AYAH, MAAFKAN AKU

AYAH, MAAFKAN AKU
Bab 137 Mirip Ayah


__ADS_3

Hello! Im an artic!


“Dengan begitu kau sudah mengakui kalau Xiao Xue adalah putriku?”


“Bukan, bukan!” Ia berteriak dengan tergesa-gesa, “Aku tak kenal dengannya!”


Hello! Im an artic!


“Kalau begitu artinya benar! Selama beberapa tahun ini, bagaimana kehidupanmu?” Pei Lingfeng menurunkan nadanya, “Tak disangka kau akan menikah dengan Gong Peixin. Tapi kehidupanmu baik sekali, makan dan tinggal berkecukupan!”


Dalam nada suaranya tersirat perasaan yang rumit, seolah tengah mencela, “Aku sudah mendapatkan jawaban yang kuinginkan. Terima kasih sekali lagi padamu karena telah membantuku melahirkan Xiao Xue! Jagalah dirimu sendiri, Nyonya Gong. Aku takkan mengganggu hidupmu lagi! Selamat tinggal!”


Mei Xiyun tertegun. Sampai pintu ruangannya ditutup, barulah ia tersadar, kemudian mengejarnya dengan tergesa-gesa. Ia ingin menghentikannya untuk mengganggu Xiao Xue, tapi ketika pintu dibuka, sosok Pei Lingfeng telah menghilang.


Ia berdiri di pintu dengan bengong, hatinya kacau sekali, lalu bergumam, “Kenapa kau masih bisa kembali? Kenapa?”—


Hello! Im an artic!


Pagi-pagi ketika Mu Xue bertemu dengan Pei Lingfeng, kelihatannya ia sudah jauh lebih tua setelah tidak bertemu sehari. Ia kelihatan agak aneh, tapi entah dimana keanehannya.


“Xiao Xue, kau datang sebentar ke ruanganku!” Begitu memasuki perusahaan, Pei Lingfeng langsung berkata pada Mu Xue.


Ia masuk ke ruang kantornya.


“Presiden, ada perintah apa?”


Pei Lingfeng menengadah dari balik meja, tatapannya lembut, “Xiao Xue, sebenarnya tidak ada apa-apa. Hanya saja tiba-tiba aku merasa diriku sudah tua, ingin mencari teman berbicara!”


“Presiden tidak tua kok!” Mu Xue tertawa, “Presiden ini usianya pas sekali, kenapa bisa disebut tua?”


“Xiao Xue, pacarmu baik padamu?” Pei Lingfeng tiba-tiba berkata, “Eh! Mungkin aku agak kelewatan menanyakan ini, tapi hitungannya ini adalah perhatian dari orang tua pada generasi muda! Kau ini gadis yang baik hati dan lucu, aku berharap kau bahagia!”


Mu Xue melongo, tersenyum dengan tenang, “Baik! Sebenarnya ia baik sekali padaku!”


Kalau semalam orang itu benar-benar tidak tidur dan mengisap habis tiga bungkus rokok di depan rumahnya. Sebenarnya Qin Yinuo memang benar-benar baik.


Hanya saja, diantara mereka masih membutuhkan cobaan yang banyak. Akan bagaimana jadinya kedepannya, ia benar-benar tidak tahu.


“Kenapa kelihatannya kau agak ragu?” Pei Lingfeng menyadari kepahitan yang tersembunyi di dalam matanya, “Apa ada masalah?”


Tiba-tiba Mu Xue teringat akan Wu Jingxuan. Wu Jingxuan pasti mencintai Mi Le, tapi Wu Jingxuan sepertinya malah bersama presiden Pei. Maka ia jadi tak mengerti. Ia ingin berkata, namun kata-kata itu ditelannya kembali, ia tidak tahu harus bertanya bagaimana.


Dan lagi, kenapa presiden bisa kenal dengan Mei Xiyun. Jelas sekali begitu Mei Xiyun melihat Pei Lingfeng langsung pingsan. Dalam ingatannya, Mei Xiyun itu bukan wanita yang mudah menangis, apalagi pingsan.


“Apa yang ingin kau katakan?” Pei Lingfeng menyadari keraguannya akan berbicara.


Mu Xue menatapi Pei Lingfeng, “Presiden, kenapa Anda kenal dengan Mei Xiyun?”


Tangan Pei Lingfeng bergetar, kedua tangannya bertautan, “Xiao Xue, kenapa kau tak mau mengenalnya?”


Menghadapi pertanyaan ini, ia mengedutkan bibirnya, “Dia yang tak ingin mengenalku!”


Kedengarannya agak menyakitkan. Karena ketika ayahnya meninggal, Mei Xiyun tiba-tiba menelantarkan ia dan adiknya. Kemudian ia menikahi pihak keluarga Gong dan tak memedulikan mereka berdua. Ia pernah menangis sambil memohon pada Mei Xiyun, berharap ia bisa memberikan uang untuk mengobati Mu Xiao. Tapi Mei Xiyun hanya memberinya tiga puluh ribu yuan, sementara Mu Xue sudah menjual rumah tua itu, namun belum cukup untuk biaya pengobatan Mu Xiao. Ketika ia pergi memohon pada Mei Xiyun lagi, ia malah bilang jangan mencarinya lagi. Karena ia tak berdaya!


Seorang wanita yang tak peduli sama sekali pada putra dan putri kandungnya sendiri. Ibu seperti ini, ia tak membutuhkannya!

__ADS_1


“Ia tak mau mengenalmu?” Pei Lingfeng langsung mengerutkan wajahnya, “Dia orang seperti itu kah?”


“Ibuku sudah mati sedari awal, sudah mati delapan tahun lalu!” Mu Xue berkata dengan pahit, “Aku hanya bisa menganggapnya mati!”


“Bagaimana kehidupanmu selama beberapa tahun ini?” Tangan Pei Lingfeng makin bergetar, melihat sikap Xiao Xue pada Mei Xiyun, hatinya langsung sakit, “Kau bahagia tidak?”


Mu Xue merasa agak aneh, karena nada suara Pei Lingfeng terdengar sangat berhati-hati. Ia tak mengerti, kenapa tatapan presiden padanya agak aneh, bagai tengah menatapi seekor kucing liar, penuh dengan rasa mengasihani.


“Presiden, Anda jangan menatapiku dengan rasa kasihan begitu. Aku merasa diriku ini beruntung kok! Aku bukan anak liar, karena aku memiliki ayah yang menyayangiku. Dan lagi aku menyayangi ayah serta adik laki-lakiku. Meski adikku meninggal karena penyakit jantung, tapi kami bertahan hidup bersama selama beberapa tahun. Aku merasa diriku kaya sekali, karena aku memiliki keluarga!”


Hati Pei Lingfeng bergetar, terasa sakit, “Kau ini benar-benar anak yang positif!”


“Presiden, nada suara Anda mirip ayahku!” Mu Xue tertawa, tatapannya menerawang jauh. Ia benar-benar merindukan ayahnya, entah bagaimana keadaan ayahnya di surga sana, “Tapi ayahku sudah meninggal beberapa tahun yang lalu!”


Pei Lingfeng langsung berdiri dengan gugup, emosinya tidak stabil, “Xiao Xue, sebenarnya aku…”


Ia ingin berkata kalau ia sebenarnya adalah ayahnya! Tapi ia malah menelan kembali kata-katanya.


Akhirnya Pei Lingfeng tidak mengatakan apapun. Akhirnya ia hanya memberitahu Mu Xue di akhir pekan ia mengundang dirinya dan Cheng Cheng untuk bertamu ke rumahnya, dan Mu Xue tidak menolak.


Sepulang kerja, Mu Xue berjalan keluar dari perusahaan.


Pas sekali ia melihat Du Jing, sementara pria itu melihatnya dari jauh, namun tidak menyapanya, seolah tidak melihatnya sama sekali dan memasuki lift.


“Du…” Mu Xue tertegun, entah kenapa dengan Du Jing. Senyumnya membeku, lalu menatapi arah lift dengan curiga.


Ada apa dengan Du Jing? Bahkan ia tidak menyapa sama sekali?


Mu Xue tidak mengerti.


Tapi begitu ia keluar dari gedung, ia mendengar rekan-rekan kerjanya berteriak dari jauh, “Wah! Pria yang ganteng sekali!”


“Itu bunga yang hendak diberikan pada Mu Xue kah?”


Mu Xue berjalan beberapa langkah dengan cepat, lalu melihat ke arah kejauhan. Ia melihat sosok Qin Yinuo di bawah pancaran sinar matahari terbenam di kejauhan. Sepasang tangannya membawa sebuket bunga, ia berdiri tidak jauh dari pintu gedung, dan mengenakan jas resmi.


Mu Xue melongo. Ia berdiri di bawah kantornya dengan membawa sebuket bunga segar di tangannya. Ia ingin apa?


Ia menatap ke arahnya, sementara pria itu tengah menatapnya sambil tersenyum. Mungkin karena ia menghadap ke arah yang melawan matahari, sehingga Mu Xue tidak bisa melihat ekspresinya dengan jelas. Tiba-tiba detak jantung Mu Xue berdebar cepat. Setelah tertegun sesaat, ia mulai kalut. Ia melihat ke arah kejauhan, menyadari mobil Du Jing sudah melesat secepat anak panah meninggalkan lapangan parkir.


Mu Xue mengeratkan sepasang tangannya, berjalan selangkah demi selangkah ke arahnya.


Sementara di belakangnya adalah rekan-rekan kerjanya yang tergila-gila pada Qin Yinuo!


Qin Yinuo tersenyum, tangannya memegang bunga segar, sementara tatapannya yang dalam hanya jatuh pada dirinya.


Mu Xue menghentikan langkah kakinya di jarak satu meter darinya. Tatapan mereka saling bertemu, senyum Mu Xue agak malu-malu dan gugup.


Ia hendak mengatakan sesuatu, tapi kemudian Qin Yinuo berkata, “Istriku, menikahlah denganku.”


Mu Xue melongo!


Kemudian ketika dirinya melongo, Qin Yinuo berlutut tanpa memedulikan tatapan orang-orang. Ia menatapi Mu Xue dengan penuh perasaan, lalu berkata lagi, “Istriku, menikahlah denganku! Kupastikan mulai hari ini hingga kedepannya aku akan berusaha sekuat tenaga untuk melindungimu, mencintaimu, membuatmu bahagia! Terima kasih karena tak peduli apapun yang terjadi, kau selalu menghadapinya dengan senyuman. Kau tidak menyalahkanku. Ini semua salahku yang terlalu ceroboh, tidak memikirkan perasaanmu! Mulai hari ini, kupastikan tak peduli apapun yang terjadi semuanya tak sepenting dirimu. Aku akan mendahulukan perasaanmu, takkan melukaimu lagi!”


“Ah! Sungguh suasanya yang mengharukan!” Entah siapa yang berteriak.

__ADS_1


Mu Xue hanya merasa hatinya berdenyut sakit. Sekali demi sekali, sakit sekali.


Belum mendapatkan jawabannya, Qin Yinuo masih berlutut sebelah kaki. Tatapannya terkunci pada matanya, “Istriku, maafkan aku! Dan lagi, menikahlah denganku!”


“Nona Mu, cepat ambil bunganya!” Melihatnya yang terus bengong, akhirnya ada yang berteriak.


Wajah Mu Xue langsung memerah, berkata dengan nada rendah, “Qin Yinuo, kau cepat bangun!”


“Kau jawab aku dulu!” Ia mengerdipkan mata hitamnya.


Ia langsung menerima bunganya cepat-cepat, lalu mengulurkan tangan untuk menariknya. Untuk apa ia melakukan hal sememalukan ini. Mu Xue tidak senang, malah merasa ini memalukan sekali, “Qin Yinuo, cepat berdiri. Kalau tak berdiri aku takkan memedulikanmu lagi!”


Melihat Mu Xue yang telah menerima bunganya, maka Qin Yinuo berdiri.


Mu Xue memegang bunganya sambil berjalan keluar. Ia malu setengah mati, sampai mati pun ia tak mengira pria seperti Qin Yinuo bisa melakukan hal seperti ini. Memang ia bodoh?


Tapi hatinya malah senang. Ternyata kalau dibiarkan tidak tidur semalaman ia bisa melakukan hal seperti ini, sungguh mengejutkan.


Mu Xue berjalan keluar dengan langkah besar-besar, tangannya memegang bunga. Bunga ini masih wangi sekali pula, maka ia tak bisa menahan senyum, tapi langsung menengangkan dirinya.


“Istriku, tunggu aku, mobil ada disini!” Melihat Mu Xue yang sudah hampir melewati mobil tapi tidak hendak menaikinya, Qin Yinuo langsung menariknya. Tangan satunya lagi membuka pintu mobil dan ia memasukkan Mu Xue ke dalamnya.


Ia juga naik mobil, akhirnya mereka menjauh dari pandangan para rekan kerja.


Di dalam mobil, Mu Xue memengang buket bunganya dengan diam. Ia tak mengatakan apapun, hanya menatapi pemandangan di jalan.


Qin Yinuo mengemudi, melihatnya yang tak berbicara, ia tak bisa menahan diri untuk menatapinya. Matanya jernih, memantulkan berbagai warna.


“Istriku!” Ia berteriak tiba-tiba.


Sementara ia tak berkata apa-apa.


Qin Yinuo menghentikan mobilnya di tepi jalan dengan marah sekaligus gugup.


Mu Xue menarik nafas dalam-dalam, menoleh ke arahnya dengan curiga.


Qin Yinuo memegang kepala belakang Mu Xue, lalu memiringkan pinggangnya, mendekatkan tubuhnya padanya. Lidahnya yang hangat memasuki mulut Mu Xue, ia menciuminya dengan dalam. Ia menyentuh lidahnya, kemudian lidah mereka saling bertautan. Di bawah pancaran sinar matahari tenggelam, wajahnya yang tampan terlihat samar. Sementara Mu Xue sama sekali tak bereaksi.


Bunga yang ia pegang di tangan entah sejak kapan berpindah ke kursi belakang. Sementara bibir Qin Yinuo tidak melepaskan bibirnya, maka Mu Xue tak bisa menahan diri untuk memejamkan matanya.


“Ayo kita menikah, pernikahannya minggu depan!”Mata Qin Yinuo berbintang, menatapi Mu Xue yang bergumam pelan.


Apa? Dia bilang apa? Ia terburu-buru untuk menikah dengannya kah? Ia ragu pria ini tidak berpikir baik-baik!


Wajah kecilnya yang kaget terlihat imut sekali. Ia membuka sedikit kedua bibirnya, bibir yang baru dicumi Qin Yinuo semenggoda itu, Seolah tengah menunggunya untuk mencicipinya lagi. Maka Qin Yinuo tersenyum, tatapannya berapi-api.


Untuk sesaat Mu Xue terus terbengong, tidak bereaksi.


“Istriku! Kubilang, ayo kita menikah!” Sampai suara rendahnya terdengar sekali lagi, Mu Xue baru bereaksi.


Kemudian kesadarannya kembali perlahan. Wajah pria itu di depannya terlihat jahat. Seolah Mu Xue teringat akan sesuatu, maka ia langsung mengernyitkan alisnya. Kemudian ia menggigit bibirnya sendiri. Gerakan sekecil itu pun tak lepas dari tatapan Qin Yinuo.


Hati Qin Yinuo mulai gugup, setiap kali Mu Xue seperti ini, itu artinya ia hendak menolak. Maka hati Qin Yinuo langsung kacau, “Istriku, jangan menolak!”


“Aku tidak mau menikah denganmu!” Suaranya yang bergetar seolah dikatakan bersamaan dengannya.

__ADS_1


“Kenapa?” Ia mengernyitkan alisnya, memincingkan matanya. Nada suaranya ketika berteriak terdengar tidak senang, “Xiao Xue, kau masih marah padaku?”


“Aku sudah kangen dengan Tian Yu, aku mau pergi menjemputnya!” Ia mengalihkan pembicaraan, kedua tangannya mengait bersama.


__ADS_2