AYAH, MAAFKAN AKU

AYAH, MAAFKAN AKU
Bab 109 Dua Orang Kakek


__ADS_3

Hello! Im an artic!


Saat melewati pintu putar, tiba-tiba Du Jing tertabrak pintu putar tersebut.


“Uh!”


Hello! Im an artic!


“Asisten Du, apakah kamu baik-baik saja?” teriak Mu Xue prihatin padanya.


Wajah Du Jing sedikit memerah, karena dia sedang memikirkan sesuatu barusan, sehingga dia tidak memperkirakan hal ini akan terjadi. Du Jing terus memperhatikan ayah angkatnya dan Mu Xue yang ada di hadapannya. Dia merasa senyum ayah angkatnya ketika menggendong anak itu terlihat begitu polos, dan sama sekali tidak terlihat seperti memiliki suatu motif. Hal ini membuatnya tiba-tiba sadar bahwa ternyata ayah angkatnya juga sangat mengharapkan kasih sayang dan keluarga! Sayang sekali Pei Lingfeng selama ini selalu sendirian!


“Wah, sepertinya memar!” Mu Xue berseru sambil mengambil sehelai tisu basah di tangannya, lalu berjinjit tinggi mencoba untuk menempelkannya pada dahi Du Jing. “Asisten Du, apakah terasa sakit? Gunakan ini saja, karena cuaca sedang dingin saat ini, tisu basah dapat membantu mencegah lukanya membengkak!”


Du Jing tercengang karena mendapat perhatian dari orang yang ada di hadapannya, tindakan kecil Mu Xue ini berhasil membuat wajah Du Jing yang semula dingin tanpa ekspresi itu, tiba-tiba terkejut. Bagian dahi yang semula perih, setelah ditempeli tangan kecil Mu Xue, pelan-pelan rasa sakit itu menghilang!


Hello! Im an artic!


Du Jing merasa sedikit malu karena dia dapat merasakan wajahnya bertambah panas. Karena selama ini belum pernah ada orang yang mau mempedulikannya seperti ini, seberapa parahpun luka yang dialaminya, juga tidak ada yang peduli! Selain ayah angkatnya, Mu Xue adalah orang kedua yang peduli padanya!


Dia, adalah wanita pertama yang peduli pada dirinya!


Du Jing mengangkat tangannya ingin memegang tisu basah yang menempel itu, tetapi tidak sengaja malah menyentuh tangan Mu Xue. Keduanya tercengang seketika. Mata Mu Xue terlihat sangat jernih dan suci, Mu Xue segera menarik tangannya ke belakang dan tersenyum: “Tidak apa-apa! Ayo kita masuk! ”


“Uh! Uh!” Du Jing berulangkali menjawabnya.


Ketika Pei Lingfeng menoleh dan melihat interaksi barusan antara Du Jing dan Mu Xue, berdua di belakang, walaupun tinggi badan Du Jing yang hampir 190 sentimeter itu terpautnya sangat dramatis dibanding Mu Xue, namun ketika melihat mereka berjalan bersama, Pei Lingfeng selalu merasa bahwa keduanya terlihat sangat serasi. Satunya tinggi dan yang satunya pendek, antara yang kuat dengan yang lemah. Lalu dia berpikir, apakah sudah waktunya untuk mencarikan teman wanita untuk Du Jing, putranya?


Putranya sudah berumur tiga puluh tahun, dan masih bujangan. Bagaimana dia bisa memenuhi kebutuhan biologisnya? Pei Lingfeng mengerutkan keningnya, lalu memeluk Cheng Cheng dan berjalan ke lift.


“Kakek, kamu sangat kuat!” seru Cheng Cheng sambil tertawa. “Kamu sanggup memelukku begitu lama!”


“Wah anak kecil, kamu benar-benar berat sekali! Ayo beritahu kakek, apakah ayahmu bernama Qin Yinuo?” Pei Lingfeng mengeluarkan jurus terhebatnya dalam bergosip, mencoba untuk mengumpulkan informasi dari anak itu.


“Bukan!” Cheng Cheng berkata dengan sedikit kecewa: “Kakek, aku bukan anak kandung Mommy, aku adalah anak adopsi Mommy! Tidak ada yang menginginkanku!”


Tiba-tiba mata Pei Lingfeng membelalak. “Anak yang baik, hati-hati jangan sampai berbohong karena bisa merusak lidahmu!”


“Sungguh, Mommy dan Paman Qin punya seorang anak, tapi bukan aku, namanya Tian Yu, dia barulah anak Mommy yang sebenarnya. Tapi kakek, tolong jangan beri tahu Mommy bahwa aku sudah menceritakanmu rahasia ini. Karena kurasa kakek adalah orang yang baik, jadi aku memberi tahunya padamu, mommy sudah lama tidak menjenguk anaknya, dan karena itu dia merasa sangat sedih sekarang!”


Jadi, ini bukan anak kandungnya? Pei Lingfeng tertegun sejenak lalu berbalik dan melirik Mu Xue. Padahal penampilan Mu Xue dengan anak ini persis sekali. Mana mungkin jika anak ini bukan anak kandungnya? ——


Mu Xue memakai sepatu hak tinggi setinggi tiga inci. Dia tidak terbiasa memakai sepatu hak tinggi. Apalagi dia harus berdiri lama sekali. Selalu di sisi Tuan Pei, tugas Mu Xue adalah untuk berkenalan dengan beberapa bos pemilik mall, namun dia sama sekali tidak menyangka bahwa dia akan melihat Qin Mao Xiang di sana.


Karena merasa terkejut sekali, Mu Xue tertegun sejenak, baru kemudian sedikit mengangguk. Dia melihat penampilan Qin Mao Xiang yang sepertinya kelelahan. Meskipun dia bersetelan jas dan berpenampilan tampan saat itu, tapi semua ini tidak dapat menutupi eskpresi lesu di wajahnya!


Pei Lingfeng menyapa Qin Mao Xiang untuk berbasa-basi sejenak, Qin Mao Xiang segera menatap wajah Mu Xue dengan tajam. “Nona Mu, bagaimana kabarmu, baik-baik saja ya!”


“Tuan Qin, halo!” Mu Xue hanya menyapanya singkat, lalu segera mencari kesempatan untuk pergi.


Mu Xue tidak tahu harus bagaimana menghadapinya, dan dia juga tidak ingin berhadapan dengannya! Karena saat ini, baginya akan terasa sakit hati jika bertemu dengan siapa pun yang berhubungan dengan Grup Qin. Semula tidak terpikirkan olehnya, bahwa dia akan seperti ini.


Namun, Mu Xue sendiri juga bukan orang yang suci, dia hanyalah wanita biasa yang barus saja kehilangan anak dan juga kekasihnya. Ya, benar, ketika baru sadar bahwa dirinya jatuh cinta pada Qin Yinuo dia langsung kehilangan dirinya, tak tahu mengapa nasibnya harus begitu ironis!

__ADS_1


Kakinya terasa sakit sekali!


Meski sedang berbicara dengan Cheng Cheng, tetapi dari waktu ke waktu mata Du Jing tidak pernah meninggalkan Mu Xue, melihat sosoknya begitu serius bekerja dan terus ikut di belakang ayah angkatnya, mata Du Jing tidak sengaja menatap mata Mu Xue, dia memperhatikan senyuman mereka memang mirip sekali!


“Paman, mengapa kamu juga bertanya ini padaku? Mengapa kamu dan kakek sama-sama suka bergosip? Kupikir kamu adalah orang yang cuek!” Cheng Cheng tidak bisa mengerti, mengapa Paman Du begitu penasaran dengan status menikah ibunya?


Du Jing terkejut, belum sempat menjawab dia segera menemukan Mu Xue pergi tergesa-gesa sambil menundukkan kepalanya dengan ekspresi kesal, sampai tidak memperhatikan apakah ada orang di depannya. Du Jing segera menggandeng Cheng Cheng dan menghampiri Mu Xue.


Tiba-tiba, berdiri sesosok yang tinggi di hadapan Mu Xue, dan suara seorang laki-laki yang merdu terdengar pada saat yang bersamaan, “Nona Mu, apakah kamu tidak memperhatikan jalan saat kamu berjalan?”


Mu Xue terpaksa berhenti dan mengangkat kepalanya.


Saat dia mendongak dan melihat Du Jing yang berpenampilan jangkung dan gagah sedang memperhatikannya sambil memegangi tangan Cheng Cheng, matanya berbinar seolah dilintasi oleh secercah cahaya yang terang.


“Asisten Du!” Mu Xue menyapanya.


“Mommy, apa yang akan terjadi jika kamu tidak memperhatikan jalan di depanmu dan akhirnya terpeleset?” Cheng Cheng berjalan mendekat untuk memapahnya dengan penuh perhatian. “Apakah kamu lelah? Bersandarlah padaku dan istirahatlah sebentar!”


“Uh! Mommy pasti sudah sangat tua ketika mommy sudah bisa mengandalkanmu!” Mu Xue tersenyum dan menyentuh wajahnya. “Ayo pergi dan duduk di sana sebentar!”


“Hati-hati!” Du Jing berjalan mendekatinya, langsung memapah lengan satunya.


Mu Xue sedikit tercengang dan tanpa sadar melirik mata Du Jing, dia menemukan ternyata Du Jing adalah seorang pria yang gentleman, dia hanya memegang lengannya dan memapahnya ke sofa di salah satu sudut ruangan.


Mu Xue segera berterima kasih kepadanya. “Terima kasih, Asisten Du!”


“Panggil saja namaku!” Du Jing tidak suka disebut dengan menambahkan kata-kata tambahan di depan namanya. “Dan bolehkah aku memanggilmu langsung dengan namamu kelak?”


“Boleh!”


“Kenapa? Kakimu sakit?” Tatapan Du Jing tertuju pada kakinya.


Sebenarnya sejak awal dia terus memperhatikannya dan menemukan bahwa Mu Xue sepertinya kelelahan, sebab daritadi Mu Xue selalu ikut dengan ayah angkatnya dan menyapa orang-orang sepanjang jalan, gaya Mu Xue berjalan terlihat sedikit aneh.


“Ya, aku tidak terlalu suka memakai sepatu hak tinggi, terlalu lelah!” Mu Xue menjelaskan dengan merasa malu.


Cheng Cheng pergi ke samping untuk mengambil es krim, dan kemudian mengambil satu untuk Mu Xue.


“Mommy, Paman Leng membantuku mendapatkan es krim. Katanya es krim paling enak untuk dinikmati pada musim dingin!”


“Paman Leng?” Mu Xue bingung.


“Oh, maksudnya Paman Du, dia jarang tertawa, makanya aku menjulukinya Paman Leng!” Selesai berbicara Cheng Cheng melirik ke arah Du Jing. “Paman, kamu tidak akan keberatan, bukan?”


“Jangan sembarangan memberi paman nama panggilan!” Mu Xue mengomel.


“Tidak apa-apa, dia boleh memanggilku sesuka hatinya!” Meskipun wajah Du Jing dingin, nadanya saat ini terdengar tidak begitu kaku.


Setelah bertanya-tanya barusan, Du Jing sekarang telah sedikit memahaminya, anak yang diasuhnya ini tidak memiliki ayah, dan ternyata Mu Xue adalah orang tua tunggal. Tentu sangat tidak mudah baginya sebagai wanita untuk dapat membesarkan seorang anak sendirian, dan juga berhasil mendidik anak ini dengan begitu baik tidaklah gampang. Ditambah lagi pekerjaannya juga sangat bagus.


Pada saat ini, Pei Lingfeng tiba-tiba dari kejauhan memberi Mu Xue isyarat agar datang ke sisinya, sehingga Mu Xue segera berdiri. “Maaf, aku akan pergi dulu, Cheng Cheng, jangan berlarian! Mommy pasti akan kembali mencarimu!”


“Mengerti!” Cheng Cheng duduk di sofa dan mulai makan es krim.

__ADS_1


Melihat tatapan Du Jing terus mengikuti kemana arah Mu Xue pergi, Cheng Cheng segera melirikkan matanya dan berkata langsung: “Paman, ibuku sudah punya paman yang dekat dengannya, kamu tidak mungkin bisa mengejarnya!”


“Apa? Paman Qin?” Du Jing bingung.


“Maksudnya sudah ada seseorang yang mengejar Mommy!” Di mata Cheng Cheng, Mommy sangat cantik, dan pria mana pun yang mendekati Mommy mungkin memiliki keinginan untuk mengejar Mommy.


Wajah tampan Du Jing menjadi gelap serasa terselubung kabut, dan dengan cepat ekspresinya kembali menjadi datar lagi.


Karena melihat Pei Lingfeng masih bersama Qin Mao Xiang terlihat asyik mengobrolkan sesuatu, Mu Xue sebenarnya tidak ingin ke sana, dia tidak tahu harus bagaimana menghadapi Qin Mao Xiang!


Setiap kali melihat Qin Mao Xiang, dia akan selalu teringat pada Qin Yinuo dan Tian Yu. Dan saat ini hati Mu Xue masih diliputi rasa sakit dan kesengsaraan yang mendalam. Hatinya masih terasa perih seakan dipukuli dalam-dalam oleh seseorang, dan matanya tertutup oleh kabut. Dia merestui orang lain, tetapi membuat dirinya tersiksa, dan apakah hanya dirinya saja yang tersiksa?


Semua telah berlalu, dan kelak hidupnya tidak akan ada hubungan dengannya lagi! Mu Xue, kamu harus kuat, langit belum runtuh, dan langit masih ada, kamu pasti bisa!


Menarik nafas dalam-dalam, Mu Xue baru mengambil dua langkah, tiba-tiba seorang pelayan datang dengan nampan anggur. Mungkin kaki Mu Xue terlalu lelah, dan tanpa sengaja kakinya terkilir, dia tiba-tiba merasakan sesuatu yang bervolume besar masuk membasahi pakaiannya. Diikuti dengan suara gemerincing dari gelas pecah, dan anggur di gelas itu kebetulan jatuh mengenai gaunnya.


Melihat gaun putih yang dikenakannya berubah menjadi merah keunguan seketika, dia terdiam di tempat!


“Maaf, Nona!” Pelayan itu terus meminta maaf dengan ketakutan.


“Tidak, tidak apa-apa!” Melihat roknya, dia benar-benar merasa dirinya bodoh. Dia bahkan tidak bisa memakai sepatu hak tinggi. Entah kenapa, kabut di mata Mu Xue berubah menjadi tetesan air mata.


Pelayan luar biasa panik. “Nona, aku tidak sengaja melakukannya! Tolong jangan menangis!”


“Ada apa?” Suara pria yang rendah tiba-tiba terdengar, diikuti hawa yang membuat perasaan orang disekitarnya tertekan. Begitu pelayan itu mendongak dan melihat Du Jing yang berbadan tinggi dan bongsor, dengan wajah tampannya yang acuh tak acuh, memberikan tatapan mata yang tajam ke arahnya, membuat pelayan itu hampir mati lemas.


Lalu dengan gugup dia memandangi gadis yang menangis di depannya, pelayan itu tidak bisa menahan perasaan paniknya. Apakah karena marah, noda anggur merah yang dihasilkan di gaun putih itu lumayan besar, pria ini akan memukulinya?


“Uh… Nona… Apakah tidak apa-apa?” Tanyanya di hadapan Mu Xue.


“Tidak apa-apa!” Mu Xue menggelengkan kepalanya. “Pergilah!”


Pei Lingfeng dan Qin Mao Xiang juga menyadari kejadian ini, dan keduanya datang menghampiri Mu Xue. Kening Qin Mao Xiang sedikit mengernyit. Begitu Mu Xue mengangkat kepalanya, secara samar-samar dia melihat wajah yang tampak persis seperti Qin Yinuo dalam penglihatannya, dan air matanya tidak bisa tertahankan, perlahan turun membasahi pipinya.


“Maaf, aku pergi ke kamar mandi sebentar!” Mu Xue berbalik dengan cepat dan pergi.


Du Jing melihat air mata di matanya dan pergi mengejarnya.


“Sayang sekali, Ketua Qin, asisten saya barusan mengalami sedikit masalah!” Pei Lingfeng berkata sambil tersenyum, “Masalah apa yang ingin Anda bicarakan dengannya? Apakah saya bisa bantu menyampaikan kepadanya?”


“Presiden Pei, lupakan saja! Lain hari saja!” Kata Qin Mao Xiang.


“Hah? Tuan Qin yang bertampang serius, ternyata Anda di sini juga!” Cheng Cheng berlari memegang es krim dan mengerutkan kening ketika dia melihat kedua kakek itu berdiri bersama. “Aneh kalau dua kakek berdiri bersama, yang satu tersenyum seperti rubah dan yang lainnya seperti harimau!”


Pei Lingfeng dan Qin Mao Xiang tercengang pada saat yang sama mendengar kata-kata dari anak itu……


“Hahahaha…” Pei Lingfeng tertawa, sama sekali tidak emosi. “Anak yang baik, apakah kamu sedang memuji kakek seperti rubah yang murah senyum?”


“Kakek, ketika kamu tersenyum, kamu selalu menyipitkan mata, jadi kamu terlihat seperti seekor rubah!”


“Haha, maka Presiden Qin, kamu adalah harimau yang agung!” Pei Lingfeng berbicara untuk menggodanya.


Wajah Qin Mao Xiang tercengang, apakah dia terlihat sebagai orang yang seserius itu? Sebenarnya menggambarkannya sebagai seekor harimau, anak ini benar-benar tidak masuk akal, tetapi dia tidak marah, malah membuatnya merasa ingin tertawa.

__ADS_1


“Kakek yang serius, apakah kamu yang telah mengurung Paman Qin? Mengapa dia tidak pernah muncul?” Tanya Cheng Cheng.


__ADS_2