
Hello! Im an artic!
“Kalau begitu apakah nanti kamu masih setidaksabaran ini? Memang kamu tidak bisa telepon dulu?” Suaranya penuh dengan ancaman, sementara Mu Xue menggigiti bibir bawahnya sendiri, tidak menjawab.
Qin Yinuo mengangkat alisnya, memerintahkan: “Jawab aku!”
Hello! Im an artic!
“Tidak!” Ia berkompromi, sekarang ia masih sangat menyesal. “Tapi begitu keluar aku tak melihatmu, maka kukira kamu sudah pergi!”
Ia menciumi bibir wanita itu, lalu memeluk pinggangnya.
“Ah!” Mu Xue berteriak.
Ia malah langsung menggendongnya ke bugatti. “Wanita yang pembangkang. Baiklah, ke depannya aku takkan memaksamu untuk berpakaian seperti ini lagi!”
Hello! Im an artic!
Memikirkan seberapa bahayanya ini, kalau ia bertemu preman asli maka habislah. Ia menggendongnya hingga ke kursi depan mobil, Mu Xue malunya sampai menunduk. Pria ini sungguh bossy sekali, tapi hatinya malah hangat sekali. Untung ada dirinya, kalau tidak habislah ia hari ini!
Ia mendudukkannya di kursi, membantunya memakai sabuk pengaman, kemudian menunduk untuk menciuminya dengan dalam dan panas. Ia mengerahkan seluruh perasaan di tubuhnya, cintanya, rasa bersalahnya, kesakitannya, kasihnya…semuanya ada di dalam ciuman itu.
Mu Xue diciumi sampai sesak nafas.
Setelah beberapa saat, barulah ia menengadahkan kepalanya, matanya berkilat.
Bulu mata Mu Xue yang panjang terangkat, tatapannya seolah mabuk, membuat Qin Yinuo merasa puas–
Sebuah helikopter mendarat di sebuah pulau pribadi di Miami. Lapangan yang luasnya beberapa ratus meter itu awalnya dibangun sebagai tempat parkir helikopter itu.
Sebuah bangunan berwarna putih adalah sebuah vila pribadi yang dekorasinya menarik sekali. Dan saat ini pintu besar vila itu terbuka otomatis, helikopter itu mendarat perlahan di lapangan.
Di dalam vila, segerombol bodyguard berpakaian hitam-hitam keluar dengan sopan, mereka langsung berdiri menjadi dua baris, di tengahnya ada seorang pria berpakaian santai putih-putih, tubuhnya tegap, membuat dirinya terlihat semakin ganteng. Wajahnya yang tajam terlihat ganteng, mulutnya membentuk sebuah senyuman, seolah tersenyum namun seolah juga tidak, hanya saja ketika ia melihat ke arah helikopter, tatapannya penuh dengan kehangatan.
Baling-baling helikopter berhenti perlahan. Angin yang terkipas menggila juga perlahan menghilang.
Di atas helikopter, Qin Yinuo mengenakan jubah hitam-hitam. Ia membuka pintu helikopter dan menjulurkan kaki panjangnya dan keluar dari helikopter. Melihat pria berpakaian putih itu ia langsung tersenyum. “Lama tak berjumpa! Yi!”
“Selamat datang Tuan Besar Qin!” Para bodyguard berteriak.
Feng Baiyi tersenyum, ia berjalan mendekat dengan langkah besar-besar. Tatapannya menyapu orang-orang, seolah tersenyum namun juga kelihatan sedang tidak tersenyum, “Nuo, dengar-dengar kamu kehilangan pekerjaan?”
“Sudahlah!” Tatapan Qin Yinuo yang arogan tetap tak bisa diacuhkan begitu saja, “Kalau aku kehilangan pekerjaan bukannya kamu jadi orang yang paling senang?”
“Benar juga!” Mata Feng Baiyi yang panjang menyipit, tatapannya tajam. “Tuan besar Qin-ku, kali ini kamu mau tinggal seberapa lama?”
“Tiga hari!” Qin Yinuo tersenyum.
Feng Baiyi memincingkan matanya, tatapannya yang dalam tersirat akan sebuah cahaya.
***
Qin Yinuo bilang ia mau keluar negeri, maka Mu Xue tinggal sendirian di apartemen, sebelum pergi Qin Yinuo sudah berpesan pada supir untuk mengantar jemput Tian Yu tiap hari. Dan sudah lewat dua hari, ibu dan anak ini melewati hari-hari dengan bahagia.
Mu Xue memberikan kasih ibu pada Tian Yu sebisanya. Ia hendak menambal kembali kasih yang kurang sebelumnya. Meski ia tahu dirinya sudah berhutang terlalu banyak pada anak ini lima tahun lalu dan ia takkan bisa mengembalikannya dalam sekejap, tapi ia tetap tak bisa menahan diri untuk menyayanginya.
__ADS_1
Setiap malam ia akan membacakan cerita untuknya sampai larut sekali, sampai anak itu tidak tahan lagi dan terlelap, barulah ia menyelimutinya dan tidur. Bibir ibu dan anak ini selalu penuh dengan senyuman, kalau dilihat dengan teliti, mereka memang mirip.
Cheng Cheng selalu tinggal di sekolah, maka ia hanya memiliki Tian Yu. Setiap malam ia masih teringat akan Cheng Cheng, kalau teringat akan Cheng Cheng ia masih merasa ada yang hilang dari sisinya, andaikan Cheng Cheng ada bersamanya, maka bagus sekali.
Di hari Kamis siang, ia dan Mi Ling sudah berjanji untuk makan bersama.
Sebenarnya Mu Xue mau kerja. Tapi entah kenapa, Mi Lei bilang ia tak bisa membiarkan dirinya pergi bekerja di restoran lagi, karena Qin Yinuo mengancam akan membangkrutkan restorannya. Sehingga, Mi Lei tak berani menyuruh Mu Xue kerja lagi.
“Xiao Xue, kenapa kamu tidak kerja di restoran lagi? Kakakku tidak bersikap baik padamu kah?” Begitu Mi Ling duduk, ia langsung bertanya.
“Bukan!” Mu Xue juga tak berdaya. “Ini, ini karena aku yang tak ingin kerja lagi!”
Ia tengah ragu bagaimana cara mengatakan perihal Tian Yu pada Mi Ling. Ketika diirnya tengah ragu, ia mendengar Mi Ling berkata: “Ada apa?”
“Mi Ling, anakku..”
“Cheng Cheng kenapa?” Mi Ling agak gugup.
“Bukan Cheng Cheng!” Mu Xue tersenyum. “Kubilang itu anak yang kulahirkan lima tahun lalu, anak kandungku!”
“Kenapa?” Mi Ling tak mengerti.
“Aku sudah menemukannya!” Ia tertawa puas, “Aku sudah menemukan anakku!”
“Benarkah!” Mi Ling hampir terlonjak, wajahnya bersemangat sekali, langsung berkata: “di mana? di mana? Aku mau melihatnya, benar anakmu kah? Bagus sekali!”
“Mi Ling, kecilkan suaramu!” Mu Xue melihat orang-orang di restoran mulai menoleh ke arah mereka, ia agak malu.
Begitu Mi Ling menoleh, ia mendapati cukup banyak orang-orang yang melihati mereka, maka ia menjulurkan lidahnya, berkata pelan: “di mana? Mirip denganmu tidak?”
“Kalau begitu..ini artinya kamu juga sudah menemukan ayah anak itu?” Mi Ling tiba-tiba menaikkan suaranya. Tapi ia langsung menyadarinya, maka ia menenangkan diri kembali.
“Ya!” Mu Xue mengangguk.
“Siapa? Semisterius ini, orang yang tak bisa dicari. Siapa?”
“Kamu tak boleh memberitahu orang lain!” Mu Xue tidak tahu harus bagaimana memberitahunya.
“Katakanlah, aku takkan bilang, mulutku ini kujaga baik-baik!”
“Ya!” Mu Xue mengangguk, berkata: “Qin Yinuo!”
“Astaga!” Mi Ling berteriak. “Kenapa bisa dia?”
“Ya, dia orangnya!” Mu Xue menghela nafas. “Pria bertopeng rubah itu adalah Qin Yinuo!”
Mi Ling malah jadi marah, “Kalau begitu bukankah sedari awal ia sudah mengenalimu, tapi bagaimana bisa kamu tak mengenalinya?”
Mu Xue menceritakan permasalahan pada Mi Ling, ia melompati bagian romantisnya. Setelah mendengar cerita Mu Xue, Mi Ling tiba-tiba memarahi: “Sialan, ini sih terlalu mengerjai orang namanya, terlalu jahat, dia itu bukan manusia! Xiao Xue, kamu ini orangnya juga terlalu bodoh, sudah dikerjai seperti ini kamu masih selemah ini. Ayo, aku pergi membantumu membalaskan dendam!”
“Eh!” Mu Xue tertawa menatapi Mi Ling yang marah. “Mi Ling, kalau aku bisa menemukan anakku, aku sudah puas, tak perlu urus hal lain! Dan lagi sedari awal ini hanyalah sebuah kesepakatan, anak ini adalah hasil dari sebuah kesepakatan, kalau ia membawa pergi anak itu juga sudah seharusnya! Dan sekarang ia bukan lagi Presiden!”
“Tapi dia sudah menipumu, dan lagi memanfaatkan tubuhmu. kamu sudah dipermainkannya, dan kamu masih bisa memaafkannya semudah ini?” Mi Ling rasa dirinya tak bisa berkata-kata lagi. “Kuberitahu kau, Mu Xue, kamu ini tak seorang diri. kamu masih punya aku. Aku sebagai kakakmu akan membantumu melampiaskan emosi, kepala pria itu harus dipukul sampai pecah!”
“Mi Ling, kamu jangan emosi!” Mu Xue sangat bersyukur Mi Ling membela dirinya, tapi bukankah arti hidupnya saat ini adalah demi mencari anaknya? Sekarang ia sudah menemukannya, untuk apa memikirkan segitu banyak? “Aku berterima kasih sekali kamu perhatian dan begitu melindungiku, ia sudah menjanjikan untuk mempertemukan anakku, dan membiarkan anakku mendampingi di sisiku, bukankah ini yang selalu kuinginkan?”
__ADS_1
“Aku bukannya emosi, tapi aku marah, sangat marah, sangat marah, kamu mengerti? kamu ini bodoh, kamu sudah menjual diri dan masih membantu orang itu lagi. Dan masih senang pula! kamu tahu tidak, pria jahat seperti dia harus dipukul, orang itu perlu dipukul, aku akan bantu kamu menyewa orang untuk memukulnya. Sialan, tak disangka Presiden perusahaan Qin sekotor ini orangnya, psikopat! Memang kamu tak tahu masalah seperti ini termasuk psikopat sekali?”
“Sebenarnya, dia…dia tak sejahat itu!” Mu Xue membela Qin Yinuo dengan tanpa daya. “Ia mengembalikan anak itu padaku, jadi kurasa dirinya tak sejahat itu!”
“Adik bodoh, kamu ini bodoh!” Mi Ling menghela nafas sedih. “Ia sudah mempermainkanmu habis-habisan! Dan kamu masih membelanya!”
“Tapi benar……”
“Ah! Cincin di tanganmu?” Mi Ling melihat cincin berlian di tangannya. “Siapa yang memberikannya untukmu?”
“Oh!” Wajahnya memerah, Mu Xue agak menyesal tidak melepasnya. Tapi Qin Yinuo pernah bilang agar dirinya jangan melepasnya. “Dari Qin Yinuo!”
Mi Ling memutar bola matanya beberapa kali. “Ia sudah melamarmu?”
“Tidak ! Kami tidak bisa menikah!” Ia berkata dengan santai, ia juga sudah memikirkannya tentang ini. Kalau pria itu tidak bilang takkan berubah selamanya, mungkin dirinya akan merasa aneh. Tapi pria itu sudah mengatakannya, tiba-tiba Mu Xue tak tahu harus berbuat apa lagi.
“Kenapa?” Mi Ling berteriak, ia melihat Mu Xue menunduk, maka berkata lagi: “Sudahlah, kalau dia memberimu cincin, itu artinya ia juga memiliki maksud padamu. Karena kalian sudah punya anak, kalau begitu itu artinya bukannya tidak ada kemungkinan diantara kalian. Tapi kamu ini terlalu bodoh, masa semudah ini kamu di…”
Wajah Mu Xue terus memerah selama beberapa saat.
Mi Ling berkata lagi: “Baiklah, lain kali aku juga hendak bertemu dengannya. Aku akan meminta keadilan untukmu! Tapi aku mau lihat anak kalian dulu, imut tidak, seimut Cheng Cheng tidak?”
“Ya!” Begitu membahas anak, Mu Xue langsung lupa akan rasa malunya. “Sekarang dia ada di TK, malam ini kamu kemarilah, sang sopir akan menjemputnya pulang!”
“Baik!” Mi Ling bersemangat sekaligus penuh dengan penantian.
Begitu sampai malam hari, sang sopir malah menelepon dan bilang kalau Tian Yu menghilang. Ketika ia pergi menjemputnya Tian Yu sudah menghilang, sementara kata guru Tian Yu sudah dijemput!
“Pihak keluarga apa? Apakah ayahnya?”Mu Xue bertanya dengan gugup.
“Bukan, tapi kakeknya! Kata gurunya Tian Yu sudah pindah ke TK lain, dan sang guru menyampaikan pesan untuk Nona Mu, katanya jauhi Tian Yu. Kalau tidak, ia akan membuat Anda takkan bisa bertemu anak itu seumur hidup!”
“Apa?” Mu Xue tertegun! “Tian Yu itu anakku, aku punya hak untuk melihat anakku. Hukum memberiku hak untuk itu.”
“Kata Tuan Besar, dirinya adalah hukum!”
“……” Mu Xue melongo.
***
Di bawah pancaran sinar matahari yang terang, sebuah mobil panjang berwarna hitam yang dijaga mobil hitam lainnya di bagian depan dan belakang berhenti di sebuah kasino di Las Vegas.
Dari mobil kecil di depan dan belakang mobil itu turun beberapa bodyguard berpakaian hitam-hitam, lalu membuka pintu mobil tersebut.
Dua sosok pria Asia yang tinggi dan dingin keluar, satunya berpakaian putih dan satunya berpakaian hitam. Keduanya ganteng, tapi ekspresi mereka malah sedingin es. Meski aura mereka penuh dengan tekanan, tapi begitu sampai di kasino malah membuat orang-orang menoleh ke arah mereka, menebak-nebak latar belakang kedua orang itu.
Pria berjas putih itu menampakkan senyum yang dingin, tapi malah penuh dengan sikap bossy yang natural.
Sementara pria berjas hitam itu tampaknya bossy sekali, hanya saja mulutnya tersenyum jahil, sehingga dirinya terlihat jadi penuh dengan aura berbahaya yang memikat.
Kemanapun keduanya berjalan, selalu ada bodyguard yang membukakan jalan untuk mereka. Tapi keduanya malah menarik perhatian orang-orang, membuat orang-orang jadi gugup.
Mereka masuk ke kasino.
Kemudian melirik ke sekitar.
__ADS_1