
Hello! Im an artic!
“Eh!” Semuanya tertegun.
Cheng Cheng melirik sekilas pada Tian Yu, menatapnya seolah “Bodoh” sekali.
Hello! Im an artic!
“Astaga!” Mu Xue menunduk menatap Tian Yu, lalu menghela nafas, “Tian Yu, Mei Mei itu siapa?”
“Teman kecilku. Dia tidak punya daddy. Mami, Mei Mei kasihan sekali kan? Aku harus menikahinya. Aku harus menepati kata-kataku!” Tian Yu mengatakannya dengan amat serius.
Qin Maoxiang menggeleng.
“Perempuan bodoh apa gunanya, aku tidak mau menikah!”
Hello! Im an artic!
Semuanya menoleh menatap Cheng Cheng.
Cheng Cheng mengangkat bahunya, berkata dengan gaya keren, “Mami jangan menikah dengan paman ya. Tunggu aku besar aku akan menikahimu! Tenang saja, seumur hidup ini anakmu hanya ada mami, tidak mau istri!”
“Eh!” Mu Xue tak bisa menahan tawa.
“Mana boleh?”
“Apa-apaan itu?”
Qin Yinuo dan Qin Maoxiang berkata bersamaan.
Qin Yinuo mengumpulkan semua orang hari ini untuk membahas masalah pernikahan ini. Tapi begitu melihat gelagat Cheng Cheng, tiba-tiba dirinya kehilangan kepercayaan diri. Anak kecil ini terlalu sayang pada ibunya kan?
“Tak peduli bagaimanapun, mamimu adalah istriku. Terserah kau setuju atau tidak, kami akan menikah!”
“Baik, tunggu aku besar baru kurebut mami kembali!” Cheng Cheng sengaja membuat kesal Qin Yinuo.
“Xiao Xue, bagaimana bisa kau mengacuhkan sikap aroga anak kecil ini?” Saat ini wajah ganteng Qin Yinuo jadi penuh dengan rasa kegagalan dan kekesalan. Apalagi kalimat Cheng Cheng satu itu. Wajah Qin Yinuo muramnya bukan main.
“Qin Yinuo, tak perlu pedulikan kata-kata anak-anak!” Mu Xue berkata tanpa daya, “Kenapa kau menganggap serius kata-kata anak kecil!”
“Xiao Xue, kau cinta padaku atau cinta pada anak nakal ini?” Qin Yinuo juga jadi serius, tetap ingin membandingkan.
Wajah Mu Xue jadi muram. Bagaimana bisa ia menjawab di depan tuan besar Qin!
“Tentu mami Lebih cinta padaku!” Cheng Cheng berkata lagi. Melihat wajah Qin Maoxiang yang sepertinya muram, maka ia segera berkata, “Kakek, ayo makan. Setelah makan kutemani main catur!”
“Baik! Makan!” Begitu mendengar kata catur Qin Maoxiang langsung bersemangat, “Malam ini kita habisi dua ronde!”
“Xiao Xue, beritahu aku!” Qin Yinuo berjalan mendekat, membenamkan wajahnya dalam-dalam di rambut Mu Xue, suaranya terdengar muram. Meski pertanyaan ini agak kekanak-kanakan, tapi baiklah, ia mengakui dirinya sangat kekanak-kanakan. Tapi ia ingin menjadi satu-satunya milik Xiao Xue!
Tian Yu melihat daddynya sebodoh itu, juga ikut pergi berlari ke meja makan, “Aku juga pergi makan!”
“Qin Yinuo, kau ini kekanak-kanakan sekali!” Ia benar-benar tidak tahu harus bagaimana dengannya, “Sudahlah. Cheng Cheng itu sedang mengganggumu agar kau lebih baik padaku kedepannya, kedepannya kau tak boleh mengerjaiku!”
“Baik! Aku mengakui diriku kekanak-kanakan. Tapi kau harus memberitahuku, kau hanya mencintai diriku seorang!” Ia tetap tidak melepaskannya.
“Ya! Besok kau temani aku ke makam! Setelah mengunjungi makam ayah dan adikku, aku akan memberitahu kau!” Mu Xue berkata pelan.
“Kenapa harus tunggu besok?” Qin Yinuo mengeluh dengan tidak puas, “Aku ingin tahu sekarang.”
Mu Xue tertawa. Kemudian ia melepaskan pegangan tangannya dan berjalan ke arah meja makan…
***
__ADS_1
Di kuburan.
Suasana kuburan di musim dingin agak sunyi. Mu Xue membawa sebuket bunga segar di tangannya, berjalan ke tempat dimana dirinya bertemu dengan Qin Yinuo beberapa bulan lalu. Tiba-tiba dirinya teringat dan bertanya, “Hari itu kau datang ke pemakaman untuk mengunjungi ibumu kah?”
“Bukan!” Qin Yinuo menggeleng, “Hari itu aku bertemu denganmu disini, kau menabrak bungaku sampai jatuh!”
“Ya!” Mu Xue teringat, seolah kilasan itu ada di depan matanya.
“Benar! Ayo kita pergi! Ada banyak sekali yang ingin kukatakan pada ayah dan adikku!” Mu Xue sudah tidak sabaran. Ini adalah pertama kalinya, suasana hatinya jadi lebih tenang.
Pernah karena dirinya yang terlalu menderita, sehingga setiap kali datang suasana hatinya berat.
“Ya!”
Ketika Mu Xue membawanya ke depan makam Mu Nanbei, Qin Yinuo langsung tertegun. Wajahnya putih pucat.
Melihat foto di nisan makam, tertulis “Mu Nanbei”. Otak Qin Yinuo rasanya hampir pecah, kenapa bisa kebetulan seperti ini?
Tapi Mu Xue tidak menyadari ekspresi Qin Yinuo. Ia meletakkan buket bunga di depan makam ayahnya, lalu mengelus foto ayahnya. Melihat wajah penuh kasih sayang di foto itu, dirinya yang diam jadi tersenyum, lalu matanya mengadung bulir air mata. “Ayah, aku datang menjengukmu!”
“Qin Yinuo, ini ayahku!” Mu Xue menarik tangan Qin Yinuo sambil berkata, “Ayah memberiku cinta paling tulus di dunia ini. Sampai sekarang aku baru tahu seberapa mulia dirinya, baru tahu kalau aku bukan putri kandungnya, tapi ia malah memberiku cinta ayah yang paling dalam dan mulia! Dia adalah ayah termulia di dunia ini!”
Qin Yinuo memejamkan matanya. Hatinya berdecit sakit, tatapannya pusing, ia tak bisa berkata-kata. Hanya dengan melihat foto di depan, ia tak bisa menahan air matanya. Ia membuka mulutnya, namun tak ada kata-kata yang keluar.
Mu Xue menoleh menatapnya, agak kaget, “Qin Yinuo, kau menangis?”
Qin Yinuo kaget, “Tidak, tidak ada. Aku sangat bersyukur padanya telah merawatmu hingga besar!”
Tiba-tiba perasaan panik menghantuinya. Perasan bersalah yang telah tak muncul lama sekarang datang lagi. Ia menatapi nisan itu, hatinya serasa mencelos. Tangan dan kakinya mendingin.
Mu Xue tidak berkata banyak, terus menoleh dan berkata ke arah nisan, “Ayah, terima kasih kau telah membesarkanku, memberikanku sebuah keluarga yang hangat. Ayah, aku mencintaimu selamanya! Sekarang dirimu di hatiku takkan tergantukan. Meski aku telah menemukan ayah kandungku, tapi di hatiku, siapapun tak bisa mengantikanmu…”
“Ayah, aku bawa Qin Yinuo datang menemuimu! Pria yang kusukai, ayah suka tidak? Kalau aku menikah dengannya, apakah kau akan menentang?” Mu Xue berkata pelan seorang diri, malah tidak menyadari perubahan ekspresi Qin Yinuo.
Melihat foto di depan nisan makan, sepasang mata Mu Nanbei tengah menatapinya, seolah ia masih hidup. Seolah mereka saling bertatapan lama sekali, seolah ia bisa mendengar suara Mu Nanbei…ia tak setuju Xiao Xue menikah dengannya!
Tidak!
Kenapa harus begitu?
Wajah Qin Yinuo memucat, bibirnya tertutup erat.
Setelah Mu Xue berkata lama sekali, barulah ia menoleh bertanya pada Qin Yinuo, “Qin Yinuo, kau tidak ingin berkata sesuatu pada ayahku kah?”
Tubuh Qin Yinuo bergetar, menatapi wajahnya yang cerah dan mengangguk. “Xiao Xue, kau bisa pergi ke samping sebentar? Aku ingin berkata seorang pada paman…”
“Baiklah!” Mu Xue mengangguk, “Aku menunggumu disana, aku masih ingin berbicara pada Mu Xiao!”
“Ya!” Qin Yinuo menegakkan punggungnya, menengadahkan kepalanya. Lehernya membeku, dan seluruh tubuhnya tegang.
Sampai Xiao Xue berjalan jauh sekali, barulah ia berkata dengan suara rendah, “Paman, aku tak menyangka Xiao Xue adalah putrimu. Maaf, aku takkan lupa akan hutangku pada Anda. Aku pasti akan menjaga Xiao Xue baik-baik, seumur hidup ini takkan mengecewakannya. Harap Anda setujui aku, biarkan aku menikahinya, memberinya kebahagiaan!”
Setelah merenung sebentar, ia berkata lagi, “Apa Anda masih menyalahkanku? Aku tahu, Anda pasti menyalahkanku. Tapi aku benar-benar tidak punya cara lagi. Maaf, aku tak bisa kehilangan Xiao Xue, tidak bisa memberitahu hal ini padanya…aku tahu Anda pasti akan merasa diriku rendah sekali, tapi aku benar-benar mencintai Xiao Xue…maaf!”
Selesai berkata, air mata Qin Yinuo berjatuhan. Ia membungkuk dalam-dalam, membungkuk dalam-dalam…
“Maaf…”
Mu Xue melihatnya dari jauh, entah apa yang dikatakannya pada ayahnya. Pikirnya, sudah seharusnya dirinya menikah. Ia sudah memberitahu ayahnya, ia bisa menikah dengannya!
Melihat sosok tinggi itu berjalan mendekat, ia baru sadar kalau ekspresi Qin Yinuo tidak terlalu baik. Ia agak khawatir, “Kau kenapa?”
Qin Yinuo menggeleng, senyumnya tidak alami, “Tidak, tak apa. Mungkin karena cuaca yang terlalu dingin. Kan sudah natal, ayo kita pergi melihat Mu Xiao!”
__ADS_1
Karenanya, keduanya berjalan lagi ke depan makam Mu Xiao. Melihat wajah yang polos dan masih muda itu, lagi-lagi Qin Yinuo menyalahkan diri…
Setelah berkata banyak sekali, keduanya berjalan keluar dari pemakaman.
Berdiri di depan taman makam, Mu Xue memegang tangannya, menyadari kalau tangan Qin Yinuo dingin sekali, “Benar-benar dingin. Ayo kita cepat kembali ke mobil untuk membuka penghangat, jangan sampai kau demam!”
***
Di dalam ruang membaca vila nomor 15.
Begitu pulang Qin Yinuo langsung masuk ke dalam ruang membaca. Ia mengurung dirinya dalam ruangan tersebut, wajahnya yang ganteng sama sekali tidak berekspresi. Saat ini dirinya tengah menelepon, sementara Mu Xue tengah membuat kopi di lantai bawah.
“Zhiyan, ini aku!” Suara Qin Yinuo agak rendah, “Lima tahun lalu, kau tahu ayah Xiao Xue itu siapa?”
Di seberang telepon diam sebentar, “Tidak tahu, kenapa?”
“Zhiyan, ayahnya Mu Nanbei!” Qin Yinuo memejamkan matanya, suaranya semakin rendah.
“Terlalu kebetulan sekali?” Kaget di seberang telepon, “Presiden, apakah ia tahu akan sesuatu? Bagaimana ini?”
“Aku tidak tahu bagaimana, dia masih belum tahu…” Qin Yinuo menggeleng, “Kau yakin sudah mengatar uang itu lima tahun lalu?”
“Ya! Sudah kuantar!” Ia berkata.
Qin Yinuo mengangguk, “Baik kalau begitu. Kau rahasiakan dulu, nanti baru kuhubungi kau lagi!”
Qin Yinuo memutus teleponnya, lalu menyalakan sebatang rokok, ia menghisapnya dengan perlahan.
Ketika Mu Xue masuk membawa kopi, ia mencium bau rokok, maka alisnya berkedut dan berkata, “Merokok terus tidak baik untuk tubuh. Kapan kau bisa lepas dari rokok?”
“Tak bisa lepas lagi!” Qin Yinuo memuntahkan segumpal asap dan menarik tangannya, mendudukkannya di atas pahanya. Gerakan ego serta mesranya ini membuat Mu Xue memerah.
Mu Xue merebut rokok di tangannya, lalu mematikannya di asbak atas meja. “Bagaimana bisa tidak bisa lepas? Asal kau ingin, pasti bisa!”
Qin Yinuo tersenyum. Entah kenapa, Mu Xue rasa dalam senyumnya tersirat rasa sedih. Maka ia langsung bingung, “Kau kenapa?”
“Aku baik-baik saja!” Akhirnya Qin Yinuo tersadar dan memegang pinggangnya, lalu menariknya masuk ke dalam pelukan, “Biarkan aku memelukmu!”
Mu Xue menengadah. Qin Yinuo memeluknya dengan erat sekali, lalu ia menopangkan kepalanya di bahu Mu Xue.
“Kau ini kenapa? Sepertinya ada masalah!” Ia berkata.
Tiba-tiba Qin Yinuo mengulurkan tangan dan memegang lehernya, lalu menengadah dan mengarahkan kepala padanya. Wajahnya menimpanya, dan lidah panasnya masuk ke dalam mulutnya.
Aku hanya takut kehilanganmu, takut sekali!
Ia berkata dalam hati.
Ciumannya seolah tengah merebut sesuatu. Ia menggulungkan lidahnya ke dalam, menciumi mulut kecilnya dengan bossy.
Mu Xue mendengus, tak bisa melepaskan diri.
Gerakan Qin Yinuo terlalu ganas, membuatnya tidak bisa bernapas. Ia masih agak takut, maka tubuhnya bergetar.
“Qin Yinuo…” Akhirnya Mu Xue bisa bernafas.
Nafasnya tidak stabil, karena Qin Yinuo terus menciuminya. Tangannya yang besar menekan kepalanya agar dirinya berhenti melawan, tidak mengizinkannya untuk melepaskan diri. Sikap yang mendadak seperti ini, membuat Mu Xue tidak bisa melawan.
Nafas Qin Yinuo berat, suaranya yang serak berkata, “Kau ini milikku.”
Mu Xue melongo, sekaligus merasa bahagia. Tapi hatinya juga merasa tidak tenang, pipinya memerah, bibirnya diciumi sampai bengkak, hatinya terus berdetak cepat, “Kau ini aneh sekali!”
Tangan Qin Yinuo yang memeluk pinggangnya tiba-tiba menarik tubuhnya, lalu dirinya langsung digendong. Ia menendang pintu hingga terbuka, membawanya masuk ke dalam kamar.
__ADS_1