AYAH, MAAFKAN AKU

AYAH, MAAFKAN AKU
Bab 135 Tak Berdaya


__ADS_3

Hello! Im an artic!


Tangan Mu Xue terkepal, saking sakitnya dadanya rasanya bisa memuntahkan darah! Dadanya sakit sekali, ia tidak bisa menjelaskan apa rasanya, hanya saja ia ragu, sakit, mati rasa…


“Xiao Xue!” Qin Yinuo menariknya, tidak ingin melepaskannya.


Hello! Im an artic!


“Lepaskan!” Ia tetap tersenyum.


Tapi tangannya masih tetap dingin, dinginnya sampai menusuk tulang.


Qin Yinuo mengenggam sepasang tangannya. Tatapannya penuh dengan kesakitan yang rumit, ia ingin membantunya menghangatkan tangan, tapi sadar kalau tangannya takkan menghangat. Tangannya tetap dingin, mungkin dingin seperti ini adalah dingin yang berasal dari hati yang sakit.


Air mata jatuh menuruni ujung matanya, “Maaf, Xiao Xue!”


Hello! Im an artic!


Xiao Xue tetap tersenyum, “Tak apa, siapapun punya masa lalu. Aku tak peduli! Benar!”


Semakin dirinya tersenyum, hati Qin Yinuo semakin sakit. Ia semakin ketakutan, takut akan kehilangan dirinya. Senyumannya amat menusuk mata, ia berharap wanita ini memukulnya, berharap ia masuk ke dalam pelukannya sambil menangis dan memarahinya. Tapi semakin perempuan ini bersifat logis, hatinya semakin takut!


“Xiao Xue! Kau jangan takuti aku!” Ia bergumam pelan, suaranya penuh dengan ketakutan dan bergetar. Jempolnya mengelus bibir wanita itu yang telah digigit sampai robek, hatinya penuh dengan penyesalan.


Mu Xue menghela nafas dalam hati, tetap tersenyum cerah. Hanya saja matanya tidak tersenyum, “Tidak, aku tidak mengagetkanmu. Kau kan membawaku kemari, aku harus kembali kerja!”


“Kuantar!” Ia berkata penuh kesakitan.


“Tak perlu!” Ia berkata cepat-cepat, “Aku kembali dengan taksi, kau pergilah menjaga Nona Mo!”


“Xiao Xue, aku akan mengatarmu!” Ia bersikeras.


Maka ia tidak melawan lagi, “Baiklah!”


Di dalam mobil, Mu Xue tidak berbicara, hanya menatap ke luar jendela.


Musim dingin sudah tiba, dedaunan jatuh ke jalanan dan ditiup angin, dedaunan berterbangan di jalanan, entah tengah mengacaukan pandangan siapa!


Mu Xue memanyunkan bibirnya, bibirnya yang tergigit tadi sakit, sakit sekali!


Qin Yinuo tidak berani berbicara, takut begitu berbicara akan langsung memecahkan sesuatu.


Mobil mereka kembali lagi ke “Ling Feng”.


Qin Yinuo tiba-tiba mengulurkan tangannya dan menariknya ke dalam pelukannya.


Mu Xue merasakan lehernya yang basah dan dingin, lalu menatapinya sambil tersenyum, namun kemudian ia kaget, “Kau– kenapa menangis?”


Qin Yinuo menggesekkan wajahnya di bahunya bagai anak kecil, air matanya telah membasahi baju wolnya. Sepasang matanya penuh dengan air mata, “Maaf!”


Ia tetap tersenyum, “Jangan bilang maaf, kau tidak bersalah padaku! Aku tahu hal-hal itu sudah berlalu!”


Tapi ada sebuah memori yang akan tetap terukir walau waktu terus berjalan. Ia tidak rela membuang foto-foto itu, karena ia memiliki sebuah kisah asmara yang tak terlupakan? Dan memori seperti ini takutnya meski seberapa lama pun waktu berlalu, pasti akan kembali membara jika ada kesempatan! Tentu saja Mu Xue tidak mengatakan pikirannya ini, ia hanya memendamnya dalam hati!


Karena ia terlalu kacau, terlalu ingin melawan. Dirinya tidak tahu harus bagaimana, jadi ia hanya bisa memilih untuk tersenyum.


“Istri,” Qin Yinuo menahan nafasnya, tiba-tiba ingin menangis lagi, “Berjanjilah padaku, oke?”


“?”


“Berjanjilah padaku kau takkan berpikir terlalu banyak. Aku ini tidak bermaksud. Barang-barang dalam kardus itu benar-benar hanya masa lalu!” Qin Yinuo menatapinya, “Berjanjilah padaku, oke?”


Mu Xue menatapinya.


Matanya jernih sekali.

__ADS_1


Tatapannya bagai air danau di bawah pancaran cahaya matahari, menatapi wajahnya dalam diam.


Setelah lama sekali, ia menatapinya di bawah pancaran matahari, mengangguk, “Baik! Aku tahu masa lalu hanya masa lalu! Kau bisa melepaskanku sekarang?”


“Baik! Pergilah! Sepulang kerja aku akan datang menjemputmu!” Ia berkata, nada suaranya penuh dengan keraguan.


Mu Xue turun dari mobil, langsung berjalan ke dalam gedung “Ling Feng.”


Qin Yinuo menatapi sosoknya yang menghilang dari pintu masuk baru menyalakan mobilnya.


Mu Xue tidak bertenaga untuk menekan tombol lift. Ia mengambil handphonenya dan menelepon Du Jing, “Du Jing, aku mau minta izin. Sore ini aku tidak bisa kerja!”


“Kau, tidak apa-apa kan?” Du Jing bertanya penuh perhatian.


“Tidak apa-apa!” Mu Xue menggeleng, “Aku baik-baik saja, Du Jing, kau tahu alamat rumah sakit tempatnya menginap?”


Du Jing tertegun, lalu memberinya alamat Mei Xiyun.


Setelah menutup teleponnya, Mu Xue berjalan keluar dari gedung. Mobil Qin Yinuo sudah menghilang, baguslah kalau ia sudah pergi.


Ia berjalan keluar.


Di dalam taksi.


“Nona, mau kemana?” Sang sopir bertanya. Ia sudah bertanya beberapa kali, tapi Mu Xue malah tidak berkata apapun. Karena seolah dirinya juga tidak tahu harus kemana.


Sang sopir menatapi wanita ini melalui kaca spion, sementara ia diam sekali.


Akhirnya, Mu Xue berkata, “Pergi ke rumah sakit!”


Air matanya memenuhi matanya, hatinya bagai disileti pisau, sakit sekali.


Rasa sakit ini memenuhi sekujur tubuhnya.


Semua masalah datang bersamaan, seolah ia kembali ke saat-saat dirinya kehilangan ayahnya, Mu Xiao serta Tian Yu. Ia lelah sekali, tiba-tiba dirinya lelah sekali!


Hatinya berdenyut, ia hendak kemana? Bukannya ia bilang ingin kerja?


Saat ini Qin Yinuo langsung sadar, ia benar-benar tidak memahami Mu Xue sedikit pun.


Begitu mengingat senyum cerahnya hatinya langsung sakit. Kegigihannya, tindakannya yang logis, membuat dirinya menggila.


Ia mengikuti taksi itu sampai ke seubah rumah sakit.


Ia turun dari taksi dan mengangguk pada sang sopir.


Kemudian Qin Yinuo juga turun dari mobil, mengikutinya dari belakang.


Ia memasuki bagian belakang rumah sakit, Qin Yinuo juga mengikutinya.


Ia tidak tahu pria itu mengikutinya dari belaknag. Ia bertanya pada suster rumah sakit, lalu naik ke lantai atas. Ia tidak naik lift, tapi malah naik tangga. Jalannya lambat sekali, seolah tidak bertenaga


Qin Yinuo terus mengikutinya dari belakang. Melihat Mu Xue memasuki sebuah ruang perawatan VIP, tapi hanya berdiri di depan pintu, tidak berjalan masuk.


Di dalam ruang perawatan terdengar suara pria yang lembut, “Yuner, kau makanlah sesuatu, kau sudah tidak makan seharian!”


Mu Xue kenal dengan suara Gong Peixin, tak disangka dirinya selembut itu pada Mei Xiyun.


Mei Xiyun tidak berbicara, Mu Xue tidak mendengar suaranya.


“Cepatlah, Yuner, bangun untuk makan sesuatu!” Gong Peixin terus berkata.


“Aku tak ingin makan!” Akhinya ia mendengar suara Mei Xiyun.


Mu Xue tertegun, tubuhnya bergetar, wanita itu tidak kenapa-kenapa! Ia juga jadi lega, setelah terisak sebentar di depan pintu itu, barulah ia membalikkan tubuhnya perlahan.

__ADS_1


Qin Yinuo langsung bersembunyi. Mu Xue menghadap kearah sini. Qin Yinuo melihatnya telah berjalan pergi dan menuruni tangga.


Ia datang menejenguk siapa? Kenapa tidak masuk?


Ternyata Gong Peixin baik sekali padanya, pantas saja dirinya setergila-gila itu, mungkin ini adalah jalan kehidupannya! Mu Xue berpikir, ia hanya tidak mengerti kenapa ia selalu berpura-pura tidak kenal dengannya?


Kemudian ia teringat akan Qin Yinuo, lalu melirik ke dalam tasnya. Di dalam tasnya masih ada album itu. Ia kira hanya Mo Yilan yang menyimpannya, tak disangka Qin Yinuo juga menyimpan memori indah mereka.


Ia pernah mengira Qin Yinuo tidak memilikinya, tapi ketika benda itu berada di hadapannya, ia terpaksa percaya.


Hatinya pengap sekali, rasanya untuk bernafas pun sesak. Ia memberitahu dirinya sekali demi sekali untuk tidak menangis, tidak ada yang parah sekali, apa yang belum pernah dialaminya?


Qin Yinuo mengikutinya dari belakang. Melihat Mu Xue yang terus berjalan ke depan, ia menelepon ke handphonenya. Ia berjalan keluar dari rumah sakit, sebuah mobil berhenti di depan pintu rumah sakit dan Mu Xue masuk ke dalamnya.


Hati Qin Yinuo berkedut. Ia juga masuk ke dalam mobil dengan cepat, tapi ia telah kehilangan dirinya.


Kemudian ia menerima pesan dari Mu Xue. “Tak perlu jemput aku lagi. Mi Ling sudah mengantarku pulang!”


Di dalam apartemen Jalan Yong Xiang.


“Ada apa? Ekspresimu ini aneh sekali!”


“Mi Ling!” Mu Xue menengadah menatapi Mi Ling. Tatapannya kosong dan tak bercahaya. Keksongan matanya mengerikan sekali. Ia menatapi Mi Ling, namun seolah di dalam matanya tidak ada Mi Ling. Tiba-tiba ia tertawa, tapi suara tawanya kosong, membuat orang yang mendengarnya merasa tidak nyaman.


“Xiao Xue, kau kenapa?” Mi Ling merasakan keanehannya, bertanya dengan terburu-buru.


Mu Xue menggeleng, “Aku hanya ingin menangis, ingin menangis, tapi tak bisa menangis!”


Mi Ling menghela nafas, suaranya penuh dengan kekhawatiran, “Xiao Xue, kau jangan asal pikir. Beritahu kakak apa yang terjadi. Aku akan mendukungmu, tidak akan membiarkan dirimu sengsara. Apakah Qin Yinuo mengganggumu lagi?”


“Mi Ling, kau bilang aku harus bagaimana?” Ia bertanya dengan suara rendah, seolah tidak tahu harus bagaimana lagi.


Tatapan Mi Ling penuh dengan ketidak berdayaan, ia kasihan padanya, “Apa yang dipikirkan dalam otakmu itu? Ada kesulitan apa? Kalau kau suka padanya maka bilang padanya, kalau kau tidak suka ia menjaga Mo Yilan, maka langsung tendang diam. Dia kan ayahnya Tian Yu, kau tidak bisa demi anak ini dan malah merusak seluruh hidupmu!”


Mu Xue menggeleng kuat-kuat, “Kalau benar-benar semudah itu, maka jadi mudah sekali! Tidak akan terikat oleh perasaan, tidak ada ketidakberdayaan. Sekarang aku ini tidak berdaya, lepas dan tidak lepas sama-sama sakit.”


Mi Ling terdiam, “Kau kercaunan! Kau sudah keracunan Qin Yinuo! Ingin menangis kan? Perlu pinjam pundak kakak untuk bersandar?”


Mu Xue menengadah, tersenyum. Meski senyumnya pahit, tapi tulus sekali. “Mi Ling, terima kasih. Kau selalu membantuku setiap saat, benar-benar terima kasih, aku merasa jauh baikan!”


“Masih sungkan denganku?” Mi Ling menghela nafas, “Aku benar-benar tak tahu cinta itu apa rasanya, tapi begitu melihat kalian yang menyakiti diri sendiri, pukuli aku sampai mati pun aku tak mau jatuh cinta!”


Mobil Qin Yinuo berhenti di depan gang apartemen Mu Xue. Ia mengikutinya sepanjang perjalanan kesini. Ia melihat Mu Xue turun bersama Mi Ling, maka ia terus duduk di dalam mobilnya.


Ia menyalakan sebatang rokok, lalu merokok di dalam mobilnya. Ia memuntahkan kepulan asap, tapi ia tidak bisa merasa tenang.


Esok paginya.


Mu Xue terbangun di atas ranjangnya sendiri dan mulai memasak. Ia sudah beristirahat semalaman, rasanya jauh lebih nyaman. Semalam ketika Mi Ling pergi sudah larut sekali, sementara Tian Yu juga sudah dijemput Kakek Qin.


Atau mungkin Kakek Qin sengaja menciptakan kesempatan untuknya dan Qin Yinuo, tapi…


Setelah memikirkannya semalaman, ia kira pria itu akan mencarinya tau meneleponnya.


Tapi tidak ada!


Satu pesan pun tidak ada!


Sebenarnya ia agak kecewa dan sakit.


Teringat akan foto itu, pose mereka yang intim. Mu Xue tak berdaya. Hanya saja kemudian hatinya jadi leibh tenang. Beberapa tahun ini, ia hanya mempelajari satu hal, mengikuti keadaan…


Ia memakan bubur dengan tenang. Tangannya mengelus perut kecilnya, bergumam, “Sayang, bertahu mami. Apa mami harus memaafkan daddy?”


Di dalam gang.

__ADS_1


Di samping sebuah bugatti biru berdiri sebuah sosok yang tinggi. Tubuh pria itu basah oleh salju, bibirnya pucat. Cahaya matahari memancari matanya, tapi ia tidak merasa hangat.


Sepertinya ia tidak pergi semalaman. Di atas jalan penuh dengan puntung rokok, ia berdiri begitu saja di samping mobil. Sosoknya yang ganteng tidak memiliki ekspresi sedikitpun, bayangannya terpantul panjang di bawah pancaran matahari musim dingin.


__ADS_2