
Hello! Im an artic!
Han Lie berjalan mendekat dan duduk di sampingnya. Ia menatapi wajahnya yang pucat pasi dalam diam, hatinya penuh dengan rasa kesengsaraan.
“Bagaimana perasaanmu?” Suara Han Lie agak serak, menyiratkan perhatian. Di dunia ini, Mu Xue adalah wanita kedua yang dipedulikannya.
Hello! Im an artic!
Mu Xue tak bersalah, ia berharap wanita ini baik-baik saja.
“Bayiku sudah tidak ada lagi kan?” Ujung bibir Mu Xue menampakkan senyum tipis, tangannya diletakkan di atas perutnya. Bayinya sudah tidak ada lagi kah?
Kosong! Semuanya kosong! Hatinya kosong! Otaknya kosong! Bayinya tidak ada lagi! Bayinya telah membawa pergi seluruh tenaganya, ia bahkan lupa apa itu sedih.
Jakun Han Lie bergetar, ia tidak tahu harus bagaimana menjawabnya.
Hello! Im an artic!
“Tidak ada lagi kan?” Ia bertanya lagi, tatapannya kosong.
“Ya, tak ada lagi!” Akhirnya ia berkata.
Seketika, suasana langsung jadi diam.
Mu Xue bahkan bingung dirinya masih bisa bernafas, “Bayiku sudah tak ada lagi. Aku telah menghilangkannya!”
Han Lie menghela nafas, “Ini kecelakaan!”
“Bukan! Ini aku, pasti aku seharusnya sedang dihukum, karena aku terlalu rakus. Hal yang kuinginkan terlalu banyak, makanya aku baru bisa kehilangan bayiku…Kalau bukan karena diriku menginginkan cinta setia, bagaimana bisa begitu?” Ya, pasti begitu. Tuhan tengah menghukumnya, membuatnya kehilangan bayinya!
“Tuhan tengah menghukumku…” Suaranya semakin kecil, seolah tengah mengingatkan dirinya agar jangan berbuat salah lagi selamanya.
Tiba-tiba Han Lie mengasihaninya, dan duduk di samping ranjangnya, berkata pelan, “Bagaimana mungkin ini adalah hukuman? Semua orang menginginkan cinta seetia. Kau jangan banyak pikir, ini adalah sebuah kecelakaan!”
Mu Xue terdiam. Setelah lama sekali ia berkata pelan, “Tapi siapapun boleh mendapatkannya, hanya aku yang tidak bisa, tidak bisa! Semuanya sudah berakhir, sudah berakhir…”
Suara “Brak” sesaat dan pintu terbanting terbuka. Qin Yinuo menerobos masuk dengan penuh keringat. Melihat pemandangan dalam ruang pasien, melihat Mu Xue yang terbaring di atas ranjang dan masih hidup, hatinya langsung tenang sekaligus jadi khawatir.
“Xiao Xue…” begitu berbicara hatinya langsung jadi sakit.
Begitu Mu Xue melihat Qin Yinuo, hatinya langsung sakit. Tatapannya yang kosong jadi penuh dengan air mata. Kemudian ia menangis dan membuang mukanya.
Ia tak ingin siapapun melihat air matanya.
Han Lie beranjak dari tempatnya, berdiri di samping, menatapi Qin Yinuo dengan tatapan rumit. Ia ingin pergi, tapi malah mendengar Mu Xue berteriak, “Han Lie, boleh suruh orang lain pergi?”
Nada suaranya pelan disertai dengan isakan, membuat kedua pria itu langsung tertegun.
“Xiao Xue!” Qin Yinuo menahan rasa pahit di hatinya. Xiao Xue bilang dirinya adalah orang lain!
“Harap kau keluar! Aku tak ingin melihatmu, aku ingin menenangkan diri sendirian!” Kemudian berkata, “Aku tak tahu harus bagaimana menghadapimu!”
Seketika, keadaan jadi hening. Qin Yinuo melongo menatapinya, tatapannya yang seperti tertegun jatuh pada wajah Mu Xue, “Xiao Xue, sebenarnya bagaimana keadaanmu sekarang? Jangan kagetkan aku!”
Sementara Mu Xue yang sudah berlinangan air mata berkata, “Qin Yinuo, aku yang bersalah padamu. Sekarang bayinya sudah tidak ada lagi, semuanya sudah berakhir! Aku, kedepannya tak ingin melihatmu lagi! Han Lie, kau suruh dia keluar!”
“Keluar lah!” Han Lie berkata, “Tubuhnya lemah, tak bisa terus emosi begitu!”
“Apa?” Otak Qin Yinuo berdengung bagai disambar petir.
__ADS_1
“Keluar!” Han Lie jadi galak.
Qin Yinuo menatapi Mu Xue dengan tatapan rumit, terpaksa keluar terlebih dahulu.
Han Lie menutup pintunya, lalu menatapi wanita yang tengah menangis dan bergetar di atas ranjang. Maka ia hanya bisa menghela nafas.
Di luar ruangan, Qin Yinuo masih mencerna informasinya. Lalu berlari ke kantor para suster untuk menanyakan keadaan Mu Xue. Ia kira Mu Xue terluka, tapi begitu sang suster memberitahunya kalau Mu Xue “keguguran”, ia langsung melongo!
Ternyata ia hamil! Anak mereka, ia baru tahu akan kehamilan ini, tapi ia telah kehilangan anaknya!
Seharusnya ini adalah anak ketika di Hokkaido itu!
Teringat akan Hokkaido, teringat kalau mereka tak memotret satu lembar foto pun, hatinya sakit bagai disayat pisau.
“Kau tak boleh menangis” Han Lie berjalan mendekat, lalu duduk lagi di samping ranjangnya, “Dengan keadaan tubuhmu sekarang kau tak boleh menangis, dengar tidak? Kalau tidak aku akan suruh pria diluar untuk masuk!”
Kata-katanya penuh dengan ancaman, tapi Mu Xue terus menangis.
Mu Xue menutupi kepalanya dengan selimut dan terisak. Bisa dilihat jelas seberapa sedih dirinya. Awalnya ia masih tak bisa menangis, tapi begitu melihat Qin Yinuo, segala memori kesedihan, kemarahan, segala penyesalannya terus bermunculan di hadapannya, membuatnya semakin menjadi-jadi. Padahal ia tahu dirinya tak bisa menyalahkan Qin Yinuo atas kegugurannya, tapi saat ini, ia tak ingin bertemu dengannya!
Han Lie menarik selimutnya, melihat wajahnya yang penuh dengan air mata, dan mulutnya menggigit salah satu ujung selimut. Ekspresinya terlihat kasihan sekali, maka ia hanya ingin memeluknya, bagai seorang kakak yang menyayangi adiknya.
“Tak boleh menangis lagi, sekarang kondisi tubuhmu belum membaik. Mu Xue, jangan menangis, dengar?” Han Lie menahan bahunya, “Kalau kau menangis lagi, tunggu ketika badanmu sehat kembali. Kak Han akan meminjamkan dadaku padamu, biar kau menangis sampai puas, oke?”
Mu Xue malah terduduk di atas ranjang, menatapi Han Lie dengan penuh berterima kasih. Ia mengulurkan kedua tangannya, menarik leher Han Lie, lalu mendekat ke pelukannya. Dan setelahnya air matanya terus berjatuhan tanpa suara. Ia memejamkan matanya dengan sedih, padahal tahu segala ini akan berakhir, tapi kenapa rasanya masih sakit sekali.
“Pinjamkan padaku sekarang!” Ia berkata.
Ia sangat ingin menangis, sangat ingin menangis!
“Kubilang kedepannya akan kupinjamkan padamu, bukan sekarang!” Han Lie merasakan dadanya yang tiba-tiba basah dan menggeleng. Wanita ini memeluknya sambil menangis, memang tak takut pria di luar itu akan salah sangka kah?
Ah! Tapi begitu melihatnya saat ini, Han Lie juga tidak tega untuk berkata apapun. Ia hanya memegang Mu Xue, menepuk-nepuk punggungnya, “Sudahlah, sudahlah, jangan nangis lagi, jangan nangis lagi!”
“Aku juga tak mau menangis, tapi air mataku tak bisa ditahan!” Ia menarik nafas, dan membenamkan kepalanya dalam-dalam di dada Han Lie.
Qin Yinuo berdiri di depan pintu dan melihat pemandangan di dalam dengan sakit hati. Melihatnya yang memeluk pria lain sambil menangis, dan malah menganggap dirinya sebagai orang lain, wanita itu pasti kecewa sekali padanya!
Mu Xue bilang segala ini telah berakhir! Tidak! Tidak seperti ini! Kali ini, ia takkan mendengarkan wanita itu, takkan lagi!
Ekspresi Qin Yinuo penuh dengan rasa bersalah dan kepahitan. Melihatnya yang menangis sebegitu sedihnya, Qin Yinuo menekan perasaan sakit dan rasa bersalahnya, lalu menelepon pada Feing Baiyi. “Yi, tolong bantu aku periksa kejadian hari ini di gang Hongfu yang terletak sejauh tiga ratus meter diiluar mansion Mingchang.”
Ia meletakkan teleponnya, dan masih berdiri di depan pintu. Ia melihat Mu Xue yang menangis lama sekali. Han Lie terus memeluknya, menenangkannya, sementara dirinya tak bisa berbuat apapun.
Qin Yinuo tak berani lagi melihat pemandangan di dalam. Ia bersandar di dinding koridor, kesedihan dan penyesalan memenuhi wajahnya.
Anaknya tidak ada lagi!
Anak perempuannya! Anak perempuan yang ditunggunya dengan sepeunuh hati! Tapi apa yang dilakukannya? Nyawa bayi kecil itu sudah tidak ada lagi.
Hatinya sakit luar biasa, terisak dalam diam. Sepasang tangan Qin Yinuo menutupi wajahnya, ia duduk di kursi panjang diluar pintu. Diantara sela-sela jarinya terus meneteskan air!
Sang sopir melihatnya dari jauh, Tuan muda telah menangis!
Ini pertama kalinya ia melihat tuan muda menangis, maka selama sesaat ia tidak tahu harus berbuat apa, tidak tahu apakah dirinya perlu memberitahu tuan besar akan hal ini.
Di dalam ruang pasien.
Han Lie merasakan getaran dan ketidakberdayaan tubuh dalam pelukannya. Tiba-tiba ia bersimpati padanya, maka tangannya terus memeluk tubuh Mu Xue, hendak memberinya kehangatan dan rasa aman.
__ADS_1
Sementara dirinya seolah juga tengah mengambil kehangatan darinya, atau mungkin, di dalam hatinya sebenarnya juga tak berdaya!
“Maaf Han Lie!” Akhirnya Mu Xue tersadar, bergumam pelan untuk meminta maaf, dan akhirnya ia melepaskannya, “Aku sudah membasahi bajumu! Terima kasih juga!”
“Jangan sungkan-sungkan denganku, bukannya kau juga sudah mendengar ceritaku? Cepatlah sembuh, memang kau tidak penasaran akan hubunganku dengan Mo Yilan? Cepat sembuh dan aku akan memberitahumu keseluruhan ceritanya!”
Mu Xue menarik nafas dan mengangguk, “Aku pasti akan sembuh. Aku ini Mu Xue, Mu Xue yang takkan tumbang!”
Han Lie membantunya mengelap air mata dengan sapu tangannya, kemudian membantunya berbaring, “Tidurlah, jangan pikirkan apapun!”
Mu Xue menggeleng, “Tak bisa tidur!”
Setelah mengalami semua ini, mana bisa ia tidur! “Kau benar-benar kenal dengan Nona Mo kah?”
Han Lie menghela nafas panjang, berkata, “Dia itu mantan istriku!”
“Kau adalah si penganiaya sadisme?” Begitu mengatakannya, Mu Xue tiba-tiba menyadari akan kesalahan kata-katanya.
“Orang-orang menganggapku seperti itu kah?” Han Lie mengerutkan alisnya, agak tak berdaya. Ia tidak mengakui juga tidak mengelak.
Sepanjang malam.
Qin Yinuo tidak mendapat izin untuk masuk ke kamar pasien.
Ia terus menunggu di depan pintu. Sudah berkali-kali ia hendak masuk, tapi Xiao Xue terus menyuruh Han Lie untuk menahannya diluar.
Seolah mereka telah mengatakan sesuatu, lalu Mu Xue tertidur.
Han Lie berjalan keluar dari ruang pasien, memberikan ruang untuk QIn Yinuo. Saat ini sudah subuh jam tiga.
Ketika akhirnya Qin Yinuo melihat Mu Xue yang telah tertidur pulas, perasaan dalam hatinya perlahan menjalar. Sementara wajah pucat pasi itu membuatnya mengerutkan wajah, ia bergetar pelan.
Ia baru saja mengalami kesengsaraan bagai di neraka, sementara tubuhnya masih sakit.
Anaknya tidak ada lagi! Hatinya sedih, tapi untung Mu Xue masih ada, kalau tidak bagaimana ia bisa terus hidup?
Ia berjalan mendekat, memeluk tubuhnya dengan pelan, kenapa ia sekurus ini?
Ia semakin kurus, wajahnya pucat pasti, seolah wajah putih itu tembus pandang akan saraf darah di dalamnya, membuat hatinya berkerut kesakitan.
Mu Xue yang awalnya tertidur pulas tiba-tiba merasa. Ia merasa tetesan air yang panas jatuh menuruni lehernya, lalu ia mencium bau yang ia kenal. Itu adalah aroma Qin Yinuo, dan pria itu menangis.
Begitu pria itu meneteskan air matanya, hati Mu Xue juga ikut sakit.
Ia tidak membuka matanya, terus memejamkan mata.
Ia tidak tahu harus bagaimana menghadapinya.
Menyalahkannya kah? Menyalahkannya atas apa?
Semua ini karena dirinya yang tak berhati-hati, dirinya yang tak melindungi anaknya dengan baik, Mu Xue yang bersalah padanya! Hatinya berkedut, namun Mu Xue hanya memejamkan matanya, berpura-pura tertidur pulas.
Qin Yinuo memeluknya erat-erat. Setelah lama sekali, bersamaan dengan hatinya yang kacau, ia menelan air matanya.
Qin Yinuo duduk menatapinya, ia bergumam pelan, seolah tidak menyadari kalau Mu Xue sudah bangun, berkata, “Asal kau tidak apa-apa saja sudah baik. Ini salahku yang tidak melindungimu. Semua ini salahku, salahku…Xiao Xue, ini semua salahku yang jarang memikirkanmu, jarang berbuat untukmu, aku besalah padamu, makanya Tuhan baru menghukumku seperti ini…”
Qin Yinuo terisak, air matanya jatuh tanpa suara dari wajahnya. Wajah gantengnya pedih dan kesakitan, “Kau memang seharusnya menyalahkanku, memang seharusnya tak ingin bertemu denganku lagi! Bahkan aku tak bisa memaafkan diriku sendiri!”
Qin Yinuo terisak.
__ADS_1