AYAH, MAAFKAN AKU

AYAH, MAAFKAN AKU
Bab 620 Sangat Menyakitkan


__ADS_3

Hello! Im an artic!


Dia menahan tangisannya dan tersenyum sekali lagi, dia mengambil sumpit, “Kakak Chi, ini adalah rebung kesukaanmu!”


“Terima kasih! Ini adalah cumi kesukaanmu, cobalah!” Dia mengambilkan makanan untuknya.


Hello! Im an artic!


Su Yan tidak selera makan, dia merasa sangat sedih.


Setelah makan dia tidak banyak berkata, “Apakah kamu mau ke kampus? Aku akan mengantarmu!”


“Ya!” Su Yan mengangguk, “Ada kelas pada malam hari! Kakak Chi, kapan kamu pergi?”


“Mungkin tiga hari lagi!” Dia berkata.


Hello! Im an artic!


“Oh! Aku mau pergi mengantar kalian!” Dia takut dirinya tidak tega melepaskannya.


Air matanya jatuh lagi sewaktu dia memikirkan kakak tercintanya akan pergi.


“Yanyan, kenapa kamu menangis?”


“Kakak Chi! Aku tidak layak membuatmu melakukan begitu banyak hal untukku!”


“Kakak Chi tidak melakukan apa-apa untukmu!” Rong Hanchi berkata, dia memegang pundaknya dan satu tangan lainnya menghapus air matanya, dia menghapus air mata yang hangat, dia menangis untuknya.


“Tapi kamu menghancurkan Grup Rong milik ayahmu demi diriku!” Su Yan berkata dengan sedih, dia tidak bisa memberinya cinta.


“Itu adalah hutanganya padaku, tidak ada kaitan denganmu!” Rong Hanchi menggelengkan kepalanya, kedua tangannya menekan pundak Su Yan dengan kuat, “Mari pergi, aku akan mengantarkanmu ke kampus, aku sudah merasa puas karena bisa bertemu denganmu sebelum pergi, jangan membuat Feng Baiyi khawatir dan lalui harimu dengan baik. Dia sangat mencintaimu!”


Su Yan merasa hatinya sedih sambil mengangguk, “Benar, dia sangat mencintaiku!”


Dia tidak ingin dia khawatir sambil menyeka air matanya, “Mari pergi!”


Di depan pintu gerbang kampus.


Rong Hanchi mengantarnya masuk ke kampus, hari sudah sore ketika dia turun.


“Kakak Chi, selamat tinggal!” Su Yan berkata dengan sedih.


Dia mengangguk sambil melihat wajah Su Yan yang penuh air mata sekali lagi, Rong Hanchi tersenyum dan berkata dengan suara serak, “Baik-baik hidup bersama Feng Baiyi, kamu bisa terkadang memikirkanku, jangan merasa bersalah, aku akan bahagia jika aku tahu kamu bahagia.”


Meskipun dia hanyut di dunia yang luas, meskipun dia setiap hari merindukannya, tapi dia akan bahagia jika dirinya hidup dengan baik.


Rong Hanchi berbalik lalu mau membuka pintunya, dia takut dirinya tidak bisa pergi jika tetap berada di sini, dia takut dia akan memintanya pergi bersamanya. Dia takut dirinya tidak akan peduli semuanya dan tidak bertanggung jawab kepada Feng Linger dan membawanya pergi begitu saja, meskipun dia mencintai Feng Baiyi tapi dia tetap ingin membawanya pergi!


Su Yan merasa sedih ketika melihat sosok tinggi itu akan pergi, dia segera maju dan memeluk Rong Hanchi dari belakang, air mata jatuh dari matanya yang membasahi punggungnya, “Kakak Chi…..”


Badannya membeku, pelukan yang tiba-tiba seperti sihir yang menghancurkan tekad Rong Hanchi yang akan pergi, dia ragu dan berkata, “Yanyan, lepaskan tanganmu.”


“Kakak Chi, kamu harus bahagia!” Su Yan mempererat tangannya sambil menghela napas, air matanya jatuh lalu dia berbalik untuk membelakanginya dan melambaikan tangannya, “Kakak Chi, selamat tinggal!”


Selamat tinggal, Kakak Chi yang tercinta!


Rong Hanchi masuk ke mobil dan matanya yang hitam menangis!

__ADS_1


Selamat tinggal wanita yang aku cintai! Wanita paling baik dan imut!


Dia berbalik dan Su Yan tidak punya semangat untuk kuliah, dia berjalan keluar kampus, dia tidak tahu apakah kuliah masih ada artinya lagi.


Terdengar suara mobil dinyalakan, dia melihat ke belakang dan mobil Ferarri merah menghilang dari pandangannya, air matanya jatuh dan dia memeluk dirinya sendiri sambil berjongkok dan menangis sedih.


Tidak tahu apakah itu karena perpisahannya atau suasana hatinya yang sedang kacau!


Dia berdiri setelah dia menangis puas di sudut sekolah, dia kaget dan melihat sosok tinggi Feng Baiyi di sampingnya sambil melihatnya dengan diam.


Dia kaget dan Su Yan menggelengkan kepalanya, dia berbalik dan ingin pergi setelah melihatnya masih ada di situ. Dia tidak ingin bicara dengannya saat ini! Tidak tahu harus mengatakan apa dan tidak mau mengatakan apa-apa.


Feng Baiyi hanya bisa mengikutinya.


Su Yan pergi buru-buru dan dia juga segera mengikutinya.


Dia segera berbalik, “Feng Baiyi, aku tidak ingin melihatmu jika kamu mengikutiku lagi maka aku akan menghilang!”


Dia berhenti sambil melihatnya, “Wawa….. aku tahu jika aku tidak bisa menjelaskannya, tolong dengarkan aku karena aku benar-benar tidak tahu apa yang terjadi juga tidak yakin, aku tidak ingin menjelaskannya karena semua itu tidak bisa dijelaskan tapi aku hanya ingin berkata jika itu semua bukan yang aku inginkan, aku tidak pernah berpikir untuk selingkuh!”


Bukan yang dia inginkan? Tapi semuanya sudah terjadi! Apakah jika tidak sengaja membunuh orang maka bisa diputuskan tidak bersalah? Su Yan tersenyum dingin dan merasa marah, “Feng Baiyi, kamu dengarkan baik-baik! Kamu….. jangan mengikutiku sekarang, jangan mengikutiku lagi, jika kamu terus megikutiku maka kita akan segera selesai.”


Feng Baiyi tidak bergerak untuk waktu yang lama, dia hanya menatapnya.


Su Yan juga menatapnya, dia melihatnya mengatupkan bibirnya di bawah cahaya lampu yang redup, dia melihat matanya yang sedih sehingga hati Su Yan lebih sakit lagi.


Kata selesai ternyata begitu menyakitkan!


Feng Baiyi merasa dadanya sesak dan ketika dia melihatnya lagi, dia menemukan jika pundaknyaa bergetar, dia langsung maju untk memegang wajahnya yang basah. Dia sedikit membungkuk dan memeluknya.


Hati Feng Baiyi merasa sakit.


“Lepaskan!” Su Yan mengendus ingusnya sambil bernapas dalam-dalam dan berkata dengan dingin.


Feng Baiyi melepaskannya sambil menatapnya dengan tanpa daya, “Wawa…..”


“Jangan mengikutiku! Aku tidak ingin melihatmu sekarang!” Dia berbalik dan berjalan ke arah lain.


Ponselnya berbunyi.


Feng Baiyi melihatnya mengangkat teleponnya, dia mengikutinya selangkah. Lalu dia melihatnya berbalik sambil memelototinya untuk memperingatinya sehingga dia tidak mengikutinya lagi tapi berjalan ke arah yang berlawanan.


Mu Siyuan yang meneleponnya, “Gadis tengik, tidak disangka kamu ternyata bukan adikku sehingga kebahagiaanku sia-sia!”


Su Yan menyunggingkan mulutnya ketika mendengar suara Mu Siyuan, “Aku juga karena aku pikir aku punya dua kakak tapi akhirnya aku tidak ditakdirkan punya keluarga!”


“Kamu ada di mana?” Mu Siyuan bertanya.


“Gerbang kampus!” Dia berkata.


“Cepat pulang jika kelasnya sudah selesai!” Dia seolah-olah memerintahkan anak kecil.


“Iya!” Dia memegang ponselnya dan tiba-tiba bertanya, “Mu Siyuan, apakah kamu tidak membenciku?”


Tiba-tiba terdengar keheningan, “Kenapa harus membencimu?”


“Karena aku, perusahaan ayahmu bangkrut!”

__ADS_1


“Kekayaan bukan hal yang paling penting!” Terdengar suara jernihnya, “Jangan berpikir sembarangan!”


“Terima kasih!” Hati Su Yan merasa sedih.


Dia menutup teleponnya dan tidak melihat Feng Baiyi lagi ketika dia berbalik, dia benar-benar tidak mengikutinya. Su Yan berdiri diam di gerbang kampus sambil melihat langit yang semakin gelap dan kesedihan di dalam hatinya juga semakin dalam.


Tanpa sadar dia berjalan masuk ke sebuah bar.


Dia memesan selusin bir dan tiba-tiba minum bir.


Tapi dia baru membuka kalengnya dan kaleng itu sudah direbut orang.


“Gadis tengik, aku mendengar suaramu aneh tadi, ternyata benar-benar bermasalah, mengapa kamu datang ke sini?”


Su Yan mengangkat kepalanya dan melihat wajah penuh perhatian Mu Siyuan, “Apa yang kamu lakukan? Aku mau minum bir!”


“Kamu belajar hal yang buruk sekarang! Buat apa gadis kecil minum bir? Katakan kepada kakak jika ada masalah!”


Su Yan merasa hidungnya sakit ketika mendengar kata-kata Mu Siyuan lalu dia menunduk, “Ada apa sebenarnya” Mu Siyuan duduk di sampingnya sambil bertanya dengan penuh perhatian.


“Tidak ada apa-apa!” Dia mengendus sambil menunduk, “Apakah aku tidak boleh minum, apakah aku tidak boleh merasa sedih?”


“Feng Baiyi menindasmu?”


“Apakah kita boleh tidak mengungkitnya?” Suaranya terdengar emosi, dia merasa kesal dan tidak bisa minum bir, lebih baik dia pergi saja, tidak diduga akan bertemu Mu Siyuan di bar, sebenarnya bahkan dia sendiri juga tidak tahu apa yang dia lakukan karena dia merasa emosi maka masuk ke dalam bar, memangnya kenapa jika minum bir? Setelah minum masalah tetap masih ada!


Dia berdiri dan berjalan ke arah luar.


Mu Siyuan segera mengikutinya, “Hei! Su Yan, ada apa sebenarnya? Apa yang terjadi antara dirimu dan Feng Baiyi?”


“Tidak apa-apa!” Dia menyeka air mata di wajahnya karena dia paling takut orang memberikan perhatian padanya saat ini sebab dia akan menjadi lebih ingin menangis.


Mereka berdua keluar dari bar dan Mu Siyuan menariknya, “Su Yan, apakah kamu baik-baik saja?”


“Tidak apa-apa, tidak apa-apa!” Dia menggelengkan kepalanya.


“Mengapa kamu datang ke sini jika tidak ada masalah?” Dia menariknya lalu melihat matanya yang berair, dia merasa bingung melihat wajah rapuhnya, “Mengapa kamu menangis?”


“Aku tidak menangis!” Dia menyangkalnya.


“Menyangkal lagi!” Mu Siyuan melihat wajah pucatnya dengan sedih, dia merasa hatinya menegang lalu dia menyeka air matanya sambil menghiburnya, “Jangan menangis, jangan menangis lagi.”


Mendengar suara penuh perhatian Mu Siyuan, Su Yan menangis dengan sedih dan dia ingin mengatakan sesuatu tapi dia tidak bisa bersuara hanya ingin menangis.


Hati Mu Siyuan merasa bergejolak ketika melihatnya yang seperti ini, dia memeluknya sambil menepuk pundaknya dengan lembut dan berkata, “Aku pinjamkan pundakku, menangislah sepuasmu!”


Dia melihat kakaknya menyatakan perusahaannya bangkrut dan setelah dia datang ke perusahaan baru tahu jika Su Yan bukan adiknya, ternyata semua ini adalah rencana ayahnya, dia merasa pasti kakaknya sangat terluka maka melakukan ini jika tidak mana mungkin dia akan bermain dengan aset keluarga. Hanya saja ketika dia memikirkan Su Yan bukan adiknya maka bagaimana mungkin dia bisa menerima kenyataan ada keluarga tapi akhirnya kehilangan lagi.


Su Yan merasa ada tempat pelampiasan setelah mendapatkan pelukan hangat sehingga dia menangis keras.


Mu Siyuan menghela napas tanpa daya sambil memeluknya dengan lembut sampai dia berhenti menangis baru melepaskannya, “Kamu katakan apa yang terjadi kepadaku? Mengapa kamu menangis sesedih ini?”


“Tidak apa-apa, aku mau pulang!” Dia menggelengkan kepalanya dan merasa sangat lelah, bagaimana dia mengatakan masalah seperti ini kepada orang lain?


Dia bagaimana bisa mengatakan prianya berselingkuh kepada orang lain, dia yang sedang rapuh melihat video itu dan gambaran itu menyiksanya, dia merasa sayang mengakhirinya, dia merasa bersalah pada dirinya sendiri jika pura-pura tidak tahu, tidak adil, Tuhan tahu apa yang ingin dia katakan dan apa yang harus dia lakukan!


Dia akhirnya mengakui sebuah fakta jika di dunia ini tidak ada pria yang setia!

__ADS_1


__ADS_2