
Hello! Im an artic!
Dia meregangkan lengan, mengepalkan tangan, dan memeluknya.
Mu Xue bersuara seperti bayi, bersandar di dadanya yang lebar dan kuat, jantungnya berdetak kencang. Tapi hati itu penuh dengan kenangan indah yang tersisa.
Hello! Im an artic!
Dia memegang dagu Mu Xue dengan satu tangan.
Sepasang mata hitam terlihat beradu……
Dia menundukkan kepalanya, Mu Xue menyambutnya, dan keduanya memulai ciuman yang lembut dan panas, hingga sangat lama.
***
Hello! Im an artic!
Pei Lingfeng saat ini membawa Gong Tian’er menuju vila terdalam di puncak Xi Shan.
Gong Tian’er awalnya sedang berdandan, namun tiba-tiba dia ditangkap oleh anak buah Pei Lingfeng.
“Mengapa kamu mau menangkapku?” mata Gong Tian’er mengedipkan cahaya panik, “Hari ini adalah acara tunanganku. Jika kamu menginginkan uang minta dengan ayah, atau aku suruh ayah untuk mengirimkannya bisa?”
Pei Lingfeng menggelengkan kepala. “Aku tidak mau uang!”
“Jadi apa maumu?”
“Aku mau kamu jangan menikah dengan Mi Le!”
“Mengapa?”
“Karena dia tidak mencintaimu!” Pei Lingfeng memiringkan bibir.” Dia sepertinya tidak mencintaimu, jika aku tidak salah tebak, kamu yang duluan melamar ya? Sehingga Mi Le tidak punya cara lain, jadi harus dia menikahimu?”
“Ka-kamu tahu dari mana?” Gong Tian’er membelalakkan matanya. “Kamu sembarang bicara. Kak Mi Le tidak mungkin tidak menyukaiku! Dia sangat mencintaiku!”
Pada akhirnya, suara Gong Tian’er perlahan menjadi rendah, dia juga tidak percaya diri, karena dia tidak pernah dengar Mi le mengatakan bahwa dia menyukai diri sendiri, ini semua sepertinya karena dirinya sendiri yang terlalu aktif.
“Gong Tian’er, apakah kamu tahu ibu tirimu ada anak perempuan?” Pei Lingfeng berbicara dengan suara rendah, tatapannya tajam menatap Gong Tian’er, seperti ingin melihat jelas apakah gadis ini sama menyebalkannya dengan Mei Xiyun atau Gong Peixin.
Gong Tian’er melihat wajahnya yang dingin itu sangat kacau dan sulit ditebak, terlihat aneh. “Apa katamu? Bibi Mei ada anak perempuan? Tidak mungkin! Jika Bibi Mei memiliki anak perempuan, kenapa dia tidak memberitahuku?”
“Apakah dia baik denganmu?” tanya Pei Lingfeng.
“Bibi Mei sangat menyayangiku, kenapa?”
Pei Lingfeng tertawa cemooh: “Wanita itu sangat aneh. Anak sendiri diperlakukan seperti itu, tidak dipedulikan. Anak perempuan lain malah dianggap seperti harta sendiri!”
“Aku tidak mengerti apa maksudmu, cepat lepaskan aku!” Gong Tian’er panik karena sekarang langit yang mulai gelap. Dia dengan susah payahnya membuat Mi Le menyetujui tunangan ini. Jika dibatalkan, bagaimana?
Ekspresi wajah Pei Lingfeng tidak berubah, tetap menunjukkan ekspresi tegas dan dingin, pandangannya tiba-tiba berhenti di wajah Gong Tian’er, suaranya dingin, “Sebenarnya kamu bisa pergi dengan gampang, namun sekarang tidak bisa. Tidak ada orang yang setelah melukai anak perempuanku bisa pergi dengan gampang. Jika ingin menyalahkan, salahkan orang tuamu. Siapa suruh mereka mengganggu anak perempuanku? Kamu sekarang hanya bisa tunggu di sini! Setelah Mi Le menikahi orang lain, aku masih akan mengurungmu di sini 8 hingga 10 tahun!”
“Ha!” wajah Gong Tian’er memucat, matanya memerah: “Kamu tidak bisa berbuat seperti itu, aku berbuat salah di mana? Apakah kami menyinggungmu? Gimana Ayahku dan Bibi Mei menyinggungmu? Aku ingin menikah dengan Kak Mi le. Aku menyukai Kak Mi Le. Kamu tidak bisa berbuat begitu. Aku ingin menikah dengan Kak Mi Le!”
“Menikah? Kamu jangan harap!” Pei Lingfeng tertawa dingin.
“Mengapa? Aku tidak peduli, kamu lepaskan aku. Aku ini sangat patuh. Kenapa kamu berbuat begitu? Aku tidak menyinggungmu pun!”
“Masih teriak? Jika kamu teriak lagi aku akan menjualmu ke Asia Tenggara menjadi pelacur!” kata Pei Lingfeng dengan dingin. Di wajahnya tetap tampak dingin, dan memiliki aura pembunuh.
“Huhuhu……” Gong Tian’er menatap Pei Lingfeng dengan tidak percaya, hanya merasa di sekitar ada aura dingin. Dia terkejut hingga tidak berani berbicara.
Saat ini, ponselnya berdering, ternyata itu telepon dari Wu JIngxuan. Ekspresi dinginnya itu perlahan berubah menjadi ramah.
Kemudian, dia mengisyaratkan anak buahnya untuk memperhatikan Gong Tian’er, sementara dia keluar mengangkat telepon.
Wu Jingxuan mencari Pei Lingfeng kemana-mana, tapi tidak ketemu. Sehingga dia cuma bisa meneleponnya, “Kamu di mana?”
“Untuk apa? Aku sangat sibuk!” suara Pei Lingfeng agak keras.
“Aku di dalam rumah, kamu segera pulang, dan kita bahas ya?” katanya, semua orang tidak tahu, kata ‘rumah’ ini membuat hati Pei Lingfeng merasakan sesuatu yang aneh.
“Bahas apa?” Pei Lingfeng mengerutkan kening.
“Tidak ada artinya kamu menculik Gong Tian’er. Aku tidak akan menikah dengan Mi Le. Karena aku tidak lagi mencintainya. Aku sekarang hanya ingin melewati kehidupanku dengan tenang. Kamu jangan mengatur kehidupanku, bisa?”
__ADS_1
“Aku…… bagaimana kamu tahu aku menculik Gong Tian’er?”
“Lingfeng, kamu pulanglah. Aku ingin membahas denganmu!” lanjutnya, suaranya tiba-tiba menjadi lembut.
Dia terkejut, agak tidak terbiasa. Dia tidak pernah berbicara dengannya seperti ini. Nada bicaranya membuatnya terjebak di dalamnya, hingga mau tidak mau berkata: “Baik, aku pulang!”
“Lepaskan dulu Gong Tian’er!” kata Wu Jingxuan.
“Tidak bisa!”
“Demi Xiao Xue, kita jangan berdusta lagi. Kamu tidak tahu hari ini seberapa sedihnya dia. Lepaskan Gong Tian’er agar mereka dapat hidup tenang. Kita juga bisa hidup tenang!”
“Kita?” dia terkejut.
“Lepaskan!”
Pei Lingfeng tiba di rumah setelah satu jam kemudian.
Wu Jingxuan telah lama menunggunya di ruang tamu. Dia saat ini memiliki banyak pilu dalam hati. Dia mendalami kembali perjalanannya selama lima tahun, dan sadar ternyata sebenarnya selama ini ada banyak hal yang membuatnya terharu!
Meskipun dia sangat egois, tapi dia juga sangat lembut. Dia mengingat ulangtahunnya, membelikannya banyak hadiah. Hanya saja dirinya tidak pernah menatapnya dengan serius.
Jika bukan karena dia hari ini menculik Gong Tian’er, dia mungkin tidak akan tergugah.
Suara pintu terbuka membuatnya terkejut.
Pei Lingfeng tidak menyangka masih bisa bertemu dengannya. Seketika emosinya kacau, dia berdiri di depan pintu, tidak berbicara.
Wu Jingxuan mendengarkan dengan baik suara di belakang tubuhnya, lalu membalikkan badan perlahan. Dia melihat sosok tinggi berdiri di depan pintu, menatapnya begitu tenang.
***
Dia menatapnya, tiba-tiba seperti mengenalinya, juga seperti telah kenal seumur hidup. Air matanya perlahan bercucuran.
Dia melihat air matanya, merasa terhentak.
“Mengapa kamu mau aku menikah dengan Mi Le?” katanya pelan. Rasanya hati ini penuh dengan kepedihan. Wu Jingxuan tidak suka dengan keegoisannya, karena terus ingin mengendalikannya. Namun hari ini, dia sedih karena dia melakukan hal itu.
“bukankah kamu menyukainya?” dia tidak menjawab, melainkan bertanya balik.
Jawabannya itu begitu menyebalkan. Tapi begitu melihat pria yang lebih menyebalkan itu, hatinya menjadi bergetar! Terharu! Karena terharu berlebihan bisa jadi membuat seseorang berubah. Segalanya menjadi kacau, atau mungkin menjadi sederhana.
Wu Jingxuan berbalik badan, Pei Lingfeng menatap punggung Wu Jingxuan, mengerutkan kening.
“Putar badanmu! Lihat aku!” Pei Lingfeng tiba-tiba memerintahkan Wu Jingxuan dengan suara keras.
Tubuh Wu Jingxuan yang kurus bergetar, bersikeras tidak mau memutarkan badan.
“Wu Jingxuan!” Pei Lingfeng tidak sanggup menahan amarahnya, dia melangkah cepat, memeluk Wu Jingxuan dari belakang dengan erat. “Kamu menyuruhku kembali untuk melihatmu menangis kah?”
***
“Siapa suruh kamu begitu egois, siapa suruh kamu menculiknya, siapa suruh kamu membuatku malu depan umum?” dia dilihati oleh begitu banyak orang membuat Mi Le melamarku di depan orang banyak. Semakin memikirkannya semakin merasa sedih. “Kenapa kamu berpikir seperti itu? Kenapa kamu sangat egois?”
Wu Jingxuan memeluk Pei Lingfeng dengan kuat. Rambutnya itu menjadi berantakan karena guncangan itu, rambut hitam bagaikan air terjun itu terurai di wajah dan depan dada Pei Lingfeng.
Pei Lingfeng menatap Wu Jingxuan yang sedih, lalu memutarkan tubuhnya, memegang erat dia, gerakannya sangat lembut karena takut Wu Jingxuan menghindarinya.
“Jangan menangis……” Pei Lingfeng membujuk Wu Jingxuan.
Wu Jingxuan tidak mempedulikannya, dia merasa sedih. Ini adalah kesedihannya sendiri, tidak ada yang bisa memahami kesedihannya saat ini, dan juga rasa haru itu.
Pei Lingfeng mengangkat tangan dan mengelap pelan air mata di wajah Wu Jinxuan, dia berkata dengan suara rendah: “Jangan menangis, kamu tidak suka melakukannya, jadi kamu menyuruhku melakukannya? Yang penting kamu gembira! Kamu boleh benci padaku, ini adalah utangku padamu. Aku harus mengembalikan kebahagianmu!”
Suara Wu Jingxuan serak, “Bukan urusanmu……”
Pei Lingfeng menaikkan alis mata, berkata: “Kenapa bukan urusanku? Membuatmu bahagia adalah tanggung jawabku……”
Begitu mendengarkan ucapan itu, itu merangsang amarah Wu Jingxuan hingga marah dan benci. Dia melototkan mata padanya, menunjuknya, “Apa tanggung jawabmu? Jika bukan karena kamu, aku mungkin akan sangat gembira, melewati hari-hari menemani suami dan membimbing anak. Tapi karena kamu, aku kehilangan Mi Le. Karena aku sudah kehilangan, maka aku tidak bisa kembali lagi!”
“Jadi apa maumu?” tanya Pei Lingfeng.
“Aku mau kamu melepaskan Gong Tian’er, biarkan dia menikah dengan Mi Le, agar mereka dapat hidup bahagia!” katanya.
“Jadi bagaimana denganmu?” tanya dia.
__ADS_1
“Aku akan membawa anakmu ini dan menikah dengan orang lain. Pei Lingfeng, kamu ini pria atau bukan?” dia berteriak dengan kecewa.
Sudut bibit Pei Lingfeng meringkuk, tertawa, “Jika aku bukan pria, kamu mana mungkin hamil?”
“Kamu diam!” teriaknya malu. ” Jadi kamu mau lepaskan dia atau tidak?”
“Jangan panik, besok setelah Mu Xue pulang kita bahas lagi. Aku mau dia membuat keputusan!”
“Kamu berjanji tidak akan melukainya?”
“Tenang saja, aku telah sangat baik, sekarang aku tidak sembarang membunuh!” katanya.
Dia mengerutkan kening, mengelap air mata.
Dia membantunya mengelap air mata, “Apa yang membuatmu menangis? Siapa yang membuat masalah denganmu?”
“Selain kamu, siapa lagi yang berani membuat masalah denganku? Selain kamu yang membuatku menangis berkali-kali, siapa lagi yang bisa?”
Mendengar ucapannya, Pei lingfeng langsung memeluknya erat. Jingxuan memberontak, tapi dia tidak melepaskan tangan, perlahan dia bersatu dalam pelukannya, merasakan kehangatan dalam dirinya.
Pei Lingfeng akhirnya menghela nafas dengan puas, memeluk erat wanita di dalam pelukannya, nyaris ingin menindihnya di dalam dada yang lebar, “Jadi gimana supaya kamu tidak menangis?”
Dia terdiam, tidak berbicara.
“Jika kamu tidak menikahinya, apakah kamu akan senang atau menyesal?” tanya Pei Lingfeng lembut, lalu spontan memeluk Wu Jingxuan semakin erat, “Jika kamu tidak menyesal, maka temani aku di sisiku…..”
Saat dia mengatakannya, dia tidak sadar bahwa di wajahnya itu mengekspresikan perasaan yang sangat dalam terhadapnya.
***
Rumah Keluarga Gong.
Dari dalam kamar tidur, terdengar suara teriakan seorang wanita, bersamaan dengan suara wanita itu, terdengar juga sejenis suara pukulan dari rotan.
“Jelata, jelata, jelata……!” pria itu terus berteriak.
“Aaa, jangan pukul lagi, jangan pukul lagi!” terdengar suara wanita memohon. Pembantu di lantai bawah semuanya ketakutan hingga tidak berani naik ke lantai atas.
“Tuan, aku mohon padamu, ini sakit sekali……”
Orang yang berteriak itu adalah Mei Xiyun. Saat ini dia terbaring di atas ranjang besar. Ranjang itu sangat lebar, bisa muat 4 orang, di dalamnya terdapat per yang padat, seprai berwarna dasar hitam dengan motif bunga mawar merah, terlihat sangat unik.
Dua kaki dan dua tangannya itu diborgol rantai, borgol tersebut digantung mengelilingi empat tiang ranjang. Dia terbaring melebar dengan sangat hina, tidak bisa bergerak.
Sedangkan di tangan Gong Peixin memegang tali pinggang, memukul bokong Mei Xiyun. “Kamu wanita ******, ******, ******, jalang….. aku pukul kamu! Aku pukul kamu! Siapa suruh kamu menggoda banyak pria, tidak patuh sebagai wanita, siapa suruh kamu sembarang cari pria……”
“Tuan, aku mohon, aku bersalah, aku sungguh bersalah. Aku tidak seharusnya melahirkan anak orang lain, tidak seharusnya menikah dengan pria lain…… tuan, aku benar-benar merasa bersalah. Ayo kita sama-sama cari cara selamatkan Gong Tian’er. Kamu jangan pukul lagi. Tian’er masih ada di tangan orang itu!”
“Jika anakku terluka sedikit saja, aku akan membunuhmu, wanita ******!” Gong Peixin juga kelelahan memukulnya, pada akhirnya melemparkan tali pinggang itu.
Kemudian dia membuka borgol rantai di tubuh Mei Xiyun, membalikkan badan. Saat ini Mei Xiyun terbaring melebar di atas ranjang, punggung dan bokong yang dipukul tadi sangat sakit. Dia mengerutkan kening, tapi tidak berani mengeluh.
“Apakah enak?” Gong Peixin tiba-tiba berbicara dengan ekspresi berbeda, tampak sangat lembut.
Tubuh Mei Xiyun gemetar, kemudian terburu-buru mengangguk kepala, “Tuan, sangat nyaman. Terima kasih kakek telah menyayangiku!”
***
Mu Xue dan Qin Yinuo bergandengan tangan kembali ke rumah Pei. Saat itu Pei Lingfeng dan Wu Jingxuan sedang makan sarapan.
Begitu masuk rumah, mereka melihat adegan ini.
“Marah?” Pei Lingfeng melirik sekilas Wu Jingxuan, tiba-tiba tertawa, lalu memegang tangannya dengan jarak beda meja: “Hanya segelas susu, minumlah!”
“Tidak mau!” suara serak Wu Jingxuan terdengar, lalu dia menatap Pei Lingfeng, kemudian melepaskan tangannya.”
“Marah benaran?” dia menggelengkan kepala sambil tertawa. Pei Lingfeng bersikeras untuk memegang tangannya, lalu menggunakan suara serak mempesona itu berbicara padanya, “Sudahlah, jangan ribut, minum susu akan baik bagi perkembangan anak.”
“Bukannya kamu tidak menginginkan anak. Anak ini milikku!” dia menaikkan alisnya, kemudian menarik kembali tangannya, makan bubur. Dia hanya suka makan bubur. “Aku mau tinggal di luar!”
“Tidak boleh!” nada bicara Pei Lingfeng sangat tegas dan egois.
Melihat adegan ini, Qin Yinuo dan Mu Xue saling bertatapan, tertawa.
__ADS_1
Qin Yinuo hari ini terlihat sangat bersemangat. Mereka berdua berjalan masuk, kemudian Pei Lingfeng dan Wu Jingxuan langsung terdiam, “Ayah mertua, Jingxuan, selamat pagi!”
Wajah Mu Xue memerah, tapi melihat Pei Lingfeng dan Wu Jingxuan seperti ini, tiba-tiba dia merasa mereka ini sebenarnya terlihat bahagia. Mungkin inilah yang disebut dengan bahagia sederhana!