
Hello! Im an artic!
Tiba-tiba telepon berdering, Yu Jinglan mengangkat teleponnya, melihat nomor tidak dikenal, ia mengerutkan alisnya dan mengangkatnya.
“Hallo! Tuan Yu?” Pihak penelepon adalah seorang pria.
Hello! Im an artic!
“Kamu siapa?” Intonasi Yu Jinglan datar.
“Aku adalah siapa, itu tidak penting, yang paling penting adalah ada yang melihat istri anda Song Yinzheng menemui wakil presiden anda Xing Jiabai di apartemen pemandangan laut!” Hanya satu kalimat itu, telepon sudah dimatikan.
Yu Jinglan menatap nomor itu, menelepon kembali lagi, telepon sudah tidak aktif, ia tau bahwa orang itu sudah mengeluarkan kartunya, ini adalah sebuah telepon provokasi, wajah Yu Jinglan pucat. Bersama dengan Xing Jiabai?
Ia bergegas memutar balik mobilnya, menuju ruang pemandangan laut, tatapannya tajam, menatap jalan di depan, kecepatan mobilnya sudah mencapai 150 mil.
Hello! Im an artic!
Tiba di lantai bawah, Yu Jinglan mengangkat kepalanya melihat masih ada lampu yang terang di lantai 27, tangannya memegang setir dengan kuat, kemudian ia menenangkan emosinya, mengeluarkan ponsel, menelepon Xing Jiabai.
Xing Jiabai yang sedang makan malam dengan Song Yin tiba-tiba menerima panggilan telepon dari Yu Jinglan , mengerutkan alis, melirik Song Yin, mengangkat teleponnya. “Hallo, Lan, tengah malam begini tidak tidur, kenapa meneleponku?”
“Pergi minum bersama, bagaimana?” Intonasi Yu Jinglan sangat datar, sama sekali tidak terdengar emosinya.
Xing Jiabai kembali mengerutkan alis, sedikit curiga. “Minum apa? Tengah malam tidak tidur, Lan, kamu gila?”
“Yasudah!” Yu Jinglan menutup teleponnya.
Namun Xing Jiabai merasa merinding.
Dan Song Yin juga menegangkan dirinya, ternyata telepon darinya, ia sedang mengajak Xing Jiabai minum, dia malah ada suasana hati untuk minum, Song Yin tersenyum sendiri, hatinya terasa pahit, namun memaksakan senyuman, menundukkan kepala memakan steak. “Rasanya enak!”
“Telepon dari Lan, tengah malam meneleponku, apa kamu merasa sangat aneh?” Xing Jiabai sama sekali tidak mengerti.
Song Yin mengecap bibirnya, “Aku tidak tau.”
Saat ini ia juga tidak ingin tau Yu Jinglan berbicara apa.
Melihat raut wajahnya sangat tidak baik, Xing Jiabai bergegas peduli dengannya : “Maaf, sini, makan, mengalihkan suasana hati yang buruk dengan makan!”
Mengerti masalah Song Yin, juga tau antara dia dan Yu Jinglan ada masalah yang tak mudah diselesaikan, pada saat seperti ini, ia sebagai orang luar tidak pantas mengatakan apa-apa, lebih baik tidak berbicara apa-apa.
10 menit kemudian.
Bel rumah berbunyi.
“Tengah malam begini siapa yang mengetuk pintu, apakah istriku yang datang? Seingatku tidak banyak yang tau tempat ini!” Xing Jiabai bergegas berjalan kesana dan membuka pintunya.
Dengan tajam menatap orang yang datang, setelah melihat jelas siapa orang itu, ekspresi marah menegang diwajahnya, membuka mulutnya : “Lan, kenapa kamu kemari?”
Tatapan Yu Jinglan sangat kacau, menatap tajam Song Yin yang sedang duduk di meja makan, saat ini ia sedang mengenakan baju tidur, kelihatannya baru saja selesai mandi, betapa menusuknya pemandangan ini. Bisa-bisanya wanitanya berada di rumah wakil presidennya dan makan malam bersama!
__ADS_1
Song Yin berdiri, tatapannya ling lung, terkejut melihat Yu Jinglan .
Seketika pikirannya kosong, tidak tau harus mengatakan apa. Bagaimana menjelaskannya? Harus melakukan apa?
“Lan, masuk saja!” Setelah Xing Jiabai terbengong, ia kembali menenangkan diri, tersenyum dan berkata : “Song Yin juga ada di dalam! Tapi bagaimana kamu tau dia ada disini?”
Wajah Yu Jinglan sangat dingin, tatapannya jatuh pada tubuh Song Yin, terus menatapnya, tidak mengatakan apa-apa, juga tidak masuk, berdiri di depan pintu.
Song Yin terbengong, menaikkan pandangannya, dengan berani menatap matanya, berkata dengan pelan : “Aku mau bercerai!”
Song Yin menatap matanya, hampir runtuh dengan wajah muramnya. Matanya seperti anak panah yang tajam, seperti mau memanah tubuhnya, ia terbengong sejenak, kemudian berkata lagi. “Tidak ada ingin kukatakan denganmu!”
Selesai mengatakan ini, ia membalikkan badannya dan masuk ke kamar pertama di sebelah kiri.
Menarik nafas, ia tau bahwa kejadian malam ini sudah tak dapat dijelaskan. Ia mulai menukar pakaiannya, ia tidak boleh melibatkan Xing Jiabai dengan masalah, Yu Jinglan seperti mau memakan orang, mau makan orang, juga harus membiarkannya makan dirinya sendiri, jangan melibatkan Xing Jiabai.
Suara “Pang”, terdengar suara banting dari luar, kemudian terdengar suara bentakan Xing Jiabai : “Woi! Lan, bicarakan dengan jelas padaku, apa maksud pukulanmu ini?”
“Berbohong padaku! Apa alasan ini cukup?” Intonasi Yu Jinglan santai, wajah tampannya dingin, secara tidak langsung memberikan sikap sukai hati.
Song Yin bergegas menukar bajunya, berlari keluar, ia melihat Xing Jiabai sedang kesakitan dan melototi Yu Jinglan , satu tangannya meraba dagunya. “Kelahi? Tidak bilang juga termasuk bohong ya, kamu sangat keterlaluan, tidak heran Song Yin tidak tahan denganmu, Lan, kamu harus merubah sikap burukmu ini!”
“Menginginkannya?” Yu Jinglan menunjuk Song Yin, tersenyum pelan. “Beritahu kamu, dia benar-benar tidak pantas membuat kita berada di titik hancur seperti ini!”
Tubuh Song Yin gemetar, mengekspresikan wajah terlukanya, dengan tegas menatap Yu Jinglan dengan mata besar, tidak dapat melampiaskan emosinya, sejenak kemudian, ia berjalan ke depan Xing Jiabai, matanya berkaca-kaca, namun terus menahan tak menjatuhkan air mata, menundukkan kepalanya dan membungkuk. “Xing Jiabai, maaf!”
Selesai mengatakan ini, ia bergegas keluar.
“Song Yin!” Xing Jiabai bergegas memanggil, wajahnya khawatir, “Lan, kamu tau tidak, ada kemungkinan ia pergi melompat ke laut malam ini, bagaimana bisa kamu bersikap begitu padanya? Cepat pergi kejar!”
Xing Jiabai emosi hingga tak tau harus berkata apa. “Kamu tidak pergi, aku yang akan pergi! Lan, dia itu tidak bersalah, kamu tidak boleh begitu padanya! Jika kamu tidak pergi, mungkin kelak sudah tidak ada kesempatan!”
Yu Jinglan mengerutkan alisnya, menatap Xing Jiabai. Akhirnya, membalikkan badan dan pergi.
Xing Jiabai meraba dagunya, bergumam : “Masih bilang tidak serius, siapa yang percaya?!”
Ketika menutup pintu, sentuhan kesepian membanjiri mata indahnya, bertambah sebuah kekhawatiran.
keluar dari pintu Xing Jiabai, Yu Jinglan menatap dengan dalam bayangan yang berlari keluar, raut wajahnya sangat buruk, tatapannya lurus, menatap ke sosok bayangan yang sedang menekan tombol lift, ia melangkahkan kakinya berjalan kesana.
Song Yin menoleh sambil menekan tombol lift, ketika ia melihat Yu Jinglan yang berwajah dingin itu berjalan kearahnya, ia tertegun, lift naik dari lantai 1, tidak tau harus membutuhkan berapa lama untuk bisa tiba.
Song Yin hanya bisa menolehkan kepala dan berjalan kearah tangga.
“Berhenti!” Kata Yu Jinglan dengan dingin.
Song Yin tidak meladeninya, terus berjalan ke arah tangga.
Yu Jinglan maju, menghalang didepannya, menahan pergelangan tangannya dengan erat, mengabaikan teriakan penolakannya, langsung menggendong pinggangnya diatas bahunya, kemudian menaiki tangga.
“Lepaskan aku! Yu Jinglan , lepaskan aku!” Song Yin memukul pundaknya dengan tangan, Yu Jinglan tidak bereaksi sama sekali, menggendongnya menaiki tangga, naik ke lantai 28, lantai paling tinggi di apartemen ini.
__ADS_1
Song Yin berjuang menolak keras, ini adalah emosi yang sama sekali tidak pernah ia ekspresikan. “Lepaskan aku!”
Ia bahkan tidak peduli dengan bahayanya jika ia terjatuh, dan tidak membiarkannya menggendong dirinya, namun Yu Jinglan sama sekali tidak memberikan kesempatan padanya untuk melepaskan diri, juga tidak peduli dengan pukulan yang ia daratkan di pundaknya. Naik ke lantai atas, ia memasukkan kata sandi dengan satu tangan, dan pintu terbuka.
Ternyata, lantai 28 adalah milik dia.
Yu Jinglan membanting pintu, menggendongnya dan melangkah cepat ke dalam kamar, langsung menjatuhkannya ke Kasur.
“Apa yang kamu lakukan!” Song Yin meneriakinya, “Kamu tidak ada hak berbuat begitu padaku!”
Yu Jinglan menimpanya, kedua tangannya ada di kedua sisi tubuh Song Yin, menahan amarahnya, menatapnya dan bertanya : “Mau bercerai denganku, dan pergi ke pelukan Xing Jiabai?”
“Kamu, kamu brengsek!” Song Yin berteriak dengan marah, air mata sudah memenuhi cekungan matanya. “Bukan seperti yang kamu pikirkan!”
Tatapan mata sembabnya, semakin membuatnya merasa marah.
Dada Yu Jinglan terasa sesak, ia menggertak giginya dan bertanya, “Coba kamu jelaskan, seperti apa?”
“Aku mau bercerai!!” Song Yin berkata tanpa berpikir.
Seketika mata sembabnya lenyap, sedikit kesepian.
Ia memaksakan air mata kembali ke matanya, berusaha untuk tidak menjatuhkan air mata didepannya. Namun ketika ia memejamkan mata, air matanya sudah terjatuh, menatapnya dengan tatapan sedih dan juga tegas.
Yu Jinglan melepaskan dasinya, menyalakan sebatang rokok, menghisapnya dengan kesal.
Song Yin berdiri, berdiri mengarah ke pintu mau pergi, Yu Jinglan mengulurkan lengan panjangnya, tidak berbicara, menghalanginya didepan seperti sebuah batu.
Song Yin mendorongnya, “Kamu pergi, aku sudah bilang, aku mau bercerai, tidak mau lagi memercayaimu, tidak lagi menaruh harapan padamu, biarkan aku keluar!”
“Jelaskan kenapa kamu bisa berada di apartemen Xing Jiabai?” Tiba-tiba Yu Jinglan meneriakinya.
Song Yin diteriakinya, menangis semakin kuat.
Air matanya seperti mutiara yang pecah, terus menerus jatuh, Yu Jinglan menundukkan kepala menatapnya, tiba-tiba hatinya terasa sedikit sakit, terasa kosong, mengulurkan tangannya, memeluknya dengan erat dalam pelukan.
“Lepaskan aku! Lepaskan aku! Aku benci denganmu!” Semakin kuat ia menangis, pelukannya membuat pikiran Song Yin kosong, namun ada rasa sakit dan juga rasa cemas yang membuat hatinya terasa sakit lagi, ia berteriak : “Aku tidak mau berdrama dengan kalian, aku mau cerai, cerai!”
Yu Jinglan juga tidak berbicara, hanya mengeratkan kedua tangannya, memeluknya dengan erat dalam pelukannya. Air mata Song Yun jatuh ke dada Yu Jinglan , membasahi kemejanya, dan juga membakar dadanya, membuat kulitnya terasa sakit.
Saat ini, Yu Jinglan bahkan tidak berani menyeka air mata Song Yin, karena tidak tau bagaimana caranya menghadapi sepasang mata yang jernih itu. Ia hanya akan merasa semakin kesal, kenapa bisa begitu?
Rasa kesal ini membuatnya merasa panik, ia menahan emosinya, dan berkata dengan kejam di telinganya : “Jangan harap aku melepaskanmu, aku yang membuat aturan permainan ini, kamu tidak ada hak untuk mengatakan end.”
Satu kalimat membuat wajah Song Yin pucat, bibirnya gemetar, emosi, marah, sedih, dan benci semua keluar pada waktu bersamaan, semakin kuat ia menangis.
Tiba-tiba Song Yin menggigit otot di dadanya, menggigitnya dengan kuat.
Rasa sakit membuat Yu Jinglan mengerutkan alis, namun itu juga tidak mengurangi rasa marahnya. “Gigit saja, walaupun kamu mengigit daging ini hingga lepas, aturan permainan juga tidak akan diganti olehmu!”
Darah merah memasuki mulutnya, bau darah mulai tercium dan juga air mata Song Yin, Yu Jinglan tidak bergerak, memeluknya dengan erat, tidak melepaskan dan juga tidak mendesah kesakitan.
__ADS_1
Mulut Song Yin penuh dengan darah, ia mengigitnya dengan kuat, sangat kuat.
Namun Yu Jinglan tidak bereaksi, seolah-olah yang ia gigit bukanlah dagingnya.