaimu, tapi aku takut! Aku takut tiba-tiba Mo Yihui akan keluar, lalu melakukan sesuatu pada kita, aku takut!”


“Aku mengerti!” Terdengar suara serak pria itu, menyentuh hatinya.


Mata Mu Xue jadi basah, ia menggeleng, “Kalau kenapa-kenapa lagi, aku hanya bisa mati. Aku tak bisa membiarkan anak-anakku dicelakai, maaf! Maafkan aku yang egois, tapi aku tak bisa mengambil resiko lagi.”


Qin Yinuo menunduk mengecup wajahnya dengan penuh kasih, lalu meletakkan kepalanya di bahu Mu Xue. Ia mencium baunya, ekspresinya penuh dengan rasa bersalah, akhirnya ia berkata dengan pasti, “Aku akan mengurusnya!”


Mu Xue menarik nafas dalam-dalam dan mengulurkan tangannya untuk membelai punggung Qin Yinuo.


Mu Xue menyandarkan kepalanya pada bahu QIn Yinuo, mengambil tenaga darinya, tiba-tiba ia merasa lega, “Kita tak bisa mengambil resiko lagi. Dia memakai topeng dan mendesak kelima pria itu untuk menyakitiku. Begitu teringat akan kata-katanya, aku takut sekali!”


Karena masalah ini, Mu Xue sampai melompat ke laut. Ia lebih memilih mati dibanding dipermalukan. Ini adalah sebuah horor untuk wanita. Untung saja ada Qin Yinuo, kalau tidak ia tak tahu harus bagaimana untuk terus hidup.


“Maaf!” Qin Yinuo hanya bisa berkata seperti ini. Mungkin dirinya benar-benar terlalu baik pada Yihui, kebaikannya itu membuat wanitanya tersakiti.


Kata maaf itu terdengar berat.


Mu Xue bukannya tak tahu rasa sakit di hati Qin Yinuo, “Aku tahu kau merasa berhutang pada Mo Yilan, kau selalu merasa bersalah. Aku tak akan meminta apapun padamu. Tapi aku ingin melindungi anak-anakku baik-baik. Qin Yinuo, kau mengerti?”


“Aku mengerti!” Ia memegang wajah Mu Xue, menciuminya dengan lembut. Bibir wanita yang pucati ini perlahan kembali memerah, “Aku yang membuatmu merasa tidak aman!”


Terdengar suara ketukan pintu, dan terdengar suara Du Jing dari luar, “Qin Yinuo, pakaian Xiao Xue sudah sampai, kau biarkan dia ganti baju dulu!”


Qin Yinuo keluar dan menerima pakaian tersebut. Saat ini ternyata hari sudah gelap.


Ia dan Du Jing berdiri di koridor, sementara Xiao Xue berganti pakaian di dalam kamar.


“Sepertinya kau tahu siapa yang menyakiti Xiao Xue!” Du Jing berdiri di koridor, menatapi Qin Yinuo dengan dingin dan tatapan rumit.


Qin Yinuo mengangguk, “Aku akan mengurusnya!”


“Seperti ketika kau mengurus orang-orang tersebut waktu ia keguguran?” Du Jing mengerutkan alisnya, “Para pria bisa kau hancurkan. Tapi wanita? Kau berencana menghancurkannya seperti apa?”


Qin Yinuo tertegun. Ia tak menyangka kata-kata Du Jing akan setajam ini. Tapi ia tahu kalau Du Jing tengah mengkhawatirkan keamanan Xiao Xue.


“Kata Zeng Li orang itu adalah seorang wanita. Kau, pasti tidak tega kan?” Du Jing telah bersama Pei Lingfeng selama bertahun-tahun, ia sudah jadi sensitif, sehingga ia bisa tahu hal-hal yang tidak normal. Kalau seorang wanita hendak melukai Xiao Xue, pasti saingan cinta kan? Itulah kesimpulan Du Jing, “Kalau kau tidak tega, aku bisa mematikannya!”

__ADS_1


“Bukan!” Qin Yinuo menggeleng, “Aku takkan mengizinkan siapapun yang menyakiti Xiao Xue berkeliaran diluar.”


“Tapi menurutku mengantarnya ke kantor polisi bukan ide bagus. Hukum hanya bisa menghentikan orang-orang tak berguna, siapa yang bisa memastikan kalau kedepannya setelah keluar dia tidak akan balas dendam? Ada orang yang tak lelah untuk balas dendam, mungkin hanya akan menghabiskan hidupnya untuk balas dendam, apalagi para paranoid! Aku takkan mengizinkan siapapun menyakiti Xiao Xue!” Tatapan Du Jing penuh dengan kepastian, “Kalau kau tak punya kemampuan untuk melindungi Xiao Xue, maka kata-katamu itu hanyalah sebuah kekosongan!”


__ADS_2