
Hello! Im an artic!
“Cepat Bangun!” Mu Xue meluruskan badannya sambil berteriak dengan kesal. Wajahnya memerah, dia merasa malu mengomel di dalam hati. Qin Yinuo menatap Mue Xueshu yang sedang kesal dengan tersenyum tersipu. Dia merasa sangat senang mencium Mu Xue.
“Aku akan meminta perawat untuk menyuntikmu!” ujar Qin Yinuo dengan tersenyum datar. Tangannya memeluk pinggang dan mengelus rambut Mu Xue. “Dia sudah melihatnya! Beritahu dia bahwa kamu adalah milikku!”
Hello! Im an artic!
“Kapan aku menyetujuinya?” Mu Xue terdiam. Wajahnya benar-benar sangat amat merah.
“Kamu tidak menolak ketika aku cium!” jawab Qin Yinuo dengan santai. “Ciuman itu adalah sebagai penanda bahwa kamu adalah milikku!”
“Oh ya satu lagi, jangan lagi berkorban untuk orang lain! Jangan selalu mau saja diperalat oleh orang lain!” ujar Qin Yinuo dengan arogan.
Mu Xue menatap Qin Yinuo dengan tatapan kebingungan, “Tapi bagaimana jika orang berlaku buruk kepada manager Zeng? Bagaimana jika kamu mengutus manager Zeng pulang saja?” pintar Mu Xue yang mengkhawatir manager Zeng.
Hello! Im an artic!
“Mu Xue!” Wajah Qin Yinuo tampak sangat murung. Jika sampai Mu Xue masih berani memperdulikan laki-laki lain maka Qin Yinuo akan memberinya pelajaran.
***
“Kenapa aku harus melakukannya?” tanya Qing Yinuo sambil menatap sekilas wajah Ceng Li.
“Tahun lalu ketika mengurusi pemutusan hubungan karyawan, aku memecat seorang karyawan tanpa mendengarkan penjelasannya terlebih dahulu. Selama setahun ini dia tidak mendapatkan pekerjaan karena reputisanya. Dia belum menemukan posisi yang cocok baginya. Maka dari itu dia nekad melakukan hal demikian!” Ceng Li menjelaskan kejadian tadi malam.
“Lalu apakah sudah beres?” tanya Qin Yinuo.
“Belum. Aku sedang menunggu keputusanmu!” Ceng Li merasa menyesal. Dia ingin sekali merekrut kembali wanita yang telah menyerang Mu Xue, tetapi dia sadar Qing Yinuo pasti tidak akan menyetujuinya.
“Lalu apa yang ingin kamu lakukan?”
“Aku ingin Pu Yingai kembali bekerja. Kemarin adalah salahku, aku bertindak gegabah. Aku tidak mempertimbangkan bahwa alasannya yang sering tidak masuk adalah karena anaknya yang sakit!”
“Apa? Kamu ingin merekrut kembali orang yang telah menyerang Mu Xue?” Qin Yinuo mengerutkan dahinya.
“Maka dari itu aku membutuhkan persetujuanmu!”
“Apakah dia akan berubah dan telah menyesali perbuatannya?”
“Tentu saja!”
“Baik kalau begitu!”Qin Yinuo menganggukkan kepalanya.
Mu Xue mendengar percakapan tersebut. Ternyata alasan penyerangan yang dilakukan wanita tersebut adalah karena alasan pekerjaan. Ternyata wanita itu adalah wanita yang baik pada dasarnya! Mu Xue tersenyum, dia merasa ada hikmah dibalik kecelakaan tadi malam.
Pu Yingai kembali masuk bekerja. Dia pergi ke rumah sakit untuk menjenguk Mu Xue.
Di depan kamar rawat terdapat 10 penjaga. Ketika masuk, Pu Yingai menunduk kemudian meminta maaf kepada Mu Xue. Dia kehilangan akal sehatnya dan melakukan hal yang nekad seperti itu.
__ADS_1
“Nona Mu, maafkan aku. Aku benar-benar meminta maaf setulus hati kepadamu!” ujar Pu Yingai sambil menundukkan kepalanya.
Mu Xue hanya terdiam. Dia tidak mengerti apa yang Pu Yingai katakan.
Wajah Qin Yinuo tampak tidak ramah. Dia memerintahkan penerjemahnya, “Bawa dia keluar. Suruh dia bekerja dengan baik!”
Ketika Pu Yingai pergi, Qin Yinuo berjalan mendekati Mu Xue, “Apakah kamu lapar?”
Mu Xue menggelengkan kepalanya kemudian bertanya, “Apa yag dia katakan? Aku tidak mengerti.”
“Dia meminta maaf kepadamu,” jawab Qin Yinuo
“Oh!” jawab Mu xue dengan tersenyum.
“Kenapa kamu tersenyum?” tanya Qin Yinuo.
“Aku senang kamu memperbolehkannya kembali bekerja,” jawab Mu Xue, “Kembalilah ke kantor!”
“Mu Xue, di antara kita berdua siapa yang adalah atasan?” Qin Yinuo bertanya denan wajah datar.
“Tentu saja kamu!”
“Lalu siapa yang berhak mengaturku bekerja?”
“Dirimu sendiri.”
Mu Xue tidak menduga bahwa Qin Yinuo akan bercanda dengannya, dengan tertawa dia menjawab, “Aku sudah puas tidur!”
Qin Yinuo tersenyum kecil sambil berkata, “Kalau begitu apa boleh buat. Kamu harus melihatku seharian ini!”
“Oh iya, kemana perginya nona Zeng?” tanya Mu Xue yang teringat dengan Zeng Yangyang.
“Tidak tau!” jawab Qin Yinuo dengan singkat sambil berfokus ke arah laptopnya. Ternyata dia sedag bermain game di dalam laptopnya.
Ketika sedang bermain, tidak berapa lama sebuah panggilan masuk. Qin Yinuo melihat ponselnya, ternyata Qin Maoxiang. Suaranya terdengat sangat panik, “Nuo, Tianyu hilang! Dia hilang!”
“Apa?” Qin Yinuo sangat terkejut, “Bagaimana bisa?”
“Supir yang pergi menjemputnya tidak menemukannya. Aku sudah melaporkan kepada polisi!” jawab Qin Maoxiang.
“Aku akan segera pulang!” ujar Qin Yinuo sambil melirik Mu Xue kemudian berkata, “Ayo kita pulang. Kita rawat lukamu di dalam negri!”
Mendengar ucapan Qin Yinuo, Mu Xue merasa ada yang tidak beres, “Ada apa? Apa yang terjadi?”
“Anakku!” jawab Qin Yinuo dengan suara lemas.
“Anakmu?” Mu Xue sangat terkejut, “Kamu memiliki anak?”
“Kenapa kamu tampak sangat terkejut?” tanya Qin Yinuo.
__ADS_1
“Tidak, tidak! Ayo kita pulang!” jawab Mu Xue.
“Apakah kamu khawatir?”
“Kenapa aku harus khawatir?” jawab Mu Xue. Apa hubungan dirinya dengan anak Qin Yinuo? Kenapa dia harus khawatir?” Di dalam hati Mu Xue sedang bertanya-tanya, untuk apa Qin Yinuo masih mendekatinya? Bukankah dia sudah memiliki istri?
Setiba di bandara, mereka keluar dari pesawat. Qin Yinuo tidak mengantar Mu Xue, malah dia meminta Ceng Li yang mengantar Mu Xue ke rumah sakit.
“Manager Zeng, antar saja aku pulang!” pinta Mu Xue. Dia merasa dia sudah baik-baik saja dan tidak perlu ke rumah sakit lagi. “Xiao Xue! Terima kasih telah menyelamatkan nyawaku!” ujar Ceng Li ketika mengantar Mu Xue pulang ke rumah.
Mu Xue tersenyum, dia merasa tersipu malu. Dia merasa yang dia lakukan memang sudah semestinya.
“Jika ada apa-apa jangan sungkan untuk meneleponku!” ujar Ceng Li yang kemudian memberikan nomor ponselnya kepada Mu Xue.
“Mami!” Chengcheng melihat Mu Xue. Dia berlari menghampiri, “Mami, kenapa pulang secepat ini? Bukankah kamu bilang akan sangat lama di luar negri?”
“Karena aku merindukanmu!” jawab Mu Xue sambil menggandeng tangan Chengcheng.
***
“Mami, lihat itu!” Chengcheng menunjuk ke arah seorang anak kecil yang sedang menangis di dekat halte bus, “Anak itu sedang menangis!”
Mu Xue menolehkan kepalanya, dia melihat seorang anak laki-laki sedang menangis. Umurnya kurang lebih dengan umur Chengcheng. Anak itu menangis dengan tersedu-sedu, dia tampak sangat sedih.
Mu Xue menggandeng tangan Chengcheng menghampiri anak tersebut, “Hai adik kecil, kenapa menangis?”
Melihat Mu Xue yang menghampirinya, anak laki-laki tersebut pun berhenti menangis.
“Kenapa?” tanya Mu Xue dengan sabar dan perhatian.
“Aku … aku … Ayahku akan memukulku, apakah kamu bersedia menampungku?” tanya Qin Tianyu dengan terbata-bata. “Mami, ayahnya sangat galak sekali! Kasian dia!” ujar Chengcheng yang merasa kasihan, “Kita bawa saja dia pulang ke rumah!”
Qin Tianyu melihat Mu Cheng, dia memiliki seorang ibu! Sedangkan Tianyu tidak memili ibu. Air matanya mulai terjatuh.
Mu Xue melihat anak ini sangat kasihan, hari pun sudah larut. “Begini saja, bagaimana kalau kamu ikut tante pulang? Nanti tante akan berbicara kepada ayahmu agar tidak memarahimu.”
“Tidak, aku tidak ingin pulang!” ujar Qin Tianyu sambil menggelengkan kepalanya. Di rumahnya hanya ada kakeknya yang tidak bersedia menemaninya bermain. Setiap kali Tianyu menanyakan keberadaan ibunya, maka kakeknya akan sangat marah.
“Ayo ikut aku pulang dulu. Hari sudah larut!” ujar Mu Xue sambil menggandeng kedua anak tersebut.
“Kenapa ayahmu ingin memukulmu? Apakah dia tidak tahu bahwa hukum tidak memperbolehkan memukul anak dibawah umut?” tanya Chengcheng. Tianyu hanya menunduk, dia merasa bersalah di dalam hatinya. Dia hanya sembarangan berbicara tanpa berpikir panjang.
“Tenang saja, jangan takut! Mamiku akan melaporkannya kepada polisi!” ujar Chengcheng sambil menepuk pundak Tianyu.
Tianyu terkejut mendengar ucapan tersebut. Dia tidak ingin ayahnya ditangkap polisi! Setelah tiba di rumah, Mu Xue membuatkan makan malam untuk kedua anak tersebut.Dia berpikir akan mengantarkan anak ini pulang sehabis makan malam. “Siapa namamu?” tanya Mu Xue sambil memasak.
“Tianyu!” jawab Tianyu, “Tante, kamu sangat baik dan perhatian. Baumu seperti bau seorang ibu!”
“Hahaha, bau seorang ibu? Bau seperti apa itu? Tanya Mu Xue dengan tertawa.
__ADS_1