
Hello! Im an artic!
Kemudian keheningan yang lama, keheningan yang lama sekali, saking lamanya sampai ia merasa orang itu takkan mengirimkan pesan datang lagi, tiba-tiba sebuah pesan muncul: “Kamu benci padaku??”
Benci kah?
Hello! Im an artic!
Mu Xue menanyakannya dalam hati, sebuah persetujuan, sebenarnya mereka sudah membicarakannya baik-baik, untuk apa membencinya? Ia bahkan tak tahu harus membencinya atau membenci diri sendiri! Sudah lima tahun, tapi perpisahan antar darah dagingnya membuat hatinya terus tercabik-cabik, ia tidak membencinya merebut anaknya, tapi benci setelah lima tahun kemudian malah melakukan hal itu sekali lagi, ia menarik nafas dalam-dalam, mengirim sebuah kata– Benci!
Setelah lama sekali, datang sebuah pesan. “Tidurlah!”
Ia menatapi handphonenya dengan bingung, lalu tidak ada lagi pesan masuk, entah apa maksudnya, apakah orang itu marah karena satu kata “Benci” itu, tidak membiarkannya menemui anaknya lagi?
Mu Xue terjebak dalam pikirannya, menjadi kekasihnya selamanya, itu waktu yang panjang, panjang, panjang sekali sampai dirinya mati baru bisa lepas dari hubungan itu, bisakah ia menerimanya? Tapi ia bilang ia bisa menemani anaknya, hanya saja permintaannya itu!—
Hello! Im an artic!
Di dalam sebuah bar yang gelap, Qin Yinuo duduk di sudut, ia memegang handphonenya, tangan lainnya memegang rokok, dirinya terlihat malas dan lelah, namun tetap tidak kehilangan aura bossynya.
“Nuo, belakangan ini kamu agak aneh!” Zeng Li menaikkan gelasnya. “Kamu tidak fokus!”
“Dan kamu jadi santai lagi?” Suara dingin Qin Yinuo terdengar, kesepiannya yang samar membuat orang-orang tak bisa merasakan emosinya.
“Hah! Ternyata kalian di sini?” Tiba-tiba, sebuah suara indah ikut berkata.
Kedua orang itu menengadah, lalu melihat senyum cerah Zeng Yangyang yang muncul di depan mereka, ia tengah mengenaka T-shirt bercorak yang tertutup, membuatnya terlihat imut. Lalu jenas panjang putih abu-abu, kakinya mengenakan sepatu kanvas, begitu muncul di bar gelap ini langsung menghancurkan imagenya sebagai adik tetangga yang baik-baik.
“Kamu kapan pulang?” Zeng Li tertegun, ia sama sekali tidak menyangka. “Bukannya kamu bilang pada papa dan mama kamu tidak akan kembali lagi?”
“Baru pulang, dan aku tak melihatmu, maka aku datang kesini untuk taruhan!” Zeng Yangyang berkata sambil duduk.
“Kalian berdua mengobrol lah, aku pergi dulu!” Suara serak Qin Yinuo terdengar, ia berdiri, menatapi Zeng Yangyang lalu mengerdipkan matanya.
“Kakak Nuo, langsung pergi begitu saja kah?”
“Ini kan sesuai dengan maksudmu?” Setelah berkata, ia pergi.
Zeng Li menaikkan alisnya. “Maksud apa?”
“Terima kasih, kakak Nuo!”
“Hei! Apa maksud kalian?” Zeng Li bingung. “Yangyang, ke depannya jangan sering-sering kesini, di sini terlalu kacau, ayo pergi, pulang!”
“Bukannya kamu sering datang kesini?” Zeng Yangyang menggerutu. “Kamu boleh sementara aku tidak?”
“Kamu tidak boleh!” Zeng Li meneriakinya dengan bossy. “Pulang ke rumah!”
“Kamu antar aku!” Zeng Yangyang langsung menahan lengan Zeng Li. “Kak, sebenarnya aku sama sekali tidak suka sama suasana di sini.”
“Kamu pulang sendiri, aku masih ada urusan!”
“Kamu mau cari cewek lagi?”
Zeng Li tertegun, langsung tersenyum aneh. “Betul!”
“Kak!” Zeng Yangyang menaikkan alisnya. “Kuberitahu papa dan mama!”
Hari Jumat siang.
Mu Xue tengah menyambut tamu, tiba-tiba Qin Yinuo dan Zeng Li muncul di restoran.
“Hai! Xiao Xue, belakangan ini gimana kabarnya?” Zeng Li juga sudah lama tidak bertemu dengan Mu Xue.
“Eh, Kakak Zeng, Presiden Qin, apa kabar!” Mu Xue menyapa dengan penuh waas-was.
Qin Yinuo mengangguk pelan, tidak berbicara, tatapannya seolah tidak jatuh pada wajah Mu Xue. Sepasang matanya hanya menatap pada lift, kedinginan amtanya membuat orang-orang takut.
Qin Yinuo langsung berjalan ke arah lift.
__ADS_1
“Nuo, kamu naiklah dulu!” Zeng Li tersenyum pada Mu Xue, tatapannya penuh dengan perhatian. “Xiao Xue, sepertinya kamu tidak tidur baik-baik ya, tekananmu belakangan berat ya? Atau Mi Lei mengerjaimu?”
Orang yang di atas lift itu tubuhnya mematung, ia agak gugup.
Mu Xue menggeleng. “Tidak, aku sangat baik! Kakak Zeng, cepatlah naik!”
“Xiao Xue, sepulang kerja aku datang menjemputmu, kutraktir kamu makan, gimana?” Zeng Li sudah lama sekali tidak bertemu dengan Mu Xue, ia agak rindu padanya, dia kan penyelamat hidupnya.
Mu Xue menolak sambil tersenyum. “Tak perlu, kakak Zeng, hari ini aku mau pergi menjemput Cheng Cheng!”
“Kita pergi bersama, aku sudah lama sekali tidak berjumpa dengannya!” Zeng Li berkata.
Mu Xue merasa tidak bisa menolak lagi, maka mengangguk menyetujui. “Baiklah!”
“Baik, sepulang kerja aku menjemputmu, kita pergi menjemput Cheng Cheng bersama, tunggu teleponku!” Zeng Li menepuk-nepuk bahu Mu Xue dengan akrab, lalu ia membalikkan badan, saat ini barulah ia melihat di dalam lift lantai dua, Qin Yinuo seolah tengah bengong di suatu sudut.
“Nuo? Kenapa? Mau pergi makan sama kami?” Zeng Li menaikkan alisnya, mengira ia juga hendak pergi.
Mu Xue mendengar kata-kata Zeng Li, hatinya langsung mencelos, ia langsung melirik ke arah Qin Yinuo, tapi ia tidak menatapnya.
“Tak punya waktu!” Qin Yinuo berkata, lalu menghilang di balik lift.
Mu Xue tidak bisa lagi melihat sosoknya, hatinya jadi tenang, Zeng Li masih berpesan padanya lagi. “Jangan lupa, tunggu teleponku!”
“Baik!” Jawabnya dengan menurut.
Qin Yinuo tidak mengatakan apapun dari awal hingga akhir, bahkan tidak melirik ke arahnya sesaat.
Mungkin, ia benar-benar tak ingin mengganggunya lagi, Mu Xiang berpikir, pasti begitu, akhirnya ia bisa benar-benar melepaskan diri.
Sore ketika hampir tiba, Mu Xue tiba-tiba menerima sebuah pesan dari tuan rubah. “Sepulang kerja datang ke vila nomor 15.”
Mu Xue tertegun, ia agak terburu-buru, karena ia telah menyetujui Zeng Li, dan lagi hari ini Cheng Cheng akan pulang, sekarang kan akhir pekan, ia tidak bisa membiarkan Cheng Cheng seorang diri semalaman. “Bisa minggu depan?”
Kemudian tidak ada balasan lagi, Mu Xue mengira orang itu sudah menyetujui, maka ia tidak berkata apapun lagi.
Tapi Mi Lei malah berkata pada Mu Xue ketika ia hampir pulang kerja: “Xiao Xue, Nuo memesan makanan, kamu bantu aku antar sebentar, yang penting juga sejalan dengan bus umum kan, maka aku tidak menyuruh orang lain pergi lagi, hari ini ramai, sibuk sekali!”
Kemudian ia menerima telepon dari Zeng Li, “Kakak Zeng, pas sekali aku hendak mengantar makanan pesanan Presiden Qin, kamu tak perlu datang menjemputku lagi, aku sekarang sudah di dalam bus perjalanan ke kantor!”
“Kamu mau datang ke kantor?”
“Ya!”
“Baik! Kalau begitu kamu tunggu aku sebentar, selesai antar telepon aku, aku pergi mengurus sesuatu yang mendadak!” Zeng Li sepertinya agak tergesa-gesa.
“Baik!”
Mu Xue membawa kotak itu masuk ke dalam gedung perusahaan Qin, baru pergi dari tempat ini beberapa hari, tapi rasanya sudah agak asing.
Begitu resepsionis melihat Mu Xue, ia agak tertegun. “Mu Xue, kenapa datang?”
Ia tersenyum, berjalan ke lift. “Mengantar pesanan makan!”
“Kamu sekarang kerja delivery?” Ekspresi sang resepsionis tidak percaya, “Dirimu tak perlu sampai mengantar pesan makanan kali?”
“Aku naik dulu!” Pas sekali lift terbuka, maka ia pamit sopan dengan resepsionis, lalu masuk ke dalam lift.
Kemudian ia bertemu lagi dengan Xiang Jing, ia amat ramah.
“Xiao Xue, kenapa datang?” Xiang Jing langsung berlari ke arahnya.
“Xiang Jing, ini pesanan Presiden Qin, kamu antarkan lah!” Ia tahu kalau hendak bertemu dengan Qin Yinuo harus melalui persetujuan dari Xiang Jing, ia pernah jadi sekertaris, mana mungkin ia tidak tahu?
“Baik!” Xiang Jing tertegun, “Kamu letakkanlah, aku antarkan dulu untuk Presiden, kamu tunggu!”
Xiang Jing menekan telepon. “Presiden, makanannya telah sampai!”
“Suruh orang itu masuk!” Terdengar suaranya yang rendah, membuat Mu Xue dan Xiang Jing tertegun.
__ADS_1
Xiang Jing langsung berkata: “Xiao Xue, kamu antarkanlah sendiri!”
Wajah Mu Xue langsung mematung. “Aku tidak usah masuk lagi, kamu bilang saja padanya aku sudah pergi!”
“Tapi…” Xiang Jing belum sempat mengatakan apapun.
Tiba-tiba pintu kantor Qin Yinuo terbuka, ia berdiri di depan pintu, lalu melihat kedua orang itu, “Nona Mu, tak disangka kamu yang antar! Harap kamu masuk sebentar!”
Mu Xue terpaksa mengangguk, kemudian memasuki kantor Qin Yinuo. “Presiden, ada apa?”
Qin Yinuo duduk di atas kursinya, kelihatannya tenang sekali, menyalakan sebatang rokok. “Bagaimana kabarmu belakangan?”
Ini yang ditanyakannya, maka Mu Xue menarik nafas dalam. “Baik!”
“Kerja di Penungguan lelah tidak?”
“Lumayan!” Ia tidak tahu maksud Qin Yinuo, orang ini kan sibuk sekali, kenapa sekarang malah punya waktu untuk berbasa-basi dengannya, ini agak aneh, sementara Mu Xue tidak tahu apa yang tengah dipikirkan orang ini!
Pria ini bagai sebuah sumur tak berdasar, ia hanya merasa orang ini muramnya mengerikan sekali, ia ingin pergi, tapi tidak tahu harus berkata bagaimana, maka ia berdiri dengan was-was.
Qin Yinuo duduk di kursinya, lalu menyandarkan kaki panjangnya di atas meja, asap rokok yang mengepul menutupi wajahnya.
“Duduk lah!” Ia berkata.
“Presiden, aku sudah seharusnya pergi, ini pesanan Anda, kuletakkan kotaknya di atas meja!” Ia agak gugup.
“Kembalilah bekerja!” Ia meggoyangkan rokoknya, berkata pelan.
Mu Xue menengadah, menatapinya, “Tapi kerjaku sekarang baik sekali!”
“Kamu baru bisa pulang setelah jam sembilan malam setiap harinya, baik kah?” Ia menaikkan aslinya.
“Jadwal yang lebih penuh rasanya lebih bagus!” Mu Xue berkata.
Ia sendiri telah memecatnya, sekarang ia ingin dirinya kembali, itu tidak mungkin, sedari awal ia sudah tidak ingin berhubungan lagi dengan pria ini.
Ia meletakkan kotak makan, tersenyum, tanpa menunggu kata-kata Qin Yinuo selanjutnya, ia pergi.
Qin Yinuo membuka mulutnya untuk mengatakan sesuatu, namun pada akhirnya tak dikatakannya.
Keluar dari kantor Presiden, Mu Xue menarik nafas dalam-dalam, ia tersenyum pada Xiang Jing, sementara saat ini pas sekali Zeng Li datang. “Xiao Xue, sudah selesai?”
“Ya!” Mu Xue mengangguk.
“Kalau begitu ayo!” Zeng Li tersenyum sambil memencet tombol lift.
Lagi-lagi hari Senin.
Malam setelah jam sembilan, tamu di restoran sudah pergi semua, Mu Xue juga bersiap-siap pulang, sementara saat ini, ia menerima sebuah peesan masuk.
Kalimat yang sederhana sekali, tapi malah penuh dengan perintah: “Malam ini datanglah kemari!”
Ia melihat jam, sekarang sudah sembilan tiga puluh, ia menelepon untuk meminta sopir itu menjemputnya. Sepanjang perjalanan, ia diam sekali, si sopir juga diam sekali, terlihat jelas kalau sopir itu orangnya tidak banyak mengatur.
Ketika sampai, rumah itu terang sekali.
Ia menarik nafas dalam-dalam, mendorong pintu itu dan masuk, di atas sofa putih hall, Qin Yinuo yang mengenakan topeng tengah merokok, asbaknya sudah penuh dengan puntung rokok.
Jarinya yang panjang menjepit rokok itu, begitu mendengar ada yang masuk, ia menoleh, wajahnya tengah mengenakan topeng rubah, ia memiliki aura tersendiri.
Mu Xue takut akan terjadi sesuatu, maka ia berdiri di sana tak bergerak.
Ia menengadah, suaranya sengaja direndahkan: “Sudah makan?”
Ia tahu wanita ini baru pulang kerja, seharusnya belum makan, sementara dirinya juga belum makan.
Mu Xue menggeleng.
“Pergi memasak, aku juga belum makan!” Ia berkata.
__ADS_1
Mu Xue tertegun, menelan ludahnya.