AYAH, MAAFKAN AKU

AYAH, MAAFKAN AKU
Bab 157 Masa Lalu di Paris


__ADS_3

Hello! Im an artic!


Mu Xue mencari tempat duduk. Dia tidak bisa masuk ke dalam, karena rasanya identitasnya ini membuatnya sedikit canggung. Qin Yinuo pasti akan bertanya padanya perasaan apa yang dia miliki terhadap Wu Jingxuan! Tapi jika Mi Le tidak melepaskan tangan, tidak keberatan, bagaimana dengan ayah?


Ayah?


Hello! Im an artic!


Uh!


Ayah!


Mu Xue menghela nafas, bagaimana sebaiknya ini? Di satu sisi dia adalah ayah, di satu sisi dia adalah kakak Mi. Sementara Kakak Mi ini sangat cocok dengan Wu Jingxuan, namun Wu Jingxuan sendiri sedang mengandung anak ayah! Bagaimana ya sebaiknya?


Teringat Jingxuan mengatakan ingin melahirkan anak ini, tapi apakah dia akan membawa anak dan tinggal bersama Mi Le? Tidak! Pria mana mungkin bisa menerima hal ini?


Hello! Im an artic!


Saat memikirkannya, di depan meja tiba-tiba muncul seseorang. Dia spontan mengangkat kepala, menatap gembira. “Astaga! Han Lie, kenapa kamu bisa di sini?”


“Melihat kalian naik ke lantai ini, aku juga ikut. Bagaimana? Apakah tubuhmu sudah pulih?” Han Lie sedikit meringkukkan bibir, kemudian duduk di hadapan Mu Xue.


“Sudah membaik! Aku sebenarnya ingin berterima kasih padamu. Tapi aku sulit menghubungimu. Sepertinya nomor yang kamu berikan itu selalu dalam keadaan mati!” Mu Xue telah mencoba berkali-kali menghubungi sang penyelamat ini untuk mengucapkan terima kasih.


Han Lie dengan ekspresi wajah tampan elegannya itu tersenyum santai: “Aku kembali ke Perancis, kemarin aku baru pulang!”


“Ada masalah?”


“Di perusahaan ada sedikit masalah, masalah itu sudah selesai diatasi!”


“Baguslah!” mereka basa-basi. Mu Xue teringat hal itu dia bilang, tunggu dia sudah membaik, Qin Yinuo akan memberitahu segala hal tentang Mo Yilan.


Belakangan ini, Qin Yinuo tidak mengungkit soal Mo Yilan, Mu Xue juga tidak tahu bagaimana keadaan Mo Yilan! Tidak tahu apakah Qin Yinuo masih menjaga Mo Yilan atau tidak.


“Han Lie, apakah kamu pernah bertemu dengan Mo Yilan?” dia mencoba bertanya.


“Penyakitnya sudah membaik!” kata Han Lie santai, ekspresinya datar, hanya saja kelihatannya pilu, “Aku pernah pergi menjenguknya, namun dia malah mengira aku adalah Qin Yinuo!”


Mu Xue tiba-tiba teringat, hari itu, Mo Yilan mengatakan bahwa Qin Yinuo bermata biru berambut hitam. Saat itu dalam bayangannya itu adalah Han Lie, namun tidak menyangka ternyata orang itu adalah dia. “Bagaimana mungkin salah kira? Bisa jadi orang yang berada di dalam hatinya adalah kamu, bukan Qin Yinuo?”


“Bagaimana mungkin aku ada di dalam hatinya?” Han Lie menggelengkan kepala, “Dia tidak pernah mencintaiku!”


“Tapi Han Lie, dia menyebut nama Qin Yinuo, namun berkata dia bermata biru. Bukankah ini sangat aneh? Qin Yinuo berdiri di hadapannya, dia malah bilang dia bukan Qin Yinuo! Sangat aneh kan!”


Han Lie tampak terkejut, “Dia tidak mengenali Qin Yinuo lagi?”


“Terakhir kali dia tidak mengenalinya! Dulu dia hanya mengenalnya, aku tidak tahu kenapa!” Mu Xue sampai sekarang masih tidak memahami, “Bisa jadi dia ada perasaan terhadapmu, tapi dirinya sendiri tidak tahu! Atau mungkin dia terlalu fokus dengan masa lalu, atau memaksakan diri untuk fokus pada masa lalu, sehingga dia hanya mengingat nama Qin Yinuo, mengimajinasikan percintaannya sendiri. Atau mungkin dia sudah lama tidak mencintai, namun tidak bisa terima bahwa Qin Yinuo pernah membohonginya! Atau bisa jadi, dia masih terbebani karena Qin Yinuo pernah membohonginya, luka itu sangat dalam hingga dia sulit untuk kembali seperti biasa!”


“Xiao Xue?” Han Lie agak terkejut, mengapa yang dia katakan mirip dengan yang dikatakan Wei’er? Dia ingat, saat dia pergi, Mo Yilan itu menarik tangannya, tidak ingin melepaskannya!


Mungkinkah? Apakah dia pernah mencintainya sendiri?


Han Lie tertawa pahit, “Aku pernah bilang aku akan memberitahumu cerita ini. Sekarang, aku akan memberitahunya! Aku tidak akan ingkar janji! Bisa jadi setelah kamu mendengar cerita ini, kamu tidak akan lagi percaya bahwa dia mencintaiku!”


Tahun itu.


Tiga tahun lalu.

__ADS_1


Di Paris, Perancis.


Mo Yilan dari Korea datang Paris, dia datang ke negara yang asing ini, melihat sekumpulan orang asing, karena tidak tahan dia kemudian berjongkok menangis di pintu keluar bandara. Dia kehilangan percintaannya, pria yang paling dipercayainya pergi dengan wanita lain dan melahirkan anak. Bagaimana mungkin dia tidak sedih?


“Nona, apa kamu tidak apa?” suara serak berat itu menggunakan bahasa mandarin, Mo Yilan spontan mengangkatkan kepala.


Wajah mungil yang penuh tangisan itu masuk ke dalam pandangan Han Lie begitu saja. Seketika itu, hati Han Lie bergetar, wajah tampannya itu membawakan senyuman yang hangat.


Kemudian dia menggunakan bahasa Jepang berbicara, namun Mo Yilan menjawab: “Aku orang China!”


“Oh, kebetulan sekali, ayahku juga orang China!”


Mo Yilan menatap Han Lie dengan kebingungan, pria tampan di hadapannya itu memiliki bentuk wajah sempurna, cahaya matahari menembus aura gagahnya, dari mata birunya itu menunjukkan tatapan sangat liar dan begitu menggairahkan.


“Nona, apakah kamu tidak apa? Mengapa kamu menangis di sini?”


“Kamu tidak perlu pedulikan!” nada bicara Mo Yilan sangat gegabah, dia berdiri, lalu menarik kopernya dan pergi.


Han Lie tidak mengejarnya.


Tapi, di malam hari, di sebuah bar, Han Lie melihat Mo Yilan lagi. Dia telah mabuk, kemudian diganggu oleh beberapa pria Perancis. Han Lie berjalan ke sana, lalu menjauhkan tangan pria Perancis itu, dan memberitahu mereka bahwa Mo Yilan ini adalah istrinya.


Beberapa pria Perancis itu pun tidak lagi mengganggunya.


Mo Yilan yang agak mabuk itu menatap Han Lie, tersenyum lebar, berkata: “Kakak tampan, ternyata memang kakak tampan!”


Malam itu, dia membawanya ke hotel.


Saat dia akhirnya meletakkan Mo Yilan ke atas ranjang, dia malah menarik lengannya, air mata keluar, bisa dilihat betapa sedih dirinya saat itu.


Satu kalimat ini merangsang nafsu Han Lie.


Tapi, dia bukanlah pria sembarangan. Dia memiliki prinsip sendiri.


“Apakah kamu di bar sedang mencari pria untuk melakukan hubungan **** denganmu?” dia senyum menyeringai dengan bergairah, mata berwarna hitam itu telah mengunci jiwa Mo Yilan, membuat dia terpanah oleh satu tatapan ini.


“Bagaimana kamu tahu?” dia tersenyum lebar lagi, lalu merangkul lehernya dengan sepasang tangan, “Aku memilihmu! Kakak tampan!”


Han Lie menyipitkan sepasang matanya, pandangannya mulai sedikit berubah, tatapannya agak dingin, lalu menundukkan kepala mencium bibirnya. “Wanita, kamu akan membayar atas perlakuanmu ini!”


“Aku tidak mau bayar!” nada bicaranya membawa kekesalan dan kebencian. Saat itu, Han Lie tidak tahu apa yang mebuatnya sedih.


Hanya saja, bibirnya yang manis itu merangsang seluruh organ tubuhnya, tangannya tiba-tiba diletakkan di dada montok kanannya, mencengkram payudara yang elastis dan penuh itu dengan sekuat tenaga.


Dia mendengar Mo Yilan mengeluarkan suara nafas, tubuh semakin tegang, aksinya yang mesra ini membuat dia terus merintih.


Dia merendahkan tubuhnya, mencium bibirnya, menyedot kesana kemari.


Dia pun merobek bajunya hingga telanjang di hadapannya, bentuk tubuhnya yang ideal, wanita asia klasik, montok namun tidak berlebihan.


Han Lie menciumnya. Mo Yilan juga sangat bergairah, terus menggodanya.


Han Lie merenggangkan lutut di antara kedua kaki Mo Yilan, dengan sengaja menahannya, jari tangannya bermain di daerah **** *, kemudian gerakannya itu semakin ganas. Ditambah lagi ciuman buas dari bibirnya, Mo Yilan tidak tahan hingga mengeluarkan rintihan.


“Dasar wanita, kamu ini memang makhluk penggoda!” dia menggigit daun telinganya yang lembut, kemudian menjilat kulit di belakang telinganya, seketika membuatnya terengah-tengah.


“Sakit!” dia mendengar teriakannya itu……

__ADS_1


Sementara dia melihat darah segar telah mengalir……


Seketika itu, dia terkejut, karena dia ternyata adalah perawan. Han Lie adalah pria pertamanya.


Setelah selesai melakukan hubungan ****, saat Han Lie melihat jejak perawan berwarna merah muda itu, Han Lie bertekad untuk menikahi wanita ini!


Setelah Mo Yilan terbangun, dia termenung menatap jejak di atas ranjang itu. Dia dalam waktu lama tidak berbicara, kemudian segera berpakaian. Dia tidak memintanya untuk bertanggung jawab. Dia hanya ingin pergi. Tapi Han Lie justru menyukai aroma ini, kemudian tidak mengijinkannya untuk pergi.


Setelah beberapa hari, Han Lie mulai melakukan PDKT dengannya. Setelah seminggu kemudian Han Lie melamarnya, “Mo Yilan, menikahlah denganku!”


Mo Yilan tertegun menatapnya, terdiam cukup lama, lama nya ini hingga membuat dia mengira dia tidak akan menyetujuinya. Namun dia menjawabnya dengan tatapan kacau: “Han Lie, aku bukanlah wanita yang baik, kamu akan menyesal jika menikahiku! Jika ke depannya kamu tahu bahwa aku tidak sesempurna yang kamu bayangkan, apakah kamu akan menyesal?”


“Tidak akan! Aku selamanya tidak akan menyesal dengan keputusanku!” kata Han Lie dengan sangat tegas.


Kemudian, mereka pun menikah! Pernikahan mereka ini sebenarnya agak mendadak!


Hanya saja, setelah menikah setengah tahun, saat dia melakukan hubungan dengannya, dia menyebut nama pria lain. Awalnya suara itu tipis hingga tidak terdengar, hingga pada akhirnya suaranya nyaring memanggil nama seseorang, Han Lie mendengar nama itu adalah Qin Yinuo.


Saat itu, dia termenung.


Han Lie menanyakan Mo Yilan, Qin Yinuo itu siapa!


Mo Yilan menangis, menangis sangat keras. Karena dia tampaknya sangat sedih, Han Lie pun tidak lagi tega untuk bertanya.


Han Lie tidak lagi bertanya. Setelah itu, Mo Yilan tidak lagi menyebut nama itu.


Han Lie mengira nama itu adalah cinta pertamanya. Han Lie juga bukan pria yang tidak punya akal sehat. Tapi, setelah tiga bulan, dia mulai memanggil nama itu saat sedang menikmati rangsangan yang bergairah itu. Menyebut nama pria lain, apalagi di saat seperti ini, merupakan cemooh bagi pria mana pun.


“Bak!” Han Lie memberikannya sebuah tamparan, membuatnya sadar.


“Huhuhu……” Mo Yilan menangis, awalnya suara tangisan itu kecil saja, kemudian perlahan menjadi keras.


“Qin Yinuo itu sebenarnya siapa?” dia akhirnya tidak tahan lagi.


Tapi dia tidak mengatakan satu kata pun.


Karena tidak sabar lagi, Han Lie mengutus orang untuk menyelidiki segala hal yang berhubungan dengan Qin Yinuo.


Penyelidikan itu dimulai dari China hingga Perancis, dan saat Han Lie melihat hasilnya, dirinya terkejut. Ternyata, dirinya bukanlah pria pertama Mo Yilan. Mo Yilan melakukan penambalan selaput perawan di Korea! Dia sudah melakukan banyak hubungan intim dengan pria lain!


Rasanya ada air dingin yang disiram ke kepala Han Lie, yang membuatnya tidak bisa berkutik. Saat dia mempertanyakan Mo Yilan, Mo Yilan pun hanya bisa mengakui segalanya. “Benar, aku telah membohongimu. Aku bukanlah wanita perawan. Aku tidak mencintaimu. Han Lie, yang kucintai adalah Qin Yinuo, dan aku terus mencintainya! Jika aku masih bisa melahirkan anak, aku dan Qin Yinuo pasti telah menikah dengannya, menjalani kehidupan yang bahagia!”


Dia mengalami depresi, dan selama beberapa bulan melihat ke Andrologi, akhirnya dia sembuh!


Namun, dia tidak lagi menyentuh Mo Yilan!


Mo Yilan setiap hari meminum bir, setelah minum lalu menangis, setelah menangis minum lagi.


Dia tidak berdaya, setelah menikah dua tahun, mereka akhirnya bercerai.


Setelah melakukan seluruh prosedur, saat dia pulang ingin mengambil sesuatu, dia melihat dia sedang melukai diri sendiri.


Dia meminum bir, kemudian membakar diri sendiri dengan puntung rokok. Han Lie merasa konyol, bisa-bisanya dia melukai diri sendiri? Han Lie ingin menahannya, namun saat dia meluknya, dia memanggil nama Qin Yinuo. Han Lie hanya bisa menundukkan kepala menatapnya, namun tidak sanggup membencinya.


Karena dia sadar, sepertinya sudah setahun ini tidak melihatnya baik-baik. Wajah yang awalnya putih mulus itu, sekarang pucat hingga membuat orang sedih. Dia lebih kurus dari sebelumnya, pipinya cekung, bulu matanya menutupi kelopak matanya, menutupi bayang-bayang yang dalam. Ini semua disebabkan oleh kelelahan, kecemasan, dan alkoholisme jangka panjang. Dia dalam keadaan yang sangat buruk dan sekarang emosinya tidak stabil.


Tidak berdaya, Han Lie memberitahu keluarganya. Tapi yang pergi ke Perancis itu hanyalah adik Mo Yilan.

__ADS_1


__ADS_2