AYAH, MAAFKAN AKU

AYAH, MAAFKAN AKU
Bab 37 Kehilangan Kendali


__ADS_3

Hello! Im an artic!


“Zhiyan, kamu sudah pulang?” Qin Yinuo melihat Mao Zhiyan datang, dia langsung mendekatinya dan menepuk bahunya, “Bagus, masih saja begitu kekar!”


“CEO, aku bertemu Mu Xue tadi!” Mao Zhiyan kalau bukan berlari cepat, mungkin dia sudah ditangkap oleh Mu Xue, bahkan tidak bisa kabur lagi!


Hello! Im an artic!


“Uuh!” Qin Yinuo tertegun, ekspresinya langsung berubah, “Dia sudah melihatmu?”


Mao Zhiyan mengangguk, “CEO, dia bertanya tentang hal…..”


Belum selesai bicara, Qin Yinuo sudah berlari keluar secepat angin. “CEO……”


Mu Xue mencari di seluruh penjuru kantor, ke mana dia? ke mana dia?


Hello! Im an artic!


Karena panik, air matanya sudah keluar dari tadi, wajah yang cantik tadi sudah terlihat sangat menderita, “Tuan Mao, di mana anda?”


Tidak ketemu! Tidak ketemu!


Air mata kekecewaannya terus mengalir keluar, Mu Xue jongkok di sudut tanggan, dia mulai menangis terseduh-seduh, “Kasih tahu aku dia di mana? Dia dimana?”


Dia terus menangis dan terlihat sangat kasihan, seluruh badannya bergetar, dia seperti tidak bisa menahan semua tekanan ini lagi.


HPnya berbunyi, tapi tetap tidak bisa memanggil wanita yang menangis ini, lorong tangga terdengar suara wanita yang menangis, tapi karena sangat jauh dari daerah kantor, tidak ada yang tahu hal ini.


Di ruang CCTV, Qin Yinuo menggenggam erat hpnya.


Dia sudah mencarinya di beberapa lantai, tapi tidak ketemu, makanya datang ke ruang CCTV.


Melihat di layar ada seorang wanita kecil yang berada di tangga, mata Qin Yinuo semakin dingin, terbesit sedikit penyesalan di kedua matanya, bahkan dirinya juga tidak tahu……


“CEO?” karyawan di ruang CCTV melihat Qin Yinuo dengan bingung, dia tidak tahu CEO sedang mencari apa.


Kemudian dia berlari keluar seperti angin.


Ketika Qin Yinuo muncul di depan Mu Xue, sudah 10 menit kemudian, dia masih menangis sambil memeluk kedua kakinya, seperti sudah mempertahankan gaya itu sangat lama.


“Mu Xue!” Suara dia terdengar rendah dan ada emosi yang kacau, Qin Yinuo kemudian jongkok dan mengangkat dagu wanita ini, wajahnya sudah terlihat kacau balau, Qin Yinuo tiba-tiba merasa sedih.


Dia menatapnya dengan lembut, wajah Mu Xue sangat pucat, tidak tahu apa yang terjadi, dia seperti masuk ke dunia lain, terus bergumam, “Tidak ketemu……aku…..aku tidak ketemu…….”


Tidak tahu perasaan apa yang berkecambuk di hatinya, Qin Yinuo menghela nafas.


“Mu Xue!” Dia memanggilnya dengan lembut dan menggenggam tangannya, “Wei, Mu Xue!”


Sialan! Kenapa dia tiba-tiba pingsan!


Qin Yinuo menggendongnya dan berjalan ke arah lift pribadi.


Sore jam 4.


“CEO dan Sekeretaris Mu kenapa tidak ada, bukannya mau meeting?” Ceng Li dan semua orang sudah menunggu di ruang meeting, tapi tidak bertemu dua orang itu.


Apakah mereka kabur? Ceng Li berpikir, tidak mungkin, dengan sikap Nuo, harusnya tidak mungkin!


Mansion Minghao


Cahaya matahari sore masuk lewat jendela, menyinari wajah wanita yang tertidur itu, bulu mata yang panjang itu terlihat bergetar.

__ADS_1


Qin Yinuo tahu dia sedang mimpi buruk.


Di dalam kegelapan, ada sebuah wajah bertopeng rubah, dia tersenyum dingin, kemudian menghilang dengan bayi di tangannya!


“Jangan pergi!” Dia berusaha menangkapnya, tapi bagaimanpun tidak bisa tertangkap.


Tiba-tiba, datang lagi seseorang, indera yang begitu sempurna, tatapan yang begitu tajam, dan menggenggam tangannya dengan lembut, dia berkata: “Kamu adalah wanitaku…..”


Dia adalah Qin Yinuo.


Dia kemudian menoleh ke arah topeng rubah itu dan mengapai tangannya, sambil berteriak: “Jangan pergi, jangan pergi….”


Tapi ketika dia mengulurkan tangannya, orang itu bayangan yang tidak bisa terkejar, Mu Xue melihat tangannya yang tidak pernah berhasil mengapainya, bayangan itu semakin menjauh.


“Jangan pergi!” dia mulai menangis lagi, Mu Xue kemudian berlutut, “Balikin anakku……”


Qin Yinuo yang mdengnarnya langsung terkejut, dia berpikir, apakah dia sudah terlalu kejam?


Dia menatap Mu Xue dengan tatapan yang begitu sedih, wajah Mu Xue terlihat begitu pucat, sepertinya kemunculan Mao Zhiyan begitu besar pukulan terhadapnya.


Ternyata dia masih tidak melupakan hal itu!, Ternyata, dia tidak pernah melupakannya! Melihat reaksinya, dia tiba-tiba takut kalau Mu Xue tahu faktanya, apakah dia akan membencinya?


Mu Xue kemudian kembali tenang, dia tiba-tiba teringat Chegn Cheng, dia tidak boleh tidur, tidak boleh tidur, dia masih punya Cheng Cheng, dia mau pergi mencari Cheng Cheng!


Qin Yinuo menatap wajah yang tidak tenang itu, wajah yang penuh air mata itu, dia bermimpi tentang apa? Dia kemudian menggenggam kepalan tangan Mu Xue dan berkata: “Bangun.”


Tiba-tiba tangan Mu Xue menggenggamnya, genggamannya begitu kuat dan bertenaga.


“Mu Xue, cepat bangun, kamu mimpi buruk!”


Mu Xue tiba-tiba membuka matanya, seluruh air matanya terjatuh, dia menatap Qin Yinuo, jiwanya seperti masih tertinggal di mimpi buruk tadi.


“Mimpi buruk?” Qin Yinuo berkata dengan lembut.


“Tidak apa-apa, Xiao Xue.” Qin Yinuo mengelusnya edengan lembut, dia tidak tahu mimpi buruk seperti apa yang dia alami, tapi dia tahu kenapa Mu Xue bisa mimpi buruk, dan kenapa bisa kehilangan kendali!


Setelah air matanya habis, dia terjatuh lemas di pelukan Qin Yinuo, sebelum tertidur, dia menggenggam erat kedua tangan Qin Yinuo dengan sangat kuat, seperti tidak akan melepaskannya.


Melihat bekas air mata di wajahnya, dan tangan kanan yang menggenggamnya dengan erat, Qin Yinuo menghela nafas sekali lagi.


Mu Xue terlihat takut, mungkin karena takut mimpi buruk itu akan muncul lagi, ekspresinya terlihat begitu mengkhawatirkan, tapi karena tangannya digenggam oleh sebuah tangan besar, dia berasa begitu hangat.


“Mu Xue, kamu pasti bisa, cepat tegar kembali!” Qin Yinuo berbisik di telinganya.


Qin Yinuo! Suara yang dingin ini adlaah Qin Yinuo, Mu Xue langsung duduk.


“Tidak!” Dia membuka selimutya dan ingin turun.


“Kamu mau ke mana?” Qin Yinuo melihat dia melepaskan tangannya, dia tiba-tiba merasa kosong, “Aku anter kamu!”


Tatapan Mu Xue akhirnya sedikit berwarna, dia duduk di pinggir ranjang dengan bingung, kemudian melihat ke Qin Yinuo, apa yang diucapkan tadi?


Tidak bertanya apa yang terjadi, hanya saja nadanya begitu lembut.


Dia mengelus pelan wajah Mu Xue dengan jari panjangnya, tatapan lembutnya terlihat sedikit berantakan, tapi dia berkata dengan tanpa paksaan, “Mau ke mana, biar aku anter!”


Mu Xue baru sadar, dan melihat sekeliling, kamar yang putih, furniture warna hitam, sprei berwarna putih, ini di mana?


“Ini apartemen aku?” Qin Yinuo melihat dia sedang bingung.


“Kenapa aku bisa di sini?” Dia tertegun, bukannya dia di kantor? Bukannya dia bertemu tuan Mao? Siapa namanya?

__ADS_1


“Kamu pingsan!” dia menjelaskannya, tapi suaranya terdengar sedikit bergetar, “Aku hanya bisa membawa kamu ke sini!”


“Jam berapa sekarang?” Dia bertanya.


“Sudah mendekati jam pulang kantor!” Qin Yinuo berkata.


“Kita tidak meeting?”


“Menurut kamu?”


“Maaf!” Mu Xue kemudian berdiri, melihat seprei yang putih ini, dia berpikir bahwa CEOnya pasti punya penyakit kebersihan, dia tertegun, sepertinya teringat sesuatu, lalu dia berkata, “Aku sudah menunda meeting perusahaan.”


“Besok baru meeting saja.” Qin Yinuo berkata.


“CEO, maaf.” Dia lalu turun dari ranjang, Mu Xue kemudian membuka pintu kamarnya dan berjalan keluar, Tuan Mao adalah orang yang tahu pria bertopeng itu, orang yang bisa membantunya mencari anaknya, dia ingin pergi mencari orang itu, tidak peduli apapun dia harus menemukan tuan Mao, tapi dia malah tidak tahu siapa namanya!


Bayi yang dia lahirkan itu dibawa pergi oleh pria bertopeng, dan dia tidak pernah melihatnya lagi, siapa yang tahu 5 tahun ini, setiap malam, dia selalu terbangun dan menangis!


Semua hal terlalu berlalu, lalu ketika bertemu tuan Mao dia sekali lagi memiliki harapan, walaupun harapan itu begitu kecil, dia juga mau mencarinya, “CEO, di kantor kita apakah ada seorang manajer marga Mao!”


Qin Yinuo melihat dia begitu sedih, dia tidak ingin wanita ini terus sedih lagi, “Tidak ada!”


“Beneran tidak ada?” wajah Mu Xue terlihat kecewa, tidak, seperti putus asa, dia ingat mendengar wanita itu memanggilnya manajer Mao, apakah dia salah dengar?


CEO dan sekretaris Mu tidak datang meeting, dalam 1 jam sudah tersebar di seluruh penjuru kantor, dan menjadi gosip paling panas sekarang, masih belum malam, CEO sudah membawa sekretaris Mu pergi, info dari ruang CCTV dan resepsionis, CEO menggendong sekretaris Mu pergi!


“Apakah sekretaris Mu hamil?” Tidak tahu siapa yang berkata.


“Beneran hamil?”


“Sekretaris Mu pingsan, dan CEO membawanya pergi, kalau tidak hamil kenapa harus menggendongnya?”


“……”


Seketika, rumor tentang Mu Xue yang hamil sudah tersebar ke seluruh kantor.


Mu Xue menolak di antar oleh Qin Yinuo, dia menenangkan emosinya, kemudian pergi menjemput anaknya.


“Mami, kamu nangis lagi?” Cheng Cheng melihat mata maminya yang bengkak, dia langsung tahu kalau maminya menangis.


“Tidak, mami tidak menangis!” Mu Xue terlihat tidak tenang. Sebelum pergi, Qin Yinuo memberitahunya, bersiap keluar negeri belajar 3 hari, dia hanya mendengarnya, tapi setelah diingat kembali, bagaimana dengan Cheng Cheng?


Dia dinas keluar, tapi bagaimana dengan Cheng Cheng?


“Lalu kenapa mata mami terlihat merah?”


“Cheng Cheng, bossnya mami mau mami pergi dinas, tapi Cheng Cheng tidak ada yang jaga nanti!”


“Tidak apa-apa, Cheng Cheng bisa tinggal di sekolah, banyak anak kecil yang mami dan papinya tidak jemput, jadi mereka hanya dijemput saat akhir pekan saja, mami, aku juga bisa begitu!”


“Uuh!” Mu Xue tertegun, kenapa dia tidak memikirkan bisa tinggal di sekolah? “Tapi kamu masih kecil!”


“Mami, aku sudah besar, sudah begitu saja, besok kita bicarakan ke guru, aku tinggal di sekolah! Mami, kamu jangan sedih lagi, Chegn Cheng sudah besar jadi tidak takut, aku suka tinggal di sekolah, banyak temannya, ke depannya Cheng Cheng bisa tinggal di sekolah saja!”


Bocah ini begitu pengertian, membuat Mu Xue merasa sedih, dia berpikir, kalau Cheng Cheng adalah anak kandungnya pasti sangat baik, walaupun dia menganggapnya sebagai anak kandung, dan juga tahu walapun anak sendiri juga belum tentu akan begitu pengertian dan baik, tapi kekosongan di dalam hatinya itu membuat dia sangat sedih.


“Sini! Mami gendong!” Mu Xue kemudian jongkok, “Mami gendong kamu pulang, tunggu mami pulang dinas, akan langsung pergi menjemput Cheng Cheng!”


“Baiklah! Mami sudah lama tidak menggendong Cheng Cheng!” Anak kecil ini langsung naik ke punggung Mu Xue, “Mami, kamu kapan baru pulang?”


Belum pergi, dia sudah mulai kangen dengan maminya!

__ADS_1


“Cepat kok!” Xiao Xue berpikir, harusnya sangat cepat.


__ADS_2