
Hello! Im an artic!
Chengcheng adalah anak yang dia temukan di tepi sungai. Dia tidak ingin menceritakan hal ini kepada orang lain.
“Aku hanya bercanda!” Ceng Li tertawa.
Hello! Im an artic!
Tidak berapa lama kemudian ponsel Mu Xue berdering. Dia melihat itu adalah panggilan dari Qin Yinuo.
“Kenapa tidak diangkat?” Ceng Li merasa aneh.
“Tidak apa-apa!”
Tidak berapa lama kemudian, ponselnya kembali berdering.
Hello! Im an artic!
“Hallo?” Dengan terpaksa Mu Xue menjawab panggilan tersebut untuk menghindari kecurigaan Ceng Li.
“Apakah sudah
“Apakah sudah tiba di rumah?” tanya Qin Yinuo.
“Belum.”
“Cepat pulang!”
“Aku tahu!”
Setelah mematikan panggilan tersebut, Mu Xue tersenyum canggung, “Temanku,” dia menjelaskan.
“Oh, temanmu sangat memperdulikanmu. Xiao Xue, menurutmu orang seperti apa Qin Yinuo?” Ceng Li bertanya.
“Aku tidak terlalu mengenalnya,” jawab Mu Xue dengan kaku.
Hari senin telah tiba ….
Mu Xue kembali ke kantor untuk bekerja.
__ADS_1
“Xiao Xue, lama tidak berjumpa!”
“Akhirnya kamu kembali juga!”
Teman sekantor Mu Xue menyambutnya kembali.
Seharian ini Mu Xue sangat sibuk. Banyak pekerjaan yang harus dia selesaikan setelah ditinggal sekian lama.
Jam istirahat tiba, Mu Xue membereskan barang-barangnya kemudian berencana pergi makan.
Sangat kebetulan, Qin Yinuo juga beranjak keluar dari ruangannya. “Bagaimana bahumu?” tanya dia.
“Baik-baik saja,” jawab Mu Xue sambil menganggukkan kepalanya.
“Jam berapa kamu tiba di rumah?”
“Lupa,” Mu Xue menjawab.
“Apa?” Qin Yinuo mengerutkan dahinya.
“Pak, aku harap setelah proyek ini anda mengijinkanku untuk mengundurkan diri!”
Setelah makan siang, Mu Xue beranjak ke kantor Wu Jingxuan untuk membicarakan detail proyek. Setelah itu dia bersiap-siap untuk menjemput Chengcheng pulang sekolah.
Ketika hendak menunggu bus, dia melihat seseorang turun dari sebuah mobil. Orang itu ternyata adalah tuan Mao yang dia cari selama ini.
Dengan cepat Mu Xue mengejar lelaki itu sambil berteriak, “Tuan,apakah anda adalah orang bertopeng rubah tersebut?”
Mao Zhiyan menoleh dengan kebingungan, “Nona, aku sudah memberitahumu, aku tidak mengenalmu!”
“Tuan, kenapa anda tega? Hanya anda yang bisa membantuku! Beritahu aku, di mana dia? Bagaimana kamu bisa lupa?” ujar Mu Xue.
“Nona, apa yang anda inginkan?” tanya Mao Zhiyan.
“Aku ingin bertemu dengannya! Beritahu aku dimana dia!”
“Nona Mu, apa yang ingin anda lakukan setelah bertemu dengannya?”
“Apakah kamu sudah mengakui bahwa kamu mengenalku?” Wajah Mu Xue tampak senang. Dia merasakan adanya secercah harapan.
__ADS_1
“Nona, begini saja. Aku akan menanyakan kepadanya apakah dia ingin bertemu denganmu. Setelah itu aku akan meneleponmu. Bagaimana?””Tidak! Tanyakan sekarang juga di hadapanku! Aku ingin segera bertemu dengannya!”
“Baiklah!” Mao Zhiyan mengeluarkan ponselnya, “Tuan, nona Mu ingin bertemu denganmu!”
Mao Zhiyan menganggukkan kepalanya kemudian mematikan panggilan tersebut. “Nona, apakah kamu masih ingat rumah yang 5 tahun lalu?”
Bagaimana bisa dia ingat? Jika dia ingat apakah dia masih akan seputus asa ini? “Aku akan memberikan alamatnya kepadamu.”
“Tolong tulis juga nomor ponselmu,” pinta Mu Xue.
“Ini.”
“Terima kasih banyak!” Akhirnya Mu Xue dapat bertemu dengan anaknya.
Mu Xue menelepon sekolah. Dia berpesan agar Chengcheng tidur di asrama sekolah untuk malam ini. Mu Xue beranjak ke alamat tersebut. Ketika tiba di sana waktu telah menunjukkan pukul 9 malam. Mu Xue menarik napas panjang ….
“Masuklah!” Terdengar suara seorang laki-laki.
“Duduklah!” ujar Tuan Rubah, “Ku dengar kamu ingin bertemu denganku.”
“Aku mohon, aku ingin bertemu dengan anakku. Tolong ijinkan aku bertemu dengan anakku!”
“Duduklah, aku tidak suka orang berbicara denganku sambil berdiri!”
Mu Xue duduk di atas sofa, “Aku ingin bertemu dengan anakku.”
“Atas dasar apa?” ujar tuan rubah dengan datar.
“Tuan, ini adalah uang kamu berikan kepadaku, akan ku kembalikan kepadaku …,” ujar Mu Xue sambil mengeluarkan selembar cek dari tasnya. Tuan Rubah melirik cek tersebut sambil bertanya, “Kamu tidak menggunakan uang ini?” “Iya,” jawab Mu Xue.
“Kenapa?” tanya tuan rubah.
“Aku ingin bertemu anakku. Aku tidak menginginkan uang ini. Tolong kembalikan dia kepadaku!” Mu Xue memohon.
“Apakah kamu pikir anakmu akan mengingatmu?” tanya tuan rubah menyindir.
“Aku …,” Dia tahu apa yang dikatakan tuan rubah benar. Dia tidak mengikuti tumbuh kembang anaknya. Kemunculannya yang tiba-tiba ini, apakah anak tersebut akan mengenalinya?
“Satu lagi, apakah kamu mampu membesarkannya?” tanya tuan rubah dengan nada datar menyindir, “Uang sekolahnya setiap bulan berkisar belasan juta. Dia bersekolah di sekolah terbaik, ada pelayan yang melayaninya dan kehidupannya sangat enak. Jika kamu mengambil anakmu kembali, apakah dapat kamu bayangkan kehidupannya bersamamu akan sesusah apa?”
__ADS_1