AYAH, MAAFKAN AKU

AYAH, MAAFKAN AKU
Bab 587 Ada Momo Sudah Cukup


__ADS_3

Hello! Im an artic!


“Keluar?” Feng Baiyi tidak mengerti.


Dia tidak ingin pria itu melihatnya sedang mengganti pembalut, sungguh memalukan! “Aku tidak ingin kamu melihat! Tidak mau dilihat olehmu!”


Hello! Im an artic!


“Bajumu sudah kotor, aku akan menggendongmu pergi mandi!” Dia sudah mengenakan pakaiannya, mengabaikan teriakannya, ia lalu membungkuk dan menggendongnya masuk ke dalam kamar mandi, “Pembalutnya? Mana pembalut yang kamu beli sore ini?”


“Bukan urusanmu!” Su Yan merasa sangat malu.


“Malu?” Dia menggodanya. “Cuci dengan air hangat!”


Kemudian dia tidak lagi mempersulit dirinya, dia kembali ke kamar tidur dan mengambil pakaian dalam dan baju tidur yang baru. Dia melihat bahwa ****** ******** semua sangat lucu dan mempunyai pita kupu-kupu. Dia terdiam sejenak, meragukan diri sendiri apakah dia benar-benar menyukai seseorang yang jauh lebih muda darinya!


Hello! Im an artic!


Malam itu, mengerem di tengah-tengah perjalanan membuat Feng Baiyi merasa sangat tidak nyaman, tetapi dia juga lega karena dia tidak hamil! Masih bisa melanjutkan kuliahnya. Namun, ketika berpikir bahwa dia tidak hamil, dia juga merasa sedikit kecewa. Semua jenis perasaan berkecamuk di dalam hatinya. Berpikir bahwa suatu hari nanti dia akan melahirkan bayi seperti dia, atau seperti diri sendiri. Hasil kristalisasi cinta mereka berdua, sedikit dinantikan olehnya!


Hari-hari Su Yan agak sibuk. Setiap hari dia berjalan bolak-balik antara sekolah dan rumah sakit. Ditambah dia yang mengalami kram haid, membuat wajahnya menjadi pucat.


Beberapa hari berlalu dalam sekejap mata.


Chen Huilun masih tidak bisa berbicara, tetapi dengan jelas bahwa dia telah pulih dengan baik dan sudah bisa makan.


Dokter mengatakan ada gumpalan darah yang menekan sarafnya dan menghambat dirinya untuk berbicara. Setelah gumpalan darah tersebut hilang atau stasis darahnya hilang dia akan menjadi lebih baik lagi.


Pada hari minggu, Su Yan pergi ke rumah setelah menggambar, dan Feng Baiyi juga ada di sana. Dalam beberapa hari terakhir dia hampir selalu ada, dan Chen Huilun selalu merasa sangat senang apabila dapat melihat Feng Baiyi.


Seperti saat ini, Su Yan memperhatikan pandangan Chen Huilun yang terus tertuju pada tubuh Feng Baiyi. Dan dia yang juga duduk di dalam ruangan, ingin ikut merawatnya, tetapi dia tidak tahu harus berbuat apa, karena di dalam ruangan juga sudah ada perawat khusus. Dia mencoba berbicara dengan Chen Huilun, tetapi sangat jelas, sepertinya dia tidak suka mendengarnya berbicara.


Chen Huilun tidak tertawa dengan lelucon yang dia ceritakan, tetapi ketika Feng Baiyi berbicara, dia pasti tertawa.


Su Yan tiba-tiba merasa sangat sebal, dia merasa dirinya sangat tidak berguna.


Dan kebetulan, Guan Xiaojin sedang meneleponnya, mencarinya.


“Kakak kelas, cari aku?”


“Apakah kamu punya waktu? Keluar dan bantu aku!” Ucap Guan Xiaojin di telepon.


“Oke!” Su Yan setuju dengan senang hati. “Aku segera kesana!”


“Mau keluar?” Feng Baiyi baru saja selesai mengupas jeruk dan memberikan sebagian kepada Chen Huilun.


Su Yan melihatnya sedang menyuapi Chen Huilun. Chen Huilun membuka mulutnya dan kemudian tersenyum sangat bahagia. Dia tiba-tiba merasa bahwa tatapan mata Chen Huilun memandang Feng Baiyi begitu lembut, dan senyum bahagia di wajahnya tersebut begitu menusuk mata.


Su Yan kembali merasa sebal di dalam hatinya, “Itu Guan Xiaojin, dia memintaku untuk membantunya. Di sini untuk sementara tidak membutuhkan aku, aku akan pergi dulu!”


“Pulanglah lebih awal!” Feng Baiyi tidak menghentikannya.


“Ya!” Su Yan tersenyum cerah. Setiap kali dia merasa suasana hatinya sedang tidak nyaman, dia pasti akan selalu menutupi kesedihannya dengan senyuman. “Kakak Chen, aku pergi dulu! Biarkan Feng Baiyi yang menjagamu ya!”

__ADS_1


Mendengarkan itu Chen Huilun seketika tersenyum dengan sangat cemerlang, dan mengeluarkan sedikit suara: “Hm ––”


Su Yan mengangguk dan berbalik. Saat dia berjalan keluar dari ruangan, senyum di wajahnya seketika membeku. Terlihat raut kesedihan mewarnai di antara alisnya. Dia tidak terburu-buru untuk pergi, dia juga tidak mengerti mengapa dia menghentikan langkah kakinya.


“Huilun, ayo coba bicara!” Ucap Feng Baiyi berbicara kepada Chen Huilun dengan suara yang pelan.


“Ah ––” Chen Huilun mengucapkan nada tunggal sederhana seakan seperti anak kecil yang baru belajar berbicara.


“Jangan terburu-buru! Pelan-pelan!” Ucap Feng Baiyi lagi. “Berlatihlah perlahan. Nanti ketika kamu sudah sembuh, aku ingin mendengarmu bermain piano, bernyanyi, kamu harus cepat sembuh!”


“He –– He ––” Sepertinya itu adalah suara tawa dari Chen Huilun.


Su Yan kembali tersenyum, mengangkat kakinya, merasa langkahnya agak berat. Sepertinya Feng Baiyi tidak pernah berbicara begitu banyak dengan dirinya, tetapi dia berbicara banyak sekali dengan Huilun.


Su Yan memanggil taksi lalu menuju ke alamat yang dikatakan oleh Guan Xiaojin. Setelah turun dari mobil, dia mendapati bahwa itu adalah sebuah gang, sebuah gang yang jelek. Guan Xiaojin ternyata tinggal di tempat seperti itu, di sebuah pemukiman kumuh.


Dia berjalan masuk ke dalam memasuki sebuah bangunan rumah susun yang kumuh dan kemudian ia mendengar suara tangis seorang anak yang diikuti oleh suara Guan Xiaojin. “Bonekaku jangan menangis, jangan menangis!”


Su Yan tertegun untuk sejenak. Ia teringat akan perkataan Guan Xiaojin yang mengatakan bahwa dia sudah memiliki anak! Dia berjalan masuk ke dalam dengan tergesa-gesa, lalu dengan tidak sengaja ia seperti telah menabrak sesuatu. Suara retakan tersebut terdengar sangat keras. Ketika dia menoleh, dia menemukan bahwa itu adalah sebuah baskom besi tua.


Dia menjerit karena kaget. Tempat ini sangat kumuh, dimana-mana tersembunyi suatu misteri. Sekalinya tidak berhati-hati dia langsung menendang ranjau, begitu membalikkan badan dia kembali menendang tong sampah yang dia tidak mengetahui kepunyaan siapa. Semua sampah jatuh berserakan ke tanah membuat suara yang lebih keras lagi.


“Su Yan?” Guan Xiaojin sudah keluar, dan ketika dia melihat Su Yan dia mengerutkan bibirnya, “Maaf, sudah memanggilmu ke sini. Aku sudah tidak ada cara lain lagi!”


“Ada apa?” Su Yan mengikutinya masuk ke dalam, dan melihat seorang anak yang sedang menangis di dalam alat bantu jalan.


Setelah masuk ke dalam, dia menemukan bahwa kamar yang ditempati oleh Guan Xiaojin sangatlah sederhana. Hanya ada satu kamar, tidak ada kamar mandi dan perabotannya pun juga sudah bobrok, tetapi sangat bersih.


“Anakku!” Guan Xiaojin menarik ujung bibirnya dengan getir.


“Kakak kelas, apakah itu benar anakmu?” Ucap Su Yan masih tidak berani untuk percaya.


“Ini adalah putraku!” Ucap Guan Xiaojin. “Momo, kemari dan panggil bibi!”


Anak kecil itu sedikit tersedak, tetapi menatap Su Yan dengan matanya yang lebar.


Su Yan mencubit pipinya sambil tersenyum, lalu menyeka air matanya dengan tisu. “Wah, Sayangku mengapa kamu menangis? Siapa yang berani membuat kamu marah? Beritahu tante, tante akan menghajarnya untukmu!”


Anak kecil itu terus menatap Su Yan, dan tiba-tiba tertawa. Dan wajah kecilnya yang masih berlinangan air mata tersebut terlihat semakin imut ketika tertawa. Benar-benar seperti seorang malaikat yang sedang tersenyum. Menangis dan tertawa semaunya, dan hanya anak-anak yang dapat melakukannya. Dengan cepat ia langsung menyukai anak kecil ini. “Dia blasteran? Ah! Adik manis, ayo tertawa lagi! Ayo buat lambang hati di atas kepala dengan tanganmu!”


“Jangan, dia sedang pilek! Jangan sampai menular kepadamu!”


“Haha, tidak takut! Aku sudah besar!” Ucao Su Yan lalu mengecup manis pipi Momo. “Ya, anak kecil yang tampan. Ciuman tante manis tidak? Tante cantik tidak? Lihat, anak kecil yang tampan ini tertawa, suka sama tante ya? Matanya berwarna biru, indah sekali. Sayangku, bagaimana ini, tante sudah jatuh cinta padamu? Cepatlah beranjak dewasa lalu nikahi tante, oke? Kamu jadi pendekar pembasmi naga milik tante, ya? Begitu saja, Sayangku, cepatlah beranjak dewasa oke! Hehehe ……”


“Hehehe ……” Momo sang bocah tampan itu juga ikut terkikik tertawa bersama dengan Su Yan.


“Wajahmu besar juga ya! Meskipun anakku sangat menyukai wanita cantik, tetapi dia tidak tertawa pada semua orang!” Ucap Guan Xiaojin.


“Ha! Oh, ya?” Su Yan menggoda Momo, “Siapa namanya? Momo? Momo yang mana?”


“Ya! Momo dari kata orang asing!” Ucap Guan Xiaojin.


“Ayahnya kemana?” Tanya Su Yan dengan santai.

__ADS_1


Ucap Guan Xiaojin membelai: “Tidak tahu!”


“Ah ––” Su Yan tercengang dan menatapnya.


“Seorang yang tidak ku kenal. Waktu itu kakak pergi ke Prancis, dan minum terlalu banyak anggur merah dan tidak sengaja tidur dengan seorang pria semalaman. Sepertinya pria itu adalah blasteran. Bagaimanapun juga dia bukan orang barat murni. Setelah selesai aku pulang dengan membawa Momo!”


Pernyataan yang begitu datar sudah menjelaskan asal mula anak ini.


“Kamu tidak mencari ayah sang anak?”


“Cari dimana?” Guan Xiaojin tersenyum pahit. “Setelah hamil aku sempat pergi ke Prancis, tapi aku harus cari dimana! Dia hanya meninggalkan gantungan kunci, tidak ada apa pun, dan itu ditulis dalam bahasa Prancis, tidak ada yang tahu!”


Su Yan tercengang. “Astaga!”


“Tidak apa-apa! Tidak peduli, selama ada Momo itu sudah cukup!”


Su Yan merasa masam di dalam hatinya, dan bersimpati kepada Guan Xiaojin, “Kakak kelas, kamu membesarkan anakmu sendiri, dan masih harus pergi bersekolah. Momo masih sangat kecil, bagaimana kamu bisa mengurusnya?”


Guan Xiaojin menjelaskan, “Momo sedang sakit, oleh karena itu dia sering menangis. Dia biasanya tidak menangis. Hari ini aku telah memperlihatkan aib kepadamu! Bibi yang membantuku merawat anak itu juga sedang sakit, tetapi di rumah juga tidak ada makanan untuk dimakan dan aku pun juga tidak bisa membawanya keluar khawatir diterpa angin dan membuatnya menjadi demam lagi. Aku bisa menahan lapar, tetapi Momo tidak boleh sampai kelaparan, jadi aku ingin memintamu membantuku membeli barang!”


“Baiklah! Aku akan pergi membelinya!” Su Yan sempat berpikir apa yang ingin dilakukan olehnya! “Apa yang ingin kamu beli?”


Guan Xiaojin mengeluarkan uang dan sebuah catatan yang sudah ditulis olehnya lalu memberikannya kepada Su Yan. “Beli sesuai dengan ini!”


Su Yan melihat uang yang diberikan olehnya lalu menerimanya. Uangnya tidak banyak, dan Su Yan juga tidak bertanya lebih, berpikir bahwa dia yang hidup dengan sederhana seperti ini, kemungkinan tidak memiliki uang yang banyak.


Kemudian dengan sedikit malu Guan Xiaojin berkata, “Belilah yang ini dahulu. Minggu depan tempat ku bekerja paruh waktu akan membayarkan gaji untukku, dan aku akan membelinya nanti!”


“Baiklah!” Su Yan dengan senang hati mengambil catatan dan uang tersebut lalu pergi.


Sesampainya di supermarket dia baru menyadari bahwa harga barang-barang itu telah naik. Dan dia tidak bisa membeli banyak barang-barang tersebut. Su Yan berpikir bahwa Guan Xiaojin adalah seorang ibu tunggal, hatinya pun terasa masam. Mengapa selalu wanita yang terluka?


Kemudian, dengan menggunakan kartu kedua Feng Baiyi, dia membeli banyak sekali kebutuhan sehari-hari dan meminta truk pengantar supermarket untuk mengantarnya! Pelayanan langsung ke pintu.


Guan Xiaojin tidak bereaksi sampai setelah orang yang menurunkan muatan tersebut memenuhi ruangan! Setelah orang itu pergi, Su Yan menggoda Momo dengan gembira. Guan Xiaojin menatap Su Yan. “Su Yan, berapa duit? Aku akan membayarmu kembali!”


“Tidak perlu!” Su Yan melambaikan tangannya seraya acuh tak acuh. “Kita adalah teman, apa yang kamu bicarakan? Selain itu aku juga menggesek menggunakan kartu Feng Baiyi, tidak tahu habis berapa duit!”


“Su Yan!” Guan Xiaojin berkata dengan sungguh-sungguh: “Aku bukan pengemis!”


“Kakak kelas?” Su Yan mendongak, dan dia bingung saat melihat kesedihan di matanya. “Kakak kelas, aku tidak bermaksud begitu. Jangan bersedih!”


“Aku akan membayarmu kembali!” Guan Xiaojin tidak ingin berhutang kepada siapapun.


“Kakak kelas, kali ini saja. Aku berjanji untuk tidak melakukan ini lagi di masa depan, oke?”


Guan Xiaojin tetap bersikukuh. “Aku akan membayarmu kembali!”


Hati Su Yan merasa masam memikirkan kehebatan dari Guan Xiaojin, bukan karena dia tidak memahaminya, tetapi sama seperti dia yang tidak ingin menerima bantuan dari kakak Chi. Dia mengerti, “Kakak kelas, kamu berhutang padaku dahulu. Aku tidak terburu-buru, tapi aku juga bukan tidak menginginkannya. Bagaimana kalau kamu mengembalikannya kepadaku setelah kamu sukses nanti? Kalau kamu benar-benar tidak bisa menerimanya, tunggu saja saat adikmu ini telah menjadi miskin dan kesusahan, barulah kamu mengembalikannya kepadaku, jangan sampai aku mati kelaparan!”


Guan Xiaojin mengangguk, “Kamu benar-benar orang yang baik, membantu orang lain, dan tidak ingin menyakiti wajah orang lain! Kamu tidak akan jatuh miskin, kamu masih memiliki keluarga Rong!”


“Ha! Tergantung siapa orangnya! Orang lain juga tidak akan bisa mendapatkannya. Hanya kakak kelas saja yang memiliki keistimewaan seperti ini. Anak mu sangat tampan, aku suka! Aku ingin menikah dengannya! Kita jangan bahas uang lagi!”

__ADS_1


__ADS_2